Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 11



Tama masih tidak berkedip menatap wajah sahabatnya yang kini ada di depan matanya. Pria itu kini berpikir keras untuk mencari alasan selanjutnya agar Biao tidak mencurigainya.


“Apa yang Kau lakukan di sini? bukankah kau seharusnya menemani Tuan Daniel dan Nona Serena?” Tama kembali duduk dengan hembusan napas yang terasa berat.


Biao melirik ke arah Tama sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas kursi yang ada di depan Tama, “Seseorang menyuruhku untuk menemuimu di cafe ini.” Biao memperhatikan lokasi cafe itu dengan seksama.


“Untuk apa kau datang ke tempat seperti ini? lalu bunga dan lilin-lilin ini apa maksudnya?” Biao mengeryitkan dahi saat melihat meja yang tertata rapi itu.


“Ini … Aku juga tidak tahu apa ini.” Tama membuang tatapannya keluar jendela.


‘Ternyata benar, Anna telah menjebakkku. Oh, sial! kenapa Aku tidak sadar sejak awal.


“Tama!” celetuk Biao dengan dua bola mata penuh curiga.


“Iya, ada apa?” jawab Tama tidak bersemangat.


“Aku menipu wanita itu saat kencan pertama kami. Aku tidak datang ke tempat ini saat itu. Tepat di meja ini.” Biao melipat kedua tangannya di atas meja.


Tama membeku beberapa detik, “Kau menipu Anna?”


Biao mengangguk pertanda setuju, “Aku tidak sengaja gak datang malam itu. Sesuatu terjadi hingga membuat Aku tidak bisa menghadiri makan malam dengannya. Tidak ku sangka malam ini dia membalas semuanya kepadamu.” Mengukir senyuman kecil.


“Kau sudah tahu semuanya sejak awal, kenapa tidak memperingatiku.” Wajah Tama berubah kesal dalam waktu singkat.


Biao tertawa kecil saat mendengar keluhan sahabatnya malam itu, “Bukankah Kau hanya bilang ingin tes kesehatan. Aku pikir wanita itu bercanda dengan ucapannya.”


“Wanita? maksudmu Anna ada menemuimu?” Tama semakin serius dengan kalimat terakhir Biao.


Biao menggeleng, “Dia menghubungiku saat Aku masih ada di kantor. Setelah kau pergi meninggalkan ruanganku.”


“Biao! Kau sudah mengetahuinya sejak awal kenapa tidak cerita padaku!” Tama semakin kesal menatap wajah sahabatnya itu.


“Aku tidak percaya, kalau ini rencana dia. Wanita itu bilang jika Aku ingin bertemu dengan sosok yang sangat dekat denganku datang ke cafe star jam 8 malam.”


Tama menyandarkan tubuhnya, “Kau yang membohonginya kenapa jadi Aku korbannya.” Melipat kedua tangan di depan dada.


Saat Biao dan Tama asyik membahas masalah jebakan yang telah di susun oleh Anna. Tanpa mereka sadari Anna sudah ada di salah satu meja yang ada di lokasi yang sama dengan dua pria itu. Wanita itu terlihat tersenyum puas atas rencana yang Ia buat malam ini. Dengan kaca mata hitam dan penampilan yang berbeda, membuat keberadaan Anna tidak di sadari oleh Tama dan Biao.


“Biao, bukankah Kau bilang untuk menjadi orang terdekatmu Aku harus berbeda dari yang lain? sekarang bagaimana dengan kejutan kecilku malam ini?” Anna tersenyum memperhatikan wajah Biao.


Sejak awal wanita itu memang sudah tertarik dengan karisma yang dimiliki oleh Biao. Bahkan wanita karir itu sempat menemui Biao di ruang kerjanya waktu itu. Tetapi, Anna merasa semua caranya sia-sia. Malam yang penuh bahagia yang pernah ia impikan harus berakhir dengan kata kecewa.


Sejak gagalnya dinner Anna dengan Biao malam itu, Anna terus saja memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Biao. Satu-satunya ide yang muncul di pikirannya adalah nama Tama. Sejak dulu persahabatan dua pria itu sudah bisa di bilang seperti saudara kandung.


Anna memanfaatkan wajah polos Tama untuk memancing Biao agar mau datang ke cafe itu. Wanita itu ingin melanjutkan dinnernya yang tertunda dengan pria yang sudah berhasil merenggut hatinya.


“Ok, sudah saatnya.” Anna membuka kaca mata hitamnya sebelum beranjak dari kursi. Ada senyum manis yang cukup indah di bibir wanita itu sebelum ia berjalan untuk menemui dua pria itu. Suara High Heels yang tenang namun cukup menyita perhatian itu, membuat tatapan Biao dan Tama teralihkan.


Dua pria itu sama-sama beranjak dari kursinya saat melihat kehadiran Anna dari kejauhan.


Anna berjalan ke arah tepian meja, “Selamat malam Tuan Biao. Apa Kau suka dengan kejutanku malam ini?” Melipat tangan di depan dada sambil memandang Tama.


“Maafkan saya Tuan Tama. Jika tidak menggunakan cara ini. Sahabat terbaik anda ini tidak akan tiba di meja ini.” Melirik kearah Biao.


“He?” Tama kini sadar dengan semua yang terjadi. Pria itu menggaruk kepalanya sambil tersenyum menyeringai.


“Nona Anna, jika kau ingin menemui Biao. Kenapa harus repot-repot menjebakku dengan cara seperti ini. Aku bisa menyuruh Biao untuk datang ke tempat ini tanpa dipaksa.” Tama menatap wajah Biao dengan senyum terpaksa.


“Sepetinya itu tidak berhasil. Bukankah sahabat anda ini pria yang berhati batu. Tidak punya perasaan dan tidak punya cinta.” Anna mengukir senyuman memandang dua bola mata Biao. Suasana berubah tenang saat Biao dan Anna saling menatap satu sama lain. Tama berdiri dengan posisi orang ke tiga di meja itu.


“Biao, biar Aku yang menjaga Tuan Daniel dan Nona Serena.” Tama menjauh dari kursi yang ia duduki.


“Nona Anna, silahkan duduk. Kalian berdua harus meluruskan masalah yang pernah terjadi malam ini.” Tama mempersilahkan Anna untuk duduk di kursi miliknya.


“Mount Moiwa,” ucap Biao singkat sebelum pria itu duduk di kursinya.


“Ok, Aku akan ke sana. Selamat bersenang-senang.” Tama memandang wajah Biao dan Anna secara bergantian sebelum pergi meninggalkan meja itu. Walaupun ada rasa kesaldi awal tadi, tapi kini rasa kesal itu berubah menjadi bahagia. Tama berharap kalau Anna bisa membuat sahabatnya itu mengenal kata cinta.


***


Mount Moiwa


Malam yang dingin dengan diselimuti kabut malam. Tetapi rasa dingin itu tidak terlalu terasa saat pemandangan kota yang cukup indah kini ada di hadapannya. Pemandangan kota Sapporo terlihat seperti sebuah lukisan tiga dimensi yang selalu bisa menghipnotis mata. Gunung Moiwa memang selalu menjadi pilihan utama saat para pengunjung ingin melihat langsung surga Sapporo pada malam hari.


Gunung Moiwa terletak di tengah kota Sapporo. Letaknya yang sangat mudah di akses membuat banyak pengunjung selalu ingin datang lagi dan lagi ke tempat romantis itu. Bukan hanya pemandangan indah dan menakjubkan yang bisa di lihat. Di lokasi gunung Moiwa ada kereta gantung yang bisa membuat pengunjung bisa merasakan sensasi berpetualang di udara.


Malam itu, Daniel dan Serena sudah ada di dalam salah stau kereta gantung. Bibir Serena lagi-lagi tersenyum bahagia saat melihat kejutan ke dua yang diberikan oleh suaminya. Bahkan hanya kata terima kasih saja tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagianya saat ini.


“Sayang, kau lihat itu?” Daniel menunjuk ke arah sebuah Shiawase no Kane atau bisa di sebut juga dengan lonceng abadi.


“Apa itu?” Serena memperhatikan bentuk unik dari lonceng abadi itu.


“Lonceng abadi. Di tempat itu ada gembok cinta yang biasa di sebut dengan Ai no Nahkinjo.”


“Gembok cinta? apa maksdunya?” Serena mengeryitkan dahi saat belum paham dengan penjelasan suaminya.


Daniel tersenyum sambil mempererat pelukannya, “Katanya setiap pasangan yang menulis namanya di gembok dan menguncinya dipagar, akan selalu bersama dan tidak akan terpisahkan untuk selamanya. AKu ingin cinta kita abadi seperti gembok di pagar itu.”


Serena tersenyum mendengar penjelasan Daniel yang membuat hatinya merasa tenang. Wanita itu menyandarkan tubuhnya dengan manja di dada suaminya. Menikmati pemandangan kota dengan kereta gantung yang kini mereka tumpangi.


“Aku sangat mencintaimu Daniel,” ucap Serena sambil memandang wajah suaminya yang kini ada di bahu kanannya.


“Aku juga mencintaimu sayang,” jawab Daniel sambil mendaratkan ciuman di bibir wanita berstatus istrinya itu.


Like terus...kalau likenya dpt banyak aku juga bagi bab yang banyak.😊