Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 10



Shabira bukan tipe wanita mudah tersinggung apalagi menyerah. Dengan langkah santai ia berjalan mendekati meja kerja suaminya malam itu. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Wanita tangguh itu memiliki harapan besar kalau malam ini ia bisa menghilangkan rasa stress yang membebani suaminya.


Walau tatapan Kenzo belum juga teralihkan ke tubuhnya, tetapi ada rasa percaya diri di dalam hati Shabira kalau ia pasti berhasil. Selain cara seperti ini, Shabira tidak lagi memilih cara lainnya. Wanita itu juga tidak terlalu mengerti soal perusahaan. Ia tidak pernah sekolah sejak kecil. Semua ilmu yang ia dapat saat ini adalah didikan secara instan yang diberikan oleh Ratu Queen Star yang dulu.


“Sayang ….” Shabira memeluk tubuh Kenzo dari belakang.


“Sebentar lagi akan selesai, sayang,” jawab Kenzo yang masih belum bisa mengalihkan pandangan matanya.


“Aku mencintaimu,” bisik Shabira dengan begitu mesra. Wanita itu menggigit telinga sang suami untuk menggodanya. Menghembuskan napasnya yang hangat di telinga Kenzo untuk menghilangkan kosentrasi suaminya.


Kenzo terlihat tersenyum saat mendengar bisikan istrinya, “Aku juga mencintaimu.”


Merasa penasaran dengan sikap manja sang istri, Kenzo menghentikan aktifitasnya. Pria itu melebarkan kedua bola matanya saat melihat penampilan seksi istrinya saat ini.


“Sayang,” celetuk Kenzo tanpa berkedip.


Shabira tersenyum penuh kemenangan saat ia sudah berhasil menguasai perhatian suaminya. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang suaminya dengan senyuman menggoda.


“Aku menginginkanmu,” ucap Shabira sambil mengecup bibir suaminya dengan ciuman panas yang cukup memabukkan. Tanpa permisi, Shabira naik di atas pengkuan suaminya.


“Sayang ….” Kenzo melepas kecupan sang istri.


Shabira terlihat tidak suka dengan penolakan Kenzo malam itu. Wajahnya berubah dengan hasrat yang sudah hilang entah kemana. Melihat wajah Shabira menunduk dengan sedih, Kenzo memegang pinggang istrinya.


“Maafkan Aku. Apa Aku sudah mengabaikanmu hari ini?” tanya Kenzo dengan nada yang lembut. Shabira mengangguk tanpa mau menjawab.


“Maafkan Aku sayang,” sambung Kenzo cepat. Pria itu mematikan layar komputernya dengan cepat.


“Aku hanya ingin membuatmu melupakan masalah yang ada di Z.E. Group.” Shabira menatap kedua bola mata suaminya dengan penuh cinta.


“Aku tidak pernah memiliki masalah setiap kali berada di dekatmu. Karena, masalah yang tidak pernah bisa terselesaikan adalah saat melihat wajah cantikmu ini berubah menjadi sedih seperti ini.”


Kenzo menyentuh lembut pipi Shabira dengan senyuman. Pria itu menurunkan pandangan matanya ke arah gaun tidur yang kini dikenakan Shabira. Tubuh Shabira memang cukup menggoda malam itu. Di tambah lagi, kini wanita itu duduk di atas pangkuannya dengan posisi cukup sempurna.


“Sayang, kita belum pernah mencobanya di tempat ini,” bisik Kenzo sambil mencium pundak istrinya.


Shabira mengukir senyuman dengan wajah merona malu. Godaan Kenzo berhasil membuat wanita itu salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Apa Kau mau? jika kita melakukannya di sini?” Kenzo mulai menuruni tali gaun itu dengan dipenuhi hasrat. Memandang wajah sang istri untuk menunggu persetujuan. Shabira hanya bisa mengangguk setuju dengan wajah malu-malu.


Kenzo menarik kepala Shabira agar mendekat dengan wajahnya. Mengunci bibir merah dan basah itu dengan ciuman yang lembut dan menggoda. Satu tangannya yang lain telah sibuk menuruni gaun yang kini dikenakan istrinya. Saat gaun hitam itu mulai turun, terlihat jelas tubuh istrinya yang putih dan mulus. Dengan cepat, Kenzo menghujani tubuh istrinya dengan ciuman dan tanda kepemilikan. Memberi godaan agar Shabira bisa menikmati setiap permainan yang ia lakukan.


Gerakan yang cukup ahli itu membuat Shabira semakin hanyut di dalam permainan suaminya. Desahan itupun terlepas dari bibir Shabira. Melihat sang istri sudah basah, membuat Kenzo tidak lagi bisa untuk menahan dirinya. Kenzo mulai membimbing Shabira agar segera memasukinya.


Percintaan itu akhirnya benar-benar terjadi di atas kursi kerja milik Kenzo. Ruangan yang dipenuhi dengan aneka dokumen dan alat-alat kantor itu kini menjadi saksi saat sepasang suami istri sedang memadu kasih. Suara yang dikeluarkan Shabira seakan memenuhi isi ruangan itu.


Setelah melewati pelepasan masing-masing. Tubuh Shabira terkulai lemas di dalam pelukan Kenzo. Wanita itu memejamkan matanya yang terasa lelah dan ngantuk. Dua tangannya ia kalungkan di leher jenjang milik suaminya.


“Aku sangat lelah, ayo kita tidur,” ucap Shabira lirih. Setelah beraktifitas seharian di tambah lagi olahraga malam itu memang membuat energi yang dimiliki Shabira lagi-lagi hilang.


“Mandi dulu agar segar lagi. Tubuhmu telah dipenuhi keringat seperti ini. Akan tidak nyaman untuk tidur dalam keadaan seperti ini.” Kenzo menyibakkan rambut panjang Shabira yang mengganggu pandangannya.


“Hmmp, baiklah,” jawab Shabira dengan nada malas. Wanita itu beranjak dari pangkuan sang suami dan memakai kembali gaun tipisnya. Kedua bola matanya menatap sang suami saat pria itu tidak juga beranjak dari duduknya.


“Ayo mandi,” ucap Shabira kesal.


Kenzo tertawa kecil, “Iya, iya.” Pria itu mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.


“Ayo kita mandi bersama dan lakukan sekali lagi di bak mandi,” sambung Kenzo dengan senyum puas.


“Kenzo ….” protes Shabira sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


“Siapa suruh menggodaku dengan cara seperti ini.” Kenzo mencium pucuk kepala istrinya. Berjalan dengan langkah cepat dan pasti menuju ke kamar tidur miliknya dan Shabira. Pria itu sudah tidak sabar untuk melanjutkan permainannya di kamar mandi bersama dengan sang istri.


***


Cafe Star, 08.00 malam.


Tama duduk di salah satu kursi yang telah di pesan oleh Anna. Pria itu mengenakan jas berwarna abu-abu dengan celana katun berwarna hitam. Ada senyum di sudut bibirnya saat bisa kencan dengan seorang wanita cantik seperti Anna. Pria itu duduk sambil menghadap ke arah kaca. Anna memesan kursi yang ada di lantai 3 dengan pemandangan lampu di taman bawah yang cukup menyejukkan mata.


Sudah hampir 15 menit lewat dari waktu yang telah ditentukan. Tetapi, wanita itu tidak kunjung datang. Ada perasaan ragu di dalam hati Tama malam itu. Bahkan Ia juga tidak habis pikir jika kini dirinya bisa berada di cafe itu dan menuruti permintaan Anna tanpa berpikir dua kali.


“Aku merasakan pirasat buruk saat ini,” ucap Tama sambil mengetuk-ngetuk meja kayu yang ada di hadapanya. Pria it uterus saja menyesali perbuatannya malam ini. Tidak pernah ia seceroboh ini selama berhubungan dengan seorang wanita. Walau cukup tersenyum saja semua wanita sudah bisa jatuh hati padanya. Tapi, baru kali ini ia menurut untuk datang dan rela membohongi sahabat terbaiknya.


Dari kejauhan muncul seseorang yangsangat dikenali oleh Tama. Pria itu beranjak dari duduknya dengan posisi mematung. Semua pirasat buruknya kini dijawab oleh kenyataan yang ada di depan matanya. Tidak lagi bisa memikirkan alasan selanjutnya untuk berbohong. Tama hanya bisa tersenyum ramah untuk menyambut sosok yang kini sudah berdiri di depan matanya.


“Selamat malam, Biao.” Menggaruk kepala yang tidak gatal dengan wajah linglung.


Biao memperhatikan Tama dengan seksama sebelum menghembuskan napasnya secara kasar. Memasuukan tangannya di dalam saku sambil memperhatikan meja romantis yang kini ada di depan Tama.


“Cek kesehatan ini cukup efektif sepertinya,” ucap Biao dengan ekspresi dingin.