Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kunjungan Kenzo Part. 4



Sebelum Daniel Tiba . . .


Sebuah taman yang tidak terlalu luas, terdapat banyak pasien yang menggunakan kursi roda di sana. Tempat itu memang sengaja di ciptakan pihak rumah sakit sebagai sarana hiburan bagi semua pasien yang di rawat di rumah sakit. Bunga-bunga berwarna-warni terlihat bermekaran indah, harumnya juga sudah tercium dari kejauhan.


Serena yang terduduk di atas kursi roda yang di dorong oleh Diva, sangat menikmati udara yang ada di sekitar taman bunga itu. Senyum indah terukir indah di bibirnya yang masih terlihat pucat itu. Serena terus saja menggerakkan kepalanya untuk memperhatikan sekeliling taman yang ada disebelah kanan dan kiri kini ia berada.


“Tempat ini sangat indah, aku sangat menyukainya Kenzo”, gumam Serena pelan sambil tersenyum bahagia menatap ke arah bunga yang ada di dekatnya saat itu.


“Aku tau itu, meskipun kau punya pengalaman buruk dengan taman bunga”, ucap Kenzo pelan.


Suasana kembali hening, Serena hanya diam mendengar pernyataan yang baru saja diebutkan oleh Kenzo. Pikirannya kembali pada kejadian-kejadian ekstrem yang pernah ia lalui beberapa waktu yang lalu.


“Kenapa akhir-akhir ini aku selalu saja menemui aksi baku tembak!” gumam Serena pelan namun tetap terdengar di telinga Kenzo dan Diva.


“Nona, sebaiknya jangan memikirkan hal seperti itu saat ini. Nona baru saja sembuh, sebaiknya nona menikmati suasana taman bunga ini”, jawab Diva yang mengerti arti dari sikap murung Serena.


“Apa aku telah membuat Serena kembali mengingatnya”, batin Kenzo yang sudah di penuhi rasa bersalah.


“Sebaiknya kita segera membawa nona Serena kembali ke kamar tuan”, ketus Diva sambil memandang wajah Kenzo dengan kesal.


“Tidak Diva, aku masih ingin berada di sini”, sambung Serena sambil tersenyum manis.


“Baik nona, maafkan saya”, jawab Diva sambil tertunduk.


“Aku akan membelikan sebuah makanan untuk kalian berdua”, ucap Kenzo memecah suasana.


“Makanan?’’ tanya Serena penuh semangat.


“Ya, kau ingin cake Serena. Di depan ada toko cake, aku akan ke sana untuk membelinya”, tawar Kenzo sambil menatap ke arah toko kecil yang berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini.


“Cake cokelat, aku sangat menyukainya Kenzo. Bisakah kau membelikannya untukku?” pinta Serena dengan penuh harapan.


“Tentu, aku akan membelikannya untukmu. Diva, apa kau ingin memilih rasanya juga?” tanya Kenzo pada Diva yang masih dengan tatapan tidak suka.


“Terserah anda saja tuan”, jawabnya singkat.


“Baiklah, tunggu aku di sini. Aku tidak akan lama”, ucap Kenzo sambil melangkah cepat menuju toko kecil itu.


Serena dan Diva hanya diam memandang kepergian Kenzo. Serena terus saja memperhatiakan sekeliling taman bunga yang kini mengelilingi dirinya dan Diva. Meskipun rasa khawatir masih menyelimuti pikirannya, namun semua itu hilang karena suasana taman bunga itu telah membuat hatinya tenang.


Sementara Diva, masih berdiri dengan posisi tidak nyaman, rasa bersalah dan takut terus saja memenuhi isi kepalanya saat ini. Tidak pernah terlintas di pikirannya apa yang akan dilakukan oleh Daniel ketika melihat pemandangan ini.


“Diva, bagaimana dengan Angel? Apa dia bersama Luna?” tanya Serena yang tiba-tiba saja merindukan bocah kecil yang sangat imut itu.


“Iya nona, saya menitipkan Angel bersama Luna”, jawab Diva dengan perasaan rindu.


“Diva, sebaiknya kau tidak usah bekerja lagi!” seru Serena tiba-tiba.


“Tapi kenapa nona? Apa saya melakukan kesalahan? Maafkan saya nona, saya masih ingin bekerja dengan nona”, ungkap Diva secara cepat, hatinya sudah dipenuhi rasa takut jika harus di berhentikan bekerja dari rumah utama.


“Tidak Diva, aku tidak bermaksud seperti itu”, jelas Serena sambil mendongakkan kepalanya menatap Diva.


“Lalu, apa maksud nona?” tanya Diva masih bingung.


“Aku yang akan membiayai kehidupan Angel, kau tidak perlu meninggalkannya”, sambil tersenyum memandang Diva.


“Tidak nona, saya tidak ingin merepotkan nona”, tolak Diva secara halus.


“Tidak, saya tidak merasa direpotkan. Kau boleh kembali bekerja jika Angel sudah besar. Dia masih terlalu kecil untuk kau tinggal Diva”, gumam Serena lirih sambil membayangkan wajah Angel.


“Saya juga tidak bisa meninggalkan nona, saya sudah terlalu sayang dengan nona”, jawab Diva pelan dengan wajah sedih.


Serena hanya tersenyum menatap Diva, hatinya semangkin senang saat Diva mengatakan hal itu.


“Nona….” gumam Diva terharu.


“Aku akan membicarakan hal ini dengan Daniel”, sambil mengedipkan sebelah matanya.


Serena dan Diva telah larut dalam percakapan itu, hingga mereka tidak lagi menyadari kehadiran Kenzo di sana. Dengan membawa sebuah bungkusan yang berisi cake cokelat favorit Serena dan beberapa cake varian rasa lainnya.


“Apa aku terlalu lama?” celetuk Kenzo yang tiba-tiba muncul di hadapan Serena dan Diva.


“Tidak, apa cake cokelat pesananku ada?” tanya Serena penuh harap.


“Tentu, aku membelikan dua cake cokelat untukmu Serena”, sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cake cokelat untuk Serena.


“Terima kasih Kenzo!” ucap Serena dengan raut wajah senang.


Perlahan Serena membuka kotak itu, wajahnya semangkin berbinar saat dua buah cake cokelat favoritnya kini ada di depan matanya.


“Aku sudah lama tidak memakannya”, gumam Serena yang sudah tidak sabar untuk melahap habis semua cake cokelat itu.


Namun, belum sempat Serena memakan cake cokelat favoritnya itu. Daniel lebih dulu tiba di sana dan menghancurkan momen Serena untuk memakan cake itu.


***


Di dalam kamar, Daniel meletakkan serena di atas tempat tidur dengan hati-hati. Tanpa banyak kata, Daniel duduk di sebuah kursi dengan posisi menghadap Serena. Dengan tatapan yang sudah dipenuhi amarah yang besar, Daniel menatap Serena menagih sebuah penjelasan.


Serena hanya tertunduk diam penuh rasa bersalah, menggenggam erat sprey dan mempersiapkan dirinya untuk menerima satu hukuman yang akan segera di berikan Daniel kepada dirinya.


“Apa aku akan koma lagi!” gumam Serena dalam hati saat bayangan-bayangan buruk amarah Daniel mulai terlintas di kepalanya.


“Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku Serena?” gumam Daniel pelan, masih dengan tatapan mata yang tajam.


“Maaf!” ucap Serena singkat, matanya sudah mulai terasa perih, namun sekuat tenaga ia cegah agar buliran air mata itu tidak sempat untuk menetes membasahi pipinya.


“Maaf kau bilang? Untuk apa?” tanya Daniel lagi.


Pertanyaan yang di ucapkan Daniel semangkin menyudutkan posisi Serena saat ini, bibirnya tidak bisa untuk membela diri. Kesalahannya kali ini memang sudah tidak lagi termaafkan bagi Daniel. Hanya menunduk semangkin dalam tanpa berani memandang ke arah Daniel.


Sambil membuang nafasnya secara kasar, Daniel mencoba untuk meredam amarahnya saat ini. Kepalanya ia sandarkan pada sandaran kursi dan memejamkan matanya untuk memberi ketenangan pada pikirannya saat ini.


“Maafkan aku Daniel”, batin Serena sambil melirik sebentar ke arah Daniel dan kembali menundukkan kepalanya.


**Selamat malam readers...


Lumayan lama lho, Author begadang hanya buat 3 Bab mengabulkan permintaan para readers.


Bantu Author buat promoin novelnya ya.🤗🙏


Author minta Like, vote dan komentarnya juga ya.


juga Bintang 5 nya ya bagi yang belum kasih.


Boleh lah ya... Boleh...😊😊😊


Oiya, mampir di Novel kedua Author yuk.


"Grisyel".


Bisa dilirik2 mana tau tertarik.


Terima kasih sudah setia membaca Cinta mafia ya.


Selamat malam...🤗🤗🤗**