
Pak Sam tersenyum memandang wajah Serena. Pria itu kembali membuka semua memori lama yang telah tersusun rapi di dalam ingatannya. Wajah bahagia dan wajah sedih kembali mengingatkannya ke satu pristiwa yang tidak akan pernah terlupakan.
“Nona, waktu itu usia Tuan Daniel masih 12 tahun. Dia pria yang lucu dan sangat menggemaskan. Tuan muda baru saja menyelesaikan sekolahnya di bangku sekolah dasar. Ia pulang dengan wajah berseri dan satu piala di tangannya.” Pak Sam duduk di bawah pohon yang sama dengan Serena.
“Bocah berusia 12 tahun yang selalu tertutup dan pendiam itu. Untuk pertama kalinya saya melihat Tuan Muda tertawa dengan begitu bahagia.” Pak Sam memejamkan mata sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.
17 tahun yang lalu, di Rumah Utama Edritz Chen.
Suasana terlihat begitu tenang dengan beberapa pelayan wanita yang sibuk bekerja. Tidak ada pengawal yang berlalu lalang seperti saat ini. Seluruh pekerja yang ada di rumah utama terdiri dari wanita dan hanya beberapa pria yang berperan sebagai supir. Ny. Edritz sibuk menaya kebun halaman samping denga bunga-bunga yang baru saja ia beli. Beberapa pelayan wanita juga membantunya saat itu.
Terdengar suara sepatu dari arah rumah. Daniel mucul dari balik pintu kaca sampig dengan senyum yang begitu bahagia.
“Mama, lihatlah apa yang Daniel bawa.” Daniel kecil berlari kencang unttuk membagi rasa bahagianya kepada sang ibunda.
“Daniel,” ucap Ny. Edritz dengan wajah berseri. Wanita muda itu berlari kencang untuk agar bisa segera memeluk putar semata wayangnya.
“Apa yang kau dapat, Daniel?” Ny. Edritz berlutut dengan dua tangan di pipi Daniel.
“Daniel menjadi juara kelas dan juara umum di sekolah.” Daniel menyodorkan piala tinggi yang baru saja Ia dapatkan.
“Ini untuk Mama,” sambung Daniel sebelum memeluk tubuh Ny. Edritz.
Pak Sam berdiri di depan pintu dengan senyum bahagia. Tawa Daniel memang suatu kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Bocah berusia 12 tahun itu sangat sulit untuk tertawa dan berbahagia dengan hidup yang ia jalani. Sikapnya memang sedingin es sejak ia kecil. Bahkan sifat itu sudah terlihat jelas saat Daniel berusia 5 tahun.
Semua penghuni rumah utama di kejutkan dengan suara tembakan yang tiba-tiba saja muncul dari arah pintu utama. Beberapa pelayan wanita yang bekerja berlari ketakutan dan mencari tempat bersembunyi. Pak Sam memandang ke arah pitu dengan wajah khawatir.
Segerombolan pria bersenjata muncul dengan senjata api yang begitu menyeramkan. Wajah penjahat itu ditutupi dengan sebuah topeng berwarna hitam. Tembakan demi tembakan mereka keluarkan untuk merusak isi rumah utama.
Pak Sam berlari mendekati posisi Ny. Edritz dan Daniel. Pria itu berusaha keras untuk melindungi kedua majikannya yang selalu ia hormati.
“Nyonya, kita harus segera pergi dari tempat ini.” Pak Sam mengangkat tubuh Daniel secara paksa sebelum membawa dua majikannya itu lari ke arah kebun apel. Piala yang sempat di genggam Daniel terjatuh di atas rerumputan yang ada di taman.
Daniel berteriak dengan wajah yang begitu kesal. Bicah 12 tahun itu belum mengerti dengan situasi yang telah terjadi. Ia terus saja memberontak untuk diturunkan dari gendongan Pak Sam. Ia ingin mengambil pialanya yang terjatuh.
“Lepaskan!” teriak Daniel sambil mengigit bahu Pak Sam. Tidak tahan dengan rasa sakit, Pak Sam menurunkan tubuh Daniel.
“Daniel!” teriak Ny. Edritz dengan wajah frustasi. Melihat Daniel berlari kembali ke arah taman, membuat Ny. Edritz tidak bisa tinggal diam. Wanita itu berlari dengan cepat untuk mengejar putranya. Langkahnya sempat terhenti saat Pak Sam menarik tangannya.
“Nyonya, biar saya yang mengejar Tuan muda. Nyonya bersembunyi di kebun ini saja.” Pak Sam berusaha membujuk Ny. Edritz agar tidak lagi mengejar Daniel.
“Tidak bisa, putraku sedang dalam bahaya.” Ny. Edritz tetap bersih keras untuk mengejar Daniel. Pak Sam juga ikut berlari mengikuti langkah Ny. Edritz dari belakang.
Daniel tersenyum bahagia saat melihat piala miliknya masih utuh. Bocak berusia 12 tahun berlari kencang untuk mengambil pialanya. Baru saja ia menunduk mengambil pialanya, didepannya telah berdiri beberapa pria bertopeng sambil menodongkan senjata.
“Daniel!” teriak Ny. Edritz dari kejauhan dengan deraian air mata.
“Mama,” ucap Daniel sambil menatap wajah sedih sang Ibunda.
“Aku akan membunuh pewaris tunggal Edritz Chen. Setelah membunuhnya, Aku akan membunuh anda, Nyonya Edritz. Bersabarlah untuk menanti ajal anda.” Pembunuh bayaran itu tertawa dengan penuh kegirangan.
“Jangan lukai anak saya, saya mohon.” Ny. Edritz berlutu di permukaan rumput sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Saya akan membayar berapapun yang anda minta. Asal jangan sakiti Putra saya.”
“Mama,” ucap Daniel sambil berlari menuju posisi Ny. Edritz.
DUARR!
Satu tembakan lagi-lagi terdengar. Daniel berdiri mematung saat mendengar tembakan itu.
“Daniel, apa kau baik-baik saja, Nak?” Ny. Edritz berusaha tegar memandang tubuh Daniel yang kini mematung.
“Jangan sakiti keluarga saya!” teriak Tuan Edritz dari kejauhan. Pria yang sempat menodongkan senjata api itu tergeletak dengan lumuran darah yang keluar dari punggungnya.
“Papa!” teriak Daniel.
Tuan Edritz berlari mendekati posisi Anak dan Istrinya. Pria muda itu terlihat panik dan khawatir saat melihat kekacauan yang telah terjadi di rumahnya.
“Ayo kita harus segera lari dari rumah ini. Mereka tidak akan berhenti sebelum menghabis nyawa kita.” Tuan Edritz mengangkat tubuh Daniel ke dalam gendonganya dan menarik tangan Ny. Edritz.
“Tuan, ini kunci untuk membuka gerbang belakang. Saya akan berusaha untuk menghalangi musuh yang ingin mengejar anda.” Pak Sam menyodorkan kunci berwarna emas di depan Tuan Edritz.
“Tidak Pak Sam, anda juga ikut dengan kami. Ayo kita pergi.”
Mendengar perintah dari sang majikan, Pak Sam juga ikut pergi meninggalkan rumah utama melalui jalan belakang. Pria itu berada di belakang majikannya sebagai pelindung kalau ada orang yang ingin mencelakainya majikannya.
Setelah berlari beberapa kilometer mejauh dari lokasi perumahan. Tuan dan Ny. Edritz terlihat sangat lelah dengan keringat yang sudah membasahi baju. Pak Sam juga mengambil alih untuk menggendong Daniel. Tetapi, lagi-lagi bocah 12 tahun itu keras kepala dan lebih memilih untuk berjalan daripada di gendong.
Seseorag dari kejauhan baru saja keluar dari dalam mobil. Mereka keluar dengan sejata api yang siap menembak Tuan Edritz da keluarga. Tidak ingin menyerah, Tuan Edritz melanjutkan langkah kakinya untuk menjauh dari musuh-musuhnya.
Di waktu yang bersamaan, mereka berhadapan dengan Biao kecil yang berpenampilan acak-acakkan. Walau memiliki usia yang sama dengan Daniel, tetapi dua pria itu memiliki watak yang jauh berbeda.
Biao memandang ke arah musuh yang ingin mencelakai keluarga Tuan Edritz. Dengan wajah santai dan senyuman kecil. Bocah 12 tahun itu mengeluarkan pistolnya dan menembak seluruh musuh milik Tuan Edritz. Aksi Biao kecil membuat takjub Tuan Edritz dan keluarga.
Hanya dengan beberapa tembakan, kini musuh-musuh itu tergeletak di jalanan dengan kondisi tidak bernyawa.
“Terima kasih,” ucap Pak Sam sambil menunduk hormat.
“Siapa nama anda bocah jagoan.” Pak Sam tersenyum dan terlihat tertarik dengan Biao waktu itu.
“Biao, Paman.” Biao memasukkan pistol miliknya ke dalam baju. Bocah itu memandang wajah Daniel dengan seksama. Memperhatikan bocah kaya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Biao, apa kau mau tinggal bersama kami?” Tuan Edritz angkat bicara. Pria itu juga tertarik dengan Biao.
“Apa ada pekerjaan untuk saya?” Biao terlihat berseri mendengar tawaran Tuan Edritz.
Tuan Edritz tersenyum, “Ada, mulai sekarang pekerjaanmu melindungi Putra saya. Bagaimana? sebagai bayarannya, Kau boleh tinggal di rumah kami dan mendapatkan semua yang kau inginkan.”
“Saya mau Paman.” Biao tersenyum lebar dengan wajah kotor yang dipenuhi debu. Ny. Edritz dan Pak Sam tersenyum mendengarkan perkataan Biao.
“Daniel, apa kau mau berteman dengan Biao?” tanya Ny. Edritz dengan senyuman.
Daniel mengulurkan tangannya, “Daniel Edritz Chen.”
“Biao.” Biao membalas uluran tangan Daniel dengan senyum kecilnya.