
Beberapa Tahun yang lalu, sebelum Serena Kecelakaan.
Di suatu malam, di dalam supermarket, di Kota Victoria.
Beberapa orang sibuk berbelanja aneka kebutuhan.
Beberapa anak kecil terlihat berlalu lalang untuk bermain. Beberapa wanita paru baya, sibuk memilih aneka belanjaan. Buah-buahan, sayur-sayuran, ikan dan aneka snack. Minuman juga tersedia di sana.
Seorang gadis berbaju cokelat dan jaket hitam, sibuk memilih aneka buah-buahan. Dengan rambut terikat satu dan mengenakan sepatu boot berwarna hitam.
Penampilan wanita itu, terlihat berbeda dari yang lainnya. Setelah mendorong troli ke bagian buah-buahan, ia kembali mendorongnya mengarah ke aneka minuman. Terdapat banyak minuman bersoda yang sangat ia sukai. Beberapa merk minuman kaleng, sudah memenuhi isi trolinya saat ini.
Seorang pria yang mengenakan jas berwarna hitam, masuk ke dalam supermarket itu dengan hati-hati. Tangannya yang kiri, terlihat menahan sakit tangannya yang sebelah kanan. Pria itu berjalan dengan langkah kaki yang terbata-bata.
Pria itu terus berjalan untuk mencari perlengkapan P3K. Tangannya terluka. Pria itu terus menahan tangannya, agar cairan merah itu tidak mengotori lantai. Setelah menemukan apa yang ia cari, pria itu segera membayarnya di kasir. Membawa kantung plastik itu pergi meninggalkan supermarket. Pria itu bernama Zeroun.
Di waktu yang bersamaan, Wanita dan pria itu saling bertabrakan. Hanya saling tatap untuk sesaat, sebelum mereka saling mengalihkan pandangan. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya ke kasir dan pria itu berjalan keluar meninggalkan supermarket. Wanita itu bernama Erena.
Erena membuka bagasi mobilnya dengan cepat. Parkiran yang sangat sunyi, membuat dirinya ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun, satu suara tembakan mengalihkan pandangan matanya.
Seorang pria tampak berlari ke arah dirinya. Erena hanya diam, tanpa bisa berlari dari posisinya saat ini. Dengan penuh khawatir, Erena menyambut kedatangan pria itu.
“Kau, bukankah kau yang,” ucapan Erena tertahan, pria itu langsung menariknya pergi meninggalkan mobil yang ingin ia naiki.
Erena meninggalkan mobilnya begitu saja. Berlari mengikuti langkah kaki pria yang kini manariknya. Erena melirik sebentar ke arah penembak itu, sebelumnya ia masuk ke dalam gang sempit.
“Siapa kau! kenapa kau menarikku!” ucap Erena kesal, dan melepaskan genggaman tangan pria itu.
“Zeroun, namaku Zeroun Zein,” jawab Zeroun dengan napas terengah-engah.
“Aku harus pergi!” ucap Erena kesal dan berlalu pergi meninggalkan Zeroun.
“Jangan! kau akan dalam bahaya jika keluar dari sini!” Zeroun menarik kuat tangan Erena dan menahannya agar tidak berlari pergi.
“Kau pria yang tadi menabrakku di supermarket? Untuk apa kau menarikku hingga ke sini? Aku tidak punya masalah apapun dengan penembak itu! Apa lagi dengan dirimu!” umpat Erena kesal.
Satu pria di belakang Erena, sudah menodongkan pistolnya ke hadapan Zeroun. Zeroun kembali menarik Erena, sebelum tembakan itu di lepaskan.
Duarr…! Duarr…!
Dua peluru di lepas secara cepat, Zeroun terus berlari menelusuri gang sempit. Dengan wajah kesal, Erena terus mengikuti langkah kaki Zeroun saat ini. Hari yang sudah gelap, membuat banyak tempat, untuk Zeroun dan Erena bersembunyi. Mereka bersembunyi di gang gelap sebuah jalan buntuh.
“Kau menyebalkan!” keluh Erena yang semangkin kesal.
“Maafkan aku,” ucap Zeroun pelan.
Satu pria yang tiba-tiba datang, membuat Zeroun dan Erena menghentikan pertikaiannya. Satu sirine polisi, membuat pria misterius itu menghentikan pencariannya, dan beranjak pergi meninggalkan gang persembunyian Erena dan Zeroun.
Zeoun terlihat bernapas lega, sedangkan Erena masih memandang dengan kesal.
Wanita ini sangat cantik.
Puji Zeroun dalam hati.
“Siapa dia, kenapa dia menembakmu?” tanya Erena bingung.
“Mereka musuhku,” jawab Zeroun singkat.
“Musuh? Kau membawaku untuk terlibat dengan musuhmu?” Menunjuk ke arah Zeroun.
Erena melirik ke tangan Zeroun yang berkucuran cairan merah. Erena menarik tangan Zeroun dan memeriksanya dengan teliti.
“Apa kau tertembak?” tanya Erena khawatir.
Zeroun hanya mengangguk pelan, tanpa ingin menjawab pertanyaan Erena saat ini. Matanya terus saja memandang kagum terhadap pesona Erena saat ini.
“Kita harus ke rumah sakit,” Erena menarik tangan Zeroun.
“Tidak!” Zeroun menghentikan langkah kaki Erena, “Mereka akan mudah menemukanku, jika aku pergi ke rumah sakit.”
Erena menarik napas dalam, dan mengambil sapu tangan yang tersimpan di saku celananya.
“Kemarilah, aku akan menghentikan pendarahaannya.” Mengikat luka Zeroun dengan sapu tangan kecil miliknya.
Zeroun hanya diam, sambil terus memandang wajah Erena. Wajah keduanya terasa dekat, saat Erena mengikatkan sapu tangan itu di tangannya.
“Baiklah, sudah jauh lebih baik.” Tersenyum sesaat.
“Terima kasih.” Masih memandang wajah Erena.
“Apa aku sudah bisa pergi sekarang?” tanya Erena tanpa basa-basi.
“Siapa namamu?” tanya Zeroun penasaran.
“Erena, namaku Erena.” Melangkah pergi meninggalkan Zeroun sendiri di sana.
“Erena, nama yang bagus.” Tersenyum bahagia memandang punggung Erena, “Andai aku orang biasa, aku pasti sudah mengejar-ngejar dirimu saat ini. Kau wanita yang cantik dan menarik, Erena!”
Zeroun terus memperhatikan punggung Erena, yang berjalan menjauh dari dirinya. Sebelum berbelok ke sebuah gang, Erena kembali membalikkan tubuhnya untuk beberapa saat. Erena tersenyum memandang wajah Zeroun, dan kembali pergi meninggalkannya di sana.
“Apa itu satu tanda, kalau kau ingin aku mengejarmu, Erena,” ucap Zeroun pelan, sambil tersenyum penuh arti.
Zeroun mengambil handphone yang tersimpan di sakunya. Mengangkat telepon dari seseorang yang kini sangat mengkhawatirkannya.
“Aku ada di depan gang, tidak jauh dari supermarket.” Memutuskan panggilan teleponnya.
Zeroun berjalan keluar dari gang gelap itu. Berdiri di pinggir jalan sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah dinding gedung. Satu mobil hitam, mendekat ke arah dirinya kini berada. Zeroun menatapnya dengan tatapan mata dingin.
“Selamat malam bos, apa anda baik-baik saja?” tanya pengawal setia Zeroun yang sudah di penuhi raut wajah khawatir. Membukakan pintu mobil, untuk memberi jalan pada Zeroun agar masuk ke dalam.
“Aku baik-baik saja, Lukas,” jawab Zeroun singkat, dan masuk ke dalam mobil dengan cepat.
Lukas adalah pria bertubuh tegab dengan wajah yang sangat kejam. Lukas sudah menjadi orang kepercayaan Zeroun sejak dulu. Keselamatan Zeroun, adalah satu alasan ia untuk tetap hidup hingga saat ini.
Lukas manutup pintu mobil dengan kuat, dan berlari kecil ke arah pintu depan. Lukas mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Malam semangkin larut. Embun sudah tampak menyelimuti kota. Semua orang sudah terlelap dalam tidur dan mimpinya. Tapi Zeroun, masih ada di dalam perjalanan menuju ke arah rumah.
Tatapan matanya ia alihkan keluar jendela. Senyuman terukir di wajahnya, saat ia kembali membayangkan wajah Erena yang sangat cantik.
Apa kita akan bertemu lagi? Tapi aku harap, kita tidak akan bertemu lagi, karena pertemuan di antara kita, akan membuat hidupmu selalu dalam masalah.
**Seperti Biasa...
Like, Komen, dan Vote...
Terima Kasih Sudah Membaca**.