
Shabira melajukan mobil sport itu, dengan kecepatan tinggi. Hatinya sudah diselimuti kerinduan yang mendalam pada sang kekasih. Wajah Kenzo sudah memenuhi isi pikirannya saat ini. Senyum bahagia dan wajah berseri, sudah melekat sejak tadi.
Mobil Shabira masuk ke kompleks perumahan Kenzo. Jantungnya berdebar cepat, napasnya mulai sedikit tidak normal.
Kompleks perumahan Kenzo, melewati lapangan golf yang membentang luas. Shabira menurunkan laju mobilnya. Membuka kaca mobil, memandang lapangan itu dengan wajah bahagia. Menghirup udara segar yang ada di sana.
“Lokasi ini, masih sama seperti waktu dulu.”
Shabira menutup kembali kaca mobilnya. Memandang jam yang melingkar di tangannya. Ia kembali tersenyum, saat melihat gerbang rumah Kenzo yang kini ada di hadapannya.
“Jam segini ia pasti di rumah.”
Shabira menghentikan mobil itu, di depan gerbang utama. Satu pengawal berjalan mendekati Shabira, dengan raut wajah penuh tanya.
“Selamat siang, Nona. Anda siapa? apa anda sudah ada janji dengan Tuan Muda Kenzo?” Pengawal itu bertanya dengan begitu sopan.
“Aku belum memiliki ijin untuk bertemu dengannya. Tapi kau bisa menyebutkan namaku pada Kenzo.”
Shabira tersenyum dengan manis. Ini kedua kalinya ia menginjak rumah utama keluarga Daeshim Chen.
Pertama kali ia ke sini, ia tidak memiliki kesan yang bagus dengan pemilik rumah.
“Siapa nama anda, Nona?” Pengawal itu memandang Shabira dengan seksama.
“Shabira.”
“Baik, Nona. Tunggu sebentar, saya akan menghubungi ke rumah dulu.”
Pengawal itu pergi meninggalkan mobil Shabira. Mengambil telepon untuk menghubungi seseorang. Penjagaan di rumah utama Keluarga Daeshim Chen, sama ketatnya dengan rumah utama Edritz Chen. Sebagai orang yang tidak di kenal di keluarga Daeshim, menyulitkan dirinya untuk masuk ke dalam rumah.
“Kenapa aku jadi ragu untuk menemuinya.” Shabira kembali berfikir ulang.
Tanpa ingin menunggu lama, Shabira memutar arah mobilnya. Ia pergi meninggalkan Rumah Utama keluarga Daeshim Chen, tanpa hasil. Wajahnya berubah sedih, ia kembali mengingat penolakan Tuan Daeshim Chen saat itu.
Shabira merupakan sosok menantu yang tidak pernah di harapkan oleh Tuan Daeshim Chen. Bahkan Kenzo tega membunuh Tuan Daeshim karena dirinya.
Shabira melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia kembali mengingat nama Erena.
“Aku harus menemui Kak Erena.” Shabira mengambil handphone, dan menghubungi nomor Serena.
“Kenapa nomor ini tidak bisa dihubungi,” ucap Shabira dengan raut wajah kecewa.
Shabira menghentikan laju mobilnya secara mendadak, saat satu mobil berhenti di hadapannya. Dengan cepat, Shabira mengambil satu pistol yang tersimpan dan memegangnya dengan erat. Pandangan matanya terus ia fokuskan pada sosok yang baru saja keluar dari mobil itu.
“Kenzo!” ucap Shabira dengan wajah berseri. Hatinya terasa sedikit tenang, saat pria yang ia rindukan, kini ada di hadapannya. Shabira meletakkan pistol itu pada tempatnya, membuka pintu mobil secara perlahan.
Kenzo berjalan perlahan mendekati mobil Shabira. Hatinya di selimuti sedikit keraguan, pada pemilik mobil yang kini ada di hadapannya. Ia tidak tahu, siapa yang mengemudikan mobil itu. Satu petunjuk yang baru saja dikatakan oleh pengawal gerbang, membuat Kenzo berani untuk memberhentikan mobil asing yang ingin meninggalkan kompleks perumahannya.
Baru beberapa langkah Kenzo berjalan, pintu mobil terbuka. Ia menghentikan langkah kakinya. Pandangan matanya, ia fokuskan pada sosok wanita yang baru saja menurunkan satu kakinya ke permukaan tanah.
Matanya terbelalak kaget, saat melihat Shabira yang berdiri dan menghadap ke arah dirinya. Keduanya hanya bisa berdiri mematung, tanpa bisa mengeluarkan kata. Pandangan keduanya, masih diselimuti rasa tidak percaya.
Buliran air mata kerinduan, mulai menetes di wajah Shabira, “Kenzo,” ucapnya dengan nada yang sangat lirih. Antara rindu dan takut, semua melebur menjadi satu.
Kenzo hanya diam tanpa ekspresi. Sekian lama ia mencari, kini wanita yang ia cintai berdiri di hadapannya, dalam keadaan sehat. Shabira berlari mendekati tubuh Kenzo, memeluknya dengan begitu erat.
“Aku sangat merindukanmu.”
Shabira menangis sejadi-jadinya. Air mata tidak lagi bisa tertahankan. Kemeja yang kini dikenakan oleh Kenzo, sudah basah karena air mata Shabira.
Perlahan, Kenzo mengangkat sebelah tangannya. Ia mencoba untuk menyentuh rambut Shabira. Jantungnya berdebar dengan begitu cepat.
“Shabira, apa benar ini kau? apa aku sedang bermimpi?” ucap Kenzo dengan raut wajah tidak percaya.
Shabira melepas pelukannya, memandang wajah Kenzo dengan jarak yang begitu dekat.
“Ini aku, aku telah kembali. Maafkan aku, Kenzo.” Shabira memandang wajah Kenzo, dengan raut wajah bersalah.
“Sayang, kau kembali.”
Kenzo menarik Shabira ke dalam pelukannya. Ia memeluk Shabira dengan begitu erat, tidak ingin memberi kesempatan kepada Shabira untuk pergi lagi.
“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku,” ucap Shabira pelan.
Kenzo melepas pelukannya, menyentuh dagu Shabira, “Kenapa baru sekarang kau kembali. Aku mencarimu keseluruh dunia, dan tidak menemukanmu, Sayang. Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau menghukumku dengan cara seperti ini.”
Shabira menggeleng pelan, “Kau tidak salah. Aku tidak menghukummu, Kenzo. Aku bisa menjelaskan semuanya.”
Kenzo menyentuh dagu Shabira, untuk mengecup bibirnya. Mata keduanya terpejam, melepas kerinduan yang selama ini menyiksa. Shabira mengalungkan tangannya, di leher Kenzo. Menikmati setiap momen yang kini ia rasakan.
Kenzo melepas kecupan itu, memandang wajah Shabira dengan senyuman. Napas keduanya terlihat terengah-engah. Shabira tersenyum bahagia, bisa memeluk Kenzo saat ini.
“Ayo kita pulang.” Kenzo menarik tangan Shabira, untuk membawanya masuk ke dalam mobil.
Shabira menahan langkah Kenzo, “Bagaimana dengan mobil itu?”
Kenzo memandang mobil itu dengan seksama, Ia kembali ingat dengan nama Zeroun Zein. Genggaman tangannya terlepas, ia memandang wajah Shabira dengan tatapan menuduh.
“Zeroun memberikan mobil itu padamu?” Tatapan Kenzo berubah tajam.
Shabira mengangguk cepat, “Darimana kau mengetahuinya?”
“Shabira, Kau?” ucapan Kenzo terhenti, ia kembali ingat perkataan Zeroun. Kalau mobil itu ia beli untuk wanita yang sangat ia cintai.
“Apa selama ini kau tinggal bersama Zeroun Zein?” Wajah Kenzo kembali berubah, kali ini tatapan matanya menuduh Shabira selingkuh dengan Zeroun Zein.
Shabira tersenyum manis, ia tahu kalau Kenzo cemburu pada dirinya karena mobil pemberian Zeroun. Ia menyentuh pipi Kenzo dengan lembut, mengecup bibir Kenzo dengan penuh cinta.
“Apa kau cemburu? hingga menuduhku selingkuh?” tanya Shabira dengan wajah yang begitu tenang.
“Shabira, aku tahu kalau Zeroun membeli mobil ini untuk wanita yang ia cintai.”
Shabira kembali diam, ia tahu kalau sejak awal, mobil itu tidak untuk dirinya.
“Shabira ….” Kenzo menagih satu penjelasan kepada Shabira.
“Sayang, mobil itu memang bukan untukku. Tapi untuk Kak Erena. Aku tidak tahu, kenapa ia memberikan mobil itu padaku.” Wajah Shabira berubah cemberut.
“Erena masih hidup? dimana dia sekarang?” Kenzo memegang kedua pipi Shabira, pandangan Shabira hanya fokus pada wajahnya.
“Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini.” Shabira mengedipkan sebelah matanya, memberi kode kepada Kenzo.
Kenzo bernapas lega, dengan cepat ia menghapus rasa cemburu yang baru saja muncul di hatinya.
“Ayo kita bawa mobil itu ke rumah.” Kenzo menarik tangan Shabira ke arah mobil sport itu. Mengambil alih kemudi.
Shabira dan Kenzo masuk ke dalam mobil secara bersamaan. Kenzo melirik pistol yang berada tidak jauh dari setir mobil, “Apa kau selalu membawa benda itu?”
Shabira tersenyum, “Untuk jaga-jaga.”
“Sayang, mulai sekarang biar aku yang menjagamu lagi.” Kenzo menggenggam tangan Shabira, mengecupnya berulang kali.
“Maafkan aku,” ucap Shabira dengan penuh rasa bersalah.
Kenzo menyentuh pipi Shabira, “Jangan katakan itu lagi.”
Kenzo melajukan mobil itu dengan cepat. Membawanya kembali menuju ke rumah utama Daeshim Chen.
Shabira memandang ke arah Kenzo, “Sayang, darimana kau tahu kalau aku ada di sini?”
“Pengawal bilang, kalau kau datang ke rumah. Apa kau tahu, kalau aku sudah membunuh pengawal itu,” ucap Kenzo dengan wajah tidak bersalah sama sekali.
“Kau membunuhnya?” Ekspresi wajah Shabira berubah. Ia tidak pernah menyangka, kalau hal sepele yang ia lakukan bisa berdampak buruk bagi orang lain.
“Itu jauh lebih baik, daripada aku menyiksanya. Dia tidak membiarkanmu masuk. Aku tidak butuh orang seperti itu.” Kenzo tersenyum tipis, saat membayangkan perkataan pengawal itu.
Shabira mengalihkan pandangannya ke arah depan. Ia tidak ingin banyak protes hari ini. Baru saja ia bertemu dengan Kenzo, ia tidak ingin membuat masalah lagi.
Terasa sedikit aneh, bukankah aku biasa melihat orang kehilangan nyawa. Kenapa saat ini aku menjadi tidak tega dan kasian. Lagian pengawal itu bukan siapa-siapa. Apa ini yang dirasakan oleh Kak Erena, hingga ia tidak ingin membunuh lagi.