Mafia's In Love

Mafia's In Love
Rahasia Biao Part. 3



“Baiklah tuan, saya akan mengatakan semua yang saya ketahui.” Tama melirik sebentar ke arah Ny. Edritz sebelum memulai cerita yang sudah ia siapkan.


“Nona Serena adalah ketua mafia Queen Star,” ucap Tama mantap.


“Queen Star?” ulang Daniel yang masih tidak percaya, “Mafia?” sambungnya lagi.


Tuan dan Ny. Edritz hanya bisa saling menatap, detak jantung yang sempat berdetak cepat kini seperti berhenti seketika. Tidak ada lagi jalan untuk menghindar dan lari dari kenyataan. Satu rahasia besar yang selama ini mereka susun rapi, telah terbongkar dengan begitu cepat.


“Benar tuan, nona Serena seorang mafia,” ucap Tama lagi.


Daniel hanya diam beberapa saat, untuk mencerna kalimat yang baru saja di katakan oleh Tama. Nama Arion dan beberapa peristiwa yang pernah terjadi, kembali muncul di dalam pikirannya.


“Apa itu yang menyebabkan Arion menyerang kita?” tanya Daniel cepat.


“Arion adalah ketua geng mafia White Tiger. Musuh besar yang pernah di miliki oleh nona Serena,” tambah Tama lagi.


Daniel kembali duduk di atas kursinya, satu berita yang membuat kedua kakinya tidak lagi memiliki tenaga. Tatapan matanya hanya ia arahkan pada beberapa barang yang ada di atas meja. Raut wajah tidak percaya sangat jelas terpancar. Beberapa lembar foto Serena, yang sempat ia letakkan di atas meja. Kembali ia raih dan ia tatap dengan seksama.


Beberapa lembar foto yang terdapat banyak wajah Serena di sana, yang sedang memegang dua buah pistol yang menjadi ciri khasnya pada waktu itu. Tatapan mata tajam untuk membunuh dan pakaian hitam penuh misteri. Sungguh, satu penampilan yang sangat berbeda jika harus di bandingkan dengan penampilan Serena saat ini. Yang penuh dengan senyuman manis dan penampilan yang anggun.


Ruangan itu kembali sunyi tanpa ada yang berani mengeluarkan satu katapun. Semua orang hanya menunggu perintah selanjutnya yang akan di katakan oleh Daniel. Tidak lagi ada pembelaan dan tidak ada lagi penjelasan yang bisa dikatakan tuan Edritz dan Ny. Edritz.


“Apa semua ini benar, ma?” tanya Daniel pada Ny. Edritz untuk kembali memastikannya.


“Daniel, mama bisa ….”


“Apa ini benar ma!” teriak Daniel kesal.


“Daniel! tidak seharusnya kau membentak ibumu seperti itu!” ucap tuan Edritz tidak terima.


“Tidak seharusnya?” senyum tipis terukir di bibir Daniel, “Apa kalian pernah berpikir, bagaimana perasaanku saat ini? Aku menikahi Serena Karena sangat menyayangi kalian!” sambung Daniel yang semangkin kesal.


“Maafkan mama Daniel,” pintah Ny. Edritz lirih.


“Kenapa mama tidak pernah memikirkan perasaan Daniel ma?” tanya Daniel yang kini sudah berdiri lagi dari duduknya.


“Mama takut, jika kau mengetahui semua ini. Kau tidak akan mau menikah dengan Serena,” jawab Ny. Edritz dengan nada yang semangkin pelan.


“Tapi sekarang perasaanku semangkin sakit, ma,” sambung Daniel lagi.


“Tuan Wang meminta papa dan mama untuk merahasiakan semua ini, Daniel,” ucap tuan Edritz untuk membela diri, “Ini semua demi kebaikan kalian berdua,” sambung tuan Edritz lagi.


“Ini bukan satu kebaikan untukku, pa.”


Tatapan tajam ia tujukan pada tuan Edritz, “Tapi kebaikan untuk kalian,” sambungnya cepat.


“Maafkan mama, Daniel,” pinta Ny. Edritz lagi sambil memegang kedua kepalanya yang mulai terasa sakit.


Ny. Edritz jatuh di lantai, matanya terpejam dan tidak lagi sadarkan diri. Tuan Edritz, Tama dan Biao menghampiri posisi Ny. Edritz dengan cepat. Sedangkan Daniel, masih berdiri mematung di balik meja kerja dengan wajah yang tidak terbaca lagi.


“Saya akan membawanya ke kamar,” ucap tuan Edritz yang kini sudah menggendong tubuh Ny. Edritz dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


‘Maafkan Daniel, ma. Kasih Daniel waktu untuk menerima semua ini,’ gumam Daniel dalam hati, dengan perasaan sedih melihat keadaan Ny. Edritz saat ini.


“Aku akan memanggilkan dokter,” ucap Biao dan berlari cepat mengikuti tuan Edritz dari belakang.


Kini hanya ada Tama dan Daniel di dalam ruangan itu. Tatapan mata Daniel terus ia fokuskan pada punggung tuan Edritz yang sudah menghilang dari balik pintu. Perasaan sedih dan kecewa sudah melebur menjadi satu di dalam hatinya.


Tama hanya bisa melirik Daniel sebentar, sebelum kembali mengalihkan tatapan matanya ke sembarang arah. Satu identitas Serena yang baru saja ia bongkar, sudah menyebabkan kekacauan yang begitu besar. Beberapa info yang belum sempat ia sampaikan, masih tertahan di dalam pikirannya.


‘Keadaan akan semangkin memburuk jika aku menceritakan semua yang telah terjadi, saat ini juga,’ gumam Tama dalam hati.


“Baik tuan,” jawab Tama dan berlalu pergi meninggalkan Daniel sendiri di dalam ruangan itu.


Entah kejutan apalagi yang akan di ketahui oleh Daniel, namun saat ini Daniel lebih memilih untuk menyendiri dan menenangkan pikirannya. Satu identitas yang tidak pernah terlintas di dalam pikirannya.


“Apa benar kau seorang mafia, Serena?” ucap Daniel pelan, yang masih fokus pada beberapa lembar foto yang ada dihadapannya.


Tama berjalan menuju kearah kamar Ny. Edritz. Ribuan rasa bersalah saat ini telah menyelimuti pikirannya. Namun ia tidak lagi memiliki pilihan kedua. Sejak ia menginjakkan kakinya masuk di rumah utama, prioritas utama dalam hidupnya adalah Daniel.


Hal itu juga sama di rasakan oleh Biao. Meskipun Biao masuk ke rumah utama karena perintah tuan Edritz, tetapi hal yang harus selalu ia utamakan adalah hidup Daniel, kebahagiaan Daniel. Masalah yang di timpah Daniel adalah tanggung jawab yang harus segera mereka selesaikan.


“Pak Han,” ucap Tama pelan, saat kini ia berpapasan dengan pak Han dibawah.


“Tuan Tama, anda?” ucapan pak Han terhenti saat pikirannya kembali mengingat proses pemakaman Tama beberapa hari yang lalu.


“Aku masih hidup, pak Han,” jawab Tama dengan senyum manis ciri khasnya.


“Tapi, bagaimana mungkin tuan?” tanya pak Han bingung.


“Lain kali aku akan menjelaskan semuanya, tapi saat ini kita harus segera memanggil dokter untuk Ny. Edritz.” Memandang ke arah pintu kamar Ny. Edritz.


“Tuan Biao sudah menelepon Dokter Adit, tuan,” ucap pak Han.


“Benarkah?” jawab Tama pelan.


“Saya permisi tuan,” ucap pak Han dan berlalu pergi meninggalkan Tama yang masih berdiri tegab di sana.


Tatapan matanya terus ia fokuskan pada pintu kamar Ny. Edritz. Namun, langkah kakinya tidak lagi berani melangkah untuk masuk ke dalamnya. Sosok Biao yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Ny. Edritz, membuat nafas Tama sedikit lega.


“Apa Ny. Edritz baik-baik saja, Biao?” tanya Tama penuh khawatir.


“Ny. Edritz masih belum sadar. Dokter Adit akan segera tiba,” ucap Biao dengan tatapan tajam ke arah Tama, “Apa kau baik-baik saja?” sambung Biao lagi.


“Aku baik-baik saja, Biao,” jawab Tama dengan senyum penuh kebohongan.


Isi hati Tama saat ini sangat berbeda dengan apa yang baru saja ia katakan. Sifat Tama yang selalu memiliki belas kasih kepada semua orang, membuat hidupnya menjadi tidak tenang karena sudah melakukan penyelidikan ini.


“Tama, istirahatlah. Kau baru saja kembali. Semua akan berjalan normal kembali,” ucap Biao.


“Baikah, aku akan ke kamar untuk istirahat.” Tama menepuk pundak Biao pelan, sebelum berlalu pergi meninggalkan Biao sendiri di sana.


Hari pertama kepulangan Serena dari Rumah Sakit tidak hanya di warnai suka cita, namun kabar buruk juga turut ikut di dalamnya. Hari semangkin larut dan berubah menjadi gelap. Semua lampu terang di rumah utama telah menyoroti setiap sudut ruangan. Perjalanan baru bagi Daniel, baru saja di mulai.


.


.


.


.


Senengnya author, semalam baca komen para reader.


Reaksinya pada bahagia semua lagi...🤣🤣🤣.


Like, Komen dan Vote.


Terima kasih buat semua reader tersayang.