
Beberapa hari kemudian. Di rumah utama.
Serena duduk di ruang utama sambil mengotak-atik remot TV. Wanita itu merasa bosan hari ini. Seharian ia hanya duduk diam di rumah besar itu tanpa melakukan apapun. Daniel yang semakin posesif dengannya, kini juga melarangnya untuk pergi meninggalkan rumah. Sesekali wanita itu memandang beberapa pelayan wanita yang kini terlihat membersihkan rumah. Entah kenapa, tiba-tiba saja Serena kembali ingat dengan Diva.
Sekarang sahabat terbaiknya itu telah menjadi istri dari Dokter Adit. Diva tinggal di kediaman Adit yang ada di kota Marioka. Ada banyak kenangan dirinya dan Tuan Wang di kota itu. Di kota Marioka Serena memulai hidup sederhana bersama dengan Tuan Wang. Bahkan pria paruh baya yang sangat disayangi Serena itu juga dikebumikan di kota itu.
“Papa ....” ucapnya lirih. Matanya tiba-tiba saja terasa perih dan memerah. Dengan lembut Serena memegang perutnya yang sudah mulai terlihat buncit.
“Sayang, Mama sangat rindu sama Kakek.” Serena meletakkan remot TV kembali ke atas meja. Wanita itu beranjak dari sofa untuk kembali ke kamar tidur. Dari halaman depan, terdengar suara klakson dari mobil yang baru saja tiba. Serena menghentikan langkah kakinya yang ingin menaiki tangga. Wanita itu menanti kemunculan orang yang baru saja tiba di rumah utama. terdengar suara sepatu yang tidak lagi asing baginya.
“Mama,” ucap Serena dengan senyum mengembang. Wanita hamil itu berlari untuk memeluk ibu mertua yang sangat ia rindukan.
“Serena, jangan lari,” ucap Ny. Edritz dengan wajah panik.
“Mama, Serena sangat merindukan Mama,” ucap Serena sambil memeluk penuh kerinduan tubuh Ny. Edritz.
Ny. Edritz mengukir senyuman manis saat mendengarkan kalimat Serena. Wanita itu mengusap lembut punggung menantunya, “Mama juga sangat merindukanmu, Sayang.”
“Serena, bagaimana kabarmu?” tanya Tuan Edritz dengan senyuman.
“Serena baik-baik saja, Pa.” Serena melepas pelukannya dari tubuh Ny. Edritz.
“Sayang, Mama punya banyak hadiah untukmu.” Ny. Edritz memutar tubuhnya untuk melihat barang-barang bawaannya saat itu, “Koper yang hitam itu untukmu, Sayang.”
“Apa isinya, Ma?” tanya Serena sambil mengeryitkan dahi. Wanita itu kini dipenuhi tanda-tanya atas oleh-oleh yang secara khusus disiapkan untuknya.
“Sayang, kau bisa membukanya di kamar. Mama yakin, kau pasti suka.” Ny. Edritz mengukir senyuman percaya diri. Ibu mertua Serena memerintahkan kepada pelayan untuk membawakan koper itu ke kamar Serena.
“Mama dan Papa pasti sangat lelah.” Serena menatap wajah lesu kedua mertuanya itu.
“Ya. Mama sama Papa mau istirahat dulu ya, Sayang.”
Serena mengangguk sambil memandang punggung mertuanya yang kini berjalan menuju ke arah kamar. Setelah Tuan dan Ny. Edritz hilang di balik pintu, Serena kembali ingat dengan koper yang disebutkan sebagai hadiah miliknya itu. Wanita tangguh itu sudah tidak sabar untuk melihat isinya. Dengan langkah hati-hati, Serena menjejaki kakinya di tangga yang menjulang ke lantai dua.
***
Z.E. Group.
Kenzo baru saja selesai menghadiri rapat bulanan perusahaan milik kakak iparnya. Pria itu kini duduk di kursi berputar yang biasa di duduki Zeroun Zein dulu. Tatapan matanya terpusat pada luar jendela yang kini memamerkan kecerahan langit di siang hari. Berdasarkan data terbaru, malam ini akan turun salju di kota Sapporo. Kenzo mengukir senyuman penuh bahagia.
Masih teringat jelas, di musin salju sebelumnya ia melewati masa-masa indah bersama dengan Shabira. Tidak di sangka, untuk menyambut musim salju saat ini ia masih diberikan kesempatan untuk melihat wajah istrinya itu.
“Sayang, aku sangat merindukanmu,” ucap Kenzo pelan sambil memandang wajah Shabira yang ada di meja kerjanya.
Terdengar suara ketukan pintu. Kenzo memberi ijin kepada orang yang kini mengganggu lamunannya untuk masuk. Seorang wanita berpakaian resmi masuk dengan senyuman dan beberapa berkas di tangannya.
“Selamat siang, Tuan. Ini berkas-berkas yang anda minta.” Wanita berstatus sekretaris Kenzo itu meletakkan beberapa berkas yang sempat ia bawa di atas meja.
“Saya permisi dulu, Tuan.” Wanita itu membungkukkan tubuhnya sebelum pergi meninggalkan Kenzo di dalam ruangannya.
“Tunggu, apa Anna sudah mengirim berkas yang aku kirim untuk Tama?” Kenzo memandang bawahannya dengan wajah penuh tanya.
“Sudah, Tuan. Nona Anna sudah menyerahkan berkas-berkas itu sebelum berangkat ke London.”
Kenzo mengangguk pelan, “Baiklah, kau boleh pergi.”
Kenzo memeriksa berkas itu dengan seksama dan hati-hati. Pria itu tidak ingin melakukan kesalahan sedikitpun yang nantinya akan merugikan.
Selama ini Anna memang bekerja di salah satu cabang perusahaan Z.E. Group. Wanita cerdik itu tiba-tiba saja meminta proyek yang ada di London untuk ia tangani. Sepertinya sakit hatinya kepada Biao, membuat Anna ingin segera menjauh dari pria dingin itu.
“Sangat sulit untuk mencari pengganti Anna selama tiga bulan ke depan,” ucap Kenzo sebelum meletakkan kembali berkas-berkas berisi laporan itu. Matanya terpejam dengan tubuh bersandar nyaman. Kenzo tidak ingin terlalu stress dengan pekerjaannya akhir-akhir ini. Pria itu ingin bekerja dengan kondisi yang santai dan nyaman untuknya.
Suara telepon berdering. Kenzo mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pria itu mengeryitkan dahi saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Tama?” Tanpa menunggu lama lagi, Kenzo melekatkan ponsel itu di telinganya.
“Hallo, Tama. Ada apa kau menghubungiku? Apa berkas yang aku kirim masih salah?” tanya Kenzo dengan wjaah kurang yakin.
[Tidak, Tuan. Berkasnya sudah sempurna. Saya baru saja selesai memeriksanya.]
Kenzo kembali bernapas lega, “ Lalu ada hal penting apa selain berkas itu?”
[Tuan, apa Nona Anna benar pergi ke London? Saya baru saja mendapat informasinya siang ini.] Ada rasa kecewa dari nada bicara Tama siang itu. Pria itu seperti kehilangan sosok wanita yang telah ia kagumi.
“Ya, Anna meminta proyek di London. Dia akan kembali tiga bulan lagi.” Kenzo mulai merasa hal yang mencurigakan dari rasa khwatir Tama siang itu. Pria itu mengukir senyuman tipis sebelum mengeluarkan kata lagi, “Tama, bukankah S.G. Group ada di London?”
[Apa maksud anda, Tuan?] Tama mulai bingung dengan arah bicara Kenzo siang itu.
“Sepertinya cabang S.G. Group juga membutuhkan perhatian khusus. Bukankah Daniel selalu mengirimmu setiap kali cabang kalian mengalami masalah?”
Tama berdehem, Membuat Kenzo tidak lagi bisa menahan tawanya. Pria itu tertawa dengan cukup nyaring karena berhasil meledek Tama siang itu.
“Tama, aku sarankan untuk mengejar wanita yang kau suka. Jangan biarkan dia pergi dan kembai dengan orang lain.”
Kalimat Kenzo cukup menyentuh hati Tama di seberang sana. Pria lawan bicara Kenzo itu kini membisu tanpa kata. Seperti sedang mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Kenzo.
“Sebentar lagi salju akan segera turun. Kau bisa pergi hari ini juga sebelum salju turun.”
[Terima kasih, Tuan atas infonya.]
“Aku sangat senang bisa membantumu, Tama. Selama ini kau juga banyak membantuku.” Kenzo memutuskan panggilan teleponnya bersama Tama. Pria itu melanjutkan tawanya seteah meletakkan ponselnya di atas meja.
“Tama ... Tama. Apa dia benar-benar suka dengan Anna? Tapi, apa yang di pandang dari wanita galak seperti Anna?” Kenzo menggeleng kepalanya sebelum melanjutkan tidurnya yang tertunda.