Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 73



Serena tersadar dari lamunan singkatnya saat Daniel menyentuh tangan kirinya. Buliran air mata membasahi wajah Serena, saat ia mengingat permintaan terakhir Tuan Wang sebelum pergi untuk selama-lamanya.


“Sayang, kenapa kau menangis?” Daniel menghapus satu persatu buliran air mata yang menetes di pelupuk mata Serena.


“Aku hanya teringat dengan Papa. Aku sudah melukai hatinya begitu dalam,” jawab Serena dengan suara lirih.


“Sayang, semua sudah terjadi. Tuan Wang juga tahu, kalau sekarang kau sangat menyayanginya.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.


Serena memejamkan matanya saat berada di dalam pelukan Daniel.


Jika dulu aku menuruti perkataan Papa untuk menikah denganmu. Mungkin, aku tidak akan pernah bertemu dengan Zeroun. Tidak pernah jatuh cinta padanya, dan memiliki mimpi untuk hidup berdua bersamanya. Aku sudah melukai hatiku dan orang lain, karena keegoisanku sendiri. Kenapa takdir mempermainkan hidupku seperti ini.


“Kak, Kakak jangan menangis seperti itu.” Shabira memandang wajah Serena dengan wajah sedih.


Kenzo merangkul tubuh Shabira, ia tahu kalau melihat Serena sedih pasti Shabira akan menjadi sedih juga.


Suara pintu terbuka.


Daniel melepas pelukannya dari tubuh Serena. Serena menghapus air mata yang sempat menetes. Shabira dan Kenzo juga memandang ke arah pintu yang baru saja terbuka itu. Wajah Serena berseri saat melihat sosok yang baru saja muncul dari balik pintu.


“Mama,” ucap Daniel dan Serena bersamaan.


“Serena sayang ….” Ny. Edritz berjalan cepat mendekati tempat tidur Serena.


“Mama senang, bisa melihatmu sudah sadar. Tadi Biao bilang, kau belum sadar dan sempat mengalami kritis di ruang operasi. Mama sangat khawatir, sayang.” Ny. Edritz memeluk tubuh Serena dengan buliran air mata yang menetes.


“Apa wanita ini mertua Kak Erena?” bisik Shabira pelan.


“Iya, sayang. Wanita ini yang bernama Ny. Edritz. Pria itu ayah mertua Serena.” Kenzo menunjuk ke arah Tuan Edritz.


“Selamat malam, Om.” Kenzo mengukir senyuman manis saat Tuan Edritz berdiri di hadapannya.


“Selamat malam, Kenzo. Bagaimana keadaanmu?” Tuan Edritz memandang wajah Shabira sekilas.


“Siapa wanita ini? apa dia pacarmu?”


“Ya, Om. Ini Shabira, kami akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.”


“Shabira, nama yang bagus.” Tuan Edritz mengukir senyuman manis.


“Selamat malam, Om.” Shabira memasang senyuman ragu-ragu.


Tuan Edrit membalanya dengan senyuman, pria itu berjalan ke samping Daniel.


“Daniel, kita harus membawa Serena kembali ke Jepang. Rumah sakit ini sangat kecil. Mama mau Serena di tangani oleh Dokter yang ahli.” Ny. Edritz duduk di pinggir tempat tidur Serena.


“Ma, Serena baru saja sadar. Kondisinya masih sangat lemah. Perjalanan ke jepang memakan waktu yang sangat lama.” Daniel tidak ingin menuruti perkataan Ny. Edritz saat itu.


“Maaf, Nyonya. Tapi perkataan Tuan Daniel benar. Sebaiknya kita kembali ke Jepang saat kondisi Nona Serena sudah jauh lebih baik.” Biao angkat bicara, sambil menunduk hormat.


“Ma, aku baik-baik saja. Mama jangan khawatir sampai seperti itu.” Serena memasang wajah manjanya di depan Ny. Edritz.


“Serena, Mama juga harus menghukummu. Kenapa kau tidak pernah menceritakan kehamilanmu selama ini. Kau sudah mengandung cucu pertama mama selama satu bulan, tapi tidak ingin memberi tahu mama. Sekarang cucu pertama mama sudah tiada,” ucap Ny. Edritz dengan wajah yang sangat sedih. Sudah lama ia menantikan sosok cucu. Hatinya terasa sakit, saat mendengar perkataan Biao kalau Serena baru saja keguguran.


“Ma, tadinya Serena ingin memberi kejutan di hari ulang tahun Daniel. Tapi ….” ucapan Serena terhenti, buliran air mata kembali menetes membasahi wajahnya.


Semua orang yang ada di ruangan itu semakin merasa bersalah, saat mengingatkan Serena dengan kehamilan itu.


“Semua sudah terjadi ma, tidak ada yang perlu disesali. Yang terpenting saat ini, Serena selamat.” Daniel membela Serena saat itu. Hatinya juga tersentuh, saat mendengar penjelasan yang baru saja diucapkan oleh Serena.


Kau ingin memberi kejutan di hari ulang tahunku, sayang? kenapa kau bisa memikirkan hal manis seperti itu.


“Tante, Kenzo dan Shabira permisi dulu.” Kenzo memasang senyuman ramah.


“Serena, cepat sembuh. Jangan terlalu banyak pikiran.”


“Kak Erena, cepat sembuh,” ucap Shabira pelan.


Serena membalas senyuman Kenzo dan Shabira, “Kenzo, jaga Shabira untukku.”


“Kau tidak perlu mengatakan hal itu, Serena. Aku akan selalu menjaganya. Tetap jaga kesehatanmu, jangan terlalu banyak pikiran.” Kenzo membawa Shabira pergi meninggalkan ruangan itu.


“Serena, apa masih sakit?” Ny. Edritz memandang perban yang ada di perut Serena.


“Tidak terlalu sakit, Ma. Jangan khawatir seperti itu.” Serena tersenyum.


“Daniel, kau ini. Apa kau mengabaikan pesan mama di telepon? Mama memintamu untuk menjaga Serena dan jangan biarkan Serena terluka. Kenapa kau malah membiarkan Serena tertembak seperti ini.” Ny. Edritz memandang wajah Daniel dengan tatapan marah.


“Ma, di sana lokasi pertarungan baku tembak. Jangan menyalahkan Daniel seperti itu. Lagian, putra kita ini tidak pernah kita latih untuk menembak. Wajar saja, kalau Daniel tidak tahu caranya menembak.” Tuan Edritz merangkul pundak Daniel.


“Papa, papa kalau mau membelaku boleh. Tapi jangan menjatuhkanku seperti itu.” Daniel melipat kedua tangannya.


Serena tertawa kecil saat mendengar perkataan Daniel. Ia kembali mengingat penolakannya waktu itu untuk menikah dengan Daniel. Karena ia tahu, kalau seorang CEO tidak akan pernah memegang senjata api.


Suasana di kamar itu menjadi sangat ramai. Ny. Edritz dan Biao juga tertawa saat mendengar perkataan Tuan Edritz dan Daniel saat itu.


“Pa, Daniel sudah jago dalam menembak. Serena melihatnya sendiri tadi pagi.” Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman.


“Serena, jangan membela anak manja ini.” Tuan Edritz menyangkal perkataan Serena.


“Gak, Pa. Serena memperhatikan aksi mereka dari balik CCTV. Laura meminta Serena untuk melihat aksi Daniel menyusup masuk ke dalam rumah itu.” Serena mengukir senyuman bahagia.


“Kau sudah menjadi pria jagoan seperti yang aku impikan dulu, Daniel. Kau bisa melindungiku dan menjagaku untuk selamanya.”


“Sayang, aku bisa melakukan apapun untuk dirimu. Semua kejadian ini, membuatku lebih bisa memahami dirimu. Mulai detik ini, jangan khawatir lagi. Karena aku akan selalu ada di sampingmu untuk melindungimu dari bahaya.” Daniel menyentuh tangan Serena.


Ny. Edritz meneteskan air mata saat mendengar perkataan Daniel. Ia tidak pernah tahu, kalau putra semata wayangnya yang selalu ia anggap lemah, kini bisa berubah menjadi pria yang kuat dan bisa melindungi istrinya.


“Bagaimana dengan S.G.Group, Biao?” Tuan Edritz berjalan ke arah sofa.


“Tama yang mengatasi semua masalah di S.G.Group, Tuan. Sejauh ini kita belum menemukan masalah.” Biao mengikuti langkah kaki Tuan Edritz.


“Pa, boleh aku bertanya sesuatu?” Serena menatap wajah Tuan Edritz dari kejauhan.


“Apa yang ingin kau katakan Sayang, mama juga bisa menjawab pertanyaanmu.” Ny. Edritz memandang wajah Serena.


“Kalian menyiapkan Biao dan Tama untuk selalu berada di samping Daniel. Aku sudah melihat kemampuan mereka masing-masing. Biao lebih unggul dalam bertarung dan Tama lebih unggul dalam urusan bisnis. Apa Papa dan Mama tidak mempercayai kemampuan Daniel? hingga mengutus Biao dan Tama untuk selalu berada di samping Daniel?”


Semua orang tertegun saat mendengar pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Serena. Ny. Edritz melepas tangannya dari Serena, beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sofa.


Like ,Vote... Kita akan Crazy up tunggu jumlah vote di atas 20k.


Terima Kasih Readers....😘😘😘😘😘