
Serena beranjak dari duduknya. Berlari cepat ke arah tangga. Serena menjejaki tangga, tidak ingin memandang ke belakang. Air matanya terus menetes, ia menghapus setiap buliran yang jatuh. Namun, buliran air mata itu semangkin deras menetes.
Daniel menatap kepergian Serena. Ia diam dan tidak ingin mengeluarkan kata-kata lagi. Tangannya terkepal kuat. Hatinya sudah di penuhi api amarah. Tatapan matanya kosong, hingga bola matanya berubah menjadi tatapan tajam.
Tuan Edritz menatap Ny. Edritz, menyentuh tangannya pelan. Ia memberi perintah kepada Ny. Edritz, agar ia mau menenangkan pikiran Daniel saat ini. Ny. Edritz mengangguk pelan, lalu beranjak dari duduknya. Ia duduk di samping Daniel. Menepuk pelan pundak Daniel.
“Daniel, mama ngerti. Apa yang saat ini kau rasakan. Mama tidak bisa menyalahkan Serena, ataupun dirimu. Tapi, pria itu memang pernah mengisi hati Serena. Mama yakin, dia akan lebih mencintai dirimu. Dia sudah mengambil keputusan, untuk meninggalkan pria itu. Serena memilih hidup, bersama dirimu. Beri Serena waktu, ia juga butuh waktu untuk melupakan pria itu.”
“Itu benar Daniel. Kau harus bisa bersabar menghadapi semua ini. Papa tidak mau, kau kembali kasar pada Serena. Dia baru saja kembali mengingat masa lalunya. Tidak mudah baginya, menerima semua yang baru, dan melupakan yang pernah terjadi,” sambung Tuan Edritz.
“Daniel takut kehilangan Serena lagi, Ma.”
“Tidak sayang, kau tidak akan kehilangan Serena. Serena juga memiliki rasa cinta yang besar, untuk dirimu.” Ny. Edritz terus berusaha, untuk meredam emosi Daniel.
“Tapi dia masih mencintai pria itu.”
“Jangan pikirkan pria itu. Mama dan papa harus segera berangkat. Mama minta, kau bisa mengubah sifat burukmu selama ini. Serena wanita yang keras kepala, dan sangat suka membangkang. Kau harus memahami sifatnya yang baru.” Ny. Edritz beranjak dari duduknya.
“Mama hati-hati di jalan.” Daniel memandang wajah Ny. Edritz.
“Jaga Serena dengan baik, Daniel.” Menepuk pelan pundak Daniel, sebelum pergi meninggalkan ruang utama. Beberapa pelayan mengikuti Ny. Edritz untuk mempersiapkan semua kebutuhan Ny. Edritz.
Daniel menyandarkan kepalanya, menatap ke atas. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan. Daniel mencoba untuk meredam emosinya. Meskipun saat ini, ia sangat ingin untuk melampiaskan amarahnya. Tapi semua pesan yang di sampaikan oleh Ny. Edritz, membuat Daniel kembali berpikir jernih.
“Zeroun Zein. Pria itu selalu saja merusak semuanya!” Daniel memejamkan matanya, untuk menenangkan pikirannya yang terasa kacau.
***
Di dalam kamar, Serena mengambil bantal dan memeluknya erat. Ia menangis sejadi-jadinya. Semua kembali hadir, ia terus berusaha untuk melupakan tapi tidak kuasa untuk melakukannya.
"Zeroun, maafkan aku."
Beberapa Tahun yang lalu, di Negara Z.
Serena berlari kencang, mengikuti para pengawal yang membawanya pergi. Belum sampai di tempat tujuan, Serena kembali menghentikan langkahnya. Pengawal yang melindungi dirinya tertembak, Serena melangkah mundur dan mencari sumber tembakan. Matanya terus waspada, memandang ke arah pohon-pohon yang rindang.
Beberapa mobil hitam, berhenti di hadapan Serena. Ia kembali bernapas lega. Serena terus memandang ke arah mobil hitam yang berbaris. Senyum tipis terukir di bibir manisnya. Beberapa pria bertubuh tegab, keluar dari dalam mobil. Satu wanita cantik, juga keluar dari salah satu mobil. Mereka melangkah cepat ke arah Serena secara serempak. Menunduk hormat saat sudah berada di hadapan Serena.
“Selamat siang Bos, apa anda baik-baik saja?” Shabira memperhatikan luka kecil yang ada di kaki Serena.
“Aku baik-baik saja.” Serena menatap tajam.
Wanita cantik itu bernama Shabira, adik angkat sekaligus tangan kanan Serena selama ini. Shabira tampak bahagia, saat kembali bertemu dengan Serena hari itu. Pandangannya teralihkan, pada sosok pria yang terbaring di atas tanah. Shabira mendekati pria itu, dan membalikkan tubuhnya. Menatap wajahnya dengan seksama. Ia tahu, kalau pria itu bukan bagian dari anggotanya.
“Apa dia musuh kita, Bos?” Shabira mengeluarkan pistol, untuk memastikan kalau pria itu tidak lagi mengancam nyawa Serena.
“Tidak, dia orang baik. Dia tertembak oleh penembak jitu,” jawab Serena santai.
“Penembak jitu? apa mereka mengetahui rencana kita, Bos?” Shabira berubah panik. Ia tidak ingin misinya hari ini gagal.
Serena menggeleng pelan, “Aku bertemu dengan pria bodoh tadi. Kita harus pergi dari sini secepatnya.”
“Baik, Bos.” Shabira membuka pintu mobil, memberi jalan kepada Serena untuk masuk.
Duarr..! Duarr!
Dua suara tembakan menghentikan langkah Serena. Ia membalik tubuhnya, dan kembali mengingat Zeroun di tempat kejadian. Hatinya tertahan , ia tidak ingin pergi dari sana. Ia ingin kembali memastikan, kalau Zeroun baik-baik saja.
“Apa yang anda tunggu, Bos?” Shabira menatap Serena dengan wajah penuh tanya.
“Berikan senjataku! Kita harus menyelesaikan satu masalah, sebelum pergi.”
Shabira mengambil dua buah senjata api milik Serena. Memberikannya dengan penuh hormat. Serena menarik pelatuk kedua senjata itu. Menatap tajam ke beberapa pengawal yang siap menunggu perintahnya.
“Kita harus membantu pria itu,” perintah Serena cepat.
“Baik, Bos!” jawab semuanya, secara serempak.
Serena berjalan lebih dulu. Shabira mengikuti Serena dari belakang. Beberapa pengawal juga berbaris di belakang, mengikuti langkah Serena. Beberapa lainnya, masuk ke dalam mobil, dan membawa mobil mengikuti Serena.
Serena berjalan cepat, untuk kembali menemui Zeroun. Matanya terbelalak kaget, saat melihat Zeroun dalam bahaya. Ia melihat sosok pria bertopeng, menodongkan senjata api tepat di wajah Zeroun. Hatinya merasa takut, ia tidak ingin kehilangan Zeroun secepat itu.
Duarr! Duarr!
Dua tembakan di lepas Serena, ke arah pria bertopeng itu. Hingga pria itu jatuh ke tanah dan tidak lagi bernapas. Beberapa pengawal, juga menembak ke semua musuh. Hingga musuh Zeroun hari itu, menyerah.
Serena menatap tubuh pria yang menjadi supir Zeroun. Pria itu sudah tidak sadarkan diri, dengan luka tembak di bagian dada. Cairan merah berkucur deras, membasahi jas hitam yang ia kenakan.
“Bawa dia ke rumah sakit!” Serena menatap wajah Shabira, dan memberi perintah untuk menolong pria itu.
“Baik, Bos!” Shabira berlari cepat ke arah Lukas, membawa pria itu masuk ke dalam mobil. Shabira melajukan mobil ke arah rumah sakit.
“Kau tidak baik-baik saja!” Serena menatap wajah Zeroun yang sudah berdiri. Namun Zeroun, masih diam membisu.
Serena kembali bernapas lega, saat melihat Zeroun masih hidup. Ia melihat luka tembak, pada kaki Zeroun. Ia sangat ingin menolong Zeroun. Hatinya terasa sakit, saat melihat Zeroun dalam bahaya. Tapi satu misi penting, harus segera ia selesaikan. Ia tidak ingin gagal, hari ini.
Serena membalikkan tubuhnya, dan beranjak pergi meninggalkan Zeroun. Zeroun menghentikan langkah kakinya, menggenggam erat tangannya. Dengan cepat, semua pengawal menodongkan senjata ke arah Zeroun. Serena memberi kode kepada bawahannya, hingga semua kembali menurunkan senjata.
“Apa yang kau inginkan, Zeroun? Maaf, aku tidak bisa menemuimu. Dan tolong, jangan menemuiku,” ucap Serena lembut, ia memalingkan pandangannya.
Meskipun hatinya terasa berat, namun ia harus pergi meninggalkan Zeroun. Ia tidak ingin mendapat kesusahan. Hari ini Zeroun sudah membuang waktu berharga yang ia miliki. Serena berusaha untuk menguatkan hatinya.
“Erena, aku selalu memikirkanmu. Setidaknya aku tahu, siapa dirimu. Kau sangat misterius Erena. Jelaskan padaku, apa pekerjaanmu?” Zeroun menatap wajah Serena dengan penuh kesedihan.
Serena terdiam sesaat, saat Zeroun menanyakan pekerjaan yang ia lakukan selama ini. Serena mengerutkan dahinya, sebelum mengulang pertanyaan Zeroun.
“Pekerjaan?”
“Ya, kau menembak dan mempunyai senjata. Kau memiliki banyak anak buah. Siapa kau sebenarnya Erena?” Zeroun menatap wajah Erena untuk menagih satu jawaban.
Serena menarik napas dalam sebelum menjawab, “Mafia. Aku pemimpin mafia Queen Star. Apa kau puas, Zeroun Zein.” Erena menatap tajam wajah Zeroun yang tiba-tiba memucat.
Ia memberi tahu identitas dirinya dengan begitu mudah. Satu rahasia yang selama ini ia jaga, ia beri tahu begitu saja pada pria asing, yang baru dua kali ia temui. Serena kembali menyesali perkataannya. Beberapa pengawal juga terperanjat kaget, saat mendengar perkatannya.
Serena selalu membunuh orang, yang sudah berhasil mengetahui identitas dirinya. Tapi saat ini, Serena tidak membunuh Zeroun. Ia mala pergi meninggalkan Zeroun, dan membiarkan pria itu mengetahui identitas yang selama ini ia sembunyikan.
Zeroun kembali mencegah Serena untuk pergi. Serena semangkin berat untuk meninggalkan Zeroun. Ia sudah jatuh cinta, meskipun ia sendiri tidak tahu, kapan perasaan itu muncul. Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, Serena ingin bersama Zeroun.
Penembakan itu, menumbuhkan benih cinta antara Zeroun dan Serena. Satu hal yang sangat penting, yang pernah ada dalam memori Serena.
Saat Daniel menodongkan senjata di hadapan Zeroun, ia kembali mengingat memori itu. Saat ia menyelamatkan Zeroun, untuk pertama kalinya. Hingga akhirnya Serena kembali mengingat semua masa lalunya yang pernah hilang, karena peristiwa itu.
Serena menutup matanya sejenak. Menghempas paksa genggaman tangan Zeroun. Ia tidak lagi ingin memandang wajah Zeroun. Dengan langkah yang berat, ia masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan Zeroun sendiri di sana.
Baru saja beberapa meter berjalan, Serena menghentikan laju mobilnya. Satu pengawal mengetuk jendela mobil dari balik kemudi. Serena membuka kaca mobil, menatap dengan tajam.
“Ada apa, Bos? apa anda baik-baik saja?” Pria itu tampak khawatir, saat melihat Serena menghentikan mobilnya tiba-tiba.
“Sebagian ikut saya, sisanya tunggu di titik kumpul.”
Serena kembali menutup kaca mobil. Pria itu membungkuk hormat dan berlari cepat ke belakang mobil. Serena memutar arah mobilnya. Tiga mobil mengikuti laju Serena, sedangkan yang lainnya menuju ke tempat yang ia katakan.
“Semoga kau masih di sana.” Serena tidak bisa meninggalkan Zeroun di sana. Ia ingin menolong Zeroun, dan memastikan pria itu dalam keadaan baik.
Serena tersenyum bahagia, saat melihat Zeroun masih ada di lokasi penembakan. Dengan cepat, Serena turun dari mobil dan berlari mendekati Zeroun.
“Aku akan mengantarkanmu pulang, kakimu tertembak.”
“Terima kasih.”
Tanpa minta persetujuan Zeroun, Serena menarik tangan Zeroun masuk ke dalam mobilnya. Serena terus memperhatikan, kaki Zeroun yang di penuhi banyak cairan merah. Zeroun tersenyum bahagia saat melihat Serena kebali menjemputnya. Serena mengambil alih kemudi, beberapa mobil juga mengiringinya. Erena melajukan mobil itu dengan begitu cepat.
Zeroun duduk di sebelah Serena, matanya terus memandang wajah Serena. Luka tembakan di kakinya seakan tidak terasa lagi. Keduanya hanya saling diam, tanpa ingin mengeluarkan kata. Mobil itu terus melaju kencang, hingga keduanya tiba di rumah Zeroun.
Beberapa pengawal membantu Zeroun yang kini terluka. Serena mengikuti Zeroun dari belakang. Zeroun duduk di sebuah sofa. Tatapan matanya masih belum teralihkan dari wajah Serena. Serena menarik kursi kecil, dan duduk menghadap kaki Zeroun.
Satu pelayan, meletakkan alat P3K di atas meja. Dengan begitu tenang, Serena mengambil kotak itu. Serena menggenggam gunting, benang dan beberapa alat lainnya yang di butuhkan.
“Kenapa kau terus memandangku.” Serena mulai mengeluarkan peluru itu secara perlahan, dan menghilangkan cairan merah yang berkucur deras.
“Apakau benar mafia, Erena?” Zeroun tidak merasakan sakit sedikitpun. Tatapan matanya dingin memandang Serena.
“Apa kau tidak percaya?” Ia terus melanjutkan pengobatannya pada luka Zeroun.
Zeroun diam untuk sesaat. Zeroun memperhatikan Serena yang menjahit lukanya dengan begitu ahli. Jahitan itu seperti di lakukan oleh seorang dokter profesional.
“Kau tidak seperti orang jahat.” Zeroun terus menyelidiki. Ia masih belum yakin, dengan perkataan Serena.
“Sudah selesai. Kau akan segera sembuh, setelah meminum obat. Jangan terlalu banyak bergerak.” Serena menatap tajam wajah Zeroun. Ia tidak ingin, terlalu banyak membongkar rahasia yang ia miliki.
“Dimana aku bisa menemukanmu?” Zeroun semangkin penasaran dengan sosok wanita yang kini duduk di hadapannya.
“Kita akan bertemu lain hari. Sekarang, aku harus segera pergi. Hari ini kau sudah membuat jadwalku menjadi berantakan, Zeroun Zein.” Mata Serena berubah dingin, Serena pergi meninggalkan Zeroun di sofa itu. Masuk ke dalam mobil, dan mengendarainya dengan kencang.
Zeroun menatap punggung Serena yang semangkin menjauh. Membuang napasnya dengan kasar, saat mobil Serena meninggalkan halaman rumahnya.
“Aku benar-benar tertipu olehnya.” Zeroun kembali memandang lukanya, “Aku akan menemuimu lagi, Erena.”
Serena terus melajukan mobilnya dengan kencang. Matanya menatap tajam ke arah jalan lurus yang membentang. Nama Zeroun kembali muncul di dalam pikirannya.
“Kenapa aku bisa seceroboh ini! Pria itu sudah mengenali wajahku!” Serena menambah kecepatan mobilnya.