
Panas yang tadi terik sudah berubah sedikit redup. Awan gelap mulai menutupi matahari. Suasana rumah utama terlihat sangat tenang siang ini. Setelah selesai makan siang, Daniel dan Serena kembali masuk ke dalam kamar.
Serena meletakkan tas favoritnya di dalam lemari. Melirik sebentar ke arah Daniel, yang masuk ke dalam kamar mandi. Serena mengambil remot dan menyetel saluran TV siang ini. Jarinya terus saja menekan tombol-tombol remot itu. Sejak tadi, belum ada siaran TV yang membuatnya tertarik.
Serena kembali meraih Hp yang tergeletak di atas meja. Sejak tadi rasa penasarannya belum hilang. Pikirannya masih mengingat hubungan Sonia dan Daniel. Nama Tama lagi-lagi menjadi tempatnya untuk bertanya. Memang sejak awal Serena jauh lebih dekat dengan Tama, daripada Biao.
[Hallo Tama, apa kau sibuk?] Melirik sebentar ke arah pintu kamar mandi.
[Ada yang bisa saya bantu, nona?]
[Siapa Sonia?] Tanya Serena pelan.
[Untuk apa anda menanyakan tentang Sonia, Nona.]
Memutuskan panggilan secara sepihak. Daniel baru saja muncul dari kamar mandi. Serena tidak ingin Daniel mengetahui penyelidikannya tentang Sonia.
“Kau sudah selesai Daniel,” Tersenyum lebar.
“Ada apa? kenapa wajahmu terlihat seperti ketakutan. Ada yang kau sembunyikan?” Melangkah mendekat ke arah Serena.
“Tidak, aku ingin mandi.” Berlari ke arah pintu kamar mandi sambil menggenggam Hp.
“Cih, wanita yang aneh.” Berdecak pelan.
Daniel mematikan TV dan melangkah ke arah tempat tidur. Meluruskan kakinya yang terasa kaku, dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
Di dalam kamar mandi, Serena mulai mengatur nafasnya. Detak jantungnya sempat terhenti, saat melihat kemunculan Daniel.
“Hampir saja ketahuan,” ucap Serena pelan.
Serena kembali melirik ke arah layar Hp, jarinya mulai mengetik pesan singkat untuk Tama.
“Aku harus segera mandi.” Membuka helai demi helai pakaiannya dan menyiapkan air di bak mandi untuk berendam.
Serena memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. Hatinya terus saja merasakan bunga-bunga cinta yang kini bermekaran di hatinya. Senyum manisnya tidak lagi ingin menjauhi bibirnya. Sikap lembut Daniel hari ini, membuat rasa sakit yang sempat tersimpan hilang entah kemana. Kini yang ada di pikirannya hanya nama Daniel yang baik hati.
“Terima kasih pa, sudah menyiapkan kebahagiaan ini untukku.” Tersenyum, menatap langit-langit kamar mandi.
Durasi mandi Serena, jauh lebih lama di bandingkan Daniel. Daniel yang sejak tadi menunggu Serena, mulai merasa kesal. Daniel membaringkan tubuhnya beberapa saat, sebelum ia kembali duduk dan menatap pintu kamar mandi.
“Apa yang dia lakukan, kenapa lama sekali.” Memandang kesal ke arah jam dinding.
Hingga sosok yang sejak tadi ia nanti muncul. Serena keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Satu dres santai dan rambut yang masih sedikit basah. Serena melangkah ke arah meja rias untuk sedikit mengeringkan rambutnya saat ini.
Daniel kembali tertidur di atas ranjang dan menutup kepalanya dengan bantal. Hatinya semangkin kesal, saat Serena tidak kunjung berada di sampingnya saat ini.
‘Dasar wanita menyebalkan! Dia sudah berjam-jam dikamar mandi. Dan sekarang dengan santainya dia duduk di sana.’ gumam Daniel dalam hati.
Daniel membuang bantal yang ia pegang, hingga terjatuh ke lantai. Daniel duduk dan menatap Serena dengan tatapan tajam.
“Serena,” teriak Daniel.
Dengan cepat Serena mematikan hair dryer yang sejak tadi ia genggam.
“Daniel,” ucap Serena pelan, kembali menebak-nebak sifat Daniel saat ini.
Daniel menarik nafasnya dalam. Mulai mengatur emosi yang kini sudah memenuhi hatinya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Daniel lembut.
“Aku,” melirik ke layar Hp yang berbunyi, ‘Tama, apa dia baru saja membalas pesanku,’ gumam Serena dalam hati.
Tidak berani melanjutkan perbincangannya dengan Tama, Serena beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah Daniel. Serena mengambil bantal yang sempat terjatuh, dan meletakkannya pelan di atas ranjang. Serena duduk di samping Daniel dengan wajah penuh tanya.
“Ada apa Daniel?” Serena mengangkat satu tangannya untuk menopang wajahnya.
“Temani aku ke peresmian gedung Mr. X besok malam,” jawab Daniel singkat.
“Mr. X? apa dia pria yang memberiku bunga mawar itu?” tanya Serena penasaran.
“Ya,” jawab Daniel singkat.
“Baiklah, aku akan mengucapkan terima kasih padanya,” ucap Serena lembut.
Pikirannya masih dipenuhi keraguan, untuk membawa Serena bertemu dengan Mr.X besok. Namun Daniel sudah menguatkan hatinya, untuk menerima kejutan selanjutnya. Sejak mengetahui status masa lalu Serena, rasa takut kehilangan selalu saja menyelimuti pikirannya.
‘Aku harap, Mr.X bukan orang yang memiliki hubungan dengan masa lalumu Serena,” gumam Daniel dalam hati.
“Ini pertama kalinya, kau membawaku ke acara seperti itu. Aku sedikit khawatir,” ucap Serena yang sudah mengganti posisinya dengan bersandar.
“Khawatir?”
“Ya, aku takut mengecewakanmu Daniel,” ucap Serena pelan.
“Hei, kenapa kau mengatakan hal itu. Kau tidak pernah mengecewakanku Serena. Maafkan aku, selama ini terlalu sering menyakiti hatimu.” Mengambil kedua tangan Serena, dan menggenggamnya erat, “Aku berjanji untuk tidak lagi menyakitimu, Serena.” Tersenyum bahagia.
“Janji?” tanya Serena masih tidak percaya.
“Aku, Daniel Edritz Chen. Berjanji untuk tidak lagi menyakiti hati wanita cantik yang kini ada di hadapanku.”
Serena tersenyum bahagia mendengar penyataan Daniel saat ini. Satu kalimat yang selama ini ingin ia dengar dari bibir Daniel langsung. Satu kalimat yang menjawab semua keraguan dirinya terhadap Daniel. Satu kalimat yang membuat Serena bisa bangkit dan melupakan masa lalunya yang sempat hilang.
“Daniel, terima kasih. Karena kau mau menerimaku. Aku tidak pernah bermimpi bisa menjadi nona muda di dalam keluarga ini.” Serena mencium kedua tangan Daniel.
‘Kau juga nona muda, Serena. Nona muda dari keluarga Wang,’’ gumam Daniel dalam hati.
Daniel tersenyum bahagia, melihat sosok wanita yang kini berstatus sebagai istrinya. Butuh waktu berbulan-bulan, untuk Daniel mengerti pentingnya Serena. Terbongkarnya masa lalu Serena, membuat Daniel menyadari perasaan yang sesungguhnya. Rasa takut Daniel semangkin kuat, saat nama Zeroun kian muncul ke permukaan. Berstatus sebagai orang yang paling penting di masa lalu Serena, membuat Daniel semangkin ingin mempertahankan Serena.
“Istirahatlah,” ucap Daniel pelan.
“Baiklah, tapi kau harus menemaniku.” Merebahkan kepalanya di atas tangan Daniel.
Daniel mulai mengambil posisi tidur siangnya. Tangannya kini menjadi bantal bagi Serena. Daniel memberi satu kecupan singkat di kening Serena. Hari ini, hatinya benar-benar sedang di mabuk dengan pesona Serena. Meskipun tubuhnya terasa lelah, Daniel tidak ingin melewatkan sedetikpun waktunya untuk tidak memandang wajah Serena.
Serena memandang wajah Daniel yang terus memandang wajahnya. Tangannya meraih wajah tampan Daniel, yang selama ini ia kagumi. Matanya mulai terasa berat, posisi nyaman itu membuat Serena cepat larut dalam tidurnya.
Daniel yang sejak tadi memandang Serena, juga ikut tidur disamping Serena. Memeluk Serena dengan erat dan tidak ingin melepaskannya.
Cinta sudah membuang semua ego, yang selama ini memenuhi pikiran Daniel. Meskipun hatinya selalu saja tertutup rapat, saat perasaan cinta hadir. Namun kini, hati itu sudah tidak lagi mampu menolaknya. Daniel sudah kalah dengan pertarungan ego dan cinta yang selama ini memerangi pikirannya. Berada di samping Serena, adalah satu tempat ternyaman. Daniel tidak lagi ingin beranjak pergi.
**Sabar, belum tamat kok.😂
Cuma kasih tahu isi perasaan Daniel aja, biar enggak pada tanya-tanya terus😘
Like, Komen dan Vote.
Kalo punya Koin, juga boleh kasih tips
Terima kasih sudah membaca.😘😘😘**