Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kembali Bekerja



Meskipun sudah cukup lama Daniel meninggalkan perusahaan, namun tidak terjadi hal yang buruk di sana. Perkembangan perusahaan masih terus mengalami kenaikan.


Perjanjian kerja sama dengan beberapa perusahaan juga berjalan dengan lancar. Ditangani oleh orang yang handal dan profesional, membuat S.G. Group tetap bertahan pada levelnya meskipun beberapa masalah sedang melingkar di sekelilingnya.


Daniel menyerahkan semua urusan yang berhubungan dengan S. G. Group kepada Biao. Setelah kepergian Tama, kini hanya ada Biao yang mengatur semua keperluan Daniel dan masalah yang di miliki Daniel. Bukan hanya ada Biao, Sonia juga ada dalam pencarian solusi atas masalah dalam S.G. Group.


Ilmu yang dimiliki Sonia juga tidak bisa di anggap remeh, lulusan terbaik dari salah satu Universitas ternama membuat dirinya bisa membantu Biao dalam banyak masalah.


Hari ini Biao dan Sonia ada dalam satu ruangan yang sama, mengatur jadwal yang akan dihadiri Daniel hari ini. Memiliki tujuan yang berbeda dalam bekerja, membuat Biao dan Sonia tidak pernah terlihat akrab. Hati mereka masing-masing hanya di isi oleh niat untuk menjatuhkan satu sama lain.


“Untuk apa kau datang ke rumah sakit?” tanya Biao sambil tetap menatap beberapa dokumen yang ada di tangannya.


“Aku…” mencari sebuah jawaban sambil mengalihkan pandanganya ke semua arah.


“Apa kau merencanakan sesuatu yang buruk?” tanya Biao lagi sambil menatap tajam ke arah Sonia.


“Kau selalu saja berpikiran buruk tentang diriku! Aku wanita yang baik, aku hanya menjenguk istri bos tempatku bekerja!” jawabnya sambil mengambil sebuah handphone dari tasnya.


Berdecak kuat “Apa kau yakin? Kau wanita baik?” sambil meletakkan semua dokumen di atas meja. “Aku sama sekali tidak percaya padamu, Nona Sonia!” gumam Biao dengan tatapan tajam.


“Aku tidak perlu meminta penilaian dari dirimu Biao! Urus saja pekerjaanmu!” jawab Sonia sambil kembali memasukkan handphonenya ke dalam tas.


“Aku akan selalu ada di pihak yang tidak kau suka”, tegas Biao sambil beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


“Kita lihat saja nanti!” gumamnya dalam hati.


Setelah lama libur panjang melewati masa bulan madu dan menemani Serena di rumah sakit, ini adalah hari pertama Daniel kembali ke S.G. Group. Kehadiran Daniel sudah disambut hangat oleh beberapa karyawan yang bekerja di S.G. Group.


Biao sudah berdiri tegab di depan pintu masuk ruangan Daniel, hatinya sedikit lega saat melihat Daniel bisa kembali bekerja di S.G. Group seperti biasa.


“Selamat pagi tuan”, sapanya sambil menarik gagang pintu untuk memberi jalan kepada Daniel yang baru saja tiba.


Hanya mengangguk pelan, Daniel melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan yang mejadi tempatnya bekerja selama ini.


“Apa anda baik-baik saja tuan?” tanya Biao yang melihat raut wajah berbeda dari biasanya.


“Aku baik-baik saja, apa semua berjalan lancar?” sambil membuka laptop untuk mulai memeriksa beberapa berkas dan email yang ada.


“Semua berjalan lancar tuan, ini beberapa berkas yang harus anda tanda tangani”, sambil menyodorkan setumpuk map di hadapan Daniel.


“Baiklah, kau bisa kembali ke ruanganmu Biao. Aku akan memanggilmu lagi nanti!” perintah Daniel sambil tetap menatap layar laptop dengan fokus.


“Saya permisi tuan”, ucap Biao sambil membungkukkan tubuhnya.


Hanya mengangguk pelan sambil melirik sebentar kearah Biao.


“Biao!” celetuk Daniel dari kejauhan.


Mendengar namanya kembali disebutkan, Biao menghentikan langkah kakinya dan melepas genggaman tangannya pada gagang pintu itu.


“Ada apa tuan, apa ada yang bisa saya bantu”, tanyanya dengan raut wajah bingung.


Pikiran Daniel masih dipenuhi rasa khawatir yang besar, masa lalu Serena masih menjadi teka-teki yang belum bisa ia pecahkan hingga detik ini juga.


“Kau sudah berhasil menyelidikinya?” tanya Daniel menagih sebuah jawaban.


“Maaf tuan, saya belum menemukan bukti apapun”, jawab Biao sambil tertunduk penuh rasa bersalah.


“Kau sangat bisa ku handalkan selama ini! Kenapa sangat sulit bagimu menyelidiki masa lalunya?” tanya Daniel dengan duduk yang mulai gusar.


“Maafkan saya tuan”, gumam Biao pelan, karena di tugasnya kali ini ia belum berhasil menemukan sedikit saja petunjuk.


Tok…Tok…


Tatapan keduanya teralihkan pada pintu yang baru saja terbuka.


“Masuk!” ucap Daniel singkat.


“Ada apa?” tanya Biao dengan raut wajah marah.


“Kau tidak seharusnya bersikap seperti itu, tuan Biao!” gumam Sonia sambil tersenyum licik memandang Biao.


“Saya hanya ingin memberikan ini tuan”, sambil memberi satu buah undangan kepada Daniel dan meletakkannya di atas meja.


“Apa ini?” tanya Daniel, sambil mengerutkan keningnya.


“Itu undangan dari Mr. X tuan…” jawab Sonia sambil tersenyum manis di hadapan Daniel.


“Mr. X!” ucap Daniel dan Biao bersamaan.


“Iya, Mr. X. Apa ada yang salah dengannya?” tanya Sonia sambil menatap ke arah keduanya.


Biao melangkah mendekat ke arah Daniel sambil mengambil undangan yang baru saja di letakkan Sonia di atas meja.


“Itu hanya undangan biasa, kenapa wajahmu sepanik itu Biao!” ucap Sonia sambil menatap sinis ke arah Biao.


Tanpa memperdulikan ucapan Sonia, Biao membuka undangan itu secara perlahan. Nafasnya terlihat lega saat ia mengetahui isi dari undangan itu.


“Ada apa Biao?” tanya Daniel yang masih di selimuti rasa penasaran.


“Undangan peresmian Z.E. Group tuan”, sambil meletakkan satu lembar kertas yang baru saja ia buka di hadapan Daniel.


“Z.E. Group? Mr. X?” sambil menatap ke arah Biao.


“Iya tuan, gedung yang pernah ia bicarakan pada malam itu”, jawab Biao pelan.


“Dia sudah menyelesaikan gedung itu dengan cepat”, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


“Anda bisa keluar sekarang Nona”, ucap Biao memberi perintah kepada Sonia.


‘Beraninya dia mengusirku dari sini’ batin Sonia sambil menatap tajam ke arah Biao “Aku masih ada beberapa urusan yang belum di selesaikan dengan tuan Daniel”, jawab Sonia sambil tersenyum licik memandang Biao.


“Ternyata keberanianya jauh lebih besar dari yang aku kira”, batin Biao sambil tetap memandang Sonia.


“Tuan, apa anda akan pergi ke peresmian gedung baru Mr. X?” tanya Sonia kepada Daniel.


“Apa itu hal yang kau anggap penting tadi nona?” potong Biao, sebelum Daniel mengeluarkan kata.


“Kau! Apa kau bisa diam saja tanpa ikut campur dengan urusanku!” bentak Sonia.


“Jika itu permintaan anda! Maaf, saya tidak akan pernah mengabulkannya!” jawab Biao penuh kesal.


“Kau!”.


“Diam!” bentak Daniel beranjak dari duduknya sambil memukul meja yang ada di hadapannya. “Kenapa kalian terus saja seperti ini…” ucapnya dengan tatapan kesal.


“Maaf tuan”, ucap Biao singkat sambil menundukkan wajah yang sudah dipenuhi rasa bersalah.


“Keluar! Tinggalkan aku sendiri!” perintah Daniel.


“Tapi…” sambung Sonia.


“Sekarang!” jawab Daniel singkat.


Tidak ingin membuat suasana hati Daniel semangkin lebih marah, Biao dan Sonia melangkah pelan menuju ke arah pintu. Suasana hati Daniel yang tidak terkendali seperti saat ini, memang selalu saja terjadi tiap kali ia memiliki masalah besar.


Bukan di perusahaan, kali ini masalah yang harus ia hadapi adalah masa lalu sang istri yang telah ia nikahi tanpa cinta.


“Kenapa semua ini terjadi!” bentak Daniel sambil membuang semua barang yang ada di atas meja kerjanya, hingga semua jatuh berhamburan di lantai.


“Serena! Siapa kau sebenarnya!” gumamnya pelan sambil mencengkram kedua tangannya.