
Di ruang rawat Zeroun.
Suasana ruangan itu terasa begitu tenang dan damai. Zeroun masih memejamkan mata dengan hembusan napas yang sangat tenang. Lukas berdiri di samping tempat tidur Zeroun untuk menjaganya. Shabira dan Kenzo berdiri di sisi yang lain. Mereka menatap wajah Zeroun dengan kesedihan.
“Apa benar yang dikatakan Dokter itu?” Shabira masih tidak percaya, kalau Zeroun adalah saudara kandungnya.
“Semua akan terjawab saat Zeroun kembali sadar. Sebaiknya kita biarkan dia istirahat.” Kenzo memegang pundak Shabira.
“Lukas, jaga Tuan Zeroun. Jangan tinggalkan dia agar tidak ada orang yang bisa mencelakainya.” Shabira menatap wajah Lukas dengan seksama.
“Baik, Nona.” Lukas menunduk hormat.
“Ayo sayang, kita lihat keadaan Serena.” Kenzo membawa tubuh Shabira ke arah pintu.
Shabira memutar tubuhnya untuk memandang wajah Zeroun lagi.
“Zeroun akan segera bangun, jangan khawatir.” Kenzo menarik tubuh Shabira meninggalkan kamar itu.
Lukas memperhatikan Kenzo dan Shabira yang menghilang dari balik pintu. Ia menarik napas dalam dan memandang wajah Zeroun dengan penuh rasa khawatir.
Anda selalu saja mengabaikan keselamatan anda, Bos. Tapi, apa benar kalau Shabira adalah saudara kandung Bos Zeroun yang hilang?
***
Daniel masih duduk diam di samping Serena. Menatap wajah Serena tanpa berkedip. Tatapannya teralihkan saat mendengar suara pintu terbuka.
“Kenzo,” ucapnya pelan.
Shabira dan Kenzo berjalan pelan mendekati tempat tidur Serena.
“Apa Zeroun Zein sudah sadar?” tanya Daniel dengan wajah penuh harap.
“Belum,” jawab Kenzo singkat.
Shabira melepas genggaman tangan Kenzo, berjalan mendekati tempat tidur Serena.
“Kakak, bangun ….” ucap Shabira dengan nada yang lirih. Buliran air mata menetes satu persatu saat ia melihat wajah Serena yang dipenuhi luka.
“Sayang, biarkan Serena beristirahat. Jangan mengganggunya.” Kenzo merangkul pinggang Shabira.
“Apa semua ini sudah berakhir?” tanya Daniel dengan wajah serius.
Kenzo menggeleng kepalanya, “Belum Daniel. Sonia sudah membocorkan identitas Serena. Semua orang yang menyimpan dendam kepada Serena, akan terus mencarinya.” Kenzo menatap wajah Serena.
“Wanita itu tidak pernah menyerah.” Daniel mengepal kuat tangannya.
Handphone Daniel berdering. Ia mengerutkan dahi saat melihat nama Aldi di layar ponselnya.
“Aldi,” ucap Daniel sebelum melekatkan handphone itu di telinganya.
“Ada apa, Aldi?” tanya Daniel cepat.
[Apa Serena sudah ditemukan?”] tanya Aldi dengan kekhawatiran.
“Aldi, darimana kau tahu kalau Serena menghilang?” tanya Daniel penuh curiga.
[Aku datang menemui Sonia. Saat itu ada pria asing yang menyerang rumahnya, bahkan berniat untuk mencelakai Sonia.]
“Siapa?” tanya Daniel dengan tenang.
[Aku tidak kenal dengan pria itu. Tapi, Sonia baru saja sadar. Ia bilang kalau Serena akan berada dalam bahaya saat ini.]
“Aku sudah berhasil menemukan Serena.” Daniel tidak ingin menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
[Kabari aku, jika kau sudah kembali. Ada banyak hal yang ingin ku sampaikan.]
Aldi menutup panggilan teleponnya. Daniel menatap layar handphone itu sebelum memasukkannya di dalam saku.
“Apa kata Aldi?” tanya Kenzo penasaran.
“Wanita itu. Apa anda menerima kabar kematiannya, Tuan?” tanya Shabira dengan penuh antusias.
Daniel menggeleng kepalanya, “Aldi memberi kabar, kalau Sonia sudah sadar.”
“Kenapa wanita itu bisa sangat beruntung. Aku harus mengirim orang untuk membunuh wanita itu.” Shabira mengambil handphone dari sakunya.
“Sayang, apa yang kau lakukana?” Kenzo mencegah Shabira.
“Apa kau masih membela wanita itu?” tanya Shabira dengan penuh amarah.
“Aku tidak membela Sonia. Bahkan aku sangat membenci dirinya saat ini. Sebaiknya, saat ini kita fokus dengan kesehatan Serena dan Zeroun. Jangan membuat masalah baru di tempat lain.”
Kenzo memegang kedua pipi Shabira, “Kita akan mengurus Sonia, setelah kembali pulang.”
Shabira memasukkan handphone itu kembali ke dalam saku. Ia memandang wajah Serena dan Kenzo secara bergantian.
“Pertemukan aku dengan wanita itu nanti.” Shabira melipat kedua tangannya.
Kenzo tersenyum manis, “Kita akan menemuinya, Aku janji.”
Suasana kembali hening saat Shabira tidak lagi mengeluarkan kata. Semua mata hanya tertuju pada wajah Serena.
“Angel, bagaimana keadaannnya?” Shabira kembali ingat dengan anak berusia 3 tahun itu.
“Aku sudah membayar perawat untuk menjaganya, jangan khawatir sayang,” jawab Kenzo santai.
“Aku harus menemuinya dan menjaganya langsung. Aku tidak ingin ada orang yang berniat jahat lagi padanya.” Shabira berlari cepat meninggalkan ruang rawat Serena.
“Shabira,” teriak Kenzo dari kejauhan.
“Wanita ini!” ucapnya kesal.
“Mereka memiliki sifat yang sama bukan?” Daniel menatap wajah Serena dengan senyuman.
“Siapa yang kau maksud, Daniel?” tanya Kenzo bingung.
“Serena wanita yang keras kepala dan susah di atur. Tidak akan pernah menuruti perkataanku dan mengambil keputusan dengan menggunakan emosi. Bukankah itu satu sifat yang juga dimiliki Shabira?” Daniel memandang wajah Kenzo.
“Ya. Mereka wanita yang biasa hidup di jalanan. Tidak akan mudah untuk kita kurung di dalam rumah. Di tambah lagi, mereka memiliki ilmu bela diri yang bagus. Hingga membuat sifatnya menjadi sok jago bukan?” Kenzo mengukir senyuman tipis.
“Aku tidak pernah berpikir, kalau jodohku wanita berbahaya seperti ini.” Daniel menyentuh lembut pipi Serena.
“Aku juga pernah berpikir seperti itu.” Kenzo menarik kursi dan duduk dengan posisi menghadap Daniel.
“Papa menjodohkanku dengan Sonia. Wanita yang berada di level kelas atas dan mengerti tentang bisnis. Tapi beruntungnya aku, Sonia tidak mencintaiku. Malam itu kami bertemu dan menjadi teman. Kami menceritakan orang yang kami cintai dan mengatur starategi untuk menolak pertunangan itu. Aku tidak pernah berpikir, kalau pria yang disukai oleh Sonia adalah kau.” Kenzo menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Tuan Ananta menjebakku waktu itu. Ia ingin membuat S.G.Group bangkrut. Taun Wang, memberi seluruh aset perusahaan yang ia miliki untuk membantu S.G.Group. Hingga S.G.Group kembali Berjaya.” Daniel memandang wajah Serena.
“Sejak dulu, kami juga dijodohkan. Aku tidak pernah tahu, kalau aku bisa mencintai Serena hingga sebesar ini. Aku bahkan sangat membenci dirinya saat itu. Pernikahan karena dijodohkan.” Daniel mengukir senyuman tipis.
“Aku tidak pernah bisa menerima pernikahan itu dan selalu saja menyalahkannya. Sekarang, saat ia hampir pergi meninggalkanku, hatiku terasa begitu sakit. Aku tidak ingin kehilangan dirinya.” Daniel menatap wajah Kenzo.
“Apa ini balasan atas perbuatanku dulu, Kenzo? aku menyiksanya hingga aku diberi hukuman seperti ini.”
“Semua memiliki hubungan yang kuat bukan. Aku juga pertama kali kenal mengenal Serena untuk menolongnya. Siapa sangka kalau Serena adalah istrimu Daniel. Bahkan aku menculiknya ke pantai.” Kenzo kembali mengenang pertemuan-pertemuan singkatnya dengan Serena.
“Jika kau ada waktu, bawa Serena ke pulai keluarga Chen. Pulau itu sangat bagus dan indah, suatu saat aku juga akan membawa Shabira ke tempat itu.” Kenzo menatap wajah Serena.
“Serena sangat menyukai pantai. Dia pasti sangat bahagia, ketika kau membawanya ke pulau kita.”
“Aku memang memiliki rencana untuk membawanya ke pulau itu, Kenzo. Bersama denganmu.” Daniel menatap wajah Kenzo sambil tersenyum.
“Jangan menungguku, pergilah segera ke tempat itu saat Serena sudah sembuh. Aku harus mengurus pernikahanku dengan Shabira. Aku tidak ingin gagal lagi untuk menikahinya.”
Daniel dan Kenzo memandang wajah Serena yang masih tertidur dengan tenang. Hembusan napasnya terlihat teratur. Mereka bisa bernapas lega saat melihat Serena dan Zeroun berhasil melewati masa kritis.