Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 53



Di Rumah Sakit.


Matahari kembali muncul. Setelah melewati hari yang begitu melelahkan, pagi ini Kenzo dan Shabira bisa sedikit bernapas lega. Karena berhasil mengalahkan Wubin.


Meskipun, belum juga mendapat info tentang keberadaan Serena. Daniel, Biao dan Tama, baru saja tiba di rumah sakit. Duduk di sofa yang ada di ruang rawat Shabira. Mereka ingin menemui Kenzo, untuk membahas strategi pencarian Serena selanjutnya.


“Kenzo, kakiku sudah sembuh. Aku sudah bisa berjalan.” Shabira turun dari tempat tidur untuk menjejaki kakinya di permukaan lantai.


“Sayang, jangan lakukan itu. Lukanya belum kering.” Kenzo menahan tubuh Shabira agar tidak jatuh.


Daniel hanya bisa memandang Kenzo dan Shabira dari kejauhan. Tama dan Biao masih fokus pada handphone yang ada di genggaman.


“Tuan, tadi malam saya sudah memeriksa semua CCTV yang berhubungan dengan lokasi rumah Diva.” Tama membuka laptop untuk memberitahu isi rekaman CCTV yang berhasil ia peroleh.


Kenzo dan Shabira saling memandang satu sama lain. Kenzo membawa tubuh Shabira menuju sofa yang sama dengan Daniel.


“Apa kalian menemukan petunjuk?” Kenzo membantu Shabira duduk di salah satu kursi.


“Saya meminta Tama untuk memeriksa semua CCTV yang terpasang di jalan menuju rumah Diva, Tuan,” ucap Biao pelan.


“Ide yang bagus. Apa kalian berhasil menemukan sesuatu yang menarik?” Kenzo semangkin penasaran dengan hasil kerja Tama dan Biao.


“Semoga kita menemukan petunjuk tentang keberadaan Kak Erena.” Wajah Shabira berubah sedih. Ia masih menyimpan harapan yang besar, kalau Serena masih hidup dan bertahan di suatu tempat.


“Saya mencurigai mobil ini. Mobil ini lebih dulu masuk ke dalam gang sempit rumah Diva. Setelah mobil ini masuk, rombongan Nona Serena juga tiba dan masuk ke gang sempit itu.” Tama menjelaskan rekaman pertama.


“Tidak mungkin ada mobil mewah masuk ke dalam lingkungan seperti itu. Mobil itu cukup mencurigakan.” Kenzo mulai menganalisa rekaman video itu.


Daniel dan Biao hanya diam sebagai pendengar. Meskipun baru secuil petunjuk yang kini di temukan Tama, namun Daniel punya harapan besar untuk menemukan Serena lagi.


“Setelah satu jam kemudian, mobil ini keluar dari gang. Tepat pukul 09.00 pagi.” Tama melihat waktu yang ada pada rekaman.


“Sebelum ledakan. Setengah jam berikutnya, bawahanku menelepon untuk memberi tahu kabar ledakan itu.” Kenzo mengingat waktu saat ia masih berada di rumah Zeroun.


“Ada kemungkinan, kalau Nona Serena ada di dalam mobil ini. Saya akan mengirim rekaman ini pada teman saya. Dia bisa mengetahui isi mobil ini.”


Tama mengutak atik layar laptopnya, untuk mengirim video itu melalui email.


“Daniel, apa kau baik-baik saja? wajahmu terlihat pucat.” Kenzo memperhatikan wajah Daniel yang kurang sehat.


“Aku baik-baik saja. Jangan pikirkan keadaanku. Saat ini, hal yang paling penting adalah keselamatan Serena.” Daniel menatap wajah Kenzo dengan penuh harap.


Tok… Tok…


Adit mucul dari balik pintu. Langkahnya terhenti saat melihat Daniel dan lainnya duduk mengelilingi sofa ruang rawat.


“Apa kalian sedang rapat? kenapa pasienku juga berada di sana.” Adit memandang wajah Shabira.


“Dokter, saya sudah sehat. Jangan terlalu khawatir seperti itu,” jawab Shabira dengan santai.


Adit mengambil satu kursi yang ada di dekat tempat tidur. Membawa kursi itu mendekati sofa. Dokter muda itu juga ingin bergabung, dalam kerumunan itu.


“Sayang, kembali ke tempat tidur. Adit akan memeriksa keadaanmu.” Kenzo memandang wajah Shabira.


“Aku sudah sembuh.” Shabira memalingkan wajahnya dari Kenzo.


“Kau belum sembuh. Hanya takut tidak bergabung dalam pencarian Serena, bukan?” Kenzo mengerti isi pikiran Shabira.


“Aku gak mau di tinggal di rumah sakit. Aku ingin ikut mencari Kak Erena.” Wajah Shabira berubah sedih.


“Sayang, sebaiknya tetap tinggal di rumah sakit. Biar aku dan Daniel yang mengurus semua ini. Aku janji, akan membawa Serena dengan selamat.” Kenzo memegang kedua pipi Shabira.


“Aku akan kabur dari rumah sakit ini dan menjemputmu.” Shabira melipat kedua tangannya. Ia terus menolak permintaan Kenzo.


“Sudahlah. Jangan berkelahi seperti anak kecil.” Adit memotong perdebatan Kenzo dan Shabira.


Di tempat lain, Daniel, Tama dan Biao hanya diam tanpa ingin mengeluarkan kata untuk memihak Kenzo maupun Shabira. Mereka masih menunggu email balasan dari teman Tama.


“Nona, sebaiknya anda kembali ke tempat tidur. Saya akan memeriksa keadaan Anda. Saya juga sudah menyiapkan obat agar luka anda segera kering.” Adit memandang wajah Shabira sambil tersenyum ramah.


“Jangan terlalu keras kepala. Semua ini demi kebaikan kita berdua.”


Kenzo masih belum menyerah. Ia terus membujuk Shabira agar mau mengurungkan niatnya mengikuti jejak pencarian Serena.


Shabira naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Adit dan Kenzo berdiri di pinggir tempat tidur.


Adit memulai ritual pemeriksaannya. Kenzo hanya melipat kedua tangannya, menatap tajam ke arah Shabira yang masih berwajah cemberut.


“Lukanya sudah hampir kering. Kau wanita yang tangguh, Nona. Sama seperti Serena. Kalian memiliki daya tahan tubuh yang kuat, untuk mempercepat penyembuhan luka.” Adit menyelesaikan ritual pemeriksaannya.


“Apa aku bisa pulang hari ini?” tanya Shabira dengan wajah penuh harap.


“Tentu saja bisa. Tapi minum obat ini dengan rutin.” Adit meletakkan beberapa bulir obat di atas meja.


Shabira tersenyum bahagia, memandang wajah Kenzo dengan penuh kemenangan. Kenzo duduk di pinggir tempat tidur Shabira. Menarik tangan Shabira, mencium punggung tangan dengan begitu lembut.


“Sayang … kenapa kau sangat keras kepala. Apa kau tidak ingin menikah denganku lagi?” Wajah Kenzo berubah sedih.


Adit pergi menjauh dari Shabira dan Kenzo. Ia mengambil posisi untuk bergabung dengan Daniel dan yang lainnya.


“Sayang, hanya Kak Erena yang aku miliki di dunia ini. Aku tidak akan bisa berdiam diri sebagai penonton saat dua orang yang aku sayangi bertarung di luar sana.” Shabira menyentuh pipi Kenzo.


“Tapi keadaanmu masih lemah. Jangan memaksakan diri.”


“Aku tidak akan merepotkanmu. Aku akan menjaga diri dengan baik, tidak akan terluka lagi.” Shabira mengukir senyuman untuk mendapatkan kepercayaan Kenzo.


“Baiklah. Aku mengijinkanmu. Tapi berjanjilah, jaga diri dengan baik. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi.”


“Siap, Bos.” Shabira mengedipkan sebelah matanya.


Suasana berubah hening. Tama membuka email balasan dari rekannya. Matanya terbelalak kaget, saat melihat foto-foto yang ia terima.


“Ini tidak mungkin.” Tama mengerutkan dahinya.


“Apa yang tidak mungkin?” Daniel merampas paksa laptop Tama.


“Hanya Diva dan Serena yang ada di dalam mobil itu.” Tatapan mata Daniel berubah tajam.


Kenzo dan Shabira turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati sofa.


“Apa yang terjadi? Aku ingin melihatnya.” Kenzo mengambil laptop itu dari genggaman Daniel.


“Wanita ini! sejak awal aku sudah curiga dengannya. Aku tidak berani memberitahu Kak Erena karena melihat Kak Erena sangat akrab dengannya.”


Shabira mengepal kuat tangannya. Hatinya di selimuti rasa bersalah karena tidak jadi menyelidiki latar belakang Diva saat itu.


“Saya sudah menyelidiki semua masa lalu Diva. Tidak ada yang mencurigakan.” Tama angkat bicara. Ia sangat yakin, kalau Diva adalah wanita yang baik.


“Tapi apa yang kita lihat saat ini. Serena tertidur di bangku depan. Diva mengemudikan mobil. Aku yakin, Diva merencanakan sesuatu yang jahat.”


Kenzo menyangkal pembelaan Tama terhadap Diva.


“Biao. Cek semua penerbangan. Aku yakin, saat ini Serena tidak lagi ada di kota ini.” Daniel menatap tajam wajah Biao.


“Baik, Tuan.” Biao mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.


“Aku juga akan melacak CCTV yang ada di bandara.” Tama mengambil laptop yang tergeletak di atas meja.


“Aku sangat bahagia. Akhirnya Kak Erena masih hidup.” Shabira meneteskan air mata.


“Ya, Sayang. Serena masih hidup. Kita akan segera menemukannya.” Kenzo menghapus tetesan air mata di pipi Shabira.


Daniel bersandar dengan tenang, menarik napas dalam. Hatinya juga turut bahagia, karena melihat Serena masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.


Sayang, bertahanlah. Aku akan segera menjemputmu pulang.