
Daniel hanya diam mematung saat ia kini sudah berada di dalam, pemandangan di depannya memang sangat jauh dari apa yang sudah ada di dalam pikirannya.
“Serena…” ucapnya singkat.
“Daniel…” gumam Ny. Edritz lirih.
“Apa yang terjadi padanya?” sambil menatap ke arah Serena.
“Kau sangat cepat tiba di sini Daniel! Bukankah Ny. Edritz baru saja menelponmu?” tanya Adit sambil melihat ke sebuah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Daniel lagi yang tidak kunjung mendapat jawaban.
Biao yang baru saja masuk hanya mempusatkan tatapan matanya pada Serena. Biao terlihat lega saat melihat keadaan Serena yang masih baik-baik saja.
‘Ternyata nona Serena baik-baik saja’, gumam Biao dalam hati.
“Tadi Serena menggerakkan tangannya, mama sangat senang melihatnya Daniel. Mama langsung menghubungi dirimu untuk memberi kabar tentang ini. Tapi belum sempat mama menjelaskan semuanya, kau sudah memutuskan panggilan teleponnya dan tiba-tiba muncul di sini!” jelas Ny. Edritz sambil tersenyum memandang Daniel.
“Hanya menggerakkan tangannya?” celetuk Daniel kaget. “Astaga, kenapa aku sampai berpikir sejauh itu, dia masih baik-baik saja”, sambil kembali menatap wajah Serena yang masih tertidur.
“Apa kau sangat mengkhawatirkan istrimu Daniel? Hingga tidak bisa berpikir jernih dan meninggalkan kantor hanya untuk melihat keadaan sang istri tercinta?” ledek Adit sambil tersenyum tipis menatap wajah Daniel.
“Benarkah? Apa kau sangat mengkhawatirkan Serena, Daniel?” tanya Ny. Edritz sambil menatap tajam ke arah Daniel menagih sebuah jawaban.
“Aku, Aku hanya”, ucapan Daniel terhenti. ‘Apa yang harus aku jawab, aku tidak mungkin berkata jujur di depan mereka semua’, sambil menatap kearah Biao mencoba mencari alasan “Aku hanya mengantar Biao ke rumah sakit, dia terlihat tidak sehat hari ini”, sambil memberi kode kepada Biao untuk menyetujui perkataannya.
“Benarkah!” jawab Ny. Edritz dengan raut wajah tidak percaya.
“Iya Nyonya, saya sedikit tidak enak badan hari ini”, ucap Biao sambil tertunduk.
“Kau sakit? Apa ini sakit pertama mu Biao?” ledek Adit sambil melangkah kearah Biao.
“Kau ini! Pengawalku sakit kenapa kau justru meledeknya”, ucap Daniel membela Biao sambil menatap wajah Adit dengan raut wajah kesal.
“Aku rasa kau harus di infus Biao, kau pasti sangat lelah karena masalah kemarin bukan. Kau harus istirahat cukup dan…”
“Maaf tuan, saya harus kembali ke kantor. Saya harus mengurus beberapa masalah darurat”, ucap Biao melarikan diri dari jebakan yang sudah di buat Daniel. Sambil menunduk hormat dan Biao berlalu dari ruangan itu.
“Apa ia langsung sembuh ketika mendengar infus?” gumam Adit pelan sambil menatap wajah Daniel yang sudah memerah karena malu.
“Aku rasa dia sudah sembuh hanya karena melihat wajahmu”, ucap Daniel terbata-bata, sambil melangkah mendekat ke arah Serena.
Ruangan yang tadinya di penuhi dengan keheningan kini sudah berubah menjadi ramai. Tawa Ny. Edritz dan Adit sudah meramaikan ruangan itu. Prilaku Daniel hari ini sangat berbeda dengan sifat yang ia miliki selama ini. Kekhawatiran dirinya yang begitu besar terhadap Serena membuat dirinya menjadi bahan tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
Beberapa menit sebelum Daniel tiba…
“Sayang, kapan kau akan bangun, kau sudah lama tidur. Bangunlah sayang mama sangat merindukanmu”, sambil mencium tangan Serena yang kini ada di genggaman tangannya.
Menjadi menantu kesayangan Keluarga Edritz Chen, membuat hidup Serena selalu di penuhi dengan kasih sayang dan perhatian lebih dari sang mertua. Cinta dan kasih sayang yang miliki Ny. Edritz memang tulus ia berikan kepada Serena seorang.
Meskipun isi hati Ny. Edritz masih di penuhi perasaan bersalah terhadap Serena dan Daniel. Namun ia tidak pernah sanggup melangkah ke depan saat melihat Serena yang tidak kunjung sehat dan kembali ceria seperti biasa.
Beberapa bukti yang mengarah ke masa lalu Serena merupan hal yang paling di takutkan oleh Ny. Edritz saat ini. Namun rasa takut itu tidak sebesar rasa takutnya ketika nanti ia melihat Serena tidak lagi membuka matanya untuk selamanya.
Ny. Edritz mengambil sebuah handphone dari dalam tasnya, saat ini orang yang sangat ingin ia hubungi adalah suami yang menjadi rekannya dalam menyembunyikan rahasia besar yang di miliki Serena.
“Apa semua baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu”, ucap Ny. Edritz pelan.
Ny. Edritz hanya mengangguk pelan untuk menuruti perkataan sang suami dari handphone. Wajahnya terlihat tenang saat sang suami berkata semua baik-baik saja dan berjalan lancar. Walaupun tidak tau sampai kapan mereka berhasil menyembunyikan semuanya dari Daniel, tapi untuk saat ini mereka bisa bernafas lega karena Daniel tidak akan berhasil menemukan satu buktipun tentang Serena.
Ny. Edritz hanya melamun memandang wajah Serena sambil sesekali menyeka air mata yang menetes dari pipinya. Genggaman tangannya pada Serena semangkin erat, rasa takut kehilangan memang benar-benar sudah menyelimuti hatinya.
Perlahan ada sedikit respon dari Serena yang mengerti kondisi Ny. Edritz saat ini. Serena membalas genggaman tangan itu untuk beberapa detik. Ny. Edritz yang merasakan respon pada Serena, terperanjat dari duduknya. Ia berteriak memangil pengawal yang berjaga di depan ruangan Serena untuk memanggil Adit.
Melihat Handphone yang masih terletak di atas meja, pikiran Ny. Edritz kembali pada Daniel untuk memberi kabar baik ini padanya. Namun, baru saja ia menyebutkan nama Serena panggilan sudah terputus. Nomor Daniel tidak lagi bisa di hubungi.
“Apa terjadi sesuatu padanya Nyonya?” tanya Adit dengan raut wajah khawatir ketika satu pengawal memintanya untuk mengunjungi kamar Serena.
“Dia menggerakkan tangannya Adit, apa ia akan segera sadar?” ucap Ny. Edritz sambil menatap Serena dengan raut wajah penuh harap.
“Seharusnya ia sudah sadar Nyonya, kondisinya sudah kembali normal. Dan tidak ada masalah yang mengganggu kesehatannya saat ini. Tapi kenapa ia belum juga mau membuka matanya”, ucap Adit sambil meletakkan tangan Serena yang baru saja ia periksa kembali ke posisi awal dan menatap ke wajah Serena dengan wajah penuh tanya.
“Sayang, kenapa kau belum juga bangun. Apa yang sedang kau tunggu?” tanya Ny. Edritz lirih sambil kembali meneteskan air mata saat melihat wajah Serena.
“Jangan menangis Nyonya, dia akan baik-baik saja!” ucap Adit yang mencoba untuk menenangkan Ny. Edritz.
Hingga tiba-tiba Daniel masuk ke dalam ruang rawat Serena dan berdiri mematung dari kejauhan dengan sedikit berteriak menyebutkan nama Serena.
Up nya sedikit dulu ya readers, jangan marah lho.
Author ucapin maaf banget.
Author mau revisi Bab Sebelumnya, mau ajukan kontrak.
Doain di terima ya.
Janji dech, kalau kontrak di terima nanti bakal up gila-gilaan.
Jangan Lupa di Like ya dan Terima Kasih sudah mau membaca.