Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 25



Tama dan Biao tertawa terbahak-bahak saat mendengar teriakan Sharin. Bagi mereka Sharin adalah gadis kecil yang sengaja di kirim untuk menghibur mereka di kala banyak masalah.


“Apa kalian puas melihatku seperti ini?” protes Sharin saat melihat dua pria di hadapannya menertawakannya.


Pintu Lift terbuka. Biao dan Tama kembali mengatur ekspresi wajah mereka. Di lantai bawah. Beberapa karyawan S.G. Group telah berkumpul dengan wajah bingung. Tama dan Biao keluar dari dalam lift secara bersamaan. Sharin masih tetap mengikuti langkah kaki dua pria itu dengan wajah cemberutnya.


Tama memasang ekspresi tenang dengan bibir tersenyum. Sedangkan Biao, pria itu memasang ekspresi dingin yang cukup ditakuti. Beberapa karyawan menghalangi langkah Tama. Mereka ingin meminta penjelasan kepada Tama atas masalah yang baru saja terjadi.


Tidak ada satu karyawanpun yang berani mengusik ketenangan Biao. Pria itu berjalan dengan santai tanpa halangan di depannya. Kedua bola matanya yang tajam, membuat siapa saja tidak ingin berurusan dengannya.


Sharin menghentikan langkah kakinya . Gadis 20 tahun itu memperhatikan punggung Biao dan Tama secara bergantian. Kini dihadapannya ada dua pria yang memiliki karakter sangat jauh berbeda. Tiba-tiba saja pikiran jelek itu muncul lagi untuk memenuhi isi kepalanya.


“Apa mereka saling dekat karena untuk melengkapi satu sama lain?” Lagi-lagi di dalam khayalan Sharin, kalau dua pria itu bersama layaknya kekasih.


Wanita itu berjalan mendekati Tama saat berhasil menghapus pikiran jelek itu dari isi kepalanya, “Paman, ayo kita pergi. Paman tampan sudah jauh meninggalkan kita.”


Tama kembali menjelaskan apa yang telah terjadi kepada karyawan S.G.Group. Setelah selesai dengan penjelasannya, Tama membawa Sharin melangkah menuju ke arah parkiran. Pria murah senyum itu melirik keponakannya sebelum mengeluarkan kata.


“Paman dan Biao suka bercanda. Dia seperti saudara kandung bagiku. Jangan pernah berpikiran yang jelek tentang kami. Sebaiknya mulai sekarang, kau hapus segala keburukan tentang kami yang tersimpan di dalam kepala kecilmu itu.” Tama mengacak-ngacak rambut Sharin.


“Paman menyebalkan,” protes Sharin dengan nada lembut. Wanita itu masuk di bangku belakang. Sedangkan Tama duduk di bangku samping Biao.


Setelah berada di dalam mobil. Suasana kembali tenang. Biao melirik wajah Sharin sekilas melalui kaca spion sebelum melajukan mobilnya. Sedangkan Tama terlihat menikmati lagu yang baru saja ia putar.


***


Rumah utama.


Daniel tersenyum saat memandang tubuh polos istrinya. Siang itu Daniel berhasil merayu dan menyerang istrinya. Serena memejamkan mata karena merasa kantuk yang luar biasa. Tubuhnya tertutup selimut sambil merengkuh di dalam pelukan Daniel. Hembusan napasnya cukup tenang. Wanita hamil itu tidak terlalu peduli dengan isi perutnya yang sudah meronta-ronta minta makan siang. Matanya yang sangat berat, di tambah lagi tubuhnya yang terasa lemas mengalahkan rasa lapar itu.


“Sayang ....” ucap Daniel pelan. Lelaki itu mengusap lembut punggung istrinya. Mengecup pundaknya berulang kali, “Ayo kita makan siang. Apa kau tidak kasihan dengan anak kita? mereka pasti sangat kelaparan saat ini.”


“Salah kau sendiri. Kenapa kau menyerangku siang bolong seperti ini.”Serena mempererat pelukannya. Wanita itu mencari posisi senyaman mungkin untuk memejamkan mata.


Daniel menghela napas, “Kau selalu menggodaku. Bagaimana bisa aku menundanya.”


Daniel berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak ada cara lain yang ia pikirkan saat ini selain membawa makan siang istrinya ke kamar. Daniel mengatur suhu airnya dengan air dingin. Pria itu menatap wajahnya yang terpantul dari cermin yang ada di hadapannya. Air jatuh dengan cukup deras untuk membasahi tubuh.


Daniel mengukir senyuman saat mengingat kebersamaannya dengan Serena. Tidak pernah terpikirkan di dalam pikirannya dulu, kalau ia bisa memiliki istri dan hidup bahagia seperti ini. Satu-satunya nama yang berjasa besar dalam hubungannya dengan Serena adalah Ny. Edritz. Sejak dulu, Ny. Edritz memang selalu menjadi pahlawan dalam kehidupan Daniel. Wanita itu selalu mengupayakan yang terbaik untuk anak semata wayangnya.


“Terima kasih, Ma. Daniel harap Mama selalu menemani kehidupan Daniel dalam waktu yang lama.” Daniel menyelesaikan mandinya. Pria itu mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. Tubuhnya belum sempat mengenakan pakaian. Hanya ada handuk putih yang melilit di pingganganya. Dahi Daniel mengeryit saat melihat Serena duduk dengan tubuh tertutup selimut. Wanita itu mengotak-atik ponselnya dengan wajah cukup kesal.


“Sayang, apa yang terjadi?” Daniel berjalan mendekat dan duduk di tepian ranjang.


“Aku tidak bisa menghubungi Shabira.” Layar ponselnya ia tekan berulang kali. Namun, hal yang sama juga terjadi. Wanita tangguh itu melempar ponselnya di atas tempat tidur dengan wajah kecewa.


“Apa yang ingin kau sampaikan? Biar aku yang menelpon Kenzo untuk menyampaikannya.” Daniel memegang tangan Serena. Pria itu tidak ingin suasana hati istrinya memburuk. Hal itu akan berdampak buruk dengan dirinya jika suasana hati Serena tetap seperti itu.


“Percuma saja. Aku tidak bisa menghubungi siapapun. Termasuk nomormu.” Serena beranjak dari tempat tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Wanita itu berjalan dengan wajah kesal menuju ke kamar mandi.


“Apa ada masalah lagi dengan jaringannya?”Daniel menatap bingung dengan apa yang terjadi. Pria itu berjalan ke ruang ganti untuk mengenakan pakaian.


Di dalam kamar mandi. Serena berendam di dalam bak mandi. Wanita itu menatap langit-langit kamar dengan suasana hati yang cukup buruk. Ia sudah menduga, kalau musuhnya kini telah melakukan satu rencana yang tidak ia ketahui.


“Aku harus segera memusnahkan pria bernama Marcus itu.” Serena memejamkan matanya sejenak. Wanita itu memikirkan strategi untuk mengalahkan musuhnya. Untuk musuh dalam bidang IT, bukan lawan pertama yang ia hadapi. Serena telah biasa menghadapi musuh seperti itu dulunya. Hanya saja, kali ini ia tidak lagi memiliki Queen Star. Semua pengawal yang di miliki Daniel juga hanya pengawal bayaran. Mereka tidak memiliki keterampilan khusus seperti pasukan yang dulu ia miliki.


“Sayang,” ucap Daniel dengan lembut. Saat Serena membuka mata, Pria itu sudah ada di samping bak mandinya.


“Daniel, suasana hatiku sangat buruk. Sebaiknya kau tidak menggangguku.” Serena memejamkan mata lagi untuk melanjutkan berendamnya siang itu.


Daniel mengukir senyuman, “Aku akan meminta Pak Han untuk menyiapkan makan siang di kamar.” Pria itu mengecup pucuk kepala Serena sebelum pergi meninggalkan kamar mandi.


Menutup pintu dengan hati-hati hingga tidak terdengar suara apapun, “Ini semua gara-gara jaringan sialan itu. Tadi Serena baik-baik saja,”umpat Daniel kesal. Pria itu menatap kamarnya yang kini cukup berantakan. Pakaian miliknya dan Serena berserak di lantai. Belum lagi isi koper itu terletak begitu saja di atas karpet. Ceo makanan ringan itu menghela napas kasar.


“Kamar ini sudah seperti gudang,” ucap Daniel sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar tidurnya. Pria itu sudah tidak sabar untuk menyuruh pelayan membersihkan kamar tidurnya yang berantakan itu.


Mohon maaf Reader. agak lama updatenya. Tangan Author tiba-tiba sakit tadi malam. Ngetik novel Moving On juga uda di paksa banget tadi malam. Hari ini akan kita update secara bertahap ya novel ini. Mohon kesabarannya. Terima kasih.