
“Kau tidak akan bisa menyerangku, Erena! Hanya aku yang tahu semua kelemahanmu!”
Zeroun menghentikan ciuman itu, dan memandang wajah Serena dengan seksama. Hatinya terasa perih, saat melihat mata Serena yang telah berubah. Tatapan yang tidak lagi mengenali dirinya. Tatapan kebencian dan tidak ada lagi cinta.
Satu dobrakan pintu, mengalihkan pandangan keduanya. Terlihat Biao yang pertama kali masuk ke dalam ruangan itu. Tatapan matanya terlihat dingin. Biao menodongkan pistol , ke arah Zeroun. Daniel dan Tama menyusul masuk ke dalam. Tatapan mata penuh amarah, sudah terpancar jelas di bola mata Daniel saat ini.
“Daniel,” ucap Serena pelan.
“Lepaskan istriku! Zeroun!” teriak Daniel.
Zeroun tersenyum tipis memandang Daniel, dan memandang Serena dengan penuh arti.
“Wanita ini milikku, tuan Daniel,” jawab Zeroun dingin.
“Beraninya kau!” Beberapa pengawal yang di bawa oleh Biao sudah masuk memenuhi ruangan itu. Semua orang sudah menodongkan pistol mereka, untuk mengancam Zeroun saat ini.
Zeroun menatap ke wajah Serena. Air mata terus mengalir deras, dari mata indahnya. Serena menghilangkan semua bekas ciuman Zeroun dengan tangannya. Hati Zeroun semangkin sakit, saat Serena tidak kunjung memberi tanda kepada dirinya.
Satu petikan jari Zeroun, membuat semua pengawal tersembunyinya keluar. Beberapa pria bertubuh tegab, berjalan perlahan dengan membawa satu senjata api.
Serena hanya menggeleng pelan melihat situasi saat ini. Semua pria bersenjata sudah mengepungnya saat ini. Dengan penuh rasa takut, Serena memandang wajah Zeroun.
“Aku mohon, lepaskan aku,” pinta Serena lirih, hati Zeroun kembali teriris perih mendengar permintaan Serena.
Zeroun memalingkan wajahnya dari Serena, dan melepaskan genggaman tangannya. Serena menatap wajah Zeroun dengan penuh takut dan berlari pergi. Serena berlari cepat, untuk memeluk Daniel. Zeroun memalingkan tubuhnya, beberapa pengawal semangkin sigab melindungi Zeroun saat ini.
“Biarkan mereka pergi!” perintah Zeroun singkat.
“Tuan, sebaiknya kita pulang sekarang!” ucap Biao pelan.
Daniel mengangguk cepat, dan membawa Serena pergi dari sana. Daniel terus saja merangkul pinggang Serena. Tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.
Di dalam ruangan itu, Zeroun mengepal kuat tangannya. Bayangan mata Serena terus saja menghantui pikirannya.
“Apa yang terjadi padamu, Erena!”
.
.
Daniel melangkah cepat meninggalkan gedung itu. Tama, Biao dan beberapa pengawal mengiringi langkah Daniel saat ini. Serena masih terus saja meneteskan air matanya. Daniel membawa Serena masuk ke dalam mobil. Biao dan Tama juga masuk ke dalam mobil itu. Melajukannya dengan kencang, untuk meninggalkan gedung itu dengan cepat.
“Sayang ….” Daniel menghapus air mata Serena dengan lembut.
“Aku sangat takut, Daniel.” Memeluk Daniel dengan kuat.
“Sekarang kau bersamaku, semua akan baik-baik saja.” Memeluk Serena dengan penuh cinta.
“Siapa pria itu?” Serena mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Daniel.
“Lupakan dia, sekarang kau bersamaku. Pria itu tidak akan pernah bisa, mendapatkanmu Serena. Kau milikku.” Daniel memandang wajah Serena dengan penuh rasa khawatir.
Serena kembali diam dan menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Daniel. Memejamkan matanya yang terasa lelah. Kejadian tadi cukup menguras emosi dan tenaga yang ia miliki. Serena mulai melupakan semuanya. Hingga ia tertidur di dalam pelukan hangat Daniel.
Mobil melaju dengan cepat, menembus keheningan malam. Biao dan Tama hanya bisa diam di bangku depan. Daniel mengusap lembut wajah Serena yang kini sudah tidur. Berulang kali ia mencium kening Serena. Tatapan matanya ia alihkan pada Biao dan Tama.
“Biao, bagaimana caranya kau bisa cepat berada di gedung itu?” Pertanyaan Daniel membuat Tama dan Biao saling melempar pandangan.
Biao menatap tajam kepergian mobil Daniel dan Serena. Mengambil handpone, yang tersimpan di sakunya.
“Bersiaplah, aku akan segera kesana.”
Biao berlari kecil ke arah mobil dan melajukannya dengan cepat. Terlihat mobil Daniel berada tidak jauh dari pandangan matanya, Biao terus mengikuti mobil yang di tumpangi Daniel. Hingga mobil itu berhenti di parkiran gedung Z.E. Group. Biao terus memperhatikan Daniel dan Serena dari ke jauhan.
“Mereka memperketat penjagaan. Aku harus mencari strategi baru untuk bisa melindungi tuan Daniel dan nona Serena.”
Biao turun dari mobil dan melangkah ke beberapa orang bertubuh tegab.
“Selamat malam, tuan Biao.”
“Kita harus bisa menguasai pintu masuk itu.” Biao menunjuk ke arah Daniel dan Serena.
“Baik tuan!”
Beberapa pria itu berpencar untuk melakukan aksinya. Dengan begitu rapi dan halus, pintu masuk itu berhasil di kuasai Biao. Dengan satu senyuman tajam, Biao masuk ke dalam gedung itu. Biao memilih duduk di bangku paling belakang. Mengamati setiap pengawal yang berjaga.
Biao juga mendengar saat Mr. X mengatakan namanya adalah Zeroun. Ia semangkin mempererat pengawasanya terhadap Daniel dan Serena. Secara perlahan, Biao mengeluarkan pistol yang tersimpan di sakunya. Menarik pelatuknya dan menyembunyikannya di bawah meja. Biao terus mengawasi zeroun, yang berjalan menghampiri Daniel dan Serena.
“Aku yakin, dia merencanakan sesuatu. Zeroun!” Biao kembali bernafas lega, saat melihat Zeroun pergi dari hadapan Daniel, tanpa membuat satu masalah.
Senyum tipis terukir di bibir Biao. Hingga saat seorang pria berteriak kebakaran, Biao hanya berdiri tenang untuk memperhatikan Daniel dan Serena. Tatapan matanya terus ia fokuskan pada pria yang menarik tangan serena. Satu pesan singkat dari Tama, memecahkan kosentrasinya. Biao kehilangan jejak Serena.
Biao segera berlari cepat, untuk menemui Daniel dan Tama. Di ikuti dengan beberapa pengawal yang juga berada di gedung itu.
.
.
“Selidiki semua ini! Kita harus tahu, apa yang akan di lakukan pria itu!” perintah Daniel singkat.
“Baik tuan,” jawab Biao dan Tama bersamaan.
‘Aku yakin, dia tidak akan diam begitu saja. Dia ketua geng mafia Gold Dragon, kekasihmu sayang.’ Mencium pucuk kepala Serena lagi.
Mobil itu kembali melaju cepat. Beberapa menit kemudian, mobil itu tiba di rumah utama. Biao dengan cepat turun dan membukakan pintu untuk Daniel. Daniel menggendong tubuh Serena yang masih tertidur.
Tanpa banyak bicara, Daniel masuk ke dalam rumah dan berjalan cepat menuju kamar. Tama dan Biao hanya bisa memandang Daniel dari kejauhan.
“Sepertinya strategimu berhasil, Biao.” Tama memandang wajah Biao.
“Ide ini berasal dari kau, Tama. Kalau saja aku mengikuti egoku, aku yakin hari ini nona Serena tidak bersama kita. Pertahanan kita akan kalah. Pria itu bukan orang biasa.”
Tama dan Biao kembali diam. Memikirkan rencana selanjutnya untuk menghadapi Zeroun. Meskipun hari ini mereka berhasil membawa Serena pulang.
Di dalam kamar, Daniel meletakkan Serena secara perlahan. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang mungil. Daniel kembali duduk di tepi ranjang, untuk memperhatikan wajah Serena.
“Aku sangat mencintaimu, Serena. Jangan tinggalkan aku.” Daniel mengambil tangan Serena dan menciumnya dengan lembut. Hatinya benar-benar di penuhi rasa takut. Hilangnya Serena beberapa saat yang lalu, sudah merenggut separuh nyawanya.
Satu dulu ya, besok dua lagi.
Like, Komen, Vote.