Mafia's In Love

Mafia's In Love
Rahasia Biao Part. 2



Di satu ruangan berukuran sedang dengan dekorasi lengkap yang terlihat begitu nyaman. Namun kini tidak lagi terasa sama, bagi semua orang yang ada di dalamnya. Semua orang sudah berkumpul, untuk mendengarkan informasi yang akan di sampaikan oleh Daniel. Perasaan takut sudah menyelimuti siapa saja yang kini ada di hadapan Daniel. Tangan Daniel mengepal kuat untuk menahan amarah yang ingin segera ia lampiaskan.


“Daniel, ada apa? kenapa kau menyuruh mama dan papa ke sini?” tanya Ny. Edritz pelan.


“Apa mama bisa menjelaskan semua ini?” beberapa foto di letakkan Daniel di atas meja yang tidak jauh dari posisi Ny. Edritz berdiri saat ini.


“Daniel, darimana kau mendapatkan semua ini?” ucap Ny. Edritz yang sudah dipenuhi raut wajah ketakutan.


“Mama masih sanggup menanyakan hal itu?” ucap Daniel yang semangkin kesal.


‘Aku sudah mengikuti setiap gerak-gerik Biao, bagaimana mungkin ia bisa menemukan semua foto ini,’ gumam tuan Edritz di dalam hati dengan gerak-gerik takut.


“Maafkan saya tuan, tapi anda sendiri yang pernah bilang kepada saya. Saya harus melindungi tuan Daniel dengan cara apapun, termasuk menghianati anda,” ucap Biao kepada tuan Edritz.


“Maafkan mama Daniel, mama akan menjelaskan semuanya saat ini,” ucap Ny. Edritz memohon.


“Maaf ma, tapi Daniel tidak ingin mendengar penjelasan dari mama lagi,” jawab Daniel tegas.


“Daniel, mama mohon maafkan mama,” ucap Ny. Edritz lirih hingga beberapa buliran air mata telah menetes membasahi pipinya.


“Biao, jelaskan semua ini,” perintah Daniel.


Sosok pria dengan menggunakan masker dan topi hitam, muncul secara tiba-tiba saat Biao sudah memberi perintah. Sosok rahasia yang selama ini hanya Biao yang mengetahuinya. Sosok mata-mata yang sudah berhasil melacak masa lalu Serena tanpa di ketahui oleh tuan Edritz. Sosok rahasia yang sangat dekat dengan hidup Daniel.


Di balik kaca matanya yang berwarna gelap, terpancar sorot mata yang tajam. Satu senyuman tipis yang tak terlihat, mengawalinya untuk membuka cerita yang kini ia ketahui.


“Siapa dia, Biao?” tanya Daniel curiga.


Pria yang kini ada di hadapannya adalah sosok yang tidak asing bagi dirinya. Namun, semua rasa curiga itu ia hapus ketika mengingat orang yang ia maksud telah tiada.


“Ini saatnya,” ucap Biao singkat.


Perlahan pria itu membuka kaca mata dan masker yang menutupi wajahnya selama ini. Topi yang telah menutupi separuh bagian wajahnya kini juga sudah terbuka. Hingga seluruh wajahnya terpampang jelas di hadapan semuanya.


“Tama!” celetuk Daniel.


Daniel sontak kaget dan berdiri dari kursi yang sebelumnya ia duduki. Tatapan matanya masih tidak percaya dengan sosok yang kini ada di hadapannya. Tuan dan Ny. Edritz juga tidak kalah syoknya dengan Daniel. Seperti sebuah mimpi, yang menginginkan dirinya untuk segera bangun dan sadar.


“Apa yang terjadi? bukannya kau,” ucapan Ny. Edritz terhenti, “Apa maksud semua ini, Biao? Kalian telah membohongi kami?” sambung Ny. Edritz tidak terima.


“Maafkan saya nyonya, tapi hanya dengan cara ini saya memperoleh informasi, tentang penyelidikan nona muda,” jawab Biao santai.


“Selamat malam tuan Daniel,” ucap Tama dengan senyum khasnya.


Daniel masih diam mematung, melihat Biao dan Tama yang kini ada di hadapannya.


“Tuan,” sapa Biao.


“Sebelum menjelaskan tentang Serena, aku ingin kalian menceritakan semua yang terjadi,” pinta Daniel.


“Baik tuan,” jawab Biao pelan.


Kembali ke hutan …


Suasana yang sempat ricuh, akibat baku tembak dari pihak Daniel dan Arion kini sudah tidak terdengar lagi. Hutan rindang yang dipenuhi aneka pepohonan besar itu, kini kembali sunyi seperti tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.


Biao membuka mata secara perlahan, dengan pandangan yang masih belum jelas. Kejadian baku tembak itu, kembali mengingatkan dirinya kepada Tama yang kini berada tidak jauh dari posisinya berada.


“Tama,” teriak Biao dan berlari kencang menuju posisi Tama.


Melihat Tama yang tidak lagi memiliki kekuatan untuk berjalan, Biao menggendong Tama di belakang. Biao terus berlari menuju ke sebuah mobil, yang berada tidak jauh dari posisinya kini berada. Merebahkan tubuh Tama di kursi penumpang dan segera mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit terdekat.


Tidak butuh waktu yang lama, kini Biao telah menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah sakit, ia berteriak memanggil para perawat dengan menahan sakit di lengannya.


Beberapa perawat segera membawakan brankar untuk membantu Tama menuju ke ruang UGD. Seorang Dokter dengan sigap, membersihkan luka Tama. Selang impuls dan kantong darah telah terpasang.


"Siapkan ruang operasi, periksa stok darah sesuai dengan golongan darah pasien," teriak seorang Dokter wanita.


“Tama, kau harus bertahan,” ucap Biao yang sudah dipenuhi raut wajah khawatir.


“Biao, kita harus menyelidiki nona Serena,” jawab Tama lirih.


“Kau tidak seharusnya memikirkan hal itu Tama, sekarang kau harus bertahan untuk tetap hidup,” ucap Biao yang terus berada di samping Tama saat itu.


“Nona Serena bukan wanita yang biasa, Biao. Aku sudah mencurigainya sejak awal,” sambung Tama di sela-sela masa kritis nya.


“Aku akan menyelidikinya,” ucap Biao cepat.


“Tidak akan semudah itu, Tuan Edritz dan Ny. Edritz sepertinya mengetahui semua ini. Tidak akan mudah melawan mereka,”


“Tama, kau harus segera sembuh!” pintah Biao yang semangkin frustasi.


“Aku akan sembuh, Biao. Tapi buat cerita tentang kematianku, secepatnya!” pinta Tama lagi.


“Apa maksudmu Tama?”


“Lakukan saja, aku akan menemuimu ketika nanti sudah sembuh,” pesan Tama terakhir, sebelum ia masuk ke dalam ruangan operasi.


Langkah Biao kembali terhenti, saat seorang perawat wanita dengan lembut menarik lengannya.


"Tuan, Anda harus segera di obati," ucap perawat itu dengan senyum lembut dibibirnya.


Biao hanya diam mematung memandang kepergian Tama menuju ruang operasi, tanpa memperdulikan tawaran perawat yang kini ada di sebelahnya.


Beberapa tetesan cairan merah yang berada di lantai, mulai menyadarkan dirinya dengan luka yang kini ada di lengannya. Biao mengangguk pelan, pertanda setuju dengan tawaran perawat wanita itu.


Beberapa kalimat terakhir yang sempat di sebutkan oleh Tama, membuat Biao membatalkan niatnya untuk menelepon Daniel. Satu rencanapun mulai tersusun rapi di dalam pikiran Biao.


“Kau harus janji padaku, untuk menemuiku dalam keadaan sehat, Tama,” gumam Biao dalam hati, sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan operasi itu.


***


Suasana kembali hening, mata semua orang kini tertuju pada Biao dan Tama secara bergantian. Satu berita yang berisi sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikan, akan terungkap saat ini juga. Tanpa ada lagi yang berani menghalangi.


“Kau melakukan rencana besar seperti itu tanpa sepengetahuanku, Biao?” tanya Daniel masih tidak percaya.


“Maafkan saya tuan,” jawab Biao singkat.


“Baiklah, sekarang ceritakan padaku, hasil dari rencana besar yang sudah kalian susun rapi itu!” ucap Daniel yang semangkin penasaran dengan arti dari foto-foto Serena yang kini ada di hadapannya.


“Tama, katakan semuanya sekarang,” pinta Biao pada Tama yang masih terdiam di hadapan Daniel.


“Baiklah tuan, saya akan mengatakan semua yang saya ketahui,” Tama melirik sebentar ke arah Ny. Edritz sebelum memulai satu cerita yang sudah ia siapkan.


“Nona Serena adalah ….”


.


.


.


**Cie…Cie… Penasaran ya.


Sebenarnya kalau hari Minggu, Authornya libur ya.


Tapi karena sayang banget sama pembaca setia. Author kasih Episode Bonus.


Like, Komen, dan Vote.


Terima Kasih sudah membaca.😘😘**