
Beberapa tahun yang lalu...
Di sebuah ruang yang sangat luas, lampu kristal yang besar dan elegan memancarkan cahaya yang menerangi seluruh ruangan. Dua orang pria tampak berdiri di sana dengan wajah penuh tegang. Masih saling bertatap muka untuk mempertahankan ego masing-masing tanpa ada yang mau mengalah.
“Apa yang kau lakukan Kenzo? Kau tidak bisa bersama wanita itu,”, bentak Tuan Daeshim Chen.
“Maaf, Pa! Aku akan tetap menikahinya!" ucap Kenzo tegas sebelum melangkah pergi meninggalkan Tuan Daeshim Chen.
“Berhenti, Kenzo!” bentaknya lagi, “Kau tidak pernah tahu, betapa liciknya wanita yang sudah kau anggap malaikat itu,” teriaknya kecewa.
“Dia jauh lebih baik dari wanita yang sudah kau siapkan untukku!”
Tanpa mau berbalik badan dan menatap ke arah belakang. Kenzo terus berjalan menuju sebuah pintu besar rumah itu. Wajahnya sudah di penuhi amarah yang besar terhadap sang ayah. Hubungannya dengan wanita yang paling ia cintai, Tidak kunjung mendapat restu. Pernikahan yang sudah ia rencanakan juga harus gagal saat itu juga.
“Aku pasti akan tetap menikahimu,” ucapnya, sambil menggenggam tangan wanita yang kini duduk di sampingnya.
Mobilpun melaju dengan kencang, meninggalkan halaman luas rumah utama keluarga besar Daeshim Chen. Beberapa pengawal terlihat membuka pintu pagar untuk memberi jalan pada Kenzo.
Kenzo Daeshim Chen, putra tunggal dari Tuan Daeshim Chen. Tuan Daeshim merupakan anak ke dua dari Tuan Chen, adik satu-satunya dari Tuan Edritz.
Berbeda dengan Tuan Edritz. Tuan Daeshim terjun ke dunia bisnis global secara ilegal. Kekayaan yang ia miliki merupakan hasil dari bisnisnya menjual Narkoba dan Minuman keras. Kekayaan yang tiada tara membuat Tuan Daeshim menjadi orang yang paling di segani oleh beberapa mafia besar yang tersebar di berbagai penjuru Negara.
Kenzo, yang merupakan pewaris dari bisnis yang ia kelolah saat itu telah membangkang perintahnya. Lelaki itu tidak mau untuk menikah dengan wanita yang sudah disiapkan oleh sang ayah. Ancaman untuk mengeluarkan Kenzo dari ahli waris, tidak menggetarkan jiwanya untuk meninggalkan sang kekasih. Ancaman itu ibarat sebuah kata yang tidak pernah membuahkan hasil.
Hingga malam itu, Kenzo datang untuk memberi sebuah undangan pernikahan yang sudah ia siapkan. Bukan hanya sebuah kata penolakan dari sang Ayah, semua rencana yang ia siapkan hancur berantakan karena campur tangan dari perbuatan Tuan Daeshim.
“Aku sangat mencintaimu, Kenzo,” gumam sang kekasih sambil memeluk Kenzo.
“Maafkan aku, tapi kita tetap akan menikah sayang,” jawab Kenzo sambil mencium kening sang kekasih.
“Ayahmu tidak akan diam melihat semua ini.”
“Aku akan melakukan apapun, demi cinta kita.” Kenzo menatap wajah kekasih dengan penuh kasih sayang.
Hal itu membuat Kenzo menjadi dendam pada sang ayah. Lelaki itu berniat buruk untuk merebut bisnis yang di miliki Tuan Daeshim. Bisnis besar harus di hancurkan dengan bisnis yang besar juga. Keluarga Edritz menjadi tempat untuk memperoleh pertolongan. Kenzo datang menemui Daniel untuk meminta bantuan agar bisa dengan mudah menghancurkan sang ayah.
“Ada apa kau ke sini Kenzo?” ucap Daniel yang sedang duduk santai di balik meja kerjanya.
“Apa kau tidak bosan bekerja seperti ini? Kau hanya mendapat sedikit keuntungan dari perusahaan makanan ringan seperti ini!” Kenzo berjalan mendekat sebelum duduk di sebuah sofa.
“Aku akan segera rapat. Katakan apa maksud kedatanganmu hari ini,” ucap Daniel tanpa mau basa basi.
“Aku ingin kau membantuku Daniel.” Wajah Kenzo terlihat cukup serius saat itu. Ia juga tidak yakin kalau saudaranya itu mau membantunya saat ini.
“Membantu? Apa pembisnis yang bergelimang harta seperti dirimu masih sanggup meminta bantuan dari perusahaan makanan ringan sepertiku?” ledek Daniel gantian.
“Lalu, apa hubungannya denganku?” jawab Daniel malas.
“Maukah kau membantuku untuk membongkar bisnis illegal Papa?" Suara Kenzo nyaris tidak terdengar.
“Apa? Dia orang tuamu, Kenzo. Kau ingin menghancurkannya?” teriak Daniel sambil mengeryitkan dahi.
“Dia sudah menghancurkan rencana pernikahanku, Daniel. Aku harus mengambil harta warisanku.”
“Dengan cara menjebak ayahmu sendiri?” tanya Daniel sambil menatap ke arah Kenzo.
“Aku sangat mencintainya!” tegasnya lagi.
“Kenzo, kau sudah tidak waras. Hanya karena wanita!” Daniel melangkah meninggalkan Kenzo.
Daniel satu-satunya sepupu yang ia miliki. Sejak kecil hingga beranjak dewasa, kekompakan di antara keduanya sudah terlihat. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka berdua.
“Maafkan aku Daniel, jika kau tidak bisa melakukannya aku akan melakukannya sendiri,” sambil melangkah ke sebuah brangkas yang ada di ruang kerja Daniel.
Cinta sudah membutakan mata Kenzo. Semua aset perusahaan milik Daniel ia curi dan ia jual kepada beberapa mafia besar yang ia kenal. Penjebakan sang ayah juga sudah ia rencakan dan melibatkan nama Daniel di dalamnya.
Tapi rencana yang sudah ia siapkan membuat semua orang menjadi murkah terhadap dirinya. Bukan hanya sang ayah, Keluarga besar Edritz Chen sangat membenci Kenzo. Kelakuan Kenzo juga sudah membuat tuan Daeshim jatuh sakit. Hingga akhirnya meninggal dunia. Sementara bisnis yang sudah ia irintis harus jatuh di tangan Kenzo.
Sebuah senyum kemenangan yang saat itu ia miliki sudah menetap di wajahnya. Namun, pernikahan tidak pernah terjadi. Wanita yang paling ia puja justru meninggalkan dirinya tanpa kabar. Hanya Daniel, satu-satunya yang ia tuduh saat itu.
Persaudaraan di antara keduanya harus berakhir detik itu juga. Nama Kenzo sudah terhapus dari ingatan Daniel, hanya ada dendam dan amarah tiap kali ia melihat wajah Kenzo. Tidak hanya menghancurkan S.G. Group, Kenzo juga merusak semua rencana Daniel untuk bangkit dari perusahaan. Wanita berinisial S yang tidak pernah di ketahui identitasnya menjadi penyebab utama hancurnya keluarga besar Chen.
Hingga suatu ketika, Tuan Wang datang dan memberi semua harta yang ia miliki dan beberapa investor kepercayaanya kepada Daniel. S.G. Group kembali jaya di masanya. Kenzo menghilang dengan bisnis terlarangnya.
Setelah beberapa bulan menyelidiki, Kenzo tidak menemukan bukti apapun yang menuduh Daniel sebagai dalang dari hilangnya sang kekasih. Penyesalanpun muncul di dalam diri Kenzo. Bukan hanya maafnya yang di tolak, Kenzo di larang keras untuk menemui Daniel. Hingga detik ini mereka berdua kembali di pertemukan melalui Serena.
Beberapa saat kemudian, Kenzo tersadar dari lamunan nya.
“Jadi, ada apa dengan Mafia?” tanya Kenzo sambil menatap ke arah Daniel.
“Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahmu ada di kamar ini,” ucap Daniel penuh kebencian.
“Baiklah. Aku rasa utang budiku juga sudah terbayar.” Kenzo berdiri dari duduknya, “Aku tidak lagi merasa bersalah terhadap dirimu, Daniel.” Lelaki itu melangkah pergi meninggalkan Daniel.
Daniel hanya diam mendengar perkataan Kenzo. Peristiwa penyerangan itu memang bisa dihindari karena bawahan Kenzo tiba di sana. Namun kata maaf dari hati Daniel untuk Kenzo belum bisa ia berikan. Pengkhianatan Kenzo benar-benar membuat lelaki itu tidak lagi memiliki tempat di hidup Daniel.
“Maaf Kau bilang! Aku bukan Daniel yang dulu kau kenal, Kenzo!” batin Daniel dalam hati sambil tersenyum tipis memandang punggung Kenzo.