
10 Hari kemudian.
Pagi yang cerah saat matahari baru saja muncul ke permukaan. Kota yang sempat sunyi itu, kini kembali dipenuhi para warga yang beraktifitas. Beberapa toko yang sempat tutup juga sudah buka kembali.
Serena duduk sambil menatap keluar jendela. Bibirnya yang sempat pucat, kini sudah berwarna merah lagi. Matanya terlihat berkaca-kaca saat ia kembali mengingat peristiwa mengerikan yang sempat ia alami.
Hari ini Serena sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Luka yang sempat memenuhi tubuhnya bagian bawah sudah kering. Serena duduk di bangku penumpang dengan sabuk pengaman yang melindunginya.
Daniel mengambil alih kemudi secara langsung untuk menjemput istri tercintanya pulang ke rumah utama. Di depan terdapat mobil Kenzo dan Shabira yang juga ikut mengantarkan Serena pulang ke rumah utama.
Tidak cukup dengan dua mobil itu, dibelakang mobil Daniel terdapat 5 mobil pengawal yang masing-masing di isi 4 orang. Ke-tujuh mobil itu melaju dengan kencang menembus keramaian kota. Sesekali mobil itu berhenti saat lampu merah menghentikan lajunya.
Serena memperhatikan beberapa pengguna jalan yang melintas dengan bibir tersenyum. Ia kembali ingat dengan dirinya yang masih polos waktu dulu. Sekolah dan belajar dengan begitu bersemangat. Tidak pernah mengenal kekerasan ataupun pertumpahan darah. Selalu tersenyum dan bersikap lembut.
“Sayang, apa yang kau pikirkan?” Daniel menggenggam tangan Serena sambil tersenyum manis.
“Daniel, Aku kembali ingat dengan diriku waktu masih berada di bangku sekolah. Saat itu aku masih sangat polos, sama seperti mereka.” Serena menunjuk ke beberapa gerombolan anak SMA yang saat itu menyebrangi jalan.
“Kau memang wanita yang manis dan lembut Serena. Itu sebabnya, saat kau amnesia Tuan Wang bisa dengan mudah mengubah karaktermu menjadi wanita yang lembut. Karena memang di lubuk hatimu yang paling dalam, kau adalah wanita yang dipenuhi kelembutan.” Daniel tersenyum sebelum melajukan mobilnya lagi.
Serena kembali diam saat mendengar perkataan Daniel. Ya, memang semua yang Daniel katakan adalah kebenaran. Serena menjadi wanita yang kejam dan tidak memiliki rasa kasihan saat ia berusia 23 tahun. Sebelum ia menginjak usia itu, ia adalah wanita yang bersikap manis dengan penuh kelembutan.
Hal itu juga yang membuat Serena tidak lagi mengingat prilaku jahatnya saat ia mengalami amnesia.
“Sayang, aku merasakan sesuatu pada Angel. Apa kau merasakan yang sama denganku?” Daniel melirik Serena sebelum menatap jalan lurus di depan.
“Angel? kenapa dengan Angel?” Wajah Serena berubah panik, saat nama gadis kecil itu disebutkan oleh Daniel.
“Diusianya yang sekarang. Aku tidak pernah mendengar Angel berbicara atau berlari-lari. Bukankah anak usia 3 tahun seharusnya berlari untuk bermain-main dan berbicara dengan lucu.” Daniel kembali mengingat sikap Angel yang berbeda jika dibandingkan anak usia 3 tahun pada umumnya.
Serena tertegun saat mendengar perkataan Daniel. Ya, pria itu benar. Kalau ada sesuatu yang salah dari Angel. Sejak pertama kali bertemu dengan Angel, putri semata wayang sahabatnya itu tidak pernah mengeluarkan kata ataupun terlihat bermain. Angel sering tidur atau menangis beberapa menit sebelum tidur lagi.
“Daniel, kenapa aku baru menyadarinya. Kita harus memeriksakan keadaan Angel. Apa dia sakit?” Serena menatap wajah Daniel dengan begitu khawatir.
“Sayang, jangan panik seperti itu. Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksanya nanti. Bukankah Angel masih berada di rumah Zeroun? anak itu sudah menginap di rumah Kenzo dan selama 10 hari terakhir ini pindah ke rumah Zeroun bersama Shabira.” Daniel tertawa kecil.
“Daniel … bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Angel?” Serena merengek menggoyang-goyang tangan Daniel.
“Sayang, kita akan mengobatinya Angel sampai sembuh jika Angel benar sakit. Sudah-sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ingat kata Adit, kau tidak boleh stres agar cepat hamil lagi.” Daniel membelokkan stir mobilnya saat pintu gerbang rumah utama terbuka untuk menyambutnya.
Serena kembali bersandar dengan tubuh yang begitu gusar. Matanya terpejam dengan rasa bersalah yang begitu besar karena ia sudah berbuat satu hal ceroboh tentang kesehatan Angel selama ini.
Mobil Daniel dan Kenzo behenti tepat di depan pintu utama. Para pengawal berjalan cepat untuk membuka pintu mobil sang majikan. Serena dan Daniel turun bersamaan dengan Kenzo dan Shabira. Tuan dan Ny. Edritz terlihat berdiri menyambut kedatangan Serena dengan senyum bahagia.
Tidak jauh dari pintu utama, Pak Sam dan Pak Han juga sudah siap menyambut Nona mudanya kembali ke rumah utama. Beberapa pelayan dan pengawal menunduk hormat secara serentak saat Serena dan Daniel berjalan mendekati pintu.
“Mama ….” ucap Serena dengan lembut sebelum masuk ke dalam pelukan Ny. Edritz.
Shabira menggandeng tangan Kenzo dengan begitu mesra. Bibirnya yang merah tersenyum bahagia saat melihat Kakak tersayangnya kini sudah bisa kembali pulang dalam kondisi sehat.
“Ma … nanti lagi peluknya. Sekarang kita bawa Serena masuk ke dalam.” Tuan Edritz angkat bicara saat melihat kedua wanita itu berpelukan dalam waktu yang cukup lama.
“Sayang, mama senang sekali bisa memelukmu seperti ini. Jangan lakukan hal yang membuat mama takut lagi ya.” Ny. Edritz mengelus lembut rambut Serena.
Serena mengangguk pelan, “Maafkan Serena ya, ma. Karena Serena sudah membuat mama khawatir seperti ini.”
“Ayo kita masuk ke dalam. Mama sudah menyiapkan sarapan untuk menyambut kepulangan Serena.” Ny. Edritz menatap wajah Daniel dengan senyuman, sebelum beralih memandang Shabira dan Kenzo.
“Kenzo, Shabira. Ayo kita masuk dan sarapan bersama. Pak Sam memasak menu makanan favorit Serena pagi ini. Apa kalian tidak ingin mencicipinya?” Ny. Edritz melepas pelukannya dari Serena berjalan ke arah Tuan Edritz. Satu tangannya menggandeng tangan Tuan Edritz dengan begitu mesra.
“Ayo kita masuk dan sarapan. Istriku pasti sangat lapar saat ini.” Daniel juga merangkul pinggang Serena dengan begitu mesra. Membawa tubuh wanita itu masuk ke dalam rumah.
***
Suasana ruang makan itu dipenuhi dengan canda tawa. Keluarga besar Chen itu baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Serena membersihkan mulutnya dengan selembar tisu. Wajahnya tersenyum lebar memandang sekeliling rumah yang sangat ia rindukan selama beberapa minggu ini.
Tuan dan Ny. Edritz juga tak luput dari wajah bahagia. Melihat menantu yang paling mereka sayangi, kini kembali berkumpul di meja makan.
Di tambah lagi, hubungan Daniel dan Kenzo yang sempat retak kini bisa kembali bersatu lagi seperti dulu. Sejak Tuan Daeshim meninggal dunia, Kenzo menjadi tanggung jawab mereka saat itu.
Hanya saja, prilaku buruk Kenzo terhadap Daniel membuat sepasang suami istri itu lebih memilih untuk mengawasi Kenzo dari jarak jauh.
“Kenzo, kapan kalian menikah? Tante akan membantu untuk mempersiapkan rencana pernikahan kalian.” Ny. Edritz tersenyum ramah memandang wajah Shabira dan Kenzo.
“Kenzo berencana akan menikahi Shabira, 1 bulan lagi, Tante. Kenzo ingin membuat pesta pernikahan yang begitu megah untuk istri tercinta Kenzo ini.” Kenzo meraih tangan Shabira, mengecupnya dengan penuh cinta.
“Biar tante bantu mengurus semuanya. Shabira, mulai detik ini kamu bisa menganggap Tante sebagai mama kamu. Karena bagi kami, Kenzo juga sudah seperti anak kandung bagi kami.” Ny. Edritz kembali mengingat wajah almarhum mama Kenzo sebelum wanita itu meninggal dunia.
“Ny. Daeshim adalah wanita yang hebat dan tangguh. Mungkin bakat itu yang menurun di dalam dirimu Kenzo.”
Dalam waktu singkat Daniel tersedak saat meneguk air putih yang ada di hadapannya. Membuat perhatian semua orang beralih ke arah Daniel.
“Sayang, ada apa? hati-hati.” Serena menepuk pelan pundak Daniel.
“Apa Mama bilang? Ny. Daeshim wanita yang jagoan? maksud mama jago berkelahi?” tanya Daniel dengan wajah tidak percaya.
Ny. Edritz mengangguk cepat sebagai jawabatan ya, “Apa ada yang salah dengan itu, Daniel?” tanya Ny. Edritz bingung.
“Tunggu dulu, Daniel mau tanya sama mama. Apa mama juga bisa berkelahi atau bertarung?” Wajah Daniel dipenuhi keseriusan.