
Matahari belum muncul kepermukaan. Suasana langit masih gelap dengan hembusan angin yang terasa dingin. Serena berdiri di ruang utama dengan senyuman manis. Wanita itu menyuruh satu pengawal untuk mengambil barang yang ia pesan sebagai hadiah ulang tahun Daniel. Dengan langkah yang begitu santai, Serena berjalan menaiki anak tangga. Satu paper bag berwarna cokelat telah ada di genggaman tangannya.
Serena membuka pintu kamar dengan hati-hati. Jam masih menunjukkan pukul 06 pagi. Wanita itu tidak ingin membangunkan suami yang sangat ia cintai. Langkahnya terhenti saat melihat tempat tidur yang tidak lagi berpenghuni. Serena berjalan menuju meja untuk meletakkan paper bag itu di atasnya. Setelah meletakkan paper bag itu di atas meja, ia berniat untuk mencari Daniel. Namun, belum sempat ia memutar tubuhnya, pria itu sudah lebih dulu berdiri di belakangnya.
“Darimana?”
Daniel memeluk Serena dari belakang. Pria itu terlihat baru selesai mandi masih dengan handuk yang melilit di pinggang. Rambutnya yang basah membuat penampilannya semakin sempurna di pagi itu. Aroma khas sabun digunakan Daniel, membuat Serena memejamkan mata saat menghirup wewangian itu.
“Sayang, Aku turun ke bawah untuk mengambil ini.” Serena menunjuk paper bag yang ada di atas meja.
“Apa itu?” tanya Daniel penasaran. Namun, tangannya masih melingkari tubuh Serena dengan posesif.
“Lepaskan dulu,” ucap Serena pelan.
Daniel melepas pelukannya, sebelum mengikuti Serena duduk di atas sofa. Dengan penuh kelembutan, wanita itu mengeluarkan kotak kecil dari dalam paper bag. Memberikan kotak kecil terbungkus kertas kado itu kepada Daniel.
“Untukku?” tanya Daniel sambil menerima kotak kecil itu.
“Selamat ulang tahun, Sayang.” Serena memberi satu kecupan di pipi kanan Daniel.
Daniel tersenyum manis menerima ciuman Serena pagi itu. Perlahan ia membuka kertas kado itu untuk melihat isi di dalamnya. Sepasang handsfree berwarna hitam, dengan ukuran yang sangat kecil. Daniel mengambil benda kecil itu dengan wajah bingung.
“Handsfree?” tanya Daniel dengan wajah kurang yakin.
“Apa ini sama dengan yang dipakai para pengawal di rumah ini?” Daniel menatap wajah Serena untuk menagih satu jawaban.
“Tentu saja fungsinya sama, tapi ini jauh lebih canggih. Aku memesannya secara khusus untuk kita berdua.” Serena mengambil satu handsfree, memakaikannya di salah satu telinga Daniel. Wanita itu menekan tombol kecil, agar alat itu aktif.
“Yang ini untukku,” sambung Serena lagi sambil memakai handsfree itu di salah satu telinganya.
Daniel tersenyum lagi saat melihat wajah cantik istrinya. Ia tidak lagi mendengarkan penjelasan Serena tentang cara penggunaan alat itu. Matanya ia fokuskan dengan menatap wajah Serena, dengan perasaan yang dipenuhi kebahagiaan.
“Apa kau sudah mengerti, Daniel?” Serena menatap wajah Daniel dengan serius.
“Daniel ….” ucap Serena lagi saat pria itu hanya tersenyum memandang wajahnya.
“Apa kau tidak mendengarkanku?” Protes Serena sebelum melepas alat yang ada di telinganya.
Daniel tersadar dari lamunannya saat melihat wajah Serena berubah cemberut. Dengan wajah bingung, ia menatap benda kecil itu sudah tergeletak di atas meja.
“Sayang, apa kau marah padaku?” tanya Daniel dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Kau menyebalkan,” jawan Serena pelan.
Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Mengecup bibir wanita itu dengan penuh cinta. Pria itu menatap kedua bola mata Serena dengan matanya yang begitu indah. Menyentuh lembut pipi Serena sebelum mengeluarkan kata.
“Maafkan aku,” ucap Daniel dengan penuh ketulusan.
“Aku membeli alat ini, agar kau bisa mendengar suaraku selama kita berjauhan. Di alat ini juga di pasang alat pelacak. Jadi, aku bisa melacak posisimu dan kau bisa melacak dimana posisiku.” Serena melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda.
“Alat yang bagus, ukurannya yang kecil membuat orang lain tidak akan menyadarinya. Kalau aku menggunakan alat ini di telinga.” Daniel mengambil alat yang tergeletak di atas meja, memasangkannya di salah satu telinga Serena.
“Sayang, I Love You.” Daniel tersenyum manis memandang Serena.
“Apa kau mendengarku?” tanya Daniel lagi.
Serena mengalungkan dua tangannya di leher Daniel, “Aku mendengarnya.”
Tanpa banyak bicara lagi, Daniel melanjutkan cumbuannya yang sempat tertunda. Mendorong tubuh Serena dengan penuh kelembutan, sebelum mengecup bibir wanita itu lagi. Matanya terpejam menikmati aroma tubuh Serena. Satu tangannya yang nakal mulai membuka baju yang saat itu dikenakan oleh Serena.
Daniel sangat merindukan tubuh Serena. Sejak Serena hilang karena diculik, pria itu belum pernah menyentuh istrinya lagi. Namun, langkahnya terhenti saat Serena menahan satu tangannya. Wanita itu menggeleng kepalanya sebagai tanda penolakan.
“Sayang, aku sangat menginginkanmu,” bujuk Daniel dengan suara seraknya.
Serena tersenyum menatap wajah Daniel, “Sayang, aku lagi datang bulan.”
Daniel mengerutkan dahinya sebelum berpindah dari posisinya. Pria itu mengatur duduknya dengan wajah kecewa yang luar biasa. Selama ia menikah, ini pertama kalinya ia mengalami kegagalan.
“Jangan cemberut.” Serena memeluk Daniel dengan begitu mesra.
“Kata Dokter, ini tidak akan lama. Hanya reaksi kecil karena aku baru saja keguguran.” Serena memasang wajah sedih saat mengingat kehamilannya yang tidak bisa di selamatkan.
“Sayang, maafkan aku.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh penghayatan. Matanya terpejam untuk merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Serena.
“Kita bisa melakukannya saat bulan madu nanti,” sambung Daniel dengan wajah sensualnya.
“Daniel, kenakan pakaianmu. Apa kau tidak dingin hanya mengenakan handuk kecil seperi itu.” Serena mentap tubuh Daniel yang kini bertelanjang dada.
Serena memalingkan tatapan matanya saat wajahnya merona malu. Wanita itu kembali tersenyum saat mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Daniel.
Dengan begitu santai Daniel beranjak dari duduknya. Pria itu berjalan menuju ruang ganti untuk mengenakan pakaian kantornya. Langkahnya terhenti lagi, sebelum ia mendorong pintu untuk masuk ke dalamnya. Menatap Serena yang masih belum memandang wajahnya.
“Sayang, apa kau mau memilihkan baju untukku?” tanya Daniel dengan suara lembutnya.
Serena menarik napas sebelum beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan mengikuti langkah Daniel dari belakang. Senyum manis masih melekat dibibirnya yang merah. Pagi yang indah akan selalu ia lewati dengan penuh kebahagiaan. Mulai detik itu juga.
.
.
.
Setelah melewati beberapa adegan romantis di ruang ganti. Kini Daniel dan Serena keluar dari dalam kamar. Sepasang suami istri itu berjalan bergandengan dengan begitu mesra. Beberapa pengawal yang sempat mereka lewati terlihat menunduk untuk menyambutnya.
Di meja makan, Tuan dan Ny. Edritz sudah duduk untuk sarapan. Kenzo juga ada di salah satu kursi untuk melakukan ritual sarapan bersama dengan Daniel dan Serena. Biao dan Tama juga sudah berdiri tegap di posisi yang tidak jauh dari meja makan. Kedua pria itu menundukkan kepala saat Daniel dan Serena tiba di meja makan.
“Pagi, Ma, Pa,” sapa Serena dengan suara lembutnya.
“Pagi, Kenzo,” sambung Serena lagi.
“Pagi, Kakak ipar,” jawab Kenzo sambil meletakkan selai di roti.
Serena dan Daniel hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Kenzo. Mereka duduk di salah satu kursi untuk sarapan pagi. Suasana meja makan itu kembali hening saat semua orang sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Daniel terlihat membuatkan roti selai cokelat untuk Serena. Menyuapi wanita itu dengan begitu romantis.
Dari tempat yang tidak terlalu jauh, Kenzo tersenyum kecil melihat keharmonisan Daniel dan Serena. Hatinya kembali merindukan sang kekasih yang kini tinggal di rumah kakak kandungnya.
“Daniel, Aku ingin pergi ke rumah Zeroun untuk menemui Angel. Aku akan membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.” Serena memegang tangan Daniel untuk meminta persetujuan suaminya.
“Pergilah sayang, hati-hati.” Daniel menyentuh lembut wajah Serena.
“Jangan pernah lepaskan alat ini, kemanapun dan kapanpun itu.” Daniel melirik ke arah handsfree yang kini dikenakan Serena.
“Ok,” jawab Serena sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Daniel, Aku juga mau pergi ke rumah Zeroun menjemput Shabira. Biar aku yang mengantarkan Serena.” Kenzo angkat bicara sebelum ia mengambil jus apel yang ada di hadapannya.
“Jaga istriku dengan baik,” ucap Daniel penuh dengan penekanan.
“Jangan khawatir, aku akan menjaga Serena dengan baik. Jangan ragukan kemampuanku dalam melindungi wanita.” Kenzo beranjak dari duduknya.
“Kenzo, tante sudah menyiapkan semuanya. Kalian tinggal memilih gaun pengantin dan cincin pernikahan. Setelah itu, semua persiapan pernikahan kalian sudah selesai.” Ny. Edritz memandang Kenzo dengan senyuman.
“Terima kasih, Tante.” Kenzo berjalan ke arah Ny. Edritz untuk mengecup pipi wanita itu.
“Kau selalu saja seperti itu,” ucap Ny. Edritz dengan wajah bahagia.
“Ma, Pa. Daniel mau pergi kerja dulu.” Daniel dan Serena beranjak dari duduknya.
“Serena juga pamit ya, Ma … Pa,” sambung Serena dengan senyuman.
Tuan dan Ny. Edritz tersenyum saat memandang ke arah Serena dan Daniel.
“Ayo, Sayang.” Daniel merangkul pinggang Serena untuk membawa wanita itu pergi menuju ke arah pintu utama. Dari belakang, Tama dan Biao juga mengikuti langkah Daniel dan Serena.
“Aku akan memberi tahu Adit, kalau kau akan berkunjung ke rumah sakitnya. Biar dia yang menyiapkan Dokter anak yang terbaik untuk memeriksa Angel.” Daniel menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan pintu utama.
“Ingat pesanku, jangan jauhkan alat ini dari dirimu.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena sebelum pria itu berjalan menuju ke arah mobil. Biao sudah membukakan pintu mobil untuk Daniel. Pria itu menutup kembali pintu mobil, saat Daniel sudah ada di dalamnya.
Serena tersenyum memandang Daniel yang sudah duduk di dalam mobil. Mobil Daniel melaju dengan tenang meninggalkan kediaman rumah utama Edritz Chen. Mobil Kenzo juga berhenti di hadapan Serena setelah mobil Daniel melaju. Pria itu membuka kaca mobil untuk mengajak Serena masuk ke dalamnya.
“Serena, kita juga harus berangkat,” teriak Kenzo dari dalam mobil.
Serena tertawa kecil sebelum berjalan menuju kearah mobil Kenzo. Wanita itu masuk ke dalam mobil dengan wajah berseri. Memperhatikan isi mobil Kenzo yang di dalamnya terdapat pistol dan belati.
“Kau selalu membawa benda ini,” ucap Serena sambil mengambil pistol yang ada di samping jok mobil.
“Hanya untuk jaga-jaga,” jawab Kenzo sebelum melajukan mobilnya.
Pagi itu Serena dan Kenzo kembali mengenang memori pertama kali mereka bertemu. Mereka berdua tertawa dengan begitu bahagia, saat menceritakan kejadian lucu yang menimbulkan masalah besar bagi Daniel. Serena tersenyum indah memandang wajah Kenzo yang saat itu fokus pada laju mobilnya.
Kenzo, terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku. Kau pria baik yang rela berkorban demi sosok sahabat. Aku akan selalu berdoa semoga kehidupanmu dengan Shabira berjalan dengan begitu manis.