Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 43



Beberapa saat kemudian.


Serena telah di pindahkan ke ruang perawatan VVIP. Kini semua orang telah melingkari tempat tidur Serena dengan wajah bahagia. Senyuman dua bayi yang baru lahir beberapa jam yang lalu itu, membuat semuanya merasa sangat bahagia. Nyonya Edritz tidak mau melepas cucu kesayangannya dari gendongannya.


“Wajahnya sangat mirip dengan Daniel, Pa. Lihatlah.” Ny. Edritz mengangkat sedikit putra Daniel dan Serena.


“Iya, Ma. Cucu cantik Kakek ini juga mirip dengan Daniel,” ucap Tuan Edritz sambil memamerkan wajah bayi perempuan yang ada di pelukannya.


Serena mengukir senyuman indah untuk mewakili hatinya yang saat ini sangat bahagia. Dari arah lain, wanita tangguh itu melihat raut sedih dari adik tercintanya. Dahinya mengeryit bingung saat melihat tetes air mata dari wajah cantik Shabira.


“Shabira, kemarilah,” ucap Serena dengan nada yang sangat pelan.


Shabira mengukir senyuman sambil menatap wajah Serena. Tangan Kenzo yang sempat berada di pinggangnya juga sudah terlepas. Dengan langkah yang sangat pelan, wanita itu mendekati ranjang Serena.


“Selamat ya, Kak.” Shabira memegang tangan Serena sambil tersenyum kecil.


Serena tahu bagaimana suasana hati Shabira saat ini. Wanita itu mengusap lembut punggung tangan Shabira, “Mereka juga anakmu. Kau boleh membantuku menjaga mereka.”


“Tanpa Kakak pinta, Aku pasti akan melakukannya.” Entah kenapa wanita tangguh itu tidak lagi bisa mengontrol kesedihannya. Berada di dekat Serena membuat Shabira ingin meluapkan seluruh isi hatinya saat ini. Dengan gerakan cepat, Shabira memeluk tubuh Serena dengan derai air mata. Tangisnya pecah hingga mengeluarkan isak tangis dan mencuri perhatian semua orang.


“Aku ingin hamil dan melahirkan seperti, Kakak,” ucap Shabira di sela-sela isak tangisnya. Sudah cukup lama dirinya bersabar dan selalu menanti. Namun, kabar gembira itu tidak juga menghampirinya. Bahkan hingga detik ini.


Kenzo menunduk sedih melihat istrinya lagi-lagi menangis karena masalah kehamilan. Daniel yang sejak tadi duduk di tepian ranjang Serena juga sudah menyingkir. Tuan dan Ny. Edritz menatap sedih kepada Shabira saat ini. Dengan hati-hati, dua bayi kembar yang belum diberi nama itu di letakkan kembali ke dalam box.


“Sayang,” ucap Ny. Edritz sambil berjalan pelan mendekati Serena dan Shabira berada.


“Jangan bersedih seperti ini.” Ny. Edritz mengusap lembut pundak Shabira. Wanita itu juga sudah mengusahakan segala cara agar Shabira segera hamil. Tapi, belum juga ada tanda-tanda keberasilan dari usaha yang selama ini mereka lakukan.


“Shabira, jika kau terlalu stress, itu juga bisa berakibat buruk dengan kesehatanmu. Kakak yakin, kau wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah selama ini.” Serena terus berusaha menenangkan adik kesayangannya itu.


Shabira melepas pelukannya dari tubuh Serena. Satu senyuman ia ukir di bibir indahnya, “Maafkan aku, Kak. Aku sudah merusak suasana gembira di ruangan ini.”


Serena mengusap setiap tetes air mata yang membasahi pipi Shabira. Wanita itu mengukir senyuman sebelum mengeluarkan kata.


“Shabira, aku dan Daniel sudah memutuskan sesuatu sebelum bayi kami lahir.” Serena menatap wajah Daniel yang berada tidak jauh dari posisinya berada, “Kami ingin, kau memberi nama kedua buah hati kami saat ini.”


Shabira terperanga mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Serena. Bagaimana mungkin ia mendapatkan kesempatan emas untuk memberi nama pewaris keluarga Edritz Chen.


“Kak, aku tidak pantas melakukan itu.” Shabira menundukkan kepalanya.


“Sayang, Kami semua setuju dengan ide Serena dan Daniel. Kau boleh memberi nama dua bayi menggemaskan itu,” ucap Ny. Edritz dengan senyuman.


“Aku sudah mengukir nama untuk mereka berdua,” ucap Shabira dengan nada yang sangat lirih, “Baby boy bernama Aleonora, sedangkan baby girl bernama Eleonora. Nama itu berarti cahaya atau penerangan. Aku ingin kedua bayi ini menjadi penerang jika ada kegelapan yang menghampiri kita nantinya.”


“Baby Al dan Baby El,” ucap Serena dengan senyuman, “Nama yang bagus, aku sangat setuju. Bagaimana denganmu, Daniel?” Serena tersenyum sambil memandang wajah Daniel.


Daniel menganguk pelan, “Namanya sangat indah. Aku juga setuju.”


“Jika kedua orang tua twin baby setuju. Mama dan Papa sebagai Kakek dan Nenek juga setuju.” Ny, Edritz megukir senyuman indah sambil memandang suaminya.


Kenzo mengukir senyuman saat melihat semua orang setuju dengan nama yang diberikan oleh istrinya. Pria itu berjalan pelan mendekati Shabira yang kini telah sibuk memperhatikan baby Al dan baby El.


“Sayang, mereka terlihat menyukai nama yang kau berikan,” ucap Kenzo dengan lembut sebelum mengecup pucuk kepala Shabira.


Tama dan Biao juga mengukir senyuman saat melihat keharmonisan keluarga amajikannya itu. Kini,di usia yang sudah tidak muda lagi. Biao dan Tama juga berencana untuk membentuk rumah tangga bersama dengan wanita yang mereka cintai. Untuk Tama sudah pasti dengan Anna. Hubungan mereka menjadi lebih baik selama beberapa bulan terakhir ini. Tama merasa sangat bahagia dan beruntung bisa dipertemukan lagi dengan Anna.


Berbeda dengan Biao. Pria itu harus memperjuangkan wanita yang ia cintai. Satu wanita yang sudah berhasil merusak harinya. Hingga setiap saat hanya wanita itu yang memenuhi pikirannya. Sharin. Perjuangan cinta Biao akan segera di mulai. Pria itu bertekad untuk mendapatkan apa yang layak untuk ia dapatkan. Baginya, memperjuangkan Sharin merupakan hal yang memang harus segera ia lakukan.


Daniel duduk di tepian ranjang sambil menatap wajah Serena. Hatinya semakin di selimuti rasa kagum atas kehebatan luar biasa yang di miliki Serena. Melihat bagaimana sulitnya Serena melahirkan membuat rasa sayang Daniel kepada Ny. Edritz juga semakin meningkat. Pria itu kini sadar, kalau seorang wanita akan sangat sulit saat ingin memperjuangkan satu nyawa untuk penerus keluarganya.


“Sayang, aku sangat takut tadi. Mungkin baby Al dan baby El cukup.” Daniel meraih tangan Serena mengecupnya berulang kali.


Serena mengukir senyuman. Sekilas ia kembali ingat dengan bayinya yang sempat pergi sebelum lahir. Namun, kesedihan itu seakan terbayar saat twin baby lahir. Wajah imut nan polos dua bayi kembar itu cukup untuk membuat semangat di dalam hidup Serena.


“Terima kasih, Daniel. Aku sangat mencintaimu.”


Daniel memeluk tubuh Serena untuk melampiaskan sejuta cinta yang kini ia rasakan. Baginya tidak ada hal apapun yang berarti selain menatap wajah wanita yang ia cintai bisa tersenyum bahagia.


Ny. Edritz tersenyum bahagia sambil memegang tangan Tuan Edritz. Ketenangan yang seperti ini yang selama ini ia impikan. Satu kesunyian yang akan di pecahkan oleh tangis bayi. Tawa yang terukir indah saat mendengar ocehan kecil dari bibir mungil cucunya.


“Terima kasih ya Tuhan. Karena telah memberiku kesehatan hingga saat ini. Aku masih bisa menyaksikan anak dan cucuku tertawa bahagia. Tida ada nikmat yang jauh lebih indah jika di bandingkan senyuman dan tawa mereka hari ini.


**Novel Biao Uda rilis... akan aku tambah babnya jika udah bnyk likenya. Novel baru butuh like dan komen... Semoga di Biao bisa dpt 500 like perbab ya.. biar aku semangat ngetiknya.


klik aja judulnya Biao's Lovers.


Bisa juga klik nama pena Sisca Nasty**.