Mafia's In Love

Mafia's In Love
Ingatan Serena



Duaarrr!


Satu suara tembakan, menghentikan perkelahian panas itu. Semua mata tertuju pada keduanya. Zeroun membuka matanya bingung, dan membelalakkan matanya dengan kaget.


Serena memegang pistolnya, yang tadi terlempar. Serena terlihat terengah-engah, tatapan matanya sudah berubah menjadi tajam.


Daniel terjatuh ke lantai, sambil memegang dadanya yang berlumuran cairan merah. Wajahnya terlihat pucat, ekspresi wajahnya begitu sedih. Hingga membuat siapa saja yang memandangnya, seperti di remas jantungnya.


“Kau menembakku Serena, sayangku.” Daniel terus memandang ke arah Serena, sebelum memejamkan matanya.


Serena masih terpana akan apa yang baru saja ia lakukan. Matanya memerah saat melihat tubuh Daniel tergeletak di atas lantai. Air mata mengalir dengan deras, dengan cepat Serena mengusap air matanya dan berjalan mendekat ke arah Zeroun.


Biao dan Tama, berlari kencang ke arah Daniel. Masih tidak percaya dengan perbuatan Serena saat ini. Tama mengangkat tubuh Daniel, di bantu dengan Biao. Keduanya memandang ke arah Serena yang semangkin mendekat.


“Kita pergi dari sini, sekarang,” perintah Serena singkat.


Tatapan mata Serena sudah berubah menjadi dingin. Serena yang selama ini ceria dan penuh senyuman manis, sudah tiada. Serena telah kembali dengan jiwa lamanya. Jiwa membunuh dan tidak memiliki belas kasih.


Zeroun tersenyum penuh kemenangan, saat melihat Serena yang ia kenali sudah kembali. Zeroun berdiri dan menarik tangan Serena, untuk pergi meninggalkan pulau. Lukas dan beberapa pengawal setianya, juga mengikuti kepergian Serena dan Zeroun.


Biao dan Tama kembali tertegun. Hati keduanya terasa sakit, saat melihat Serena telah kembali mengingat semua masa lalunya. Satu keadaan yang selama ini mereka takuti, hari ini telah tiba. Keduanya tidak lagi bisa berbuat sesuatu, dengan cepat mereka membawa Daniel pergi untuk mendapatkan pertolongan di rumah sakit.


Serena masih diam tanpa kata. Bayangan tubuh Daniel yang tergeletak, terus saja mengiang di dalam pikirannya. Tiba-tiba saja air mata kembali mengalir di pipinya. Kepalanya kembali menoleh ke belakang, sebelum naik ke atas boat yang telah di siapkan.


“Ayo, kita harus pergi dari sini, sayang!”


Zeroun mengulurkan tangannya, untuk mengajak Serena naik ke atas boat. Dengan cepat Serena menyambut uluran tangan Zeroun dan melangkah mendekat ke arah tubuhnya.


“Serena,” ucap Zeroun pelan.


“Erena! namaku Erena!” jawab Serena singkat.


Senyum bahagia kembali melingkar di bibir Zeroun. Kini wanita yang sangat ia cintai, telah kembali kepadanya. Ingatan Serena yang sempat hilang kini sudah kembali.


Lukas melepas tali boatnya, dan menghidupkan mesin.


Boat itu melaju dengan kencang, meninggalkan rumah di tengah pulau itu. Dalam keheningan, dalam kegelapan malam. Boat itu hilang tertutup kabut yang rapat.


Hingga beberapa saat kemudian. Boat itu berhenti di pinggir dermaga.


Zeroun mengajak Serena duduk di sebuah kursi. Beberapa pengawal tiba, dengan membawa secangkir teh untuk Serena dan Zeroun.


“Kau tidak apa-apa, sayang?” Zeroun membungkus tubuh Serena dengan selimut, dan memeluknya. Tubuh Serena masih gemetar dengan tatapan mata kosong.


Kejadian itu terjadi begitu cepat, Serena tidak mempunyai kesempatan untuk memilih.


Serena hanya menggeleng pelan, bibirnya masih belum ingin mengeluarkan kata. Sebuah helikopter, mendarat di lapangan yang begitu luas. Beberapa pengawal turun dari sana, dan melangkah cepat menemui Zeroun dan Serena.


“Selamat malam tuan. Kita sudah siap berangkat,” ucap pengawal itu dengan tegas.


Zeroun melirik ke arah Serena yang masih menunduk. Menggenggam tangan Serena, dan menaikkan dagu Serena untuk memandang wajahnya.


“Sayang, ayo kita pulang.” Zeroun mengajak Serena, kembali ke rumah mereka. Rumah yang terletak di negeri lain.


“Ya,” jawab Serena singkat, masih dengan tatapan kosong.


Aku tahu, kau pasti akan kembali padaku.


Zeroun menatap wajah Serena, dengan senyum menyeringai.


Helikopter itu membawa Zeroun dan Serena ke sebuah bandara. Lukas sudah berdiri menyambut kedatangan Zeroun di depan jet pribadi milik Zeroun. Zeroun tidak lagi ingin mengulur waktu, detik ini juga ia membawa Serena untuk menjahui Daniel selama-lamanya.


Zeroun menatap ke arah Serena, memfokuskan pandangannya ke wajah Serena. Beberapa buliran air mata terlihat mengalir deras dari matanya, bibirnya bergetar. Zeroun menghela napas panjang, memeluk Serena dengan lembut. Mencium pucuk kepala Serena dengan kasih sayang.


***


Daniel yang baru saja sadarkan diri, duduk di atas ranjang putih. Menatap tajam ke arah Tama yang berdiri mendampinginya. Tidak jauh dari pintu masuk, terlihat Biao sedang menerima telepon. Biao terlihat bercakap-cakap dengan serius, sebelum menutup teleponnya dan melangkah ke arah Daniel.


Tama dan Biao hanya bisa diam, beberapa luka juga terlihat membekas di seluruh tubuh keduanya. Kejadian penembakan ini, memang membuat luka di hati.


Daniel kembali memejamkan matanya, merasakan rasa kecewa yang membanjiri tubuhnya. Bayang-bayangan wajah Serena, sebelum ia memejamkan mata. Masih terus mengiang di dalam pikirannya.


Semalaman Daniel tidak sadarkan diri, karena pistol yang menembus dadanya. Peluru itu hanya beberapa inci dari bagian vital tubuhnya. Meleset sedikit saja, mungkin Daniel tidak akan bisa diselamatkan. Namun, Adit telah berhasil mengeluarkan peluru itu.


Serena menembaknya untuk menyelamatkan Zeroun. Jantung Daniel terasa berdenyut, rasa sedih bercampur cemburu menggelegak dalam jiwanya. Serena, telah kembali pada masa lalunya. Satu hal yang selalu ia takuti selama ini.


“Tidakkah kau tahu betapa aku sangat mencintaimu? Aku rela melakukan apa saja untuk dirimu, Serena.”


Satu kalimat yang kini terus mengiang di dalam pikirannya.


Pintu terbuka tiba-tiba. Ny. Edritz masuk, dan berlari kencang mendekati tubuh Daniel. Di ikuti dengan tuan Edritz di belakang. Wajah Ny. Edritz sudah basah, di penuhi dengan air mata.


“Maafkan mama, Daniel,” ucap Ny. Edritz dengan tangis yang tiada henti.


“Tidak, ma. Bukan mama yang salah.” Tersenyum memandang Ny. Edritz.


“Seharusnya mama tahu, saat seperti ini akan terjadi.” Masih sesenggukan.


“Dimana Serena, saat ini. Biao?” tanya tuan Edritz cepat.


“Nona Serena, sudah pergi meninggalkan negara ini Tuan.” Tertunduk dalam.


“Dia sudah mengingat semuanya?” tanya Ny. Edritz lirih.


Biao hanya mengangguk pelan, untuk menjawab pertanyaan Ny. Edritz. Daniel kembali memejamkan matanya, menahan rasa kehilangan yang kini ia rasakan. Harapannya untuk hidup bahagia bersama Serena, hanya menjadi satu harapan kosong. Daniel tidak lagi memiliki keberanian, untuk menyebut nama Serena dengan bibirnya.


Dadanya terasa sesak dan dipenuhi oleh rasa sakit hati. Daniel benar-benar mencintai Serena. Gadis yang begitu polos dan ceria. Serena telah membuat Daniel Mengerti artinya cinta. Meskipun Daniel lelaki yang tampan, dengan penghasilan lumayan. Semua terasa tidak berarti, saat Serena tidak lagi ada di sisinya.


Sabar, belum tamat..🤣


Like, Komen, Vote.


Cuma bisa kasih 1 episode. Besok malam ge.🤗


Jangan ngamuk2.


Setiap orang punya pendapat masing2.


Tapi tetap hargai Author.🤗🤗