Mafia's In Love

Mafia's In Love
Hilang Lagi ?



“Nona, Serena,” ucap Biao yang melihat Serena dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Sejak penyerangan yang terjadi, Biao memerintahkan semua pengawal untuk tetap berjaga melindungi Daniel dan Serena. Biao duduk di depan meja bar, yang ada di bawah Apartemen. Matanya terfokuskan pada seorang wanita, yang sedang berjalan pelan keluar dari apartemen. Hingga saat ia sadari, kalau wanita yang saat ini ia pandang adalah Nona muda yang wajib ia lindungi. Kakinya segera berlari mengejar Serena.


“Nona, kenapa anda berada di sini?” ucap Biao yang kini sudah berada tepat dibelakang Serena.


“Aku tidak ingin berada di sini, Biao,” jawab Serena pelan.


“Nona, kembalilah ke kamar,” bujuk Biao agar Serena mau kembali masuk ke dalam kamar.


“Tidak, dia bahkan sangat membenciku. Kehadiranku hanya merepotkan hidupnya saja,” balas Serena sambil terus melangkahkan kakinya.


“Nona, percayalah pada saya. Tuan Daniel tidak seburuk pemikiran, Nona,” ucap Biao yang terus saja membela Daniel di hadapan Serena.


“Aku tidak ingin kembali ke ruangan itu,” tolak Serena lagi.


Serena mulai menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya menghadap Biao. Perkataan Biao membuat Serena berpikir dua kali, atas niat yang ingin ia lakukan saat ini. Serena menatap wajah Biao dengan seksama.


“Nona, Tuan Daniel hanya belum siap menerima pernikahan yang terjadi secara tiba-tiba ini. Lambat laun Tian akan berubah, Nona. Perusahaan sedang dalam masalah, pikiran Tuan Daniel terus bercabang hingga ia tidak bisa mengendalikan emosinya,” ucap Biao terus menjelaskan keadaan Daniel agar Serena tidak pergi meninggalkan Daniel.


“Benarkah?” tanya Serena hampir percaya.


Sifat Serena yang patuh, membuat Biao sangat mudah menerima kehadirannya. Biao yang selalu bersikap waspada, kini mulai mempercayai Serena. Meskipun kenyataan buruk yang baru saja ia temukan, tetap tidak memudarkan rasa percaya dan pedulinya kepada Serena. Sifat lembut yang ditunjukkan Serena, terpancar ketulusan di sana. Hingga dengan lapang dada, ia menyambut kehadiran Serena sebagai Nona muda yang mendampingi kehidupan Daniel seterusnya.


“Benar, Nona,” jawab Biao pelan sambil tersenyum memandang Serena.


“Bukankah tadi kata Dokter Adit, anda belum makan, Nona. Ingin saya pesankan makanan?” tawar Biao mencoba memecah keheningan saat itu.


Makanan adalah satu topik utama, yang sejak tadi Serena pikirkan. Hal itu hampir sirna dari isi kepalanya, karena amarah yang diluapkan oleh Daniel. Tapi saat Biao kembali mengingatkannya, kata lapar itu kembali memenuhi isi kepala Serena.


“Iya, perutku sangat lapar,” jawab Serena penuh harap, sambil memegang perutnya. Serena melupakan rasa bersalah yang tadi memenuhi pikirannya, ketika Biao menyebutkan kata makanan.


“Mari, Nona. Saya akan mengantar anda, untuk makan sesuatu di restoran itu.” Biao melangkah ke arah restoran.


Serena mengikuti langkah Biao, untuk masuk kembali ke dalam gedung apartemen. Biao membawa Serena ke sebuah kursi yang sudah tersedia di situ.


“Anda ingin makan apa, Nona? Saya akan memesankannya untuk anda?” tanya Biao sambil membukakan satu kursi untuk duduk Serena.


“Terserah kau saja Biao,” jawab Serena pasrah tanpa ingin lagi protes jenis makanan apa yang ingin ia makan saat ini.


Tanpa banyak kata, Biao pergi meninggalkan Serena untuk memesan makanan dan minuman untuk Serena.


Terlihat langit yang begitu cerah malam ini, bintang-bintang bersinar. Sorot lampu-lampu indah, menerangi seluruh halaman Apartemen. Terdapat hamparan rumput nan hijau di sana. Sebuah kolam kecil melengkapi keindahan apartemen itu.


Seharusnya aku bisa bersikap lebih sabar, menghadapi dirinya.


Serena memandang sebuah kolam, yang ada di hadapannya. Pikirannya kembali mengingat Daniel.


“Nona, silahkan di makan.” Biao menghidangkan sepiring spageti dan segelas jus jeruk hangat di hadapan Serena.


“Biao, apa kau tidak ingin menceritakan padaku tentang hal tadi?” tanya Serena sambil menatap wajah Biao yang duduk di hadapannya.


“Maaf, Nona. Belum saatnya anda mengetahui tentang hal itu!” jawab Biao sambil mengalihkan pandangannya dari Serena.


Sejenak Serena hanya diam, memahami perkataan Biao. Serena sangat mengerti, kalau Biao sudah tahu apa yang saat ini ingin ia ketahui.


“Apa Daniel mengetahuinya?” tanya Serena perlahan yang masih dengan raut wajah penasaran.


“Tuan Daniel belum mengetahuinya, tapi saya harap Tuan Daniel tidak mengetahuinya,” ucap Biao cepat.


“Tatapanmu ke Kenzo penuh dengan kebencian, Biao!” Serena menatap tajam wajah Biao.


“Kenzo!” ucap seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat menghadap, ke arah Serena dan Biao.


***


Beberapa menit sebelum Serena berjumpa dengan Biao. . .


Daniel tersadar dari tidurnya. Lelaki itu memang bukan tipe orang yang mudah larut, dalam tidur yang panjang. Merasa ada sesuatu yang melindungi tubuhnya dari rasa dingin, Daniel segera terbangun. Ia mulai menyadarkan ingatan dan memfokuskan pandangan matanya.


Di lihat sekeliling ruangan tempat ia kini berada, tidak terlihat sosok wanita yang baru saja ia lukai dengan perkataannya.


“Kemana lagi dia,” ucap Daniel pelan dan beranjak dari sofa. Membuka pintu kamar mandi, berharap Serena ada di dalam.


Tidak ada seorangpun di dalam, tatapan matanya mulai berubah menjadi kekhawatiran.


“Apa dia kabur! kenapa dia sangat merepotkan. Dasar wanita menyebalkan, dia pasti marah dengan perkataanku tadi,” ucap Daniel pelan yang mulai menyadari kesalahannya terhadap Serena.


Daniel mengambil sebuah jaket, dan melangkah cepat untuk keluar dari ruangan tempat tadi ia beristirahat.


“Kemana dia pergi!” tanyanya pelan dengan pandangan yang terus menyelidiki setiap sudut lorong yang ada di apartemen itu.


Daniel sudah berada di lantai bawah, ia di sambut oleh beberapa pengawal yang menjaganya dan pelayan apartemen yang sedang bertugas.


“Apa kalian melihat Serena?” tanya Daniel kepada beberapa pengawal yang sedang berjaga di sana.


“Nona Serena ada di restoran bersama Tuan Biao, Tuan muda,” jawab seorang pengawal sambil membungkuk hormat.


Tanpa membalas perkataan sang pengawal, Daniel melangkahkan kakinya lagi ke arah restoran yang letaknya tidak jauh dari tempat ia kini berada.


“Apa dia turun ke bawah karena lapar, seharusnya tadi aku memesankan makanan untuknya di kamar. Repot begini jadinya,” umpat Daniel pelan, sambil terus melangkah masuk ke dalam restoran.


Di dalam ia melihat dua sosok manusia, yang memang sudah tidak asing di hidupnya. Melangkah perlahan hingga, ia kini sudah berada di hadapan Serena dan Biao. Tanpa di sadari oleh kedua orang yang ada dihadapanya.


Hatinya langsung berhenti berdetak, dan nafasnya mulai tidak beraturan. Saat satu nama itu disebutkan. Seakan tidak percaya, dan salah dengan apa yang ia dengar. Daniel mengulang perkataan yang kini telah memenuhi isi kepalanya.


“Kenzo?” celetuk Daniel kaget.