Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 64



Crazy up! Vote sudah lewat 20k.


“Kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan, Erena?”


Zeroun menatap tajam mata Serena dengan dua tangan yang terkepal kuat.


Serena tidak lagi bisa membalas perkataan Zeroun, ia berjalan pelan untuk mendekati tubuh Daniel.


“Erena!” teriak Zeroun lagi. Memutar tubuhnya untuk memandang punggung Erena.


“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku!” ucap Zeroun dengan kesal.


Serena menghentikan langkah kakinya, menatap wajah Daniel yang kini berdiri di hadapannya.


“Karena aku hamil anak Daniel, Zeroun. Aku tidak lagi bisa bersama denganmu ….” ucap Serena pelan. Aliran darahnya terasa begitu deras, kakinya tidak lagi mampu berjalan. Hatinya juga terasa sakit saat ia harus mengatakan perkataan itu kepada Zeroun saat ini.


“Hamil?” ucap Daniel tidak percaya.


Serena hanya diam tanpa kata sambil menunduk dalam. Menahan rasa sakit yang kini memenuhi hatinya. Air mata sudah penuh di pelupuk matanya dan siap untuk menetes.


Zeroun tidak bisa mengeluarkan kata lagi. Perkataan Serena semakin membuat hatinya teriris perih. Harapannya untuk bersama Serena memang benar-benar sudah sirna.


Dalam waktu yang bersamaan, satu tembakan kembali terdengar. Pertarungan belum selesai, karena musuh yang lain baru saja tiba. Serena memperhatikan pria asing yang mengintai tubuh Zeroun, dengan cepat ia berlari untuk menyelamatkan Zeroun.


“Zeroun awas!” Serena berdiri di depan tubuh Zeroun, untuk menghalangi peluru.


Duarr!!


Satu tembakan mengenai perut Serena. Cairan merah berkucur deras. Suasana kembali diselimuti dengan baku tembak yang memekakan telinga.


“Nona!” teriak Lukas dan Biao bersamaan.


Lukas menahan langkahnya, saat melihat Serena yang menjadi korban tembakan itu. Lukas segera meletakkan Angel pada tempat yang aman, agar ia bisa leluasa menyerang musuh. Biao juga kembali menodongkan senjata yang ia miliki ke arah musuh yang baru saja tiba.


“Serena!” teriak Daniel dari kejauhan.


“Erena.” Zeroun terpaku saat melihat tubuh Serena akan terjatuh ke lantai.


Belum sempat ia melangkah untuk menahan tubuh Serena, satu tembakan juga mengintai dirinya. Peluru itu mengenai dadanya. Langkahnya terhenti, dengan tatapan yang semakin kabur. Hatinya sangat sakit dan diselimuti rasa bersalah saat ia tidak berhasil melindungi Serena. Cairan merah keluar dengan derasnya. Ia terjatuh di atas permukaan lantai sambil memandang wajah Serena dengan tatapan sedih.


“Erena, kau harus bertahan,” ucap Zeroun sebelum memejamkan mata.


Daniel terus berlari dan menembaki musuh yang terus menyerang. Biao dan Lukas juga membalas tembakan-tembakan musuh.


“Serena, bertahanlah.” Daniel mengangkat tubuh Serena ke dalam pelukannya. Hatinya juga teriris perih saat melihat Zeroun tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri. Daniel mengangkat senjata yang ia genggam. Menembaki semua musuh yang ingin mendekati tubuh Zeroun dan Serena. Ia berjuang dengan sekuat tenaga untuk melindungi Serena dan Zeroun saat itu.


Kenzo dan Shabira juga tiba dengan tubuh yang basah. Tangan Kenzo terlilit kain untuk menahan cairan merah yang keluar. Mereka membantu Daniel untuk menyerang musuh di lantai bawah.


“Darimana mereka? mereka bukan pasukan Laura!” Kenzo terus menembak musuh yang berkumpul di lantai bawah.


“Hari ini, semua musuh masa lalu kami datang untuk balas dendam,” jawab Shabira dengan tenang. Ia belum mengetahui kejadian di lantai atas.


“Dimana Daniel dan yang lainnya.” Kenzo mencari-cari sambil terus menembak.


Baku tembak yang terjadi di lantai dua mengalihkan pandangan Shabira dan Kenzo. Dengan cepat mereka menaiki anak tangga, untuk melihat kejadian yang terjadi di sana.


Pasukan musuh yang berserak di lantai bawah, dapat di atasi dengan mudah oleh pasukan Gold Dragon yang ikut bersama Kenzo.


“Kak Erena … apa yang sudah terjadi,” ucap Shabira pelan.


Shabira dan Kenzo juga membantu Daniel untuk menembaki musuh yang ingin mendekati tubuhnya. Dalam waktu singkat, mereka berhasil menaklukan musuh yang berkerumun di lantai atas. Semua orang berlari mendekati Daniel.


Daniel berdiri dan menggendong tubuh Serena. Berjalan cepat untuk membawa tubuh Serena meninggalkan rumah besar itu.


“Biao, bawa Zeroun Zein. Pastikan dia selamat!” perintah Daniel singkat.


Biao dan Lukas berjalan mendekati tubuh Zeroun. Shabira berjalan mendekati Angel yang menangis karena ketakutan.


“Sayang, jangan menangis. Sekarang kau baik-baik saja.” Shabira mengangkat tubuh Angel, yang terduduk di atas lantai dengan selembar kain.


Shabira terus berusaha merayu Angel agar tidak menangis. Meskipun saat ini ia juga menangis karena melihat Serena dan Zeroun tertembak dan tidak sadarkan diri.


“Ayo, sayang.” Kenzo menarik tubuh Shabira untuk mengikuti Daniel dan lainnya meninggalkan rumah itu.


Shabira menghentikan langkah kakinya dengan tatapan dipenuhi dendam. Wanita itu mengeluarkan senjata dan menembak tubuh laura yang sudah tidak sadarkan diri.


“Sayang, apa yang kau lakukan. Wanita itu sudah tiada.” Kenzo menahan pistol yang dipegang Shabira.


“Aku harus memastikan, kalau wanita itu tidak akan pernah bangun lagi!” Mata Shabira dipenuhi amarah.


Tanpa ingin berdebat, Kenzo menarik tangan Shabira dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. melangkah dengan cepat menuruni anak tangga. Kenzo memperhatikan rumah yang berantakan dan dipenuhi cairan merah itu dengan seksama.


“Apa semua sudah berakhir?” tanya Kenzo pada Shabira.


“Aku tidak tahu, Kenzo,” jawab Shabira pelan.


Daniel berlari dengan kencang menggendong tubuh Serena yang tidak sadarkan diri. Hatinya sempat diselimuti kebahagiaan saat mendengar perkataan Serena, kalau dia telah mengandung. Namun kini, ia kembali dipenuhi rasa takut dan khawatir saat melihat kondisi Serena yang sangat menyedihkan.


“Sayang, bertahanlah.” Daniel meletakkan Serena di bangku depan, memasang sabuk pengaman. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Beberapa pengawal S.G. Group yang tersisa mengikuti laju mobil Daniel dari belakang.


Biao dan Lukas juga membawa tubuh Zeroun dengan cepat. Lukas sudah dipenuhi kekhawatiran yang begitu besar terhadap Zeroun. Hatinya juga merasakan sakit yang kini di rasakan oleh majikan yang ia hormati itu.


Biao mengambil alih kemudi, melajukan mobil itu dengan cepat. Mobil yang ditumpangi Shabira dan Kenzo juga mengikuti laju mobil Biao dari belakang.


“Kak Erena ….” ucap Shabira dengan penuh khawatir.


“Semua akan baik-baik saja, sayang.” Kenzo terus berusaha menenangkan pikiran Shabira saat ini.


Shabira memandang wajah Angel yang tertidur pulas di pelukannya, “Kak Erena pasti sangat menyayangi anak kecil ini. Ia rela mempertaruhkan nyawanya demi anak ini.”


Shabira mengusap lembut pipi Angel. Gadis kecil berusia 3 tahun yang sudah kehilangan sosok ayah dan ibu. Angel tertidur dengan begitu tenang. Selama beberapa hari ini, kesehatan Angel memang terus dijaga oleh Laura, karena ia masih membutuhkan Angel sebagai ancaman untuk Serena.


Shabira memeriksa bagian tubuh Angel, untuk memastikan kalau tubuh Angel tidak teruka sedikitpun.


“Sayang, apa yang kau lakukan? Angel masih tidur jangan mengganggunya.” Kenzo melirik ke arah Shabira.


“Aku hanya memastikan, kalau Angel baik-baik saja.” Shabira menatap wajah Kenzo dengan seksama.


“Kau juga harus berobat di rumah sakit.” Shabira kembali mengingat luka tembak yang ada di tangan Kenzo.


Kenzo tersenyum manis, sebelum memfokuskan pandangannya ke arah depan.


Mobil-mobil hitam itu melaju dengan kencang menuju ke arah rumah sakit terdekat. Menembus terik matahari siang yang cerah. Meninggalkan rumah yang sudah dipenuhi dengan orang-orang yang tidak bernyawa. Semua orang diselimuti rasa khawatir terhadap keselamatan Serena dan Zeroun. Meskipun mereka memenangkan pertarungan siang itu.