Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus. Part 12



Daniel dan Serena sudah tiba di salah satu hotel bintang 5 yang ada di kota Sapporo. Tama dan beberapa pengawal berbaris rapi di belakang Daniel dan Serena. Beberapa pengunjung terlihat mematung memperhatikan sepasang suami istri itu.


Beberapa wanita yang ada di lobi juga memandang iri pada Serena. Bagaimana tidak. Walau sudah mengenakan jaket, Daniel tetap melepas jas hitam miliknya untuk melindungi istrinya dari rasa dingin.


Sejak turun dari mobil juga, CEO makanan ringan itu tidak mau melepas tangan istrinya. Sesekali Daniel tersenyum sebelum mengecup punggung tangan Serena. Bisa dibilang, Serena wanita yang cukup beruntung karena bisa mendapatkan suami tampan, kaya dan perhatian seperti Daniel.


Hotel berbintang itu terlihat cukup ramai malam ini. Beberapa pengunjung elit juga terlihat berlalu lalang di setiap lorong hotel. Ada yang baru tiba ada juga yang sudah mau pergi pulang.


“Sayang, Aku lapar.” Serena menjatuhkan kepalanya di pundak Daniel dengan tangan merangkul lengan pria itu. Wajahnya di atur dengan wajah manja dan suara yang cukup merdu menggoda.


“Setelah mandi kita akan pergi makan malam.” Lagi-lagi Daniel mengecup pucuk kepala sang istri tanpa peduli keberadaan Tama dan pengawal lainnya yang telah berbaris rapi di belakang.


“Kenapa harus tidur di hotel?” Serena mengeryitkan dahi saat mereka sudah tiba di depan pintu kamar. Wanita itu menatap wajah suaminya dengan seksama. Ia ingin tidur di kamar miliknya yang ada di rumah utama. Sejak tinggal di rumah utama, Serena merasa hanya rumah itu tempat ternyaman untuknya tidur. Di tambah lagi selama masa kehamilannya ini. Wanita tangguh itu sangat sulit beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.


“Aku ingin mencari suasana baru saat bercinta denganmu,” ucap Daniel tanpa sensor. Membuat Tama dan pengawal lainnya yang mendengar hanya bisa menarik napas.


Wajah Serena merona malu saat mendengar kata-kata suaminya. Wanita itu masuk lebih dulu ke dalam kamar saat pintu telah terbuka. Sedangkan Daniel masih berdiri di depan pintu. Pria itu memandang Tama dan pengawal lainnya secara bergantian.


“Dimana Biao?” Sejak tadi Daniel sudah penasaran dengan tangan kanannya yang tiba-tiba saja terganti. Tetapi Daniel masih menahan rasa penasarannya hingga detik ini tiba.


“Biao memiliki urusan mendadak, Tuan.” Tama membungkukkan tubuhnya.


“Apa makan malam ku dengan Serena sudah dipersiapkan dengan sempurna?” Daniel menatap wajah Tama dengan serius.


“Sudah, Tuan. Kami sudah memesan satu lantai hanya untuk anda dan Nona.” Tama menatap wajah Daniel dengan senyuman manis miliknya.


“Bagus. Kalian boleh pulang sekarang. Aku rasa hotel ini cukup aman untuk kami beristirahat.” Daniel memperhatikan lorong hotel yang kini dilengkapi CCTV.


“Maaf, Tuan. Saya sudah mengatur dua pengawal untuk berjaga di depan kamar ini.”


“Terserah kau saja. Jangan salahkan Aku kalau kalian harus mendengar sesuatu yang ....” Daniel tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam kamarnya. Pria itu menutup pintu kamarnya dengan hati-hati.


Tama menggeleng pelan saat mengingat kembali kalimat terakhir Tuannya.


“Aku rasa menikah sungguh hal yang menyenangkan.” Tama tersenyum sebelum masuk ke kamar miliknya yang ada di depan kamar Daniel.


***


Cafe Star.


Biao dan Anna saling memandang satu sama lain. Tidak ada yang berani untuk mengeluarkan kata lebih dulu. Biao terlalu tinggi dengan gengsinya. Anna terlalu tinggi menjunjung harga dirinya. Biao dan Anna sibuk memandang keindahan taman Yang ada di lantai bawah.


Ada senyum indah di sudut bibir Anna saat melihat sinar lampu warna-warni Yang ada di taman itu.


“Masih ada banyak urusan yang harus Aku selesaikan. Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan lagi. Sebaiknya pertemuan ini kita sudahi sampai di sini.” Biao memasukkan ponselnya ke dalam saku.


“Apa Kau menyamakan ini seperti sebuah rapat di kantor?” Anna melipat tangannya di depan dada.


“Apa tidak ada kata lain yang ingin kau ucapkan selain kalimat menghindar seperti itu.”


“Aku tidak menghindar. Dalam hidupku, pekerjaan jauh lebih penting daripada seorang wanita.” Biao menatap wajah Anna dengan tatapan dingin.


“Aku rasa Aku sudah salah menilai anda. Tuan Biao. Awalnya saya pikir anda pria di gin yang sulit jatuh cinta. Tapi malam ini, saya tahu satu hal.” Anna beranjak dari duduknya.


“Anda bukan pria yang sulit jatuh cinta. Tetapi pria yang tidak akan pernah jatuh cinta.” Anna mengambil tas miliknya yang ada di atas meja.


“Aku tidak ingin ditinggal untuk yang kesekian kalinya. Malam ini, aku yang akan meninggalkanmu lebih dulu.” Anna pergi meninggalkan Biao begitu saja tanpa mau memandangnya lagi.


“Nona Anna,” teriak Biao untuk menghentikan langkah wanita cantik itu.


Anna menghentikan langkah kakinya dengan senyum penuh kemenangan. Wanita itu belum mau memutar tubuhnya sebelum Biao melanjutkan kalimatnya.


“Maafkan Aku. Malam itu Aku tidak datang bukan karena sengaja. Tapi, ada satu hal penting yang tidak bisa untuk aku tinggal kan begitu saja. Sebelum saya tiba di cafe ini, saya telah menerima pesan singkat anda.” Biao mengungkap kan kejadian yang sebenarnya ia alami waktu itu.


Anna memutar tubuhnya dengan wajah angkuh yang menahan tawa. Ingin sekali wanita itu melepaskan tawanya yang tertahan. Namun, ia tidak ingin terlihat murahan seperti itu.


“Lalu?” jawab Anna sambil menaikan satu alisnya.


“Lalu? Maksudnya?” Biao terlihat bingung dengan ucapan singkat Anna malam itu.


“Lalu sekarang bagaimana?” Anna membuang tatapan matanya.


Biao mengeryitkan dahi, “Maafkan Aku Nona Anna. Aku tidak bisa dekat dengan anda lebih jauh lagi.” Biao berjalan pelan untuk mendekati posisi Anna.


“Kencan kita malam itu karena paksaan Tama. Dia ingin menjodohkanku dengan seorang wanita. Tapi, setelah kejadian ini. Aku semakin yakin dengan pilihanku.” Dua bola mata Biao berubah tajam. Bahkan terlihat seperti sebilah pisau yang ingin segera menebas lawannya.


“Wanita hanya makhluk yang merepotkan.” Biao berlalu pergi meninggalkan Anna yang masih mematung pada posisinya.


“What?” celetuk Anna dengan wajah tidak percaya. Wanita itu mengepal kuat kedua tangannya atas kalimat menghina yang baru saja diucapkan oleh Biao.


“Awas saja kau!” umpatnya semakin kesal.


Biao yang masih mendengar jelas umpatan Anna terlihat tersenyum tipis. Pria itu merapikan jas miliknya sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Langkahnya terlihat cepat dengan ekspresi wajah yang cukup tenang.


“Apa dia pikir dia bisa mengalahkanku dengan trik murahan seperti ini? Sungguh wanita bodoh. Aku tidak akan pernah mau jatuh cinta pada wanita sepertinya.”