
Di Rumah Zeroun Zein.
Zeroun duduk di ruang kerja miliknya. Memeriksa beberapa berkas perusahaan. Seseorang mengetuk pintu. Zeroun memberi perintah untuk masuk. Lukas masuk ke dalam dengan seorang pria berjas resmi. Keduanya menunduk hormat di hadapan Zeroun.
Sedangkan Zeroun tidak mengalihkan pandangannya. Ia terus memeriksa beberapa berkas yang terletak di atas meja.
“Permisi, Tuan. Saya sudah mendapat info tentang Sonia.” Pria itu meletakkan beberapa berkas di atas meja kerja Zeroun.
Zeroun menghentikan kegiatannya. Ia melirik ke arah berkas yang baru saja diletakkan. Tanpa banyak bicara, Zeroun mengambil berkas itu membuka isinya satu persatu. Ia kembali meletakkan berkas itu dengan wajah tidak tertarik.
“Maaf, Tuan. Jika anda belum puas dengan hasil kerja saya, beri saya satu kesempatan lagi.” Pria itu semangkin takut. Ia menunduk dengan raut wajah bersalah.
Zeroun menyandarkan tubuhnya. Menatap tajam wajah Lukas dan pria itu secara bergantian. Menarik napas dalam, sebelum mengeluarkan beberapa kata.
“Aku tidak lagi peduli dengan wanita itu. Info tentang dirinya, tidak lagi berarti.” Zeroun kembali mengambil berkas perusahaan. Memeriksa berkas itu tanpa peduli dengan hasil kerja pria itu.
“Baik, Tuan. Selamat malam. Saya permisi.” Pria itu membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja Zeroun.
Lukas hanya diam mematung, memandang ke arah Zeroun yang terlihat menyibukan diri. Ia tahu, kalau Zeroun berusaha untuk melupakan Erena. Zeroun memenuhi isi pikirannya dengan berbagai strategi untuk kemajuan Z.E. Group.
“Bos, apa anda sudah makan?” tanya Lukas dengan hati-hati.
“Aku tidak lapar. Pekerjaanku masih banyak, sebaiknya kau jangan terlalu mengganggu.” Zeroun tidak ingin memandang wajah Lukas.
“Baik, Bos.” Lukas menunduk hormat. Ia melangkah pergi meninggalkan Zeroun sendiri, di dalam ruangan itu.
Zeroun memandang kepergian Lukas. Ia memperhatikan Lukas hingga pintu tertutup kembali. Zeroun kembali melirik foto Sonia yang berserak di atas meja.
Wanita ini adalah orang yang sangat licik. Aku yakin, kau akan mendapatkan banyak masalah karena wanita ini.
Zeroun mencengkram kepala dengan kedua tangan. Pikirannya masih dipenuhi nama Erena. Meskipun ia sudah berusaha keras untuk melupakan Erena. Tapi nama Erena selalu memenuhi isi kepalanya. Hatinya masih tidak rela jika Erena dalam bahaya. Ia ingin selalu melindungi Erena dari semua bahaya yang mengancam.
***
Di Rumah Utama Daniel Edritz Chen.
Serena baru saja selesai menelepon Shabira. Ia tersenyum bahagia, saat mendengar kabar dari Shabira. Wajah Serena kembali cemberut, saat memandang wajah Daniel. Daniel menarik tangan Serena. Memeluk tubuh Serena ke dalam pelukannya. Memandang wajah Serena dengan seksama.
“Jangan marah. Aku hanya sangat khawatir terhadap dirimu. Aku sangat mencintaimu.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena dengan kelembutan.
“Aku tidak suka diikuti pengawal.” Serena masih berusaha untuk menolak pengawal yang di kirim Daniel untuknya.
“Sayang, ini semua demi kebaikanmu juga.” Daniel menyelipkan rambut Serena ke belakang telinga.
“Kau tidak percaya padaku? aku bisa menjaga diri.”
“Baiklah. Karena hari ini kau pulang dengan selamat. Kemudian hari, aku tidak akan mengirim pengawal lagi. Tapi ingat, jika kau dalam bahaya. Aku akan kembali mengirim pengawal untuk menjagamu.”
Serena tersenyum manis, “Terima kasih. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir.”
“Ayo kita mandi.” Tanpa minta persetujuan Serena, Daniel merangkul pinggang Serena. Membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Serena hanya bisa diam menuruti permintaan Daniel. Perutnya sudah terasa sangat lapar. Ia iingin segera mandi dan turun ke bawah untuk makan malam.
Beberapa saat kemudian.
Daniel dan Serena sudah selesai mandi. Keduanya sudah mengenakan pakaian santai malam ini. Daniel membawa Serena turun ke lantai bawah. Sesekali ia menggoda Serena, untuk membuat Serena salah tingkah dan tersenyum bahagia.
“Jangan seperti itu. Di sini banyak pengawal yang memperhatikan kita.” Serena menghalangi Daniel yang ingin menggodanya lagi dengan ciuman.
Daniel hanya tersenyum manis. Ia kembali menarik tangan Serena dan membawanya ke arah meja makan. Dua pelayan menarik kursi untuk memberi tempat bagi Daniel dan Serena.
Tama dan Biao juga berdiri di sana untuk menemani Daniel dan Serena makan malam. Pak Han dan Pak Sam sibuk mengatur beberapa menu yang akan di hidangkan malam ini.
“Aku sangat suka sup ini.” Serena mengambil sesendok sup, memasukkan sup itu ke dalam mangkuk kecil yang ada di hadapannya.
Daniel tersenyum, ia melirik ke arah Tama dan Biao yang diam mematung.
“Duduklah, kita akan makan bersama.”
Tama dan Biao membungkuk hormat. Keduanya tersenyum sebelum berjalan ke arah kursi dan duduk satu meja dengan Daniel dan Serena.
Tidak ada yang mengeluarkan kata sedikitpun. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga makan malam itu berakhir.
Serena mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya. Daniel meletakkan gelas yang sudah kosong kembali ke atas meja.
“Sayang, setelah ini aku akan mengurus beberapa pekerjaan di ruang kerja. Istirahatlah di kamar, tunggu aku di sana.” Daniel memegang tangan Serena. Ia memberi satu perintah kepada Serena.
“Baiklah.” Serena beranjak dari duduknya.
Perhatian semua orang teralihkan ke arah pintu utama. Shabira berlari masuk ke dalam rumah. Wajahnya tampak sedih. Ia menghapus air matanya berulang kali, tanpa melihat orang yang ada di sekitarnya.
“Shabira,” teriak Serena dari meja makan.
Shabira memandang wajah Serena. Ia berlari ke arah Serena. memeluk tubuh Serena untuk melampiaskan rasa sakit hatinya kepada Kenzo.
“Apa yang terjadi?” Serena mengelus pelan punggung Shabira.
Shabira masih belum ingin bicara. Ia terus menangis di dalam pelukan Serena.
Biao dan Tama hanya diam memandang Shabira. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan saat ini. Keduanya lebih memilih diam dan mendengarkan semua yang terjadi.
“Shabira, katakan. Apa kau bertengkar dengan Kenzo?” Serena melepas pelukan Shabira. Ia memandang wajah Shabira untuk menagih satu penjelasan.
“Kakak. Kenzo pria yang jahat.” Shabira mulai mengeluarkan kata, sesekali ia mengatur napasnya.
“Dia berkata, kalau kita berada di rumah ini untuk sebuah misi. Ia berpikir, kalau kita akan membunuh Tuan Daniel.” Shabira kembali menghapus air matanya yang jatuh.
Serena hanya tersenyum, “Shabira, Kenzo tidak salah.”
Semua orang terperanjat kaget, saat mendengar perkataan Serena. Shabira menggeleng kepalanya, “Apa maksud kakak? kita tidak punya misi apapun berada di rumah ini.”
“Shabira, Kenzo tahu apa pekerjaan kita dulu. Itu tandanya ia sangat sayang kepada Daniel. Ia tidak ingin Daniel dalam bahaya."
Daniel hanya diam mendengar penjelasan Serena. Tama dan Biao kembali bernapas lega. Meskipun sejak awal keduanya sudah tahu, kalau Serena tulus mencintai Daniel.
“Kenapa dia harus melakukan itu?” tanya Shabira bingung.
“Karena Kenzo adalah sepupuku. Dia adikku Shabira. Aku rasa dia sudah banyak berubah saat ini.” Daniel menjawab pertanyaan Shabira. Ia kembali tersenyum bahagia, saat mendengar pembelaan Kenzo untuk dirinya.
“Sepupu?” tanya Shabira tidak percaya.
“Iya Shabira.” Sambung Serena dengan senyuman.
Shabira terdiam untuk mencerna perkataan Daniel dan Serena.
Kenapa semua jadi begini. Dunia ini memang begitu sempit.
“Sekarang pergi ke kamar dan bersihkan dirimu. Pelayan akan mengantarkan makanan ke kamar. Soal Kenzo, akan kita bahas esok lagi.”
“Baik, Kak.” Shabira menuruti perkataan Serena. Ia pergi meninggalkan ruang makan, menaiki anak tangga menuju ke arah kamar.
Serena tersenyum memandang Shabira. Ia kembali memikirkan cara untuk menyatukan Kenzo dan Shabira lagi.
“Sayang. Apa yang kau pikirkan?” Daniel menggenggam tangan Serena. Berjalan ke arah Serena hingga posisi keduanya saling berhadapan.
“Memikirkan tuduhan Kenzo?”
Serena menggeleng kepalanya, “Aku hanya sedikit lelah.”
“Aku akan mengantarmu ke kamar.” Daniel memandang ke arah Tama dan Biao.
“Tunggu di ruang kerja.
“Baik, Tuan,” ucap Biao dan Tama bersamaan.
Daniel merangkul pinggang Serena, membawanya pergi menuju ke arah kamar.