
Dengan wajah panik dan langkah kaki yang cepat, kini Daniel sudah berada dirumah sakit. Serena masih ada dalam gendongannya. Terus berlari mencari sosok Dokter yang berjaga di sana. Terlihat Kenzo yang juga mengikuti langkah kaki Daniel dari belakang. Keduanya di penuhi dengan raut wajah kecemasan yang begitu besar.
“Dokter, dimana dokter.” Dengan nada tinggi dan wajah memerah saat menemui seorang perawat yang menyembut kedatangannya.
“Tuan, sebaiknya letakkan istri anda di sini.” Perawat membawa brankar dan mendorong cepat ke arah Daniel.
“Tidak, Dokter dimana Dokter!” ulangnya dengan suara yang mulai serak sambil kembali berjalan menuju sosok Dokter wanita yang juga berjalan panik menuju kearah Daniel.
“Apa yang terjadi padanya.” Dokter itu menatap ke arah Serena, yang sudah dipenuhi banyak cairan merah.
“Istri saya dok, tolong istri saya dok,” ucap Daniel dengan memohon.
“Bawa dia ke dalam” Perintah sang dokter kepada seorang perawat.
“Sebaiknya anda menungu di sini Tuan, kami akan segera melakukan tindakan operasi,” jawab Dokter itu sambil masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Daniel yang masih mematung di sana.
“Serena .…” ucapnya lirih, dengan tatapan mata yang masih fokus pada pintu yang sudah tertutup.
“Daniel,” ucap Kenzo pelan.
Aaaaa…
Teriak Daniel kuat melampiaskan kekesalannya. Saat ini dia benar-benar dalam kondisi tidak bersahabat. Raut wajahnya memerah dengan tatapan mata tajam yang dipenuhi dendam dan amarah. Kembali mengingat kejadian penyerangan itu, Daniel terlihat mengepal tangannya dengan kuat.
“Siapapun kau. Harus menerima pelajaran yang setimpal atas perbuatan yang sudah kau lakukan,” ucap Daniel dengan penuh kemurkahan.
Bukan berada di saat yang tepat, Kenzo memilih pergi meninggalkan Daniel sendiri di sana. Hatinya juga merasa hancur saat ia gagal melindungi Serena dari bahaya yang menyerangnya. Sebuah penyesalan juga muncul di wajah Kenzo.
“Maafkan aku Serena .…”
Kini pikiran keduanya telah larut pada keadaan Serena yang masih berbaring lemah di ruang operasi.
***
Dirumah utama, terlihat Ny. Edritz yang sedang berbaring di atas tempat tidur megah yang ada di kamarnya. Pak Han dan Tuan Edritz dengan setia menemaninya di dalam. Terlihat Adit yang baru saja beranjak dari duduknya saat selesai memeriksa keadaan Ny. Edritz.
“Nyonya hanya sedikit Syok Tuan, Ia akan segera sadar. Ini obat yang harus diberikan pada Nyonya,” ucap Adit singkat sambil beranjak pergi dan diikuti oleh Pak Han dari belakang untuk meninggalkan Tuan Edritz dan istri di sana.
“Apa yang terjadi Pak Han?” tanya Adit sambil terus melangkahkan kakinya.
“Saya tidak mengetahui masalah apa yang terjadi Tuan, tapi Tuan Daniel dan Nona Serena kini dalam bahaya,” jawab Pak Han yang sedari tadi belum mengetahui kejadian yang telah terjadi.
“Daniel? Kemana dia membawa istrinya pergi?” tanya adit sambil mengerutkan keningnya dan menghentikan langkah kakinya.
“Mereka di minta Nyonya untuk pergi bulan madu Tuan. Tapi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi di sana.”
“Sesuatu? Aku harus segera menghubunginya.” Adit kembali melangkahkan kakinya menuju mobil yang telah terparkir.
Di dalam kamar, Tuan Edritz terus menggenggam tangan Ny. Edritz. Raut wajah cemas terpancar jelas di sana. Sambil terus memandang wajah Ny. Edritz yang kini sudah mulai tersadar.
“Daniel .…” ucap Ny. Edritz pelan sambil memegang pucuk kepalanya.
“Jangan pikirkan mereka, semua akan baik-baik saja,” bujuk Tuan Edritz agar Ny. Edritz tidak kembali jatuh sakit.
“Kita akan segera menyusul mereka, tetapi untuk saat ini beristirahatlah dulu,” bujuknya lagi.
Tanpa kembali membantah, Ny. Edritz menuruti permintaan Tuan Edritz untuk kembali berbaring di atas ranjang. Tatapan kosongnya memandang kearah langit-langit kamar dan ingatannya kembali terbang memikirkan keadaan Daniel dan Serena yang saat ini dalam bahaya.
“Seharusnya sejak awal aku harus mencegah semua ini terjadi,” ucap Tuan Edritz dalam hati sambil memandang ke arah Ny. Edritz.
“Daniel, mama harap kamu baik-baik saja sayang,” ucap Ny. Edritz lirih sambil memejamkan matanya.
Tidak seperti biasa, hari ini rumah utama diselimuti dengan perasaan cemas terhadap keadaan Daniel dan Serena. Melalui media, Kabar penyerangan yang terjadi di Vila sudah memenuhi seisi Rumah Utama. Semua pengawal dan pelayan yang ada hanya bisa diam tanpa bisa bertanya untuk meminta penjelasan.
***
Di rumah sakit Daniel masih berdiri dengan wajah cemas. Koridor rumah sakit yang begitu ramai, kini terasa sangat sepi di hadapan Daniel. Hanya ada bayangan wajah Serena dan Serena yang memenuhi otaknya. Dengan penuh luka, Biao datang menemui Daniel yang masih berdiri mematung di sana.
“Tuan, anda harus menyembuhkan luka anda Tuan,” Pinta Biao yang melihat ke arah luka yang ada di sekujur tubuh Daniel.
“Tuan,” ulang Biao.
“Apa kau tahu dia sedang ada di dalam! Aku tidak pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi,” bentak Daniel di hadapan Biao yang menolak kasar permintaan Biao.
“Tapi Tuan,” sambung Biao lagi.
“Diam! Tinggalkan aku sendiri,” ucap Daniel tegas sambil membuang pandangannya dari hadapan Biao.
Sambil menunduk hormat, Biao meninggalkan Daniel sendiri di sana.
Setelah 3 jam menunggu, akhirnya Seorang Dokter keluar dari ruang Operasi. Raut wajah yang tidak terbaca membuat Daniel semangkin khawatir. Dengan cepat Daniel melangkah mendekat kearah Dokter yang menangani Serena.
“Bagaimana istri saya Dok?” tanyanya penuh harap.
“Istri anda masih kritis Tuan, kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang ada di dalam tubuhnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi saat ini keadaannya benar-benar lemah,” jawab sang Dokter sambil menatap sedih ke arah Daniel.
“Serena .…” ucap Daniel sambil terduduk lemas di atas lantai. Semua tenaga yang ia miliki harus hilang detik itu juga saat mendengar penjelasan dari sang Dokter. Pikirannya kembali melayang memikirkan keadaan Serena saat ini.
“Anda harus banyak berdoa, Tuan.”
“Saya mau membawa istri saya kembali ke kota Sapporo.”
“Baik, Tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya.” Dokter itu melangkah pergi meninggalkan Daniel yang masih duduk diam di sana. Ia menyiapkan semua yang di perlukan, untuk perpindahan Serena malam ini.
Dengan sisa tenaga yang saat ini ia miliki, Daniel membuka pintu yang menghubungkan dirinya dengan Serena. Terdapat banyak peralatan medis yang menjadi alat bantu untuk Serena tetap bertahan hidup. Matanya yang masih tertidur tenang, membuat hati Daniel semangkin terpukul.
Di sebuah kursi yang terletak di samping Serena berbaring, Daniel duduk sambil menatap ke arah Serena dengan wajah Sedih. Tangannya terus memegang erat tangan Serena.
“Serena, kau harus bertahan,” ucapnya lirih.
Keesokan harinya, di sebuah pemakaman. Terlihat segerombolan orang yang memakai baju serba hitam. Suasana yang hening, menatap sosok yang mereka sayangi kini telah pergi untuk selamanya. Daniel dan Biao hanya bisa mematung memandang ke arah batu nisan yang sudah tertancap di atas tanah. Kaca mata hitam yang mereka kenakan, menutupi buliran air mata yang menetes dari mata mereka.
Hari ini adalah hari berduka bagi keluarga besar S.G. Group. Semua orang terlihat diam membisu menghadapi kenyataan yang kini terjadi. Kenzo yang juga hadir di sana hanya bisa menatap sedih ke arah pemakaman. Semua masalah ini begitu cepat terjadi hingga mereka harus kehilangan satu orang yang mereka sayangi.