
Sangat jauh, dari apa yang ada di kepala Serena. Sebuah vila yang hanya berlantai dasar, dan terletak di sebuah pegunungan dengan pemandangan kebun teh yang luas. Udara dingin melengkapi suasana vila tersebut.
Wajah Serena yang sebelumnya berseri, kini berubah menjadi lesu. Pantai indah yang bertabur pasir putih, dan terjang ombak yang kencang kini hanya sebuah khayalan. Keadaan yang sekarang ada, hanya sebuah tempat yang jauh dari keramaian dan hanya tersisa sebuah keheningan.
Kenapa Mama memilih tempat ini.
Daniel terus memperhatikan sekeliling vila. Suatu tempat yang menyimpan banyak kenangan, di masa kecil Daniel dulu. Tempat terindah dan ternyaman, yang membuatnya mengerti, arti persaudaraan dan persahabatan. Hingga sesuatu hadir, dan merusak semuanya. Persaudaraan dan permusuhan itu hancur, dan tidak bisa terbentuk lagi.
“Ternyata bukan pantai,” celetuk Serena kecewa. Serena menunduk ke bawah. Khayalan pantai saat ini, sudah berada jauh dari angan-angannya.
“Kau tidak suka?” Daniel melirik wajah kecewa Serena. Ia mengerti, apa yang saat ini Serena rasakan. Hal itu terpancar jelas dari raut kecewa, yang melekat di wajah Serena.
“Aku suka, hanya saja kalau sebuah pulau akan semakin seru,” ucap Serena pelan. Serena melangkah pelan menuju pintu utama vila. Di depan pintu, sudah ada pelayan yang menyambut kedatangan Daniel dan Serena.
Ternyata dia benar-benar berharap liburan di sebuah pulau.
Daniel mengikuti langkah Serena untuk masuk ke dalam vila.
“Selamat datang, Tuan. Saya akan mengantar anda ke kamar utama Tuan. Mari, Tuan,” sambut seorang pelayan sambil membungkuk hormat di depan pintu masuk.
Pelayan itu membawa Daniel dan Serena, ke sebuah pintu besar berwarna cokelat. Pelayan itu membuka pintu secara perlahan. Untuk memberi jalan kepada Daniel dan Serena, agar masuk ke dalamnya. Pelayan itu kembali membungkuk, sebelum meninggalkan Daniel dan Serena di kamar.
Sebuah kamar besar dengan dinding kaca transparan, yang mengarah langsung ke sebuah pegunungan. Udara yang sejuk sangat terasa di sana. Sebuah kenyamanan dan ketenangan menjadi tujuan utama saat berada di vila itu.
Serena memperhatikan setiap sudut ruangan. Ia berlari cepat menuju ke arah jendela kaca yang besar. Serena sangat takjub, ketika melihat pemandangan yang sejuk yang ada di hadapannya saat ini.
“Pemandangannya sangat indah,” ucap Serena kagum. Serena memejamkan mata, untuk menghirup udara segar yang masuk dari jendela.
“Aku pernah ke sini saat masih berusia 8 tahun, sebuah vila rahasia,” ucap Daniel sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
“Mama punya vila rahasia? Tapi untuk apa?” tanya Serena penasaran. Serena memutar tubuhnya dan berjalan ke arah Daniel untuk mendengar satu penjelasan.
“Vila rahasia yang menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar Chen,” jawab Daniel sambil memejamkan mata.
“Benarkah? Ada berapa banyak pewaris keluarga Chen? Apa Papa anak tunggal atau memiliki saudara lagi,” tanya Serena penuh semangat.
Tapi Daniel hanya diam. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana, yang di lontarkan oleh Serena. Bibirnya terkunci untuk berkata, seperti tidak ingin menjelaskan sesuatu. Daniel bersikap seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaan Serena dan hanya memejamkan matanya dengan tenang.
Serena menatap wajah Daniel dengan penuh rasa kesal. Ia masih penasaran, dengan cerita singkat yang baru aja di katakan oleh Daniel.
“Apa dia tidur secepat itu?” batin Serena dalam hati yang melihat ke arah Daniel yang sudah memejamkan mata.
Ny. Edritz memang memilih tempat yang jauh dari keramaian agar tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu Serena dan Daniel. Vila itu juga ia jadikan sebagai tempat persembunyian Serena dari orang yang selalu ingin mencelakai Serena. Tidak pernah terpikir, kalau kini tempat rahasia itu telah diketahui orang yang sejak awal mengikuti Serena.
Beberapa menit kemudian. Kamar itu terasa sangat hening. Serena sudah tidak ada di dalam kamar itu.
“Apa dia keluar dari kamar, kenapa suaranya tidak terdengar lagi,” ucap Daniel dalam hati sambil membuka matanya dan memandang sekeliling kamar yang tidak lagi menemukan wajah Serena, “Kemana dia?”
Daniel turun dari tempat tidur dan melihat ke arah luar, namun tidak ada Serena di sana. Pintu kamar mandi juga ia buka, namun Serena juga tidak ada di dalamnya.
Daniel melangkah ke arah pintu dan keluar dari kamar, di depan pintu Daniel berpapasan dengan seorang pelayan yang sedang membersihkan vila.
“Dimana dia? Maksudku Serena,” ucap Daniel sedikit bingung.
“Nona ada di kolam air panas, Tuan.”
“Kolam?” dengan cepat Daniel melangkah menuju sebuah pintu yang akan menghubungkannya dengan sebuah kolam air panas di sana.
Terlihat Serena yang sedang berendam sambil memejamkan mata. Sebuah ketenangan terpancar dari wajah Serena. Senyuman manisnya menambah nilai kecantikannya di malam itu.
Daniel terpaku beberapa saat, wajah Serena sempat menghentikan putaran detik jam. Sebuah senyuman muncul di bibir Daniel. Senyuman bahagia saat melihat seorang wanita yang kini ada di hadapannya.
“Apa ini, kenapa jantungku berdebar kencang. Apa aku sakit,” batin Daniel sambil memegang dadanya.
“Daniel .…” ucap Serena saat mulai tersadar akan kehadiran Daniel.
“Kenapa kau tidak bilang jika ingin berendam di sini,” ucap Daniel sambil duduk di pinggiran kolam yang tidak jauh dari posisi Serena berada.
“Bukannya kau sudah tidur, aku tidak ingin mengganggumu,” jawab Serena santai.
“Cepat naik!” Daniel berdiri dan berjalan menjahui Serena.
“Tapi aku belum selesai!” Protes Serena.
“Kau ingin membantahku?”
“Iya, iya,” jawab Serena kesal.
“Ternyata dia masih jadi wanita yang penurut,” batin Daniel sambil berjalan pergi menuju kamar.
Di Rumah Utama . . .
Terdapat seorang pria yang sedang berdiri tegab menghadap ke arah Ny. Edritz yang sedang duduk santai di sebuah kursi. Dengan meletakkan beberapa foto dan dokumen yang berisi identitas dari pemilik foto.
“Apa kau sudah berhasil menyelidikinya?” ucap Ny. Edritz dengan wajah serius dan tatapan mata yang tajam.
“Kami sudah berhasil mendapat identitas penembak misterius itu, Nyonya.”
“Siapa dia?” Sambil mengambil beberapa foto yang ada.
“Arion, ketua geng mafia White Tiger, Nyonya. Dia memang mengincar Nona Serena.”
“Aku sudah menerkanya dari awal. Apa kau sudah menemukan tempat persembunyiannya?” Sambil membuang semua foto yang ada dan hanya menyisakan satu buah foto.
“Sudah, Nyonya. Apa kita lakukan penyerangan malam ini, Nyonya?”
“Tidak, kita harus punya rencana yang matang untuk menyerangnya,” jawab Ny. Edritz sambil menatap sebuah foto yang ada di genggaman tangannya.
“Nona Serena dan Tuan Daniel sudah tiba di Vila, Nyonya. Beberapa pengawal juga sudah berjaga di sana.”
Foto seorang wanita muda dengan menggenggam sebuah pistol dan menggunakan kaca mata hitam. Rambut hitam sedikit ikal dan sebuah tangtop putih yang di pasangkan dengan sebuah celana pendek.
“Mama gak tahu seberapa dendam pria itu padamu, Sayang. Tapi yang Mama lakukan ini untuk melindungimu dari bahaya yang pernah kau ciptakan sendiri, Serena.”