
Biao melewati mobil hitam yang berhenti di ujung gang. Ia menatap tajam ke dalam mobil. Meskipun tidak terlihat jelas, tapi Biao kenal dengan sosok yang kini mengikutinya. Biao melirik ke arah spion, untuk memperhatikan Serena.
Sepertinya, Nona Serena tidak tahu. Kalau pria yang ada di dalam mobil itu adalah Zeroun Zein. Untuk apa dia mengikuti Nona Serena.
Biao memperhatikan mobil Zeroun dari balik spion. Mobil itu tetap diam di tempat. Tidak lagi mengikuti dirinya dari belakang. Yang terlihat hanya beberapa mobil pengawal, yang sejak awal memang sudah ada di belakang mobil Biao.
Suasana di dalam mobil terasa sangat dingin. Serena memasang wajah marah di depan Biao. Ia tidak ingin mengeluarkan kata-kata lagi untuk bercerita dengan Biao.
“Nona, apa anda marah pada saya?” Biao memberanikan diri untuk membujuk Serena. Ia tahu, kalau Serena tidak lagi mengeluarkan kata, itu pertanda ia lagi marah.
“Aku hanya sedikit bingung. Selain masa laluku, apa ada yang mengancam nyawa orang-orang di rumah utama. Daniel bukan seorang mafia, kenapa kalian hidup dalam ketakutan seperti itu.” Serena melipat kedua tangannya. Menatap tajam ke arah Biao.
“Keluarga Edritz Chen adalah keluarga terpandang dan berpengaruh di negara X, Nona. Perusahaan kita memiliki banyak cabang di negara-negara lain. Bukan hanya memiliki banyak keuntungan, tapi kita memiliki banyak saingan bisnis yang ingin menghancurkan S.G.Group.” Biao menjelaskan beberapa hal yang ia ketahui, dengan nada lembut kepada Serena.
“Apa rumah utama pernah di serang oleh saingan bisnis kita?” tanya Serena penuh dengan selidik.
“Pernah, Nona. Hal itu membuat Tuan dan Nona Edritz trauma. Beliau tidak lagi memberi kebebasan kepada pekerjanya untuk keluar masuk rumah utama. Bahkan ia menyiapkan pengawal bersenjata api untuk memberi ketenangan dalam hidupnya,” sambung Biao lagi.
“Kapan itu terjadi? Apa saat kau sudah bekerja di rumah itu, Biao?” Serena semangkin serius dengan cerita Biao. Ia tidak pernah tahu, kalau rumah utama yang terlihat tenang, pernah mengalami penyerangan. Selain serangan dari Wubin.
“Waktu itu, saya baru kenal dengan Tuan Edritz, Nona. Saya bertemu dengan beliau, saat beliau lari ketakutan di jalanan. Ia menarik tangan Tuan Daniel dan Ny. Edritz. Mereka di penuhi luka. Waktu itu, sayan hanya seorang preman yang memiliki senjata api. Sejak kecil saya sudah hidup di jalan. Entah kenapa, saat melihat keluarga itu, saya sangat menyayangi mereka. Saya melindungi mereka bertiga dengan senjata yang saya miliki. Sejak saat itu, Tuan Edritz meminta saya untuk menjadi pengawal setia Tuan Daniel hingga sekarang.”
“Apa kalian memiliki usia yang sama?”
“Benar, Nona. Usia kami sama. Saya masuk ke rumah utama sejak saya berusia 12 tahun, saat itu Tuan Daniel baru tamat Sekolah Dasar. Ia pria yang sangat diam, dan susah bergaul.” Biao tersenyum tipis mengingat sifat Daniel waktu kecil.
“Kau sudah sangat lama berada di rumah utama. Bagaimana dengan Tama?” Serena memajukan duduknya, agar dapat mendengar jelas cerita Biao siang ini.
“Tama datang ke rumah utama, saat Tuan Daniel sudah menyelesaikan kuliahnya. Saya hanya bisa di andalkan dalam hal bela diri. Jadi Tuan Edritz memilih mahasiswa terpintar, sebagai pendamping Tuan Daniel.”
“Tunggu, tunggu. Mahasiswa terpintar. Apa mereka kuliah di tempat yang sama?”
“Tidak, Nona. Tama kuliah di negara ini. Sedangkan Tuan Daniel kuliah di luar Negeri. Saat S.G.Group diserahkan kepada Tuan Daniel. Tama hadir untuk mendampingi Tuan Daniel, mengurus masalah di perusahaan. Saya juga banyak belajar darinya. Ia pria yang baik dan sangat pintar.”
“Aku tahu sekarang, kenapa kalian terlihat berbeda. Kau terlihat sangat menyeramkan, sedangkan Tama terlihat lebih mempesona.” Serena mencubit lengan Biao untuk meledeknya. Serena tertawa lepas, ia tahu sekarang perbedaan di antara keduanya.
“Nona, apa yang anda lakukan.” Biao masih menahan tawa. Meskipun ia ingin tertawa bersama Serena.
“Apa kalian sudah menikah, Biao?” Serena hampir terjatuh ke depan. Biao menghentikan mobil secara tiba-tiba.
“Menikah, Nona?” tanya Biao dengan polos.
“Apa yang kau lakukan! aku hanya menanyakan tentang pernikahan, bukan meminta nyawamu.” Serena kembali mundur ke belakang.
“Maafkan saya, Nona. Apa anda baik-baik saja, Nona?” Biao berbalik badan melihat keadaan Serena.
“Aku baik-baik saja.” Serena mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Wajahnya berubah lagi menjadi kesal.
“Kita jalan lagi ya, Nona.” Biao menginjak gas mobil itu, melajukannya dengan kecepatan sedang. Ia memang terkejut, saat Serena menanyakan hal itu kepada dirinya. Satu pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan olehnya Biao sebelumnya.
‘Aku hanya menanyakan tentang pernikahan, kenapa ekspresi wajahnya jadi ketakutan seperti itu. Dia berubah menjadi dingin dan tidak ramah lagi. Apa aku mengatakan hal, yang menyinggung perasaannya.’
Sesekali Serena menatap ke arah depan. Biao diam dan tidak bersuara lagi. Padahal, sejak awal dia yang selalu saja mengajak Serena bercerita. Tapi, sejak Serena menanyakan tentang pernikahan, Biao mala tidak bersuara lagi.
Beberapa saat kemudian. Mobil itu tiba di S.G.Group.
Satu pengawal membukakan pintu untuk Serena. Biao berjalan di belakang Serena. Beberapa security dan pegawai S.G.Group, menunduk hormat menyambut kedatangan Serena dan Biao. Serena hanya tersenyum ramah kepada beberapa pegawai S.G.Group. Ia tidak ingin banyak bicara.
Kenapa dia jadi lebih menyeramkan daripada diriku. Ini tidak adil, tadinya aku ke S.G.Group untuk merayu Daniel agar mau mengijinkan Diva pulang tiap sore. Kalau Biao bersikap seperti ini, bagaimana aku bisa meledeknya lagi. Wajahnya terlihat sangat serius.
Serena kembali berpikir dalam hati. Ia tidak ingin gagal, untuk merayu Daniel. Ia terus mengikuti langkah Biao dari belakang. Hingga keduanya tiba di depan ruangan kerja milik Daniel.
“Mari, Nona.” Biao membuka pintu ruangan kerja milik Daniel. Memberi jalan kepada Serena untuk masuk ke dalam.
Serena memandang wajah Biao sesaat, sebelum melangkah masuk ke dalam. Langkah kaki Serena terhenti. Matanya berubah dingin, saat melihat sosok yang paling ia benci ada di dalam ruangan Daniel saat ini.
“Sonia!” teriak Serena tidak suka.
Daniel dan Tama mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Daniel berdiri dari duduknya dan memandang wajah Serena dengan bahagia.
“Sayang, kau datang ke sini?” Daniel tersenyum memandang wajah Serena.
Sonia memandang Serena dengan tatapan kebencian. Seperti satu musuh yang ingin segera ia habisi. Sonia masih berdiri di dalam ruangan itu, ia tidak ingin pergi meninggalkan Daniel dan Serena berduaan di ruangan itu.
“Untuk apa anda ada di sini, Sonia?” tanya Biao tidak suka. Tangan Biao terkepal kuat, saat melihat keberadaan Sonia di S.G.Group. Ingin rasanya ia menarik Sonia, dan melemparkan wanita itu dari jendela.
“Kau lupa, Tuan. Isi surat perjanjian yang sudah di tanda tangani ini.” Sonia melempar sebuah map di atas meja kerja Daniel.
“Di situ tertulis jelas, tidak bisa mengeluarkan aku begitu saja, atau kalian harus membayar denda yang besar. Kalian sudah menggunakan ilmu yang aku punya selama ini. Aku tidak ingin rugi begitu saja. Semua ada bayarannya.” Sonia memandang Serena dengan tatapan tidak suka.
“Oh ya, kau sangat pintar Sonia. Sampai suamiku tidak bisa mengeluarkan benalu sepertimu dari sini. Kau memiliki ALCO Group, tapi lebih memilih bekerja di perusahaan orang lain.” Serena melangkah pelan ke arah Daniel. Matanya melirik sesaat ke wajah Sonia, saat berpapasan.
“Jaga ucapan anda, Nona Serena. Anda orang terhormat, tapi tidak bisa berkata sedikit manis.” Sonia melipat kedua tangannya.
“Cukup Sonia! jika kau ingin bekerja di sini. Terserah padamu! Tapi aku minta sekarang, kau pergi dari ruangan ini.” Daniel menatap wajah Sonia dengan penuh kebencian.
“Hentikan langkah anda, Nona.” Tama menarik tangan Sonia, saat ia ingin mendekati Daniel.
“Lepaskan dia, Tama.” Serena tersenyum manis memandang Sonia.
“Tapi, Nona ….” Tama melepas tangan Sonia. Ia mempercayakan semuanya kepada Serena.
“Biao, Tama. Kalian bisa pergi tinggalkan ruangan ini untuk sementara. Wanita ini tidak akan mudah di usir dengan cara kalian. Aku rasa, cara yang aku miliki akan lebih berhasil.” Serena menatap licik wajah Sonia.
“Baik, Nona,” jawab Biao dan Tama bersamaan.
Biao dan Tama pergi meninggalkan ruangan milik Daniel. Keduanya menatap wajah Sonia dengan penuh kebencian, sebelum pergi dari ruangan itu.
“Sayang, apa yang mau kau lakukan?” Daniel berdiri, dan merangkul pinggang ramping milik Serena.
“Tidak ada, hanya sedikit sentuhan saja.” Serena mengalungkan tangannya di leher milik Daniel. Ia mencium bibir Daniel lebih dulu dan memamerkan kemesraan di depan Sonia.
Sonia mengepal kuat tangannya, karena api cemburu. Ia memutar tubuhnya, untuk pergi meninggalkan ruangan Daniel. Hatinya di penuhi dengan amarah, saat melihat kemesraan antara Daniel dan Serena.
“Tunggu Sonia!” Serena menghentikan langkah Sonia.
“Ada apa wanita jal**ng?” Sonia menatap wajah Serena dengan penuh dendam.
“Kau bilang, tidak bisa di keluarkan dari sini. Tapi di surat itu, tidak ada aturan tentang status pekerjaanmu, bukan?” Serena melangkah ke depan meja Daniel.
“Apa maksudmu, Serena!”
“Sayang, kita kekurangan OG bukan. Aku rasa Sonia sangat cocok dengan jabatan itu. Ia sedikit tangguh untuk membawa kopi dan teh kepada semua karyawan S.G.Group.” Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman.
“Sayang, aku tidak ingin memberi dia posisi itu,” jawab Daniel santai.
Wajah Serena berubah seketika, saat melihat Daniel tidak menyetujui rencana liciknya siang ini.
“Lihatlah, Daniel masih membelaku, dari pada kau istrinya. Nona Serena!” ucap Sonia dengan wajah penuh kemenangan.
“Sayang, kenapa kau marah seperti itu.” Daniel menyelipkan rambut Serena di balik telinganya.
Apa yang kau rencanakan Daniel! jika rencanamu menjatuhkan diriku di hadapan wanita sialan itu. Aku akan memberi hukuman padamu nanti.
Serena masih diam, ia menunggu rencana Daniel selanjutnya.
“Sonia, posisi OG di S.G.Group terlalu mulia untuk wanita sepertimu.”
“Apa maksudmu Daniel?” tanya Sonia bingung.
“Bagaimana kalau di pabrik? jadi aku tidak perlu melihat wajahmu lagi di S.G. Group.” Daniel melipat kedua tangannya memandang dingin ke arah Sonia.
“Sejak awal aku sudah menguasai kontrak kerja itu. Aku pembisnis yang tidak mudah untuk kau tipu, Sonia. Kau lupa, kalau aku memiliki hak untuk memindahkan lokasi kerjamu, dimanapun aku suka.” Mata Daniel berubah tajam, ia menatap wajah Sonia dengan tatapan kebencian.
“Kalian berdua! awas saja, aku akan membalas dendamku ini. Kalian tidak akan pernah bisa bahagia. Aku bersumpah, akan memisahkan kalian.” Sonia mengepal kuat tangannya.
“Jangan bermimpi, Sonia. Kau terlalu banyak berimajinasi,” sambung Serena dengan santai.
“Aku akan mengirim surat pengunduran diriku secepatnya. Aku akan menghancurkan kalian semua.” Sonia berbalik badan, dan membanting pintu dengan kuat.
Daniel dan Serena hanya saling menatap satu sama lain.
“Kau menyebalkan Daniel. Kenapa kau harus menahan wanita itu, jika sudah memiliki cara untuk mengusirnya.” Serena berjalan ke arah sofa.
“Sayang, dia baru saja datang. Aku belum sempat mengeluarkan kata, tapi kau sudah muncul.” Daniel memeluk Serena dari belakang.
“Aku sangat membenci wanita itu!”
“Aku tahu, lupakan saja. Aku juga tidak pernah suka dengannya. Sekarang, kenapa kau datang ke S.G.Group? apa kau sangat merindukanku. Apa kau datang hanya untuk memberi ciuman itu?” bisik Daniel di telinga Serena.
“Daniel … Aku ke sini karena ingin menyampaikan beberapa hal penting. Tapi moodku jadi jelek saat melihat wajah Sonia.” Serena memajukan bibirnya. Ia memasang ekspresi cemberut di hadapan Daniel.
“Aku sudah bilang, lupakan saja. Jika kita berkelahi karena wanita itu, berarti dia sudah berhasil merusak hubungan kita.” Daniel mempererat pelukannya.
“Baiklah, aku akan melupakan wanita itu. Tapi kau juga tidak boleh mengingat namanya.” Serena melepas tangan Daniel dan memutar tubuhnya.
“Ini sudah siang, ayo kita makan siang di luar. Tadi pagi kau hanya makan buah Serena, pasti sangat lapar bukan?” Daniel merangkul pinggang Serena.
“Baiklah, kau berhasil merayuku hari ini.” Serena mengedipkan sebelah matanya.
Daniel membawa Serena keluar dari ruangan kerja miliknya. Di depan, Biao dan Tama berdiri tegab menunggu perintah Daniel.
“Selamat siang, Tuan. Maafkan saya, karena tidak bisa mencegah Sonia masuk ke dalam S.G.Group.” Tama menunduk dengan penuh rasa bersalah.
“Aku tidak ingin membahasnya lagi. Selesaikan perkejaan kalian. Aku mau keluar untuk makan siang,” jawab Daniel dengan santai.
“Baik, Tuan!” ucap Biao dan Tama secara bersamaan.
Serena tersenyum manis, memandang wajah Tama dan Biao. Ia sudah menyiapkan satu pertanyaan untuk Daniel, agar mau menceritakan semua tentang Tama dan Biao. Rasa penasarannya semangkin besar, saat melihat ekspresi wajah Biao di mobil.