Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 38



Rumah Utama Daeshim Chen.


Shabira duduk di lantai kamar mandi dengan wajah kecewa. Satu alat testpack telah ada di tangan kanannya. Wanita itu menatap nanar ke arah sekeliling kamar mandi saat ini. Besar harapan saat telat haid kali ini ia akan segera mengandung buah hatinya. Tapi, lagi-lagi ia harus menahan kecewa. Entah kenapa hari ini hatinya terasa sangat sedih. Bahkan Shabira tidak lagi mampu membendung air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya.


Kedua kakinya ia tekuk dengan tubuh bersandar. Kedua tangannya berusaha untuk menghapus buliran air mata yang kini tampak menetes deras. Shabira tidak ingin menjadi wanita lemah. Ia ingin tetap menjadi wanita yang tangguh dan kuat dalam keadaan apapun.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” teriak Kenzo dari luar kamar mandi. Pria itu sangat khawatir dengan keadaan istrinya di dalam kamar mandi yang tidak kunjung selesai. Di tambah lagi, Shabira tidak pernah mengunci pintu kamar mandi selama ini. Hari ini untuk pertama kalinya Shabira berada di dalam kamar mandi dengan durasi yang cukup lama dengan pintu terkunci.


“Aku baik-baik saja,” ucap Shabira sambil beranjak dari lantai itu. Testpack yang sempat ada d tangannya ia buang ke tong sampah. Dengan cepat, Shabira mencuci mukanya dengan air. Wanita itu berdiri di depan wastafel sambil menatap wajahnya sendiri di depan cermin. Dengan berat hati, Shabira berusaha mengukir senyuman manis. Ia tidak ingin Kenzo tahu kesedihan hatinya saat ini.


“Sayang,” teriak Kenzo sekali lagi.


“Iya, sebentar.” Shabira segera membersihkan air mata yang sempat membasahi wajahnya. Mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil yang tersedia di lemari bawah wastafel itu. Setelah memastikan sekali lagi wajahnya terlihat baik-baik saja, Shabira berjalan menuju ke pintu. Menarik pintu kamar mandi itu secara perlahan.


“Sayang, kenapa pintunya di kunci?” tanya Kenzo sambil mengeryitkan dahi. Pria itu langsung menarik pinggang Shabira dengan tatapan penuh selidik, “apa ada yang kau sembunyikan dariku?”


Shabira mengukir senyuman manis, “Tentu saja tidak ada hal apapun yang bisa aku sembunyikan darimu, Kenzo. Kau pasti akan segera menemukannya. Bukankah ini rumahmu? Lebih tepatnya kamar tidurmu sejak kecil.”


Kenzo tersenyum sebelum menarik leher Shabira agar mendekat dengan wajahnya, “Aku mencintaimu,” ucap Kenzo dengan nada yang cukup mesra sebelum bibirnya mengecup bibir istrinya.


“Maafkan Aku,” ucap Shabira lirih.


“Maaf?” tanya Kenzo dengan wajah bingung. Pria itu memang sudah menyimpan curiga atas sikap istrinya yang tiba-tiba berubah aneh.


“Kali ini apa yang kau pikirkan? Semalam kau memikirkan masalah musuh Daniel. Apa sekarang kau juga memikirkan orang lain lagi?”


Shabira menggeleng pelan kepalanya. Wanita itu menjauhkan tubuh Kenzo dari tubuhnya sebelum berjalan ke arah sofa yang terletak di depan jendela kaca. Tubuhnya sengaja ia jatuhkan dengan dua kaki di atas sofa. Kedua tangannya ia letakkan di atas sandaran sofa sambil menatap jendela kaca yang berembun.


“Aku belum bisa memberikanmu anak, Kenzo.” Shabira memejamkan matanya saat kalimat yang selama ini menyesakkan dada itu terucap. Jika di hitung dari usia pernikahan mereka. Seharusnya Shabira memang sudah hamil jika memang ia sehat dan subur.


Namun, entah kenapa hingga detik ini ia belum juga mendapatkan kesempatan istimewa itu. Padahal hatinya benar-benar ingin mendapatkan kesempatan istimewa itu. Ia ingin mengandung pewaris dari keluarga Daeshim Chen. Seperti Kakak angkatnya yang kini mengandung pewaris keluarga besar Edritz Chen.


Kenzo menghela napas saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh istrinya. Pria itu berjalan ke arah sofa untuk menghibur Shabira yang sudah berubah sedih.


“Sayang, jangan sedih seperti ini. Aku tidak pernah mempermasalahannya.” Kenzo duduk di hadapan Shabira sambil mengusap lembut pipi yang lembut itu.


“Anak juga sangat penting, Kenzo. Dalam rumah tangga, tidak akan terasa sempurna jika aku tidak bisa melahirkan seorang anak untukmu.” Shabira memegang tangan Kenzo yang kini menyentuh pipinya.


“Aku sangat mencintaimu, maka dari itu aku sangat ingin memberimu anak. Apa kau mengerti bagaimana isi hatiku saat ini? Hanya itu harapan terbesarku saat ini. Aku ingin hamil, Kenzo.” Air mata Shabira tidak lagi bisa tertahan. Wanita itu kali ini menangis sejadi-jadinya di depan pria yang sangat ia cintai.


Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya. Pria itu juga merasa sedih saat melihat Shabira bersedih. Kenzo tidak lagi bisa memikirkan cara untuk menghibur istrinya saat ini. Segala cara akan terasa sia-sia jika keinginan Shabira adalah keinginan yang tidak tahu kapan akan terwujud.


“Sayang. Bersabarah. Aku tahu, bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi, Aku juga yakin kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku memang ingin kau melahirkan anak untukku. Tapi, aku lebih menginginkan senyummu selalu abadi. Tidak ada tangisan. Aku benci derai air mata. Aku hanya ingin hidup berbahagia bersamamu. Setiap tetes air mata yang jatuh dari mata indahmu terasa seperti sebilah pisau yang menyayat hatiku. Terasa sangat perih dan sakit. Bahkan sangat sulit untuk di tahankan rasa sakitnya. Aku mohon, jangan menangis lagi,” ucap Kenzo dengan mata berkaca-kaca.


Shabira mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sedih Kenzo saat ini. Kalimat yang baru saja di ucapkan Kenzo cukup menyentuh. Shabira kembali mengukir senyuman yang cukup indah. Ia tidak ingin membuat pria yang sangat ia cintai ikut-ikutan bersedih.


“Sayang, kau jauh lebih jelek jika bersedih seperti ini.” Shabira mengecup pipi Kenzo dengan lembut. Kecupan itu turun ke bibir Kenzo dan berhenti dalam durasi yang cukup lama.


Maafkan Aku Kenzo, aku memang sangat beruntung memiliki suami seperti dirimu.


Kenzo menarik tubuh Shabira hingga melekat sempurna. Satu tangannya yang lain sibuk menggoda area sensitife istrinya. Shabira menjauhkan wajahnya sambil menatap Kenzo dengan tatapan penuh tanya.


“Kenzo, kenapa tanganmu tidak pernah bisa kau jaga dengan baik,” protes Shabira sambil memicingkan kedua bola matanya.


“Sayang, kau yang menggodaku duluan. Kenapa sekarang memarahiku,” protes Kenzo tidak mau kalah, “Ayolah, Aku sangat merindukanmu. Aku sudah menahanya sejak semalam.”


Kenzo mendorong tubuh Shabira hingga posisi tubuhnya berada di atas tubuh Shabira. Pria itu langsung mengecup leher istrinya tanpa mau berpamitan lagi.


“Kenzo, kenapa harus di sini,” ucap Shabira dengan wajah yang sudah merah merona.


“Tempat ini cukup pas untuk tubuh kita. Bukankah kau juga harus berlatih agar bisa memuaskanku dalam keadaan apapun dan kondisi apapun,” ucap Kenzo sebelum melepas pakaian yang kini dikenakan istrinya. Pria itu memang tidak lagi mau meminta ijin Shabira atas perbuatan yang akan ia lakukan.


Shabira memejamkan mata dan pasrah dengan apa yang terjadi. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya mengikuti permainan suaminya agar bisa menghilangkan rasa sedih yang kini memenuhi hatinya.


Hai Reader. Mungkin bab-bab selanjutnya akan author percepat ya. Soalnya ini hanya bab bonus yang di targetkan cuma smpek 50 bab saja. Jadi, jangan kaget dengan bab yang akan tayang selanjutnya ya. Kalau babnya di banyakin,, namanya bukan bab bonus lagi. Tapi, Season 3. Bab bonus ini memang mau di buat singkat untuk menyampaikan sesuatu yang belum sempat author tulis di season sebelumnya.


Terima kasih.... untuk Votenya masih tetap di letak di Moving on ya