Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 44



Mobil yang ditumpangi Serena melaju dengan begitu cepat. Serena menggenggam dres yang kini ia kenakan. Jantungnya berdebar cepat, napasnya tidak lagi teratur. Ia sangat khawatir dengan kesehatan Angel saat ini.


“Tidak biasanya aku sekhawatir ini pada Angel. Tapi kenapa, pagi ini aku sangat ingin menemuinya.” Serena memandang keluar jendela. Ia membayangkan wajah lucu Angel saat tersenyum padanya.


“Bagaimana aku tidak khawatir. Wajahnya sangat sulit untuk dilupakan.” Serena bersandar dengan tenang.


Beberapa saat kemudian, Serena tiba di rumah Diva. Ia turun dengan tergesah-gesah, berlari cepat untuk masuk ke dalam rumah. Serena mengetuk pintu rumah diva dengan terburu-buru. Pintu itu terbuka dengan cepat, Diva berdiri di sana dengan wajah dipenuhi air mata.


“Ada apa, Diva?” Raut wajah Serena berubah panik.


“Angel, Nona ….” Diva menghapus air mata yang menetes.


“Dimana Angel?” Serena menerobos masuk ke dalam. Ia berlari cepat ke arah kamar, napasnya kembali lega saat melihat Angel tertidur nyenyak di atas tempat tidur.


“Apa dia masih sakit?” Serena berjalan mendekati Angel.


“Nona, saya takut. Demamnya kadang naik dan kadang turun.” Diva mengikuti langkah Serena dari belakang.


“Kita bawa Angel ke dokter. Mungkin Adit bisa membantu kita untuk menyembuhkan penyakit Angel.” Serena memegang kening Angel dengan hati-hati. Ia merasakan, kalau Angel tidak lagi demam saat ini.


“Nona, Angel baru saja istirahat. Sebaiknya kita duduk di depan, Nona.” Diva menunduk hormat.


Serena memandang wajah Angel dengan raut wajah sedih, “Cepet sembuh ya sayang.” Mengecup lembut pucuk kepala Angel dengan penuh cinta.


Serena beranjak dari duduknya mengikuti langkah Diva. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamu.


“Nona, anda membawa banyak pengawal.” Diva memandang pengawal yang berdiri secara acak di luar rumah.


“Aku sudah kalah dengan Daniel. Saat ini hanya bisa patuh pada peraturan yang dia buat.”


Serena bersandar dengan tenang. Ia mengambil handphone untuk menghubungi Daniel. Sejak awal, Daniel berpesan untuk segera menghubunginya, saat sudah tiba di rumah Diva.


“Nona, saya permisi dulu.” Diva berjalan ke arah dapur.


Serena tersenyum sebelum berbicara dengan Daniel, “Sayang, Aku baik-baik saja. Angel demamnya juga udah turun.”


[Sayang, apa kau bisa untuk segera pulang.]


“Iya, sebentar lagi aku akan pulang.”


[Apa Kenzo mengirim pengawal yang bagus untuk menjagamu?]


Serena menarik napas dalam, sebelum menjawab pertanyaan Daniel.


“Mereka tidak terlalu hebat. Tapi cukup bisa di andalkan jika ada orang yang ingin mencelakaiku.”


[Segera pulang. Aku mencintaimu.] Daniel memutuskan panggilan masuknya.


Serena memasukkan handphone itu kembali ke dalam tas. Ia melihat ke arah Diva yang baru saja muncul dengan membawa dua gelas teh di hadapannya.


“Hanya ini yang bisa saya berikan untuk Nona.” Diva menunduk penuh rasa bersalah.


“Jangan sungkan. Aku tidak pernah berteman dengan memandang status sosial.” Serena mengambil teh itu. Meneguknya secara perlahan, ia meletakkan teh itu kembali ke atas meja.


“Nona, ada yang ingin saya beritahu kepada Nona.” Wajah Diva berubah serius.


“Tentang apa?” Serena memandang wajah Diva dengan penuh tanya.


“Ini tentang Ayah Angel,” Diva menunduk sedih.


“Apa kau ingin menceritakannya saat ini?”


Serena kembali ingat dengan penolakan Diva beberapa hari yang lalu. Diva terlihat keberatan untuk menceritakan masa lalunya kepada Serena.


“Iya, Nona. Sebenarnya ….”


DUWARRR! DOOM!


***


Rumah Zeroun Zein.


Shabira dan Kenzo baru aja tiba di rumah Zeroun. Beberapa pengawal menyambut kedatangan mereka. Lukas juga baru saja turun dari tangga. Ia berjalan menghampiri Kenzo dan Shabira.


“Selamat pagi, Tuan.” Lukas membungkuk hormat.


“Apa Zeroun baik-baik saja? Aku dengar ia terluka.” Kenzo memandang wajah Lukas dengan seksama.


“Tuan Zeroun ada di kamar. Mari saya antar, Tuan.” Lukas melirik ke arah Shabira, sebelum pergi menaiki tangga.


“Sayang, apa kau sering ke sini? mereka sangat mengenalmu.” Shabira berbisik di telinga Kenzo.


“Aku dan Zeroun sudah berteman lama. Semua pengawal Zeroun sudah mengenal wajahku sejak lama. Kebanyakan Zeroun mengambil pengawal dari markas kita.”


“Markas?” Shabira menghentikan langkahnya untuk berpikir.


“Iya, dari lorong itu. Mereka adalah kumpulan orang yang terlatih.” Kenzo merangkul pinggang Shabira untuk membawanya kembali berjalan.


Lukas berhenti di depan pintu kamar Zeroun. Ia memandang ke arah Kenzo dan Shabira.


“Tunggu di sini, Tuan.” Lukas masuk ke dalam kamar.


Shabira dan Lukas berdiri di depan kamar untuk menunggu Lukas. Beberapa detik kemudian, Lukas keluar dari kamar.


“Silahkan, Tuan.” Lukas membukakan pintu untuk memberi jalan kepada Shabira dan Kenzo.


Di dalam kamar. Zeroun duduk bersandar di tempat tidur. Mengukir satu senyuman saat melihat Kenzo dan Shabira masuk ke dalam kamar miliknya.


“Selamat pagi, Kenzo.” Zeroun menyambut kedatangan Kenzo dan Shabira.


“Selamat pagi, Zeroun. Bagaimana keadaanmu?” tanya Kenzo dengan raut wajah khawatir.


Lukas membawa dua kursi ke samping ranjang Zeroun, untuk duduk Shabira dan Kenzo saat ini.


“Silahkan, Tuan.” Lukas melangkah mundur dari posisi Kenzo dan Shabira.


“Hanya luka kecil. Aku akan segera sembuh.”


“Terima kasih, Tuan. Anda sudah menyelamatkan Kak Erena.” Shabira memandang wajah Zeroun sambil takut-takut.


“Aku hanya kebetulan lewat. Ada urusan yang harus aku selesaikan di tempat itu.” Zeroun tidak ingin mengakui, kalau sejak awal ia sudah mengikuti Serena.


“Zeroun. Aku harap kau baik-baik saja. Kau sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Aku akan selalu menolongmu untuk menghadapi musuh-musuh yang ingin menyerangmu.”


“Aku bisa menjaga diriku, Kenzo. Jangan khawatirkan tentang hal itu.”


Beberapa pelayan masuk ke dalam kamar, membawa minuman hangat dan makanan ringan untuk Kenzo dan Shabira. Pelayan itu meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja yang ada di sudut ruangan.


“Aku tidak bisa menemani kalian duduk di sana.” Zeroun memandang ke arah sofa.


“Jangan katakan hal itu. Kau harus menjaga kesehatanmu. Agar lekas pulih. Luka itu terlihat sangat serius.” Kenzo memperhatikan perban yang berdarah.


“Tuan, kenapa anda tidak di rawat di rumah sakit saja.” Shabira mengerutkan dahinya karena khawatir.


“Aku akan segera sembuh. Kalian jangan khawatir. Aku tidak suka dikasihani.” Zeroun tersenyum tipis.


Handphone Kenzo berdering. Ia memandang wajah Shabira sebelum beranjak dari duduknya.


“Sebentar ya, sayang.” Kenzo berjalan ke arah jendela. Wajahnya berubah panik saat mendengar kabar berita, yang baru saja di sampaikan oleh bawahannya itu.


Kenzo berjalan cepat ke arah Shabira, “Shabira, Serena ….”


Shabira berubah panik, ia berdiri dari duduknya dengan cepat, “Ada apa dengan Kak Erena?”


“Aku tidak tahu. “ Kenzo menunduk dalam, ia bingung untuk menjelaskan hal itu pada Shabira.


“Katakan padaku Kenzo. Apa yang terjadi pada Kak Erena!” Shabira meneteskan air mata, ia terus mengguncang tubuh Kenzo dengan kuat.


“Serena dan para pengawal pergi menemui Diva. Rumah Diva di Bom Shabira.” Kenzo memandang wajah Shabira dengan kesedihan.


“Apa kau bilang, Kak Erena ….” Kaki Shabira tidak lagi bertenanga.


Kenzo memeluk tubuh Shabira untuk menenangkannya, “Aku yakin, Serena akan baik-baik saja.”


“Aku pamit dulu, Zeroun.” Kenzo membawa tubuh Shabira meninggalkan kamar Zeroun.


Lukas memandang kepergian Kenzo dan Shabira. Ia memeperhatikan raut wajah Zeroun saat ini.


“Bos. Maafkan saya. Tapi saat ini, masalah Nona Erena tidak menjadi tanggung jawab anda. Keadaan anda juga masih lemah. Sebaiknya anda beristirahat untuk memulihkan kesehatan anda, Bos.” Lukas menunduk hormat.


Zeroun hanya diam memandang ke arah pintu. Tangannya terkepal kuat, hingga memutih. Menarik napas dalam untuk mengontrol rasa khawatirnya saat ini. Zeroun kembali bersandar dan memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya saat ini.


Jika kau pergi untuk yang kedua kalinya. Aku akan menyusulmu hingga ke akhirat!


Belum bisa crazy up. Kalau jumlah vote belum 20k Readers.😘


Salam sayang author untuk kalian semua.