Mafia's In Love

Mafia's In Love
Penculikan Part. 3



Serena tercengang kaget. Satu ancaman Lukas, berhasil mempengaruhi keras kepala Serena saat ini.


Dia berkata benar. Jika aku berhasil keluar dari kamar ini, aku akan mencari cara untuk pergi dari rumah ini.


Serena terus menunduk untuk berpikir.


Serena memang bosan berada di dalam kamar terus-terusan. Berada dalam sekapan Zeroun. Hatinya kembali memikirkan Daniel, yang tidak kunjung menjemputnya.


Rasa kerinduannya sangat besar, ketika sosok suami yang ia nanti tidak kunjung muncul.


Serena menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya, “Baiklah, aku akan pergi makan malam sesuai kemauan Tuanmu.”


Serena menuruti ajakan Lukas. Perlahan ia mengikuti langkah Lukas meninggalkan kamar. Serena mulai mempelajari di mana posisinya saat ini. Suara ombak yang terdengar jelas, memberi satu kode kalau dirinya berada di tepi laut.


Makan malam dengan Zeroun, mungkin tidak akan merugikan. Ini hanya makan malam. Aku akan memikirkan cara, untuk kabur dari sini.


Serena mulai tersenyum licik. Ia memikirkan strategi, untuk bisa kabur dari rumah itu.


Di meja makan, Zeroun sudah menanti kedatangan Serena. Zeroun duduk di kepala meja dengan membisu. Pria itu memakai pakaian hitam-hitam, yang menonjolkan sisi misteriusnya.


“Duduk dan makanlah.” Zeroun melambaikan jemarinya dan pelayan yang berada di situ, langsung menarikkan kursi untuk Serena.


Serena duduk dan beberapa pelayan dari dapur langsung datang membawa nampan. Mangkuk mungil yang ada di depan Serena, dibalikkan. Pelayan itu menuangkan sup berwarna jingga ke dalamnya.


“Itu sup kepiting, ku harap kau menyukainya.” Zeroun sedikit tersenyum tipis, lalu menyantap sup itu dalam keheningan.


Serena mengambil sendok dan mencicipi sup itu. Serena mulai menyadari, bahwa sup itu sangat enak. Perutnya terus berbunyi untuk memberi kode lapar. Sejak pertama kali ia berada di rumah ini.


Serena belum pernah makan atau minum sedikitpun. Dengan malu Serena melirik ke arah Zeroun, dan bertanya-tanya dalam hati.


Kenapa perutku bisa berbunyi dengan begitu keras.


Tetapi Zeroun hanya memasang wajah datar, dan menyantap supnya dengan tenang. Meskipun ia mendengar jelas, suara perut Serena saat ini.


Kau memang sangat menggemaskan, Erena.


Zeroun menahan tawanya di dalam hati.


Zeroun memang sangat mengenal sifat dan kelakuan Serena. Hubungan keduanya sudah terjalin sangat lama. Andai saja Serena tidak mengalami kecelakaan, mungkin detik ini ia sudah menikah dengan Erena.


Serena menghela napas panjang dan kembali menikmati supnya. Beberapa kali Serena mencuri pandang ke arah Zeroun dan pipinya memerah. Serena kembali megingat, saat Zeroun menciumnya.


Serena mengerutkan keningnya, dan terus mengutuk dirinya yang begitu lemah saat Zeroun menciumnya.


Kau hanya bermimpi, bisa memilikiku seutuhnya.


Lagi-lagi Serena memandang Zeroun dengan kesal.


Zeroun dan Serena, baru saja selesai menyantap sup itu. Para pelayan mengambil mangkuk-mangkuk kotor mereka.


“Ada yang ingin kukatakan kepadamu.”


Tiba-tiba Zeroun mengeluarkan kata, menatap Serena dalam.


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Serena dengan tatapan benci.


“Serena, mungkin kau merasa bingung selama ini. Tetapi aku memang menyimpan rahasia tentangmu, rahasia yang ku pikir akan aku simpan dan menunggu sampai kau mengingatnya sendiri.”


Zeroun menatap Serena dengan begitu intens, membuat Serena mengepalkan kedua tangannya.


“Dan ku pikir, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, untuk mengungkapkannya.” Meraih tangan Serena, “Serena, kau adalah tunanganku.”


“Lepaskan tanganmu, Zeroun!”


Sebuah suara lantang tiba-tiba terdengar dari arah pintu, membuat Zeroun dan Serena, menoleh bersamaan. Serena benar-benar terperanjat, saat melihat sosok yang ia nanti telah tiba.


Bagaimana Daniel bisa sampai ke sini? Kenapa Daniel basah seperti itu? Apakah Daniel habis berenang di laut?


Daniel, Tama dan Biao sudah menodongkan pistol ke arah Zeroun. Beberapa pengawal Daniel juga sudah berdiri dengan pistol di tangan masing-masing. Daniel datang untuk menyelamatkan Serena.


“Daniel!” ucap Zeroun sinis.


Zeroun terkejut melihat kemunculan Daniel dan pengawalnya yang tiba-tiba muncul di sana. Tetapi, dengan cepat, Zeroun mengembalikan ekspresi datarnya. Bibirnya tersenyum tipis memandang kedatangan Daniel.


“Ternyata aku memang terlalu meremehkanmu. Kau tidak sebodoh yang aku kira,” ucap Zeroun dingin.


Biao menatap Zeroun dengan marah dan waspada. Lelaki ini adalah sosok berbahaya.


Zeroun berdiri dan melangkah mendekat, membuat Daniel dan seluruh pengawalnya semakin waspada dan menodongkan pistolnya.


“Jangan mendekat! Atau aku akan menembakmu,” ancam Biao.


“Atas dasar apa kau menembakku? Kau akan di tuntut karena menembak warga negara asing yang tidak bersalah,” jawab Zeroun santai.


Biao mengernyitkan keningnya, dirinya harus lebih hati-hati menghadapi pria yang kini ada di hadapannya.


Satu acungan jari yang di kodekan oleh Zeroun, membuat Lukas dan pengawal sadisnya keluar. Dengan jumlah yang sepadan dengan jumlah Daniel saat ini. Senyum licik, kembali terukir di bibir Zeroun. Zeroun melangkah pelan mendekati Daniel.


“Lepaskan Serena!” ucap Daniel dingin.


“Dia milikku! Aku tidak akan pernah melepaskan, sesuatu yang pernah menjadi milikku!” melirik sebentar ke arah Serena, “Lagi pula, semalam kami sudah saling memiliki. Malam yang sangat indah dan memuaskan. Benar begitukan, Erena sayang?” Zeroun melirik penuh arti ke arah Serena.


Zeroun sengaja mengarang cerita bohong, untuk memancing amarah Daniel saat ini. Serena melangkah mundur ke arah meja, dan memecahkan satu gelas berisi air penuh.


Serena menutup mulutnya, dengan kedua tangan. Dan memandang ke arah Daniel penuh rasa bersalah, saat mengingat ciuman yang terjadi tadi.


“Aku akan menghabisimu, Zeroun!”


Daniel menarik pelatuknya dan sedetik kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, Zeroun tiba-tiba sudah melompat dan menerjang Daniel.


Zeroun berhasil merenggut pistol itu dari tangan Daniel, sebelum lelaki itu sempat menembaknya. Zeroun melemparkan pistol itu jauh dari jangkauan Daniel saat ini. Pergulatan keduanya memancing emosi kedua belah pihak.


Dengan waktu singkat, ruangan itu berubah menjadi satu pertarungan yang sangat menakutkan.


Daniel dan Zeroun, bergulat dengan kerasnya. Saling menghajar secara bergantian. Sementara Serena, hanya berdiri kaku dan tidak bisa bergerak. Serena hanya bisa melihat perkelahian yang brutal dan panas itu.


Tetapi, keahlian bela diri Zeroun dengan tangan kosong memang jauh lebih unggul. Zeroun mencekal lengan Daniel dari belakang, wajah Daniel sudah terlihat lebam-lebam dan bibirnya berdarah. Sementara rambut Zeroun yang biasanya rapi, sudah berantakan dengan sedikit darah di ujung bibirnya.


Serena menatap ke arah dua laki-laki itu dan membelalakkan matanya. Tangan Zeroun yang sangat ahli, memposisikan gerakan berbahaya, mencengkeram leher Daniel. Tatapan Zeroun begitu kejam hingga matanya nyaris hitam.


Melihat keadaan Daniel dalam bahaya, Biao melemparkan satu pistol ke arah tangan Daniel. Dengan gerak cepat, Daniel mendorong tubuh Zeroun hingga terjatuh. Dan meraih pistol yang ada di dekatnya.


Dengan cepat Daniel berdiri dan menodongkan pistol itu di depan wajah Zeroun yang sudah di penuhi luka-luka. Menatap wajah Zeroun dengan penuh kebencian.


“Berani-beraninya kau menyentuh istriku!” Daniel mendesis marah, “Ucapkan doa terakhirmu, karena aku akan membunuhmu.”


Zeroun memejamkan matanya, tahu bahwa kematian sudah begitu dekat dengannya. Posisinya benar-benar tersudut saat ini.


Duarr!


.


.


Tarik Napas dulu, dan tersenyum🤗🤗


Like, Komen, Vote**