Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 83



Sesuai perjanjian. Vote sudah 20k, kita crazy up.


Jangan lupa like dan komen, terima kasih.


Sonia berdiri di balik kaca memandang wajah Serena yang pucat. Hatinya berubah sedih saat melihat beberapa alat media yang melekat di tubuh Serena.


“Aku tidak pernah menyangka, hari ini aku menangis saat melihat wanita yang paling aku benci tertidur lemah seperti itu.” Sonia menghapus buliran air mata yang menetes.


“Sonia, sekarang kau sudah menyesali semua perbuatanmu. Sekarang kita hanya tinggal menunggu kabar tentang Daniel.” Aldi juga menatap wajah Serena.


“Serena wanita yang baik. Sejak awal aku sangat ingin berteman dengannya, tapi hatiku selalu berubah benci saat mengingat dia adalah wanita yang merebut Daniel.” Sonia tersenyum tipis.


“Serena gak pernah salah. Mereka sudah menikah, kau yang menjadi orang ketiga di antara mereka.” Aldi memandang wajah Sonia dengan seksama.


“Sonia, menikahlah denganku. Kita buka hidup baru dan melupakan semua masa lalu yang pernah terjadi.” Aldi memegang kedua pipi Sonia dengan mata berkaca-kaca.


“Sejak dulu aku mencintaimu. Tapi, aku sadar kalau cinta gak harus memiliki. Aku bahkan sering bergonta ganti pasangan saat itu untuk melupakanmu. Tapi, sejak dulu hingga detik ini aku masih sangat mencintaimu.”


“Aldi, kau tahu. Kalau aku wanita yang sangat jahat dan licik. Kenapa kau masih bisa untuk mencintaiku?” Sonia membalas tatapan Aldi dengan hati penuh rasa bersalah.


Aldi tersenyum manis, “Aku tahu, kau wanita yang baik. Sejak pertama kali mengenalmu, kau wanita yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Aku harap, sejak kejadian ini. Kau bisa berubah menjadi lembut seperti dulu lagi.” Aldi mengusap lembut pipi Sonia, mendekatkan wajahnya dengan wajah Sonia.


Sonia hanya memejamkan matanya saat wajah Aldi sudah semakin dekat. Aldi mengecup pucuk kepala Sonia dengan lembut.


“Apa kau mau menikah denganku?” tanya Aldi sekali lagi.


Sonia mengukir senyuman indah, “ Ya, aku mau menikah denganmu, Aldi.”


Aldi tersenyum bahagia. Pria itu menarik tubuh Sonia ke dalam pelukannya. Setelah sekian lama ia menunggu cinta Sonia. Hari ini pria itu berhasil mendapatkan cinta Sonia.


“Maafkan aku Aldi, karena telah melukai hatimu selama ini. Andai saja sejak awal aku tidak bertemu dengan Daniel, semua ini tidak akan pernah terjadi.” Sonia memejamkan matanya di dalam pelukan Daniel.


“Kau juga malaikat yang dikirim Tuhan untuk melindungi S.G.Group. Jika kau tidak mencintai Daniel waktu itu, pasti S.G.Group hanya tinggal nama sekarang.” Aldi mengusap lembut rambut Sonia.


Sonia tersenyum masih dengan mata terpejam. Ia kembali mengingat semua permintaan Tuan Ananta untuk menghancurkan S.G.Group. Sonia menyelidiki semua info tentang Daniel Edritz Chen.


Wanita itu melupakan semua niatnya untuk menghancurkan S.G.Group sejak ia jatuh cinta dengan Daniel.


“Ya, kau benar Aldi. Kalau aku tidak jatuh cinta padanya. Mungkin aku sudah berhasil menghancurkan S.G.Group.” Sonia mendongakkan kepalanya memandang wajah Aldi.


“Maafkan aku,” ucap Sonia pelan.


Aldi tersenyum lebar, “Ayo kita kembali ke kamar. Kau harus banyak istirahat. Lukamu juga masih belum kering. Mulai detik ini aku akan melindungimu, dari orang-orang yang ingin mencelakaimu. Kita akan segera menikah dan meninggalkan Jepang. Hidup berdua dengan bahagia di tempat yang jauh dari kenangan masa lalu kita.”


Sonia hanya menuruti permintaan Aldi. Wanita itu memandang ke arah Serena lagi dengan wajah sedih.


“Serena, maafkan aku. Aku harap kau cepat sembuh dan senyum dengan ceria seperti biasa. Aku akan terus membantu Daniel di Thailand. Pria yang kau cintai akan segera pulang dengan selamat. Cepat sembuh.” Sonia menyentuh kaca yang ada di hadapannya.


“Ayo sayang, kita kembali ke kamar.” Aldi menggandeng pinggang Sonia.


Sonia tersenyum sebelum mengikuti langkah Aldi untuk meninggalkan ruangan ICU itu.


***


Di kamar Rumah sakit.


“Kak Zeroun!” teriak Shabira kuat.


Shabira terduduk dari tidurnya dengan mimpi buruk yang baru saja ia alami. Wajahnya pucat dengan napas yang tidak lagi teratur.


Tubuhnya basah karena keringat yang mengucur deras. Ia bermimpi Zeroun telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dirinya.


Kenzoyang tertidur di sofa, berlari kencang saat mendengar teriakan Shabira. Pria itu memegang wajah Shabira dengan penuh kahwatir.


“Apa kau mimpi buruk, Sayang?” tanya Kenzo pelan.


“Dimana Kak Zeroun? apa dia sudah kembali? apa sudah ada kabar dari Thailand?” Shabira bertanya masih dengan napas terengah-engah.


Kenzo menggeleng kepalanya pelan, “Belum ada kabar dari Thailand.”


“Bagaimana keadaan Kak Erena?”


“Serena masih ada di ruang ICU. Adit bilang keadaannya sudah jauh lebih stabil.” Kenzo mengusap lembut tangan Shabira.


“Makan ya sayang …sejak tadi siang, kau belum ada makan.” Kenzo beranjak dari tempat tidur.


“Aku akan menyuapimu.” Kenzo berjalan ke arah meja untuk mengambil makanan yang terhidang di sana.


Shabira kembali diam menatap wajah Kenzo. Pria yang perhatian dan sangat menyayangi dirinya. Hatinya kembali tenang, saat melihat Kenzo masih ada di sampingnya saat ini.


“Kau harus memulihkan tubuhmu yang kehilangan banyak tenaga itu.” Kenzo mengambil satu sendok nasi. Mendekatkan sedok itu di depan mulut Shabira.


Shabira membuka mulutnya untuk menerima makanan itu. Mengunyah makanan itu secara perlahan sambil memandang wajah Kenzo.


“Kau juga harus makan, Kenzo.” Shabira mengambil sesendok nasi dan menyuapi Kenzo dengan senyuman.


“Kau tahu kalau aku belum makan?” Kenzo menerima nasi itu dan melahapnya dengan penuh semangat.


“Tentu saja, kau tidak akan pernah makan atau minum sebelum aku bukan?” Shabira tertawa kecil.


“Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin melihatmu sakit.” Kenzo menatap wajah Shabira dengan seksama.


“Sini, aku akan makan dengan lahap.


Sebaiknya ambil makananmu sendiri Kenzo. Ini milikku.” Shabira mendedipkan sebelah matanya.


Kenzo tersenyum bahagia saat melihat tawa yang terukir dari bibir Shabira. Ia juga beranjak ke arah meja mengikuti langkah kaki Shabira ke arah meja.


Kenzo dan Shabira duduk di kursi yang saling berhadapan. Melanjutkan makan malam dengan penuh ketenangan. Shabira memperhatikan sekeliling kamar yang menjadi tempatnya istirahat malam ini.


“Dimana ini, Kenzo?” Shabira meletakkan sendok di atas piring yang sudah kosong.


“Ini kamar pribadi milik Dokter Adit. Dia meminjamkan kamar ini agar kita berdua bisa beristirahat.” Kenzo membersihkan mulutnya dengan selembar tisu.


“Apa kita boleh melihat keadaan Kak Erena, sekarang?” tanya Shabira dengan penuh harap.


“Sayang, sebaiknya kita istirahat dulu. Adit dan Tama yang menjaga Serena malam ini. Tubuhmu terlihat sangat lemah. Jangan terlalu memaksakan diri seperti ini.” Kenzo beranjak dari duduknya.


“Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Mandilah, setelah itu kembali tidur.” Kenzo memberi Shabira satu buah paper bag.


Shabira tersenyum kecil menerima paper bag itu sebelum berjalan ke arah kamar mandi. Kenzo kembali duduk di sofa sambil mengotak atik handphonenya. Pria itu masih berharap kalau ia mendapatkan kabar baik tentang keberadaan Daniel dan Zeroun di Thailand.


Namun, hingga selarut malam ini. Kenzo masih belum memperoleh kabar baik. Hatinya kembali diselimuti kesedihan dan kekecewaan.


Kenzo menghilangkan wajah sedihnya, saat Shabira keluar dari kamar mandi. Shabira mengenakan pakaian tidur berwarna pink yang dipesan Kenzo dari butik langganannya. Kenzo tertawa bahagia saat melihat penampilan Shabira malam itu.


“Kau mengerjaiku!” protes Shabira.


“Kau terlihat sangat cantik dengan warna itu, sayang.” Kenzo bersandar dengan tenang di sofa. Meletakkan kedua tangannya di atas sandaran sofa.


“Kenzo, aku tidak suka warna pink. Ini terlihat seperti ….” Shabira memejamkan matanya. Ia membayangkan wanita-wanita manja pada umunya.


“Sudahlah,” sambung Shabira lagi.


“Sayang, kau selalu mengenakan pakaian hitam. Rok Mini warna hitam, jaket hitam, celana warna hitam. Apa tidak ada warna lain dalam hidupmu selain warna gelap menyeramkan seperti itu. Kau sama saja seperti Kakakmu itu. Zeroun juga sangat suka memakai jas warna hitam.” Kenzo kembali sadar dengan ucapannya. Lagi-lagi ia mengingatkan Shabira kepada Zeroun.


Shabira tersenyum lalu berjalan mendekati sofa yang di duduki oleh Kenzo. Menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Kenzo. Wanita itu memejamkan matanya dengan ekspresi yang tidak terbaca.


Kenzo menegerutkan dahinya menatap wajah Shabira, “Sayang, apa kau baik-baik saja?”


Shabira membuka matanya secara perlahan. Menatap wajah Kenzo yang kini sangat dekat dengan wajahnya. Satu tangannya ia letakkan di belakang kepala Kenzo, secara perlahan ia menarik kepala Kenzo agar semakin dekat dengan wajahnya.


“Apa kau berusaha untuk menciumku?” ledek Kenzo dengan senyuman tipis.


“Sudah lama kau tidak menciumku,” jawab Shabira pelan.


Kenzo tersenyum tipis saat mendengar perkataan Shabira. Ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Shabira sambil memejamkan mata. Mengusap lembut punggung Shabira dan memeluk tubuh wanita itu dengan penuh kerinduan. Ia tidak ingin melepaskan Shabira dengan begitu cepat, walaupun napas Shabira sudah terlihat terengah-engah. Kenzo terus saja mencium Shabira seperti tidak ada lagi hari esok.


Dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Kenzo melepas cumbuanya. Napasnya yang hangat masih terasa di bibir Shabira saat itu. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan penuh cinta.


“Aku bisa melahapmu hingga habis, Shabira. Pergilah ke tempat tidurmu.” Kenzo melepas pelukannya.


Shabira hanya diam tanpa ingin membantah ucapan Kenzo saat itu. Wanita itu tahu apa yang kini dirasakan oleh Kenzo.


Kenzo hampir saja lepas kendali dan ingin menyentuh seluruh tubuhya. Ia lebih memilih untuk menjauh dari Kenzo malam ini untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.


Shabira menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum memejamkan mata. Wanita itu mengucapkan doa untuk keselamatan Zeroun yang jauh di sana.