
Maladewa, Pukul 05.00 Sore.
Daniel dan Serena baru saja turun dari pesawat. Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dari pulau itu Daniel dan Serena harus menaiki kapal cepat milik keluarga Chen agar bisa berkunjung ke pulau Malvie. Jarak pulau Malvie dengan bandara tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu sekitar 15 menit.
“Daniel, apa kita akan naik kapal itu?” ucap Serena dengan wajah berseri-seri.
“Ya, sayang.” Daniel membawa tubuh Serena menuju kearah kapal pesiar milik keluarga Chen.
Beberapa pengawal terlihat sibuk membawa barang-barang bawaan Daniel dan Serena. Daniel dan Serena berjalan ke arah dermaga sambil berpegangan tangan. Sesekali Serena memperhatikan beberapa pengunjung lain yang juga ingin menyebrang dan menjelajahi lautan.
Dengan penuh hati-hati, Daniel membantu Serena naik ke atas kapal. Mengajak wanita itu duduk di depan kapal untuk menikmati pemandangan laut secara langsung. Bagian depan terdapat busa yang sangat empuk untuk diduduki. Sepertinya tempat itu memang sudah disiapkan untuk menyambut Daniel dan Serena.
Kapal itu melaju dengan cepat menembus ombak di tengah laut. Sepanjang perjalanan mata mereka dimanjakan dengan pemandangan pantai yang sangat indah. Membuat siapa saja ingin masuk ke dalam laut untuk berenang.
Serena duduk di samping Daniel untuk menimati keindahan laut di sore hari. Wajahnya benar-benar bahagia. Ini adalah satu perjalanan yang selalu ia impikan. Serena sangat suka dengan keindahan laut. Setiap hembusan angin yang kini menerpa tubuhnya ia nikmati dengan wajah gembira.
“Apa itu tempatnya?” Serena menunjuk pulau kecil yang kini mereka tuju.
“Ya sayang. Selamat datang di pulau Malvie. Ini adalah pulau milik keluarga kita.” Daniel mengikuti langkah Serena. Memeluk wanita itu dari belakang.
“Daniel, terima kasih. Tempat ini sangat indah.” Serena terpaku dengan pemandangan laut yang kini memanjakan matanya.
Satu resort mewah terlihat berdiri koko di lokasi yang tidak terlalu tinggi. Pepohonan terlihat bergoyang saat angin menerpanya dengan kencang. Pasir putih yang terbentang luas menjadi lantai yang menyambut kedatangannya sore itu.
Kapal itu berhenti di dermaga kecil. Beberapa pelayan terlihat sibuk membawa barang bawaan Daniel dan Serena. Dengan penuh semangat, Serena berlari ke arah pantai. Wanita itu melompat kegirangan menikmati suasana pantai di sore hari. Hembusan angin membuat rambutnya terlihat berantakan.
Daniel tersenyum dengan bahagia memperhatian Serena. Ini pertama kalinya ia merasa puas dengan dirinya karena berhasil membuat wanita yang ia cintai tertawa bahagia.
“Ayo, kita masuk.” Daniel membawa Serena masuk ke dalam resort itu. Beberapa pengawal yang sempat mengantar mereka sudah kembali ke kapal. Kapal pesiar itu pergi meninggalkan Daniel dan Serena, kini hanya ada mereka berdua di pulau kecil itu.
Daniel membuka pintu kamar milik mereka berdua. Kamar itu memiliki jendela kaca yang berukuran besar. Menghubungkan pemandangan kamar dengan pemandangan pantai yang ada di luar. Serena berlari ke arah jendela untuk menikmati matahari sore yang hampir tenggelam.
Wanita itu berlari ke arah pintu yang ada di ujung kamar. Membuka pintu itu dengan wajah bahagia. Ada kolam renang yang sangat bersih di sana. Kolam renang itu berbatas langsung dengan lautan. Serena berlari dengan begitu riang. Wanita itu benar-benar bahagia saat itu. Semua impiannya telah terwujud detik itu juga.
Daniel bersandar di dinding samping pintu, Pria itu melipat kedua tangannya memperhatikan wajah bahagia Serena. Hatinya juga merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Saat melihat wanita yang ia cintai bisa tersenyum bahagia.
“Daniel, I Love You,” teriak Serena dari kejauhan sambil berputar-putar di permukaan pasir putih.
“I Love You to, Serena,” teriak Daniel tidak mau kalah. Pria itu berlari mengejar Serena untuk membawanya masuk ke dalam kamar.
Langit yang berwarna jingga kini sudah berubah gelap. Lampu resort sudah dihidupkan Daniel hingga suasana ruangan itu kembali terang. Serena memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada satu pelayan atau pengawal yang ada didalam resort. Benar-benar hanya ada mereka berdua yang menempati resort itu.
“Sayang, Aku lapar.” Serena memegang perutnya dengan wajah sedih.
“Kenapa tidak ada pelayan, bagaimana caranya kita bisa makan? aku tidak pandai masak.” Wanita itu menekuk kepalanya dengan prustasi. Berjalan ke arah kulkas untuk melihat isi di dalamnya.
Sedangkan Daniel hanya duduk santai di ujung meja makan sambil tersenyum manis. Memperhatikan wajah lucu istrinya saat wanita itu kelaparan.
“Daniel, apa benda ini bisa dimakan?” Serena mengeluarkan sosis dari dalam kulkas. Meletakkan benda itu di atas meja. Tepat di hadapan Daniel.
“Aku bisa memasaknya untukmu, tapi ini tidak gratis.” Daniel memasang satu senyuman licik.
“Apa kau mengerjaiku saat ini?” Serena menatap wajah Daniel dengan kesal.
“Di sini,” ucap Daniel sambil menunjuk satu pipinya.
“Satu ciuman akan menghasilkan satu menu. Kau boleh meminta menu apa saja, aku akan memasakkannya untukmu, sayang.”
Serena tersenyum mendengar perkataan Daniel. Wanita itu berjalan mendekati posisi Daniel. Mendekatkan wajahnya di depan wajah Daniel.
“Satu ciuman satu menu?” tanya Serena sambil menyipitkan kelopak matanya.
Daniel mengangguk setuju.
“Kau menyebalkan!” teriak Serena di telinga Daniel.
“Sayang, apa yang kau lakukan?” Daniel memegang telinganya yang terasa sakit.
“Aku sudah sangat lapar, bisa-bisanya kau mengerjaiku, Daniel.” Serena melipat kedua tangannya dengan wajah cemberut.
“Baiklah, aku akan memasak makanan special untukmu. Duduk di sini.” Daniel mendorong tubuh Serena agar wanita itu duduk di kursi. Dengan begitu tenang dan santai, Daniel mulai mengambil beberapa bahan makanan di kulkas. Isi kulkas itu sudah dipenuhi stok untuk satu bulan.
Dari balik meja, Serena tersenyum memperhatikan Daniel yang terlihat sibuk memasak di dapur. Wanita itu lagi-lagi menyimpan kagum terhadap suami yang sangat ia cintai itu.
Beberapa menit kemudian, aneka masakan Daniel sudah memenuhi isi meja makan. Daniel mengambil piring dan mengisi piring itu dengan makanan yang baru saja ia masak. Meletakkan piring bundar bercorak bunga itu di hadapan Serena.
“Pasti rasanya enak,” ucap Daniel dengan penuh percaya diri.
Serena mengambil sendok garpu untuk mencicipi masakan buatan Daniel. Matanya terlihat berbinar saat merasakan masakan Daniel yang terasa begitu lezat.
“Daniel, makanan ini enak sekali. Aku akan menghabiskannya.” Serena melanjutkan makan malamnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Perutnya yang sempat terasa lapar kini sudah mulai merasa kenyang.
Daniel juga mengambil piring untuk dirinya. Mengambil beberapa menu sebelum memulai ritual makan malamnya bersama dengan Serena.
“Daniel, aku ingin mandi.” Serena beranjak dari duduknya menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Ayo kita mandi,” jawab Daniel dengan wajah bersemangat.
Sepasang suami istri itu berjalan beriringan menuju kearah kamar mandi. Membersihkan tubuh mereka yang terasa begitu lengket karena keringat.
Daniel lebih dulu selesai mandi, pria itu mengambil handphonenya dari atas meja untuk menghubungi beberapa pengawal tersembunyi yang menjaga resort itu. Duduk di ujung tempat tidur, dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
“Pastikan semuanya aman,” ucap Daniel singkat, sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
“Daniel,” teriak Serena dari arah ruang ganti.
Daniel segera beranjak dari tempat itu saat mendengar teriakan Serena. Langkahnya ia percepat, berharap sesuatu yang buruk tidak menimpah istri tercintanya.
“Sayang, ada apa?” tanya Daniel dengan wajah khawatirnya. Napasnya kembali tenang saat melihat Serena baik-baik saja di dalam ruangan itu.
“Lihat ini,” ucap Serena dengan wajah kesal.
“Apa itu?” Daniel memperhatikan kain berwarna hitam yang kini di berikan oleh Serena.
“Kenapa baju tidurku berubah menjadi pakaian tipis seperti ini!” Serena membongkar isi lemari untuk mencari pakaian tidur yang biasa ia kenakan.
Daniel terlihat menahan tawa memperhatikan tingkah laku Serena. Ia baru saja sadar, kalau kini semua pakaian tidur Serena telah ia ganti dengan lingerie yang begitu seksi.
“Sayang, kenapa tidak memakai pakaian seperti ini saja.” Daniel memeluk Serena dari belakang.
“Pakaian ini?” tanya Serena dengan wajah kurang yakin.
Daniel mengangguk di samping kepala Serena.
“Aku tidak mau,” protes Serena sambil melemparkan lingerie itu ke atas lantai.
“Jangan dipakai jika tidak suka. Sayang, kau juga tidak akan sempat mengenakan pakaian selama satu minggu ini.” Daniel mulai melepas tali handuk kimono yang kini dikenakan oleh Serena.
“Mau apa?” Serena menahan tangan Daniel.
“Sekarang sudah waktunya bukan?” bisik Daniel dengan penuh kelembutan.
Serena hanya bisa memejamkan mata dengan wajah pasrah. Tidak banyak yang bisa ia perbuat saat ini. Suaminya sudah menunggu dirinya dengan sabar selama beberapa minggu ini.
Dengan penuh kemenangan, Daniel mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya. Membawa tubuh Serena menuju kearah tempat tidur. Meletakkan istrinya dengan hati-hati di atasnya.
“Sayang, apa aku sudah boleh menyentuhmu?” bisik Daniel di telinga Serena.
Serena membuka matanya memandang wajah Daniel. Bibirnya tersenyum manis, sebelum mengangguk setuju.
“Terima kasih,” bisik Daniel lagi.
Tanpa menunggu lama lagi, Daniel mulai mencium bibir Serena yang terlihat menggoda. Ciuman itu turun ke leher Serena, meninggalkan jejak kepemilikan di setiap inci tubuh Serena bagian atas.
Mencium bibir Serena lagi sebelum kedua tangannya membuka handuk yang masih menutupi tubuh Serena. Melemparkan handuk itu ke permukaan lantai. Kini sudah tidak ada lagi yang menghalangi Daniel untuk menikmati keindahan tubuh istrinya.
“Sayang, Aku sangat mencintaimu.” Daniel menghentikan cumbuannya, saat melihat Serena sudah sulit untuk bernapas.
“Aku juga mencintaimu, Daniel.” Serena menyentuh lembut pipi Daniel. Kedua bola matanya memperhatikan wajah Daniel dengan penuh cinta.
Dengan satu senyuman kecil, Daniel menghadiahkan kecupan-kecupan singkat di sekujur tubuh Serena. Membuat wanita itu kaget, karena sensasi nikmat yang baru saja ia rasakan.
Serena memejamkan mata saat Daniel mulai menyentuh tubuhnya. Napasnya bergemuruh dengan begitu cepat. Kedua tangannya mencengram kuat lengan Daniel. Suaminya terlihat melampiaskan rasa rindunya selama ini. Menikmati setiap inci tubuhnya.
Serena tidak lagi bisa menolak gairah Daniel saat itu. Malam itu seluruh tubuhnya telah ia pasrahkan kepada suami yang paling ia cintai. Menikmati kebersamaan dengan pria yang akan menemani hidupnya hingga tua nanti.