Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kemana Diva?



Di S.G. Group.


Biao baru saja duduk di kursinya. Getaran handphone di saku celana, mengalihkan pandangannya. Biao mengerutkan dahinya, sebelum mengangkat panggilan masuk itu.


"Apa yang terjadi?" Biao mengangkat panggilan masuk itu dengan raut wajah khawatir. Di layar handphonenya, tertera nama pengawal berjaga di rumah utama.


Biao memutuskan panggilan masuk itu dengan cepat. Beranjak dari duduknya menuju ke ruang kerja Tama. Mendorong pintu itu dengan kasar, hingga membuat Tama terperanjat kaget.


"Apa yang kau lakukan, Biao. Apa kau tidak bisa bersikap lebih lembut. Hampir saja aku menumpahkan kopiku." Tama kembali menyesap kopinya yang panas


"Nona Serena kabur dari rumah utama."


Tama tersedak, ia terbatuk. Percikan kopi mengotori kemeja putihnya. Tama meletakkan kembali kopi itu di atas meja, "Kabur? Kemana?" Tama beranjak dari duduknya.


"Ke rumah Diva." Biao semangkin bingung untuk menyampaikan hal ini, kepada Daniel.


"Apa terjadi sesuatu pada Diva?"


"Aku tidak tahu. Tapi saat-saat seperti ini, aku sangat mengkhawatirkan nona Serena."


"Kita harus memberi kabar ini pada Tuan Daniel. Aku akan melacak posisi Nona Serena melalui handphone. Aku yakin, nona Serena membawa handphonenya."


Biao mengangguk pelan, dan beranjak ke ruangan Daniel. Hatinya kembali di penuhi perasaan takut dan khawatir, "Apa yang kau lakukan nona. Kenapa kau pergi meninggalkan rumah. Apa begini hidupmu yang dulu? selalu membuat orang lain menjadi takut memikirkanmu." Biao terus mengumpat. Baru beberapa detik ia tenang, kini masalah baru kembali muncul.


Mengurung satu wanita pembakang seperti Serena memang tidak mudah. Sejak dulu, Serena memang sosok yang keras kepala. Dengan segala upaya, Tuan Wang merubah sifat Serena. Menjadikan dirinya wanita yang baik dan lemah lembut.


Tapi itu tidak berjalan dengan baik. Selama hidup dengan Tuan Wang, Serena tidak pernah memperoleh masalah yang menguras emoai. Tapi sejak tinggal bersama Daniel, semua emosi yang pernah hilang, kembali naik ke permukaan. Hingga secara perlahan, Serena kembali ke sifat aslinya.


***


Di rumah Diva.


Satu klakson mobil mengalihkan pandangan Serena. Ia tertegun kaget saat melihat sosok yang keluar dari mobil.


Serena memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas. Kakinya semangkin tidak bertenaga. Saat sosok itu semangkin mendekati tubuhnya.


Beberapa pengawal sudah menodongkan senjata. Semua melingkar melindungi Serena saat ini.


"Senang bertemu denganmu lagi, Serena." Melipat kedua tangan dan memandang dingin ke arah Serena.


"Sonia. Apa yang kau lakukan dengan Diva? Dimana dia sekarang."


Sonia tertawa lepas saat melihat amarah Serena. Sonia mengerakkan jarinya, untuk memanggil beberapa pengawal tersembunyi.


Sonia memang mengatur semuanya untuk memancing Serena. Diva dan Angel, menjadi umpan agar Serena mau datang di lokasi ini.


Tapi semua tidak sesuai harapan Sonia. Serena datang dengan membawa beberapa pengawal bersenjata.


Semua pengawal Sonia, keluar dari tempat persembunyiannya. Menodongkan pistol ke arah pengawal Serena saat ini.


"Aku pikir, kau akan takut dengan ancamanku. Aku menyuruhmu datang seorang diri. Tapi kau datang dengan membawa pengawal. Apa kau tidak takut Serena? Kalau aku melukai orang yang kau sayang?" Sonia tersenyum tipis memandang Serena. Ia semangkin mendekati, posisi Serena saat ini.


"Hentikan langkah anda, atau saya akan menembak anda!" Teriak pengawal yang sejak tadi berada di depan Serena. Menodongkan pistol di depan Sonia, untuk mengancamnya.


"Menembakku?" Sonia semangkin tertawa bahagia, "Aku akan membunuh bayi kecil itu." Sonia menunjuk ke arah pria yang kini membawa Angel.


"Angel." Serena menutup mulutnya. Hatinya semangkin khawatir, saat Angel kini dalam genggaman Sonia.


"Lepaskan dia, Sonia. Dia masih kecil, kenapa kau tega memperlakukannya seperti itu." Serena mengepal kuat tangannya.


"Lepaskan kau bilang? Bagaimana jika aku minta hal yang sama padamu. Lepaskan Daniel untukku."


Sonia memang sudah dibutakan oleh cintanya kepada Daniel. Ia tidak memiliki belas kasih. Baginya mendapatkan Daniel, adalah tujuan hidupnya saat ini.


"Aku tidak akan pernah melepaskan suamiku." Serena terus menatap tajam ke arah Angel, dan memperhatikan pengawal itu.


"Tidak akan pernah, Serena? Aku juga tidak akan semudah itu, untuk melepas anak itu."


"Sonia, kau memiliki masalah padaku. Jangan libatkan anak kecil. Dia tidak bersalah."


"Maafkan aku Sonia, jika kau marah padaku. Tapi tidak seharusnya kau berbuat nekat seperti ini." Serena terus mencoba untuk membujuk Sonia. Ia tidak ingin Angel jadi celaka, gara-gara dirinya.


"Aku tidak butuh maafmu, Serena." Mata Sonia sudah membulat lebar. Ia tidak ingin bernegosiasi dengan serena saat ini. Sonia memberi kode kepada pengawal itu, untuk membawa Angel pergi.


"Jangan, kemana kau akan membawanya." Serena memandang Angel dengan raut wajah sangat panik.


"Aku akan membuatmu menyesal Serena. Aku akan mengirimkan anak kecil itu ke tempat yang paling nyaman." Sonia kembali tersenyum licik.


Dengan cepat, Serena merebut pistol pengawal yang ada di depannya. Serena mengeluarkan satu tembakan ke arah pengawal itu.


Duarr!


Pengawal itu jatuh ke tanah, dengan posisi yang masih menggendong Angel.


"Serena!" Teriak Sonia semangkin kesal, "Apa yang kau lalukan."


Duarr!


Serena melepas satu peluru lagi, tepat di bawah kaki Sonia.


"Aku tidak akan diam, Sonia. Aku sangat membencimu! Seharusnya aku menghabisimu sejak dulu!"


Beberapa pengawal mengambil Angel. Melihat Angel dalam keadaan aman, Serena sedikit bernapas lega. Serena kembali memandang Sonia dengan kebencian.


"Tembak wanita itu." Sonia melayangkan perintah kepada semua bawahannya.


Baku tembak kembali terjadi. Pengawal Serena terus melindungi Serena, dari serangan Sonia. Serena meletakkan pistol itu di atas lantai. Ia kembali tertegun kaget, dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Apa yang terjadi. Kenapa aku bisa menembak pria itu." Serena terus memandang pistol yang tergeletak di lantai.


Saat melibat Serena sendirian, Sonia melangkah cepat ke arah Serena. Ia ingin melayangkan satu pukulan di kepala Serena. Tapi belum sempat tangannya menyentuh tubuh Serena. Serena lebih dulu menahan tangan itu.


"Apa yang mau kau lakukan!" Serena melintir tangan Sonia, hingga Sonia teriak kesakitan.


Serena melepas Sonia, dan mendorongnya untuk menjauh.


Dengan cepat, Sonia melangkah mundur dari hadapan Serena saat ini. Sonia lari untuk menghindar. Sonia masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan Serena.


"Ternyata dia bukan wanita biasa! Awas saja kau. Aku pasti akan mengalahkanmu." Sonia memandang Serena dari balik kaca mobil. Dengan tatapan penuh dendam.


Serena menatap tajam kepergian Sonia. Dari kejauhan, Serena melihat Diva yang terikat. Diva duduk di sebuah kursi, tidak jauh dari posisi Serena berada. Serena berlari untuk menemui Diva.


Diva memejamkan matanya, kakinya di penuhi dengan luka. Air mata tampak sudah mengering di pipinya. Serena terus memanggil nama Diva, untuk membangunkan Diva dari tidurnya.


Hingga akhirnya, Diva sadar. Membuka mata perlahan, untuk memandang wajah Serena.


"Diva, apa yang terjadi?" Serena membuka ikatan Diva dengan cepat, "Ayo kita pergi dari sini." Serena menarik tangan Diva.


"Tapi nona, dimana Angel?" Mata Diva kembali berkaca-kaca.


"Angel sudah aman, kita harus pergi dari sini." Serena terus menarik tangan Diva , untuk meninggalkan kekacauan itu.


Mereka berlari ke arah jalan raya yang terlihat sepi. Kaki Diva penuh dengan luka, ia tidak mampu untuk melangkah lebih jauh lagi. Entah apa yang sudah di lakukan oleh Sonia terhadap Diva. Tapi saat ini, ia tidak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya terasa sangat lemah. Hingga Diva jatuh di jalanan.


Serena semangkin panik saat melihat Diva terjatuh. Serena terus menggoyangkan tubuh Diva, untuk membangunkannya.


"Diva bangunlah." Serena mengambil handphone dari dalam tasnya. Tangannya terlihat gemetar memegang handphone itu. Beberapa buliran air mata juga sudah memenuhi bola matanya.


Handphone itu terlepas dari tangannya. Hingga berserak di jalanan. Serena berdiri dari duduknya. Melihat ke jauhan, ada beberapa mobil hitam mendekati posisinya.


Serena terus memandang wajah Diva yang tidak kunjung bangun. Serena melangkah mundur, perlahan demi perlahan.


**Lanjutannya nanti siang nyusul...


sabar....


Like, komen, dan Vote dulu...🤣🤣🤣**