Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 35



Kenzo dan Shabira saling memandang satu sama lain. Tidak ada rasa bosan sedikitpun saat keduanya saling mencintai.


“Sayang, boleh aku meminta sesuatu?” Kenzo bersikap manja terhadap Shabira. Ia tidur di atas pangkuan Shabira.


“Apa yang ingin kau minta? jangan yang nakal.” Shabira menyentuh hidung Kenzo sambil tersenyum.


“Kembalikan mobil itu pada Zeroun. Aku tidak suka kau memakai barang pemberian pria lain. Aku akan membelikanmu dengan yang lebih bagus.”


Sejak awal, aku tidak nyaman menggunakan mobil itu.


Shabira melamun untuk sejenak.


“Sayang ….” Kenzo merusak lamunan Shabira.


“Ya, tentu saja. Ayo kita ke sana. Kita harus mengantar mobil itu pada pemiliknya.” Shabira tersenyum manis. Ia tidak keberatan sama sekali saat Kenzo memintanya untuk mengembalikan mobil sport mahal itu.


Kenzo beranjak dari pangkuan Shabira, duduk berhadapan dengan Shabira.


“Tidak marah?” tanya Kenzo untuk memastikan perasaan Shabira saat ini.


“Tentu saja tidak. Tapi kau harus menggantinya dengan yang baru.” Shabira mengedipkan sebelah matanya.


Kenzo tersenyum manis, “Tentu sayang. Ayo kita antarkan mobil itu ke rumah Zeroun Zein. Setelah itu kita beli mobil baru untukmu.” Kenzo berdiri dari duduknya.


Shabira ikut beranjak dari duduknya, tatapan matanya terhenti pada Diva yang baru saja tiba di rumah utama. Mata Shabira berubah menjadi tajam. Ia masih menyimpan curiga pada Diva.


“Sayang, apa yang kau lihat?” Kenzo mengikuti pandangan mata Shabira.


“Wanita itu,” ucap Shabira pelan.


Kenzo memandang ke arah Diva yang terlihat sibuk merapikan beberapa barang. Pandangan mata Kenzo kembali ia alihkan ke wajah Shabira yang cantik.


“Itu Diva, untuk apa kau memperhatikannya? dia satu-satunya pelayan wanita di rumah ini. Dia di pekerjakan Daniel untuk membantu keperluan Serena.”


“Pelayan wanita satu-satunya?” Shabira mengerutkan dahinya.


“Apa kau tidak menyadarinya sejak awal. Di rumah ini tidak ada wanita selain dirimu dan Serena.”


Shabira kembali menyadari keadaan rumah utama. Beberapa pelayan mengenakan pakaian putih biru dan pengawal pakaian hitam. Tidak ada ia jumpai seorang wanita di rumah itu selain Diva.


Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal.


“Apa kau sudah tahu sekarang?” tanya Kenzo pelan.


“Ya, aku baru sadar. Jadi Diva hanya pelayan yang di minta untuk menyiapkan keperluan Kak Erena?”


Kenzo mengangguk cepat, “Sejak awal, aku mengenal Diva. Dia terlihat seperti wanita yang baik. Serena sangat percaya pada dirinya.”


Aku hanya khawatir terhadap keselamatan Kak Erena. Tuduhanku terhadap Diva tidak beralasan sama sekali. Mungkin wanita itu memang wanita yang baik.


“Melamun lagi.” Kenzo berbisik di telinga Shabira.


“Aku ke atas dulu, pamit sama Kak Erena.” Shabira berjalan ingin meninggalkan Kenzo.


“Jangan ….” Kenzo menarik tangan Shabira.


Shabira memandang wajah Kenzo dengan penuh tanya.


“Aku akan menelepon Daniel nanti. Ayo kita pergi sekarang.” Kenzo merangkul pinggang Shabira. Membawanya pergi meninggalkan rumah utama Daniel Edritz Chen, menaiki mobil sport milik Zeroun Zein.


Di dalam mobil, Shabira menghidupkan MP3 favoritnya. Keduanya bernyanyi mengikuti irama lagu yang kini terdengar. Tertawa bahagia tanpa beban. Sesekali Kenzo meraih tangan Shabira, menciumnya dengan cinta.


Mobil Kenzo dikendarai seorang supir, mengikuti dari belakang. Kenzo melajukan mobil itu dengan cepat, menuju ke arah rumah Zeroun Zein.


“Apa Zeroun sudah lama tinggal di kota ini?” tanya Shabira pelan.


“Aku tidak tahu kalau dia tinggal di kota ini. Waktu itu aku bertemu dengannya di rumah sakit.” Kenzo kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Zeroun di rumah sakit, yang tidak berkesan baik.


“Siapa yang sakit?” tanya Shabira penasaran.


“Serena. Arion yang menembaknya. Sejak awal seharusnya aku sudah tahu, kenapa Arion terus saja mengganggu hidup Daniel dan Serena.” Kenzo kembali menyesal, saat ia menghentikan penyelidikan tentang Serena.


“Arion. Sekarang dia sudah tiada bukan? tapi masih ada Wubin,” ucap Shabira dengan raut wajah sedih.


“Sayang, selama aku masih bernyawa. Aku akan melindungimu dari bahaya. Jangan khawatir.”


“Kenzo, apa kau masih berada di dunia mafia?”


“Apa kau tidak mau meninggalkannya? seperti yang aku lakukan dan Kak Erena. Bukankah Zeroun juga melakukan hal yang sama dengan kami.”


“Sayang, tidak semudah itu. Lagian aku tidak pernah membunuh. Ini hanya sebuah bisnis untuk medapatkan uang.”


“Tapi … aku khawatir kalau akan ada musuh yang mengincarmu.”


“Jangan pikirkan lagi. Aku akan baik-baik saja.”


Shabira hanya bisa diam. Usahanya belum berhasil untuk merayu Kenzo beralih profesi.


Aku akan membuatmu meninggalkan dunia gelap itu. Dunia itu tidak akan pernah membuat hidup kita menjadi tenang. Aku juga ingin bahagia seperti Kak Erena. Tanpa musuh dan tanpa masalah.


Beberapa saat kemudian, Kenzo dan Shabira tiba di rumah Zeroun Zein. Kenzo sudah sering datang ke rumah Zeroun. Para pengawal tampak menyambut kedatangan Kenzo siang itu.


Lukas berjalan mendekati Kenzo dan Shabira. Ia melempar tatapan sinis ke arah Shabira.


“Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Lukas dengan begitu sopan.


“Apa Zeroun di rumah?”


“Boz Zeroun ada di kamar. Anda bisa menunggu di sana.” Lukas menunjuk ke arah sofa yang terletak di ruangan ujung.


“Baiklah.” Kenzo membawa Shabira ke arah sofa. Sofa itu terletak di depan kaca yang menghubungkan ke kolam ikan yang mewah.


“Rumah ini sangat bagus.” Shabira memperhatikan setiap furniture yang ada di dalam rumah itu. Ia memeriksanya dengan teliti.


“Selera Zeroun selalu yang terbaik bukan.” Kenzo menarik tangan Shabira, agar duduk berdampingan dengan dirinya.


Shabira memandang kolam ikan dari balik kaca. menghirup udara segar yang ada di sekitar sofa itu. Kolam ikan itu di penuhi miniatur pepohonan hijau yang menyejukkan mata.


“Sejak pergi meninggalkan dirimu. Aku tinggal di tempat yang sangat tenang. Tidak lagi menemukan darah atau melihat orang yang merintih kesakitan. Aku tidak lagi menyiksa orang lain, dan mendengar kata-kata sedih dari bibir orang yang tidak bersalah.”


Shabira kembali mengingat pekerjaannya. Sejak ia ditemukan oleh pemilik Queen Star yang lama, sejak itu Shabira terbiasa menghabisi nyawa orang lain.


Shabira tidak pernah mengukir senyuman, sampai Serena memegang Queen Star. Serena menganggap dirinya sebagai adik yang sangat di sayangi. Sejak bersama Serena, Shabira mulai belajar untuk tersenyum dan merasakan kebahagiaan hidup.


“Sayang, apa yang sekarang kau pikirkan? kau ingin aku meninggalkan dunia gelap itu?” Kenzo mulai memahami isi pikiran Shabira.


Suasana berubah menjadi hening. Shabira tidak lagi mau menjawab pertanyaan Kenzo. Hingga suara sepatu terdengar jelas. Shabira dan Kenzo melihat kedatangan Zeroun dari kejauhan. Kenzo dan Shabira berdiri untuk menyambut Zeroun.


“Selamat datang, Kenzo. Senang bertemu denganmu. Duduklah.” Zeroun duduk di sofa tunggal. Sedangkan Lukas hanya berdiri tegab di samping Zeroun.


Satu pelayan datang membawa minuman dan makanan ringan. Meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja kaca, dengan hati-hati. Mereka menunduk hormat, sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


“Zeroun, ada hal penting yang harus aku sampaikan. Ini tentang mobil itu.” Kenzo menahan perkataannya.


“Mobil yang aku berikan pada Shabira?” tanya Zeroun dengan senyum tipis.


“Ya, aku tahu itu mobil untuk Erena. Aku juga baru tahu, kalau Erena dan Serena adalah wanita yang sama. Zeroun, Daniel adalah sepupuku. Maafkan aku harus mengatakan hal ini. Tapi aku harap kau tidak mengganggu kebahagiaan mereka berdua.”


“Aku sudah melepasnya. Dia bukan lagi orang yang berharga dalam hidupku.” Wajah Zeroun berubah dingin.


“Zeroun, aku tidak akan lama.” Kenzo meletakkan kunci mobil itu di atas meja.


“Aku harus pergi dengan Shabira. Aku harap, persahabatan kita masih terjalin seperti biasa.” Kenzo beranjak dari duduknya, menarik tangan Shabira dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu.


Zeroun hanya diam memandang kunci mobil yang baru saja diletakkan Kenzo di atas meja.


“Aku ingin sendiri. Siapapun yang datang, jangan ganggu aku lagi.” Zeroun beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah kamar, melewati Lukas.


Di dalam mobil.


“Sayang, apa perkataanmu tidak terlalu kasar kepada Zeroun. Kenapa kau harus mengatakan hal itu pada Zeroun.”


“Jangan bahas masalah ini lagi. Sekarang kita pikirkan pernikahan kita yang tertunda waktu itu.”


“Pernikahan?”


“Ya, apa kau lupa kalau kita pernah berencana untuk menikah dan gagal?”


“Aku tidak lupa, tapi ….”


“Kita akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Aku akan mempersiapkan semuanya.”


Shabira tersenyum manis, ia bahagia bisa menikah dengan Kenzo. Hatinya benar-benar mencintai Kenzo. ia tidak ingin jauh dari Kenzo.