
Daniel bersandar di dinding yang ada di ruang ganti. Lelaki itu menatap lekuk tubuh istrinya yang kini sedang ganti baju. Perut Serena sudah mulai terlihat buncit. Wanita tangguh itu tetap saja terlihat seksi walau sedang hamil.
Serena terlihat kesulitan saat memakai celana hitam yang biasa ia pakai. Hal itu selalu saja membuat Daniel tertawa. Ia tidak pernah menyangka, detik ini lagi-lagi istrinya kesal karena tidak ada celana yang muat untuknya.
“Daniel ....” ucap Serena manja saat pria berstatus suaminya itu hanya terdengar tawanya saja sejak tadi.
“Ada apa?” Daniel berjalan mendekati Serena yang kini hanya mengenakan pakaian bertali. Belum memakai celana karena tidak menemukan ukuran yang pas untuknya.
“Kau pasti tahu apa yang terjadi. Kau berdiri di situ sejak pertama kali,”ucap Serena cukup kesal. wanita itu menatap celana hitam pendeknya yang kini berserak di lantai.
“Itu tandanya, kau tidak boleh bertarung lagi. Perut ini memberimu kode, kalau kau sedang hamil dan tidak boleh terlalu lelah.” Lagi-lagi Daniel membujuk Serena agar wanita itu mau menghapus keinginannya untuk bertarung. Daniel memeluk Serena dari belakang. Pria itu mengecup pundak istrinya dengan penuh cinta.
“Tidak bisa! Aku harus ikut.” Serena melepas tangan Daniel yang sempat melingkari perutnya. Ia berjalan menuju ke lemari yang tersusun aneka rok di sana. Serena mengambil satu rok berwarna hitam. Hanya satu warna hitam di lemari itu. Wanita itu tersenyum kegirangan melihat rok hitam yang baru saja ia temukan.
Daniel menepuk kepalanya saat istrinya berhasil menemukan rok pendek itu. Kini wanita itu telah rapi dengan setelan serba hitamnya. Daniel memasangkan Serena jaket hitam untuk menutupi lekuk tubuh istrinya bagian atas. Pria itu melekatkan bibirnya di telinga Serena, “Ingat, jangan jauh-jauh dariku.”Daniel mengeluarkan satu pistol dan memberikannya kepada Serena.
“Siap, Bos,” jawab Serena dengan penuh antusias.
Sepasang suami istri itu pergi meninggalkan kamar. Mereka sudah tidak sabar untuk pergi berkunjung ke tempat musuh mereka tinggal saat ini. Di lantai bawah. Sudah ada Shabira dan Kenzo. Mereka terlihat berbincang di ruang keluarga bersama dengan Tuan dan Ny. Edritz. Ibu mertua Serena terlihat syok saat melihat penampilan menantunya siang itu. Pistol yang ada di genggaman Serena sudah bisa mewakili pekerjaan yang akan di lakukan Serena nantinya.
“Sayang, apa yang mau kau lakukan?” Dengan cepat Ny. Edritz beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan untuk melarang aksi menantunya. Ia tidak ingin Menantunya kembali ke dunia gelap seperti dulu lagi. Ia tidak ingin kehilangan cucunya lagi.
“Ma, Serena hanya mau membantu Daniel,” jawab Serena dengan senyuman.
“Kakak, kakak mau kemana?” Shabira juga beranjak dari sofa. Wanita tangguh itu berjalan mendekati Serena dan Daniel. Diikuti Kenzo dari belakang.
“Kau juga ikut,” perintah Serena kepada Shabira.
“Ok. Tapi, apa yang akan kita kerjakan?” tanya Shabira sedikit penasaran.
“Hanya olahraga siang. Ada semut kecil yang mengganggu,” jawab Serena sambil memicingkan matanya.
“Sayang, Mama enggak ijini kamu pergi,” ucap Ny. Edritz dengan nada yang cukup tegas.
“Ma ....” rengek Serena. Wanita itu sudah berhasil merayu Daniel. Ia tidak ingin gagal hanya karena larangan mertuanya,“Serena tidak punya banyak waktu. Serena janji akan jaga cucu Mama dengan baik.”
“Benar, Ma. Daniel akan jaga Serena nanti, Mama jangan khawatir.”Daniel menatap wajah ibu kandungnya dengan wajah cukup menyakinkan.
“Kami juga akan menjaga Serena, Tante.” Kenzo angkat bicara untuk membujuk mertua sahabatnya itu.
Ny. Edritz menghela napas, “Baiklah. Mama akan marah jika kalian tidak pulang dengan selamat.”
Serena mengukir senyuman bahagia, “Terima kasih, Ma.”Wanita tangguh itu memeluk Ny. Edritz dengan penuh cinta, “Serena sayang sama Mama.”
“Mama juga sangat menyayangimu, Serena. Ya sudah sana pergi.” Ny. Edritz melepas pelukannya dari tubuh Serena.
“Daniel Pergi dulu, Ma,” ucap Daniel sambil merangkul pinggang istrinya.
“Permisi, Tante. Om-”ucap Kenzo dan Shabira bergantian.
Di halaman depan. Ada Tama dan Sharin yang sejak tadi menunggu Daniel dan Serena. Sedangkan Biao, pria itu telah pergi lebih dulu bersama dengan pengawal S.G. Group.
“Nona, silahkan.” Tama membuka pintu penumpang dengan senyuman. Di sisi kanan mobil, ada pengawal juga yang membukakan pintu untuk Daniel.
“Tidak-tidak. Aku akan naik mobil milikku.” Serena mengeluarkan kunci mobil sportnya. Wanita itu tidak mau terlambat hanya karena salah naik mobil.
“Biar aku yang mengemudikannya,” ucap Daniel sambil merebut kunci mobil istrinya. Pria itu tidak mau dikalahkan oleh Serena.
Tama membungkuk sebelum menutup kembali pintu mobil hitam itu. Sharin masuk ke dalam mobil, yang juga dimasuki Tama. Shabira dan Kenzo juga masuk ke dalam mobil, bersamaan dengan Serena dan Daniel yang masuk ke dalam mobil sport.
Mobil Daniel menjadi pemimpin siang itu. Diikuti Tama di belakangnya. Kenzo lebih memilih paling belakang untuk menjaga dua mobil yang ada di hadapannya.
“Sayang, ingat pesanku. Jaga anak kita dengan baik.” Daniel terus-terusan mengingatkan istrinya. Ia tidak ingin wanita yang ia cintai itu terluka lagi.
“Percayakan padaku,” jawab Serena dengan senyuman.
Di dalam mobil Tama. Sharin masih terlihat takut dengan apa yang akan ia lihat nantinya. Melihat Serena memegang pistol cukup membuat ngeri. Di tambah lagi Shabira. Walau wanita itu berwajah manis, tetapi ada sorot mata yang mengerikan dari matanya. Sharin tidak pernah menyangka, akan ikut dalam aksi tembak-tembakan seperti ini.
Awalnya ia berpikir, kalau bekerja di S.G. Group sama halnya dengan bekerja di perusahaan lainnya. Duduk manis sambil menatap layar laptop. Megikuti rapat. Atau kegiatan paling melelahkan. Mengantar berkas dari lantai atas ke lantai bawah. Hanya sebatas itu isi pikiran Sharin.
“Apa yang kau pikirkan?” Tama tahu kalau kini keponakannya itu sedang gelisah.
“Paman. Aku tidak menyangka kalau Nona Serena terlihat begitu menyeramkan kalau sudah memegang senjata,” jawab Sharin sambil menatap wajah Pamannya.
Tama tertawa kecil saat mendengar kalimat Sharin, “Awalnya Paman juga kaget. Saat melihat Nona Serena pertama kali menembak dengan begitu ahli saat itu.” Tama kembali ingat saat wanita tangguh itu diberi hukuman oleh Daniel untuk menembak di taman samping.
“Nona Serena memang wanita tagguh , Paman?” tanya Sharin untuk kembali memastikan.
“Bukan hanya tangguh. Dia wanita yang serba bisa. Nona Serena-”ucapan Tama terhenti. Tadinya pria itu ingin memberi tahu identitas asli Serena kalau wanita itu adalah ketua mafia. Melihat ekspresi Sharin siang itu, Tama mengurungkan niatnya. Pria itu tidak ingin keponakannya tambah takut saat bertemu langsung dengan Serena nantinya.
“Apa yang mau Paman katakan?” Sharin terlihat menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh Tama.
“Tidak ada,” sambung Tama sambil menambah laju mobilnya. Lelaki itu tidak ingin ketinggalan dari Serena.
Sharin menatap ke arah jalan di depan. Wanita itu masih menyimpan rasa penasaran atas kalimat Tama yang tergantung.
Apa sebenarnya yang ingin dikatakan Paman Tama?
Ketiga mobil itu melaju dengan cepat menuju ke lokasi yang sempat mereka selidiki. Menembus keramaian kota yang cukup padat akan pengguna jalan. Hotel itu ada di tengah-tengah kota. Mereka juga harus hati-hati dalam aksinya siang ini.