Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 104



Dua minggu kemudian.


Waktu berputar begitu cepat. Matahari kembali bersinar dengan terang. Langit terlihat sangat biru dengan gumpalan awan yang berterbangan di angkasa. Bukan hanya cuaca yang terlihat indah pagi itu. Wajah cerah ceria itu juga tergambar jelas di wajah Daniel dan Serena.


Hari ini adalah jadwal bulan madu bagi mereka berdua. Semua barang dan keperluan yang dibutuhkan Daniel dan Serena sudah dipersiapkan oleh Pak Han. Beberapa pelayan tampak sibuk membawa barang-barang Daniel dan Serena ke dalam mobil. Suasana rumah utama diselimuti dengan wajah berseri-seri. Keberangkatan Serena dan Daniel hari ini memang berbeda dari bulan madu sebelumnya.


Bulan madu kali ini, diselimuti dengan rasa cinta diantara Daniel dan Serena. Tidak ada lagi sifat gengsian dan saling melukai. Bahkan bulan madu ini menjadi satu momen penting yang ingin diingat Serena dan Daniel selama hidupnya. Saling mencintai dan tidak ingin terpisah lagi.


Di dalam kamar, Serena terlihat menyimpan handsfree miliknya dan Daniel di dalam kotak. Memasukkan benda itu ke dalam tas miliknya. Wanita itu mengambil ponselnya dari dalam tas, mengotak atik handphone miliknya. Terlihat pesan singkat dari Zeroun yang membuat bibirnya mengembang indah.


Bawakan oleh-oleh satu keponakan yang tampan untukku_ Zeroun Zein.


Dari tempat yang tidak terlalu jauh. Daniel memperhatikan Serena dengan seksama. Wajahnya menyimpan tanda tanya saat melihat istrinya tertawa tiba-tiba.


“Sayang, apa yang membuatmu tertawa?” Daniel terlihat tertarik melihat tawa Serena. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang sama dengan Serena.


“Lihatlah, apa yang diminta Zeroun.” Serena memberikan ponselnya kepada Daniel.


Daniel juga tertawa kecil saat membaca pesan singkat sahabatnya itu. Pria itu meletakkan ponsel Serena di atas meja sebelum menatap wajah Serena dengan seksama.


Setiap hari, cintanya kepada sang istri selalu saja bertambah. Serena sudah seperti satu bagian dari tubuhnya yang tidak bisa berada jauh dari dirinya. Dengan penuh kelembutan, Daniel menyentuh pipi Serena dengan mesra.


“Sayang, terima kasih.” Daniel mengecup singkat pipi Serena.


Serena mengalungkan kedua tangannya dileher Daniel, “Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu, Daniel. Terima kasih karena kau sudah merubah hidupku menjadi seperti sekarang. Terima kasih karena sudah mau menerima kekuranganku. Terima kasih karena ….”


Daniel mengecup bibir Serena, membuat wanita itu tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat.


“Sudah cukup, Ayo kita berangkat. Semua orang sudah menunggu kita di bawah.” Daniel mengusap ujung bibir Serena sebelum beranjak dari duduknya.


Serena tersenyum manis, memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia juga beranjak dari duduknya sambil memegang tas kecil miliknya. Satu tangan Daniel terlihat melingkari pinggangnya. Seperti sepasang pengantin baru, Daniel dan Serena keluar dari dalam kamar dengan wajah berseri-seri.


Serena mengenakan dress halter neck berwarna biru dengan detail ruffle dan motif bunga kecil yang simple. Wanita itu memilih sepatu heels berwarna silver. Tas cokelat yang kini ia genggam, membuat penampilan Serena terlihat sangat anggun pagi itu.


Daniel memilih setelan Kemeja pantai berwarna biru dengan celana pendek berwarna putih. Mengenakan sepatu sport berwarna putih yang sangat ringan dan kaca mata hitam. Pagi itu Daniel terlihat sangat tampan dengan penampilan santainya.


Di lantai bawah, Daniel dan Serena sudah di sambut dengan senyum berseri seluruh keluarga yang menyayanginya. Tuan dan Ny. Edritz. Kenzo dan Shabira. Pak Han dan Pak Sam. Biao dan Tama. Ya, semua orang penting itu ada di bawah untuk mengantar kepergian bulan madu Serena dan Daniel yang ke dua.


Tidak jauh dari tempat Shabira berdiri, ada Angel yang lagi tertidur di dalam stroller. Serena memperhatikan Angel dari jarak jauh. Hatinya terasa sedikit tenang, saat dokter mengatakan kalau Angel sudah banyak mengalami peningkatan. Dalam waktu dekat, putrid semata wayang sahabatnya itu akan bisa berjalan seperti anak kecil pada umumnya.


“Serena,” ucap Ny. Edritz dengan mata berkaca-kaca.


“Ma, Serena dan Daniel pergi dulu.” Serena memeluk tubuh Ny. Edritz. Wanita itu memejamkan matanya beberapa detik, saat berada di dalam pelukan hangat ibu mertuanya.


“Serena, tetap jaga kesehatanmu. Mama akan selalu berdoa, semoga kalian berdua pergi dan pulang dengan selamat. Satu lagi, pulang dengan membawa kabar bahagia.” Ny. Edritz mengusap lembut pundak Serena.


“Iya, Ma. Daniel dan Serena akan selalu menjaga kesehatan.” Serena melepas pelukannya terhadap Ny. Edritz. Beralih ke arah Tuan Edritz dan memeluk Ayah mertuanya itu dengan wajah bahagia.


Setelah memeluk kedua mertuanya, Serena berjalan ke arah Shabira. Memeluk wanita yang sejak dulu menjadi adiknya itu dengan senyuman bahagia.


“Shabira, kau juga harus jaga kesehatan dengan baik.” Serena menepuk pelan pundak Shabira.


“Kakak jangan pikirkan semua yang ada di sini. Aku akan menjaga Angel dengan baik.” Shabira menatap wajah Serena saat wanita itu telah melepas pelukannya.


“Jaga Angel untukku,” ucap Serena lagi.


Serena berjalan ke arah stroller Angel. Mengelus lembut pipi Angel, ia tidak ingin mengganggu Angel yang kini tertidur lelap. Wanita itu hanya berani menatap Angel dengan mata berkaca-kaca. Dua minggu terakhir ini, hampir setiap saat ia bermain dengan Angel. Gadis kecil berusia 3 tahun itu sudah seperti putrid kandung bagi dirinya.


Daniel membawa tubuh Serena ke arah pintu utama. Semua orang mengikuti Daniel dan Serena dari belakang. Tidak ada yang ikut menemani Daniel dan Serena saat ini. Bahkan Tama dan Biao juga tidak diijinkan oleh Daniel untuk ikut.


Pria itu benar-benar ingin menghabiskan waktu bulan madunya, berdua dengan Serena. Semua keamanan yang ada dipulau itu sudah di atur oleh Biao. Sudah dipastikan kalau bulan madu kedua Daniel dan Serena kali ini akan terhindar dari serangan musuh yang tidak diundang.


Daniel dan Serena masuk ke dalam mobil saat beberapa pengawal membukakan pintu. Serena melambaikan tangan saat mobil itu mulai berjalan. Menutup kaca mobil saat sudah berada jauh dari rumah utama.


“Sayang, apa kau bahagia?” tanya Daniel sambil menyandarkan kepalanya di pundak kanan Serena.


“Tentu saja aku bahagia. Semoga saja tempatnya tidak mengecewakanku lagi.” Serena kembali mengingat Villa keluarga Chen yang ada di pegunungan.


“Tempat ini akan membuatmu tidak mau pulang, sayang. Bahkan satu minggu saja tidak cukup untuk menikmatinya.” Daniel memejamkan mata saat merasakan posisi nyaman di pundak Serena.


Serena menyandarkan kepalanya di atas kepala Daniel. Memandang kearah luar jendela dengan wajah berseri-seri.


Aku tidak tahu kemana hari ini kami akan pergi. Semoga saja tempatnya tidak mengecewakan. Awas saja kalau tempatnya tidak sesuai dengan janjimu, Daniel.


***


Beberapa jam kemudian.


Serena dan Daniel sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Edritz Chen. Daniel dan Serena duduk berhadapan, hanya ada satu meja ukuran kecil yang membatasi keduanya. Beberapa pramugari terlihat sibuk mengatur makanan dan minuman untuk Serena.


Serena tersenyum penuh bahagia melihat makanan yang sudah tersedia di hadapannya. Satu persatu makanan itu ia cicipi tanpa meminta persetujuan Daniel seperti dulu lagi. Daniel bersandar dengan satu senyuman bahagia. Memperhatikan istri tercintanya itu makan dengan begitu lahap.


“Sayang, pelan-pelan.” Daniel mengambil tisu untuk membersihkan mulut Serena.


“Sayang, kenapa tidak makan?” tanya Serena yang sudah menyelesaikan makan siangnya.


Daniel tersenyum sebelum memberi kode kepada pramugari yang berdiri di ujung. Dua pramugari itu menunduk hormat di hadapan Daniel dan Serena. Mengambil meja yang berisi makanan dan minuman yang sudah habis. Membawa meja itu kembali ke dapur.


Serena memperhatikan punggung pramugari yang sudah menjauh meninggalkannya. Wanita itu memasang wajah tidak terbaca yang membuat Daniel menjadi sedikit geli saat memperhatikannya.


“Sayang, apa kau ingin makan lagi?” tawar Daniel dengan tawa kecil.


Serena menggeleng cepat, “Aku sudah sangat kenyang.” Serena menutup mulutnya saat wanita itu mulai merasakan matanya ngantuk.


“Kemarilah.” Daniel mengacungkan satu jarinya meminta Serena untuk mendekati tubuhnya.


Serena tersenyum kecil sebelum berjalan ke arah Daniel. Dengan santai dan tanpa permisi, ia duduk di atas pangkuan Daniel. Kedua tangan Daniel memeluk erat perut Serena. Mencium aroma tubuh Serena dengan penuh bahagia.


“Aku sangat mencintaimu,” bisik Daniel di telinga Serena.


“Aku juga mencintaimu, sayang.” Serena memejamkan matanya yang terasa berat. Menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Daniel. Kedua tangannya memeluk Daniel dengan begitu mesra.


Daniel mengecup pucuk kepala Serena sebelum ikut memejamkan mata. Butuh waktu beberapa jam lagi untuk tiba dilokasi bulan madu. Jet pribadi S.G.Group itu menuju ke salah satu negara yang ada di asia Selatan. Maladewa.


Perjalanan menuju ke Male internasional airport yang berada di Maladewa, memakan waktu hampir 9 jam. Daniel dan Serena memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat.


.


.


Baca juga karya kedua Author, Permaisuri Modern. terima kasih