Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 9



Rumah utama Daeshim Chen.


Shabira terlihat sibuk menyiapkan makan malam di meja makan. Beberapa menu ia tata secara rapi dibantu dengan pelayan-pelayan yang bekerja di rumah itu.


Wanita tangguh itu cukup merasa bosan saat hanya duduk dan menonton para bawahannya bekerja. Shabira lebih memilih ikut campu dengan urusan dapur agar bisa menghidangkan makanan untuk suami tercinta.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Seperti biasanya, Kenzo akan segera tiba di rumah utama, Shabira tersenyum saat mendengar suara klakson mobil suaminya. Wanita itu berlari menuju ke pintu utama untuk menyambut kedatangan Kenzo malam itu.


Kenzo turun dari dalam mobil tepat saat Shabira tiba di depan pintu utama. Pria itu mengukir senyuman indah saat melihat wajah cantik istrinya. Kedua tangannya ia rentangkan untuk menyambut tubuh istri tercinta.


“Kenzo,” ucap Shabira sebelum berlari untuk memeluk tubuh suaminya. Wajahnya tersenyum dengan begitu ceria. Seperti itulah kira-kira pemandangan yang akan ditemui setelah Shabira dan Kenzo menikah. Pertemuan setiap kali pulang kerja sudah seperti pertemuan karena tidak jumpa bertahun-tahun.


“Aku sangat merindukanmu,” ucap Shabira sambil menenggelamkan kepalanya di dalam tubuh Kenzo dengan manja.


“Sayang, Aku juga sangat merindukanmu. Bisakah kita masuk sekarang?” Kenzo tersenyum sambil mengusap lembut pundak istrinya.


Shabira mengangkat kepalanya memandang wajah lelah milik suaminya. Satu tangannya mengusap lembut pipi Kenzo dengan wajah bingung.


“Sayang, apa ada masalah lagi di Z.E.Group?”


Kenzo meraih tangan Shabira dan mengecupnya dengan lembut. Pria itu menggeleng pelan agar sang istri tidak lagi mengkhawatirkannya, “Semua baik-baik saja. Ayo kita masuk ke dalam.”


Shabira berjalan beriringan dengan Kenzo. Wanita itu menggandeng lengan suaminya sambil memikirkan pekerjaan yang kini membebani suaminya. Sejak awal, Kenzo tidak pernah tahu tentang perusahaan. Kalau bukan karena campur tangan Daniel, mungkin Z.E.Group hanya tinggal nama detik ini.


Melihat Z.E.Group dipegang oleh orang tidak berpengalaman seperti Kenzo, membuat beberapa peursahaan lainnya terus saja mencari cara untuk membuat Z.E.Group gulung tikar. Masalah ini masih mereka tutup rapat agar Zeroun Zein sang pendiri Z.E.Group tidak mengetahuinya.


Kemampuan sepasang kekasih itu memang lebih jago di bidang pasar gelap yang kasar dan tanpa negosiasi. Menghadapi ruang lingkup perusahaan yang harus tetap mematuhi peraturan seperti sebuah tantangan terbesar bagi Kenzo saat ini.


“Sayang, Aku mau mandi dulu.” Kenzo mengecup pucuk kepala Shabira sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Tidak biasanya pria berstatus suaminya itu tidak mengajaknya untuk menemaninya mandi bersama.


Shabira melipat kedua tangannya di depan dada sambil menarik napas secara kasar, “Apa lagi kali ini masalah yang Kau hadapi sayang?” ucap Shabira pelan sebelum pergi meninggalkan kamar tidur miliknya dan Kenzo.


Shabira berjalan menjejaki anak tanggan dengan wajah bingung. Sesekali ia memandang beberapa pengawal yang sudah lolos seleksi atas tantangan yang ia buat tadi pagi. Wanita itu tersenyum kecil saat mengingat perjuangan dulu sebelum bisa hidup tenang seperti sekarang. Ada harapan besar di dalam hatinya kalau Kenzo bisa melewati masa-masa sulit ini. Hingga nantinya ia bisa menjadi CEO yang cukup handal seperti Zeroun dan Daniel.


“Mungkin Aku harus memberi semangat kepada Kenzo agar ia tidak putus asa.” Shabira tersenyum manis sebelum merapikan meja makan untuk makan malamnya bersama dengan Kenzo. Wanita itu duduk sambil menunggu suaminya turun dari tangga.


Setelah beberapa menit menunggu, Kenzo turun dengan setelan santai dan rambut yang masih basah. Pria itu mengukir senyuman indah miliknya saat memandang wajah cantik istrinya.


Shabira menggeleng pelan kepalanya, “Tidak sayang. Ayo kita makan. Hari ini Aku belajar menu baru.” Shabira mengambil menu yang baru saja ia masak beberapa saat yang lalu. Kenzo terlihat bahagia saat melihat masakan buatan istrinya malam itu. Sejak menikah Kenzo hampir lupa dengan masa lalu istrinya itu.


Shabira benar-benar berubah seperti wanita pada umumnya. Tidak ada lagi prilaku kasar atau kelakuan yang esktrim yang dulu ia lakukan. Walaupun memang, pistol kesayangan Shabira masih setia menemaninya hingga detik ini.


“Sayang, apa masakannya enak?” Shabira menatap wajah Kenzo untuk menunggu penilaian dari suaminya.


“Masakan ini sangat enak. Aku ingin setiap hari dimasakkan masakan seenak ini.” Kenzo melahap habis hidangan yang tersaji di atas piringnya.


Sepasang suami istri itu menyantap makan malamnya dengan situasi yang cukup tenang. Hingga tidak menunggu lama, mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. Perut mereka terasa begitu kenyang. Bahkan rasa lapar itu sudah terganti dengan mata yang cukup lelah dan sangat ingin istirahat.


“Sayang, ayo kita ke kamar,” rengek Shabira. Walaupun hanya di rumah. Tetapi beberapa aktifitas yang dilakukan Shabira cukup untuk membuat tubuhnya lelah.


Kenzo mengusap lembut tangan Shabira, “Sayang, tidurlah lebih dulu. Aku harus menyelesaikan satu pekerjaan penting untuk rapat besok. Setelah selesai Aku akan menyusulmu di kamar.” Mengecup punggung tangan Shabira.


Shabira mengangguk pelan pertanda setuju. Sepasang suami istri itu bersama-sama menaiki anak tanggan menuju lantai atas. Ruang kerja Kenzo berada di dekat tangga. Pria itu masuk ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Sedangkan Shabira, memilih untuk pergi ke kamar dan tidak mengganggu Kenzo saat ini.


Walau hatinya sedikit sedih karena kini harus tidur sendirian di kamar. Tetapi wanita itu mencoba bersabar menghadapi cobaan rumah tangga yang kini mereka hadapai.


Shabira menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu memandang langit-langit kamar dengan wajah gelisah. Biasanya selalu saja ada tangan Kenzo yang mengusap lembut rambutnya hingga matanya terlelap. Tetapi, malam ini pria itu harus berada di ruangn kerja dan tidak bisa menemaninya tidur.


“Aku tidak lagi merasa ngantuk!” protes Shabira sambil duduk di tepi ranjang. Wanita itu mengukir senyuman kecil sambil memandang lemari. Hanya satu ada satu cara untuk menghilangkan stress Kenzo malam itu.


Shabira berjalan ke lemari untuk mengganti baju tidurnya dengan lingerie berwarna hitam yang cukup seksi. Satu komono satin panjang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya sebelum ia berada di dalam ruangan Kenzo. Wanita itu berdandan dengan begitu cantik di depan cermin untuk menggoda pria berstatus suaminya itu.


“Ok, Aku yakin Kenzo tidak akan merasa stress lagi.” Shabira pergi meninggalkan kamar tidurnya menuju ke ruang kerja milik suaminya dengan penuh percaya diri dan senyuman yang cukup indah. Membuka perlahan pintu ruangan kerja itu tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.


“Sayang,” ucap Shabira pelan saat wanita itu muncul dari balik pintu.


“Iya sayang,” jawab Kenzo dengan tatapan mata masih fokus pada layar computer yang ada di depan matanya. Bahkan untuk berkedip saja matanya terlihat kesulitan detik itu. Pekerjaan yangbegitu menguras otak membuatnya tidak bergeming.


Shabira meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil menggeleng pelan. Tidak pernah ia diacuhkan seperti malam ini oleh sang suami. Wajahnya terlihat kesal sambil mengeryitkan dahi.


Kenzo, apa pekerjaan ini benar-benar membebanimu hingga separah ini?