Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kembalinya Tama Part. 1



Keesokan paginya, di rumah utama. Serena baru saja bangun dari tidurnya. Serena melirik sebentar ke arah samping, untuk melihat Daniel.


“Kemana dia, apa dia sudah pergi kerja?” ucap Serena pelan.


Serena masih duduk di atas tempat tidur, dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya hingga batas pinggang. Badannya terasa lebih baik dan kepalanya tidak lagi terasa sakit.


Serena mengambil gelas yang berisi air, yang terletak di atas meja. Perlahan ia meneguk air itu, hingga menyisakan gelas yang kosong.


Hari ini Daniel pergi cepat ke kantor, untuk mengadakan rapat dadakan. Bahkan ia belum sempat untuk sarapan pagi ini. Daniel sengaja bangun lebih dulu dari Serena, hatinya tidak ingin menyakiti hati Serena karena ucapannya yang selalu salah.


Serena menurunkan kedua kakinya secara perlahan, dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hatinya kembali tenang, saat kini ia bisa kembali berendam di dalam bak mandi kesayangannya.


“Aku sangat merindukan, bak mandi ini,” ucap Serena pelan dengan senyuman indah.


Satu ketukan pintu di luar kamar mandi, mengganggu lamunan Serena saat ini.


“Nona, ini saya Diva. Apa anda sedang mandi?” teriak Diva dari luar.


“Iya, aku masih berendam,” jawab Serena.


“Baik nona, anda mau saya antar sarapan ke kamar atau makan di bawah nona?” tanya Diva lagi.


“Aku akan sarapan di bawah,” jawab Serena singkat.


Diva menjauhi pintu kamar mandi, dan mulai membersihkan kamar Serena dan menyiapkan beberapa barang yang di butuhkan Serena saat ini. Senyum bahagia kembali terpancar di wajah Diva, saat mengingat Serena sudah berada di rumah saat ini. Diva memang sangat menyayangi Serena, kehadiran Diva memberikan warna baru dalam hidupnya.


“Kau sangat cantik, nona.”


Melihat ke dinding yang terdapat foto pernikahan Daniel dan Serena. Senyum Serena yang indah dan gaun mewah yang ia kenakan. Menjadikan Serena seperti sosok seorang putrisaat itu. Menggandeng tangan Daniel dengan bahagia, menyempurnakan foto pernikahan yang kini di pandang oleh Diva.


“Apa yang kau lihat, Diva?” tanya Serena yang kini sudah berpakaian lengkap.


Diva membalikkan tubuhnya untuk memandang ke arah Serena. Serena terlihat cantik dengan gaun biru dan rambut terurai. Senyum manis Serena menambah kesempurnaannya saat ini.


“Diva,” ulang Serena lagi.


“Iya nona,” ucap Diva yang mulai tersadar dari lamunanya.


“Kenapa kau diam saja?” Melangkah ke arah sofa.


“Anda terlihat sangat cantik, nona.”


“Benarkah?” tanya Serena tidak percaya.


“Benar nona, apa anda mau sarapan? pak Sam sudah menyiapkan sarapan untuk anda,” ucap Diva.


“Apa mama dan papa juga ada di sana?” tanya Serena.


“Tidak ada nona, tuan Edritz dan Ny. Edritz belum ada keluar dari kamar sejak pagi.”


“Benarkah? biasanya sarapan pagi adalah ritual wajib yang harus di patuhi,” ucap Serena pelan.


“Anda harus segera sarapan, nona. Tuan Biao memberi kabar kepada saya, kalau dokter Adit akan segera datang untuk memeriksa keadaan anda."


“Ya, kau harus menemaniku sarapan Diva,” tawar Serena dan beranjak pergi meninggalkan kamar. Diva juga turut mengikuti langkah Serena menuju meja makan.


***


Tama dan Biao hanya bisa saling menatap. Keduanya mengerti, kalau emosi Daniel saat ini bukan hanya di sebabkan proyek itu. Hal utama yang menjadi penyebab utamanya adalah masa lalu Serena.


Daniel menyelesaikan rapat paginya, dan melangkah cepat meninggalkan ruang rapat itu. Tama dan Biao kembali mengikuti langkah Daniel. Langkah keduanya kembali terhenti, saat Daniel tiba-tiba membalikkan tubuhnya.


“Ada apa tuan?” tanya Tama bingung.


“Suruh Adit untuk memeriksa keadaan mama dan Serena,” perintah Daniel singkat sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


“Baik tuan,” jawab Tama.


Tama mengambil handphone yang tersimpan di dalam sakunya, satu panggilan yang sudah siap ia tujukan pada Adit. Tidak kunjung mendapat jawaban dari Adit, Tama mengirim pesan singkat kepada Adit. Tatapan matanya terus memperhatikan beberapa karyawan S.G. Group, yang sejak tadi melirik ke arah dirinya.


Mereka terlihat bingung atas kemunculan Tama hari ini. Kabar kepergian Tama waktu itu. Tidak hanya tersebar di S.G. Group, kabar itu juga menyebar luas di selurug cabang S.G. Group. Meresa tidak nyaman dengan pemandangan pagi ini, Tama melanjutkan langkah kakinya ke arah ruangan Daniel.


'Aku harap mereka tidak berpikiran, kalau aku hantu yang sedang gentayangan,' gumam Tama dalam hati dan berlalu pergi menuju ruangan Daniel.


Belum sempat Tama masuk ke dalam, langkahnya terhenti saat melihat Sonia. Sonia terlihat sedang sibuk, dengan beberapa pekerjaan yang menumpuk diatas mejanya. Tama kembali mengingat jabatan Sonia, sebelum ia pergi ke vila waktu itu.


'Siapa yang memindahkannya di situ?' gumam Tama dalam hati, dan melangkah ke arah Sonia berada.


“Tama!” celetuk Sonia kaget.


Sonia salah satu orang yang sangat bahagia atas kepergian Tama waktu itu. Hatinya di penuhi rasa takut saat sosok yang ia anggap telah tiada, kini ada di depan matanya.


“Apa kabar Sonia,” sapa Tama dengan senyum ramahnya.


“Kau masih hidup?” tanya Sonia, masih dengan raut wajah tidak percaya.


“Maaf mengecewakanmu, nona Sonia. Tapi saya masih hidup,” jawab Tama santai.


“Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak punya banyak waktu untukmu!” ucap Sonia ketus.


“Nona Sonia Ananta, kenapa kau sangat membenciku?” tanya Tama lagi.


“Apa kau bilang?”


“Aku sudah mengetahui semuanya, nona. Kau adalah putri tunggal pewaris ALCO Group.”


“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan,” ucap Sonia mulai gugup.


“Kau wanita yang sudah di siapkan tuan Daeshim Chen untuk tuan muda Kenzo,” ucap Tama dengan senyum kemenangan.


Sonia hanya bisa diam seribu bahasa, tanpa bisa membantah perkataan Tama saat ini. Semua rahasia yang selama ini ia simpan, telah di ketahui oleh Tama. Sonia memang menyimpan latar belakangnya, saat ia tahu kalau Kenzo adalah sepupu Daniel.


Sonia tidak pernah menyetujui perjodohan dirinya dengan Kenzo. Sonia kabur dari rumah dan bertemu dengan Aldi. Aldi yang selalu membantu kehidupan Sonia selama ini, sebelum ia bisa masuk di dalam S.G. Group.


“Aku tidak pernah menyetujui perjodohan itu,” ucap Sonia pelan.


“Aku tidak tahu, kau setuju atau tidak nona. Tapi saat ini, aku ingin kau utnuk menjahui tuan Daniel. Ingat nona, rahasiamu sudah kami ketahui. Kapan saja kami menyampaikannya pada tuan muda Kenzo, kau akan jadi santapan siangnya yang lezat,” ancam Tama dan berlalu pergi meninggalkan Sonia di sana.


Sonia hanya bisa diam, sambil mengepal kuat kedua tangannya. Hatinya di penuhi rasa kesal terhadap ancaman Tama saat ini.


'Apa aku tidak memiliki harapan lagi, untuk mendapatkan hati Daniel,' gumam Sonia dalam hati dengan raut wajah kecewa.


Sebelum lanjut, like dan komen dulu.