Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 31



Crazy up, karena vote lebih 20k.


Selamat membaca.😇


Like, Komen, Vote terus, biar tiap minggu crazy up.🤣


Rumah Utama Daeshim Chen.


Kenzo dan Shabira duduk di meja makan. Keduanya makan malam dengan penuh canda tawa. Hari ini suasana hati keduanya di penuhi dengan bunga-bunga bermekaran. Kenzo terus saja menatap wajah Shabira. Memegang tangannya dan menciumnya berulang kali. Ia tidak ingin Shabira jauh lagi dari dirinya.


“Sayang, kau belum menceritakan apapun.” Lagi-lagi Kenzo menagih satu penjelasan, yang memang sejak siang belum diceritakan oleh Shabira.


“Tentang Kak Erena?” tanya Shabira pelan.


“Semuanya.” Kenzo beranjak dari duduknya, dan menarik tangan Shabira. Shabira berdiri dari duduknya, hingga posisi keduanya saling berhadapan.


“Alasan kenapa kau lari dari pernikahan kita.” Kenzo mengecup bibir Shabira.


Shabira tersenyum, suasana seperti ini memang selalu ia rindukan.


“Ayo kita duduk di sana.” Shabira menarik tangan Kenzo dan duduk di sebuah sofa yang empuk. Shabira mengambil remot TV dan menyetel satu saluran TV.


Kenzo duduk di samping Shabira dengan tatapan yang tidak teralihkan. Hanya wajah Shabira yang menjadi prioritas utama bagi dirinya saat ini.


“Kau terlalu suka mengulur waktu.” Kenzo menarik Shabira dan memeluknya dari belakang.


“Apa yang kau sembunyikan. Aku yakin, sesuatu telah terjadi.” Kenzo berbisik di telingan Shabira dengan kelembutan.


Shabira mulai menceritakan semua yang terjadi. Pertolongan Lukas dan tempat tinggalnya selama ini. Kenzo menerima semua penjelasan Shabira. Ia mengerti, bagaimana perasaan Shabira waktu itu. Ia tidak menyalahkan Shabira sedikitpun. Kenzo semangkin erat memeluk Shabira.


“Lalu, bagaimana dengan mobil itu?”


Shabira menarik napas dalam. Lagi-lagi ia harus merasa kecewa, saat mengingat hubungan Serena dan Zeroun yang tidak lagi bersatu.


“Kak Erena sudah menikah dengan pria lain. Aku rasa, Zeroun telah kecewa pada dirinya. Mobil itu ia berikan padaku begitu saja.” Wajah Shabira berubah sedih.


“Apa kau yakin?” tanya Kenzo untuk memastikan.


“Ya, sekarang aku tinggal di sana bersama Kak Erena, di rumah pria itu.” Shabira memandang wajah Kenzo yang ada di samping kanannya.


“Kenapa dia tega melakukan semua ini? Erena bukan wanita yang seperti itu bukan?” tanya Kenzo dengan curiga, sejak awal ia juga tahu hubungan Zeroun dan Erena.


“Aku tidak terlalu setuju. Tapi sepertinya, Kak Erena sangat mencintai pria itu.”


“Siapa nama pria itu? apa dia tinggal di kota ini?” tanya Kenzo penasaran.


“Ya, nama pria itu ….”


Handphone Shabira berdering. Ia mengangkat handphone itu dengan senyuman. Shabira melepas pelukan Kenzo. Dan duduk bersandar dengan santai di sofa. Wajahnya tersenyum bahagia.


“Kak, aku sudah bertemu dengan Kenzo.”


Kenzo mengerti, kalau Erena yang menelepon. Ia tidak banyak tanya lagi. Kenzo berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa minuman kaleng dan cemilan.


Shabira terus memandang Kenzo dari kejauhan.


Sesekali ia tertawa karena mendengar cerita lucu dari Serena.


“Ok. Aku akan pulang besok.” Shabira meletakkan handphone itu di atas meja. Melirik ke arah Kenzo yang baru saja tiba. Kenzo meletakkan beberapa minuman kaleng dan makanan ringan di atas meja.


“Apa itu Erena?” Kenzo membuka satu minuman kaleng, meneguknya perlahan.


“Ya, dia hanya memastikan. Kalau kita sudah jumpa.” Shabira mengambil minuman kaleng yang sama, membukanya perlahan.


“Siapa nama suaminya?” tanya Kenzo penasaran.


“Daniel Edritz Chen.”


Kenzo menjatuhkan minuman kaleng yang ia genggam. Minuman itu tumpah, hingga membasahi karpet yang ada di bawah. Shabira memandang minuman itu.


“Apa yang terjadi? apa ada sesuatu yang salah?” tanya Shabira bingung. Ia meletakkan minuman kaleng kembali ke atas meja. Memegang kedua pipi Kenzo untuk menagih satu penjelasan.


“Kenapa kau terlihat begitu panik?” tanya Shabira lagi.


Kenzo melepas tangan Shabira, menggenggamnya dengan erat. Ia menatap wajah Shabira dengan seksama.


“Daniel Edritz Chen?” tanya Kenzo untuk lebih memastikan.


“Ya, apa kau mengenal pria itu? apa dia musuhmu, sayang?” Shabira mengerutkan dahinya.


“Serena?”


Shabira terdiam sejenak. Ia kembali mencerna perkataan Kenzo. Sejak awal, Shabira belum menceritakan nama itu. Ia kembali menyimpan seribu tanya, saat Kenzo kenal dengan nama Serena.


“Darimana kau mengetahuinya? apa kau sudah tahu wajah Kak Erena?” Shabira tahu, kalau Kenzo tidak pernah tahu wajah Erena.


Kenzo kembali mengingat pertemuannya dengan Serena. Sejak awal, ia sudah curiga dengan karakter yang dimiliki Serena. Serena mampu berlari jauh dengan cepat, menembak dengan tepat sasaran.


Memiliki sifat keras kepala yang tidak suka di atur.


Serena, kau adalah Erena. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya. Apa kau tidak mengingat semua masa lalumu? kenapa kau menikah dengan Daniel dan meninggalkan Zeroun. Apa kau ingin mencelakai Daniel. Apa rencanamu kali ini?


Kenzo terus bertanya di dalam hati. Ia tidak lagi memperdulikan Shabira yang sejak tadi memanggil namanya.


“Sayang ….” Untuk yang terakhir kalinya, Shabira memanggil nama Kenzo dengan penuh kelembutan.


“Kenapa dia menikah dengan Daniel?” Kenzo menatap Shabira dengan tatapan menuduh.


“Apa yang ingin kalian lakukan kepada Daniel? kalian ingin mencelakainya?”


Shabira beranjak dari duduknya. Ia tidak pernah menyangka kalau Kenzo akan berpikiran jelek terhadap dirinya dan Erena.


“Apa yang kau katakan? kau menuduh aku dan Kak Erena memiliki rencana jahat kepada pria itu?” Kesabaran Shabira sudah habis. Ia mengepal kuat tangannya untuk menahan emosi yang kini memenuhi isi kepalanya.


Kenzo beranjak dari duduknya, “Aku tahu, kalau Erena sangat mencintai Zeroun. Bagaimana mungkin ia menikahi Daniel. Sejak dulu, membunuh adalah pekerjaan kalian. Aku tidak akan pernah membiarkan Daniel dalam bahaya.”


Plakk!


Emosi Shabira sudah tidak tertahan lagi, ia menampar wajah Kenzo dengan sangat kuat. Menatap wajah Kenzo dengan raut wajah kecewa.


“Aku tidak pernah menyangka! kau akan berubah menjadi seperti sekarang.”


Shabira berbalik badan, dan pergi meninggalkan Kenzo. Hatinya sangat kecewa, mendengar perkataan Kenzo. Ia tidak lagi ingin berdebat dengan Kenzo saat ini.


Shabira berjalan cepat menuju mobil, ia masuk ke dalam mobil dengan wajah yang sangat sedih. Meninggalkan halaman rumah utama Daeshim Chen dengan penuh derai air mata.


Shabira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berulang kali ia menghapus air mata yang menetes. Kenzo tidak pernah tahu, kalau dirinya dan Erena sudah meninggalkan dunia mafia.


“Bagaimana mungkin kau menuduhku sejahat itu? kau tidak lagi percaya padaku!” ucap Shabira dengan penuh kecewa.


Kenzo hanya diam melihat kepergian Shabira. hatinya masih di selimuti rasa takut yang begitu besar. Sejak dulu, ia tahu bagaimana cara kerja Shabira dan Erena mendapatkan uang. Bahkan Shabira pernah menyamar sebagai seorang pembantu untuk membunuh targetnya.


“Bagaimana ini semua bisa terjadi. Apa benar target kalian saat ini adalah Daniel? apa aku harus melawanmu Shabira?” Kenzo menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Kepalanya memandang ke arah atas.


“Kenapa semua terjadi secara bersamaan. Serena, aku tidak pernah menyangka, kalau kau adalah pemimpin Queen Star.”


Kenzo memejamkan mata. Ia kembali membayangkan wajah Serena yang ceria dan penuh tawa. Ia tidak pernah menyangka, kalau Serena dan Erena adalah orang yang sama.


“Aku harus menemui Daniel. Aku akan memberi tahu semua ini secepatnya.”