
Thailand.
Langit yang biru berubah menjadi jingga. Matahari sudah kembali tenggelam untuk berganti dengan bulan. Suasana rumah sakit itu masih ramai dengan orang yang ingin berobat. Beberapa Dokter dan perawat berseragam putih-putih tampak berlalu lalang di koridor rumah sakit.
Daniel masih setia menunggu Serena. Ia duduk di kursi samping tempat tidur Serena. Tatapan matanya terus saja memandang wajah Serena yang masih tertidur nyenyak. Sesekali ia mengambil tangan Serena dan mengecup tangan itu dengan penuh cinta.
“Sayang, bangunlah. Aku sangat merindukan suaramu.” Daniel menjatuhkan kepalanya di atas tempat tidur, samping Serena. Memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya saat ini.
Suara pintu terbuka, Daniel mengangkat kepalanya memandang ke arah pintu. Ia mengukir satu senyuman manis saat melihat sosok yang muncul dari balik pintu.
“Zeroun, bagaimana kabarmu?” tanya Daniel pelan.
Zeroun membalas senyuman Daniel, “Aku baik-baik saja.”
Zeroun duduk di sebuah kursi roda, Lukas mendorong kursi itu dari belakang. Dokter belum memperbolehkannya untuk berjalan, karena luka yang masih basah. Lukas memberhentikan kursi roda Zeroun di sisi lain tempat tidur Serena, hingga posisi Daniel dan Zeroun saling berhadapan.
“Dia belum mau bangun.” Daniel memandang wajah Serena dengan hati yang sedih.
“Lukas, pergilah. Bantu Gold Dragon untuk mengusir musuh kita.” Zeroun mendongakkan kepalanya memandang Lukas.
“Baik, Bos.” Lukas menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
“Kau masih memikirkan penyerangan dalam keadaan seperti ini, Zeroun.” Daniel memandang wajah Zeroun dengan wajah yang khawatir.
Zeroun mengukir senyuman tipis, “Musuh akan menyusun rencana penyerangan, saat kita berada di titik lemah. Kau tidak bisa lengah sedikitpun, Daniel.”
Daniel menganggukkan kepalanya, “Kau benar, Zeroun. Aku tidak pernah tahu tentang hal itu.” Daniel kembali memandang wajah Serena.
“Maafkan aku, Daniel.” Zeroun memandang wajah Serena.
“Untuk apa?” Daniel menatap wajah Zeroun sambil mengerutkan dahi.
“Kalau saja Erena tidak menyelamatkanku, mungkin kalian tidak akan kehilangan anak pertama kalian.” Zeroun menunduk sedih dengan penuh rasa bersalah.
“Semua sudah terjadi, tidak ada gunanya menyesalinya lagi.” Daniel terus saja memandang wajah Zeroun.
“Aku sangat ingin menjadi dirimu, Zeroun. Kau bisa dengan mudah melindungi Serena. Memiliki seribu cara untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya,” sambung Daniel lagi.
Zeroun bersandar di kursi rodanya sambil menarik napas dalam, “Kau salah Daniel, Kau jauh lebih hebat jika dibandingkan denganku.”
Daniel tertawa kecil, “Apa itu sebuah pujian?” tanya Daniel tidak percaya.
“Sejak awal aku sungguh percaya diri, bisa merebutnya lagi dari tanganmu. Bahkan aku tidak pernah berpikir, kalau aku akan gagal mendapatkannya.” Zeroun tertawa kecil.
“Tapi semua salah, Aku justru kehilangan Erena. Tidak lagi memiliki harapan untuk bersama dengannya seperti dulu.” Wajah Zeroun berubah sedih.
“Aku tidak pernah menyangka, kalau kita bisa mencintai wanita yang sama. Maafkan Aku Zeroun. Tapi aku sangat mencintainya, aku tidak akan melepasnya untukmu.” Daniel menatap wajah Zeroun dengan tajam.
“Andai saja sejak dulu aku memiliki sifat yang sama seperti dirimu, Daniel.” Zeroun tersenyum tipis.
“Aku menganggap dia wanita yang tangguh dan tak terkalahkan. Hingga membiarkannya pergi begitu saja tanpa pernah mengkhawatirkan keselamatannya saat ia berada jauh dari diriku. Tidak sepertimu, kau tahu kalau Erena bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi, kau selalu mengirim pengawal untuk melindunginya. Kalau saja aku seperti dirimu, mungkin kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Aku tidak akan pernah kehilangan dirinya.” Zeroun menatap wajah Serena lagi.
“Aku lupa, kalau dia hanya seorang wanita yang harus selalu dilindungi.” sambung Zeroun lagi.
“Aku hanya seorang CEO di salah satu perusahaan. Tidak pernah tahu, bagaimana jalan pikiran orang seperti kalian. Bahkan aku tidak punya banyak kekuatan untuk melawan musuh-musuh berbahaya. Bagaimana bisa, kau bilang kalau aku jauh lebih hebat.” Daniel terus menyangkal perkataan Zeroun.
“Kalau bisa memilih, aku lebih memilih menjadi CEO seperti dirimu daripada harus menjadi seperti sekarang. Di perusahaan, kita melihat tawa sebagai tanda kebahagiaan. Dalam dunia kami, tawa itu sebuah penghinaan. Siapa saja yang tertawa di hadapanmu, saat kau tidak suka kau bisa menghabisinya tanpa belas kasih.” Zeroun kembali mengingat kekejaman yang pernah ia lakukan dulu.
Suara pintu terbuka. Daniel dan Zeroun memandang ke arah pintu. Shabira dan Kenzo baru saja muncul dari balik pintu. Melangkah pelan mendekati tempat tidur Serena.
“Kau disini? aku baru saja mencarimu di kamar, Zeroun.” Kenzo menggandeng tubuh Shabira mendekati Zeroun.
“Aku hanya ingin melihat keadaannya,” jawab Zeroun pelan.
Daniel memandang wajah Shabira dan Kenzo bergantian, “Darimana saja kalian? apa Angel baik-baik saja?” tanya Daniel dengan penuh khawatir.
“Angel lagi tidur, Dokter bilang kalau Angel baik-baik saja,” jawab Shabira pelan.
Shabira memandang wajah Zeroun dengan hati yang diselimuti keraguan.
“Tuan Zeroun, boleh saya menanyakan sesuatu kepada anda?” Shabira melangkah pelan mendekati tubuh Zeroun.
“Katakan, apa yang ingin kau ketahui Shabira?” Zeroun menatap wajah Shabira dengan tatapan bingung.
“Apa anda memiliki adik perempuan?” tanya Shabira dengan penuh takut.
Daniel dan Kenzo saling memandang sebelum memandang wajah Shabira dan Zeroun. Mereka berdua tahu, apa yang saat ini ingin dikatakan oleh Shabira.
“Ya, aku punya adik perempuan.” Zeroun mengukir senyuman penuh arti.
“Kenapa kau menanyakan hal itu, Shabira?” tanya Zeroun penuh curiga.
“Dimana adik anda sekarang, Tuan?” Jantung Shabira berdetak semakin cepat. Tangannya terkepal kuat dan basah. Tubuhnya mengeluarkan keringat hingga membasahi baju yang kini ia kenakan.
“Dia … sudah tiada.” Wajah Zeroun berubah sedih.
“Apa dia sudah meninggal?” tanya Shabira untuk memastikan perkataan Zeroun.
“Saat itu usiaku 8 tahun dan Zetta 3 tahun,” sambung Zeroun lagi.
“Zetta?” celetuk Shabira.
“Ya, Zetta. Adikku bernama Zetta.” Zeroun kembali mengingat luka masa lalunya.
“Saat itu rumah kami dibantai oleh sekelompok pembunuh yang tidak dikenali. Mama menyuruhku untuk membawa Zetta pergi meninggalkan rumah. Tapi, aku sangat bodoh aku tidak menuruti perkataannya. Aku juga mengambil pistol dan berusaha melawan musuh-musuh itu. Hingga aku melupakan Zetta. Pembunuh itu pergi membawa Zetta.” Zeroun menarik napas panjang.
“Saat itu terakhir kalinya aku melihat wajah Zetta. Setelah memakamkan kedua orang tuaku yang telah tiada, aku pergi bersembunyi di suatu tempat. Aku belajar untuk menembak agar bisa membalaskan dendamku. Satu pengawal setia yang ada di keluarga kami merawatku hingga besar. Ia memiliki anak bernama Lukas. Aku berteman dengannya sejak itu.” Zeroun mengingat kedekatan dirinya dengan Lukas sejak dulu.
“Setelah beranjak dewasa, aku mulai mencari keberadaan Zetta. Tapi, aku tidak pernah berhasil menemukannya. Walaupun aku sudah berhasil menghabisi pembunuh-pembunuh itu tanpa tersisa satupun. Hingga akhirnya aku menyerah.” Zeroun memandang wajah Shabira dengan satu senyuman penuh luka.
“Kenapa kau sangat ingin mengetahui semuanya? apa Erena tidak pernah menceritakannya padamu?” Zeroun pernah menceritakan semua masa lalu yang ia miliki kepada Erena.
Shabira menggeleng pelan kepalanya, ia mengambil selembar foto yang tersimpan di saku celana pendek yang kini ia kenakan.
“Apa ini foto adik anda yang hilang, Tuan Zeroun?” Shabira memberikan selembar foto itu kepada Zeroun.
Zeroun mengerutkan dahinya sebelum menerima foto yang baru saja diberikan oleh Shabira. Ia menggenggam foto itu dan tidak langsung melihat isinya. Pria berusia 28 tahun itu masih fokus memandang Shabira dengan tatapan curiga.
“Kau tidak tertarik untuk melihat foto itu, Zeroun?” Kenzo menggenggam tangan Shabira. Ia tahu, apa yang saat ini dirasakan oleh Shabira.
.