Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 94



Mobil yang dikemudikan Kenzo melaju dengan begitu cepat. Menembus terik matahari di tengah-tengah keramaian kota. Tatapan matanya tidak teralihkan ke arah lain selain jalan yang ada di depan.


Sejak keluar dari rumah sakit, Kenzo belum ingin mengeluarkan kata kepada Shabira. Pria itu sepertinya benar-benar marah karena ulah sang kekasih. Wajahnya yang serius membuat Shabira menjadi bingung harus mengeluarkan kata apa lagi.


Sesekali Shabira menatap wajah Kenzo, belum sempat ia mengeluarkan kata. Tatapan matanya ia alihkan lagi ke arah luar jendela. Kedua kukunya saling beradu, menggambarkan isi hatinya yang dipenuhi rasa bersalah.


“Kenzo ….” ucap Shabira pelan.


“Sayang ….” ucap Shabira lagi, walaupun belum mendapat respon dari Kenzo.


“Tuan Kenzo Daeshim ….” Shabira mengukir senyuman manis.


“Kenzo!” teriak Shabira lagi.


“Kau menyebalkan,” ucap Shabira untuk yang terakhir kalinya sebelum mengambil pistol yang ada di dalam saku celananya.


Shabira mengeluarkan peluru yang tersimpan di dalam pistolnya, menghitung jumlah peluru yang ada di telapak tangannya. Sesekali ia menatap wajah Kenzo lagi, yang belum memberi respon. Wanita itu memasukkan peluru itu ke dalam pistol lagi, meletakkan pistol itu di atas pangkuan Kenzo dengan wajah kesal.


“Tembak saja Aku, daripada kau diam seperti itu. Pelurunya cukup untuk membunuhku,” ucap Shabira dengan wajah kesalnya.


Kenzo memberhentikan mobilnya secara mendadak, membuat Shabira kaget.


“Kenzo, Kau sungguh menyebalkan!” teriak Shabira lagi.


“Kau yang menyebalkan! kenapa kau tidak pernah serius dengan hubungan kita? apa kau tidak mau menikah denganku?” teriak Kenzo tidak kalah kuat dengan suara Shabira.


Shabira mengedipkan matanya berulang kali, dengan napas yang tertahan. Detik itu juga ia baru sadar, apa yang menyebabkan pacar tercintanya itu marah dan tidak ingin mengeluarkan kata.


“Menikah?” tanya Shabira dengan wajah polosnya.


“Apa kau lupa Shabira?” Kenzo mengerutkan dahinya, menatap kecewa atas pertanyaan Shabira.


“Sayang, Aku ingin menikah denganmu. Hanya saja, saat ini Kak Erena masih ada di rumah sakit. Belum lagi, luka Kak Zeroun belum sembuh. Aku hanya ingin di hari bahagia kita nanti, semua orang dalam keadaan sehat. Aku tidak berniat untuk mengundur pernikahan kita,” ucap Shabira dengan mata berkaca-kaca.


“Aku juga ingin menikah denganmu, memilikimu seutuhnya.” Shabira memajukan wajahnya di depan wajah Kenzo.


“Maafkan Aku, karena aku sudah membuatmu kesal hari ini.”


Kenzo tersentuh dengan ucapan Shabira. Dalam waktu singkat, lagi-lagi pria itu luluh dengan perkataan Shabira. Hatinya berubah menjadi rasa bersalah karena tidak bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Shabira saat itu. Perlahan Kenzo menyentuh pipi Shabira dengan lembut.


“Maafkan Aku, Sayang. Seharusnya aku tidak egois seperti ini. Aku hanya merasa kalau kau tidak serius dengan pernikahan kita, Shabira.”


Kenzo memundurkan tubuhnya, mengatur posisinya di bangku kemudi. Melajukan mobil itu lagi menuju rumah miliknya.


Shabira mengukir senyuman manis, sebelum merangkul tangan Kenzo dengan begitu mesra. Menjatuhkan kepalanya di atas pundak Kenzo. Memejamkan matanya, menikmati momen indah saat itu.


Pernikahan ini selalu menjadi impianku sejak dulu, Kenzo. Bagaimana mungkin Aku mengabaikannya. Setelah Kak Erena pulang dari rumah sakit, kita akan mengurus semuanya.


***


Rumah Zeroun Zein.


Zeroun berbaring di atas tempat tidur, menahan rasa sakit atas luka pada tubuhnya. Dokter pribadi yang biasa merawatnya juga sudah ada di ruangan itu. Membersihkan luka Zeroun dengan begitu teliti. Dari kejauhan, Lukas tampak berdiri tegap memperhatikan Dokter yang mengobati luka Zeroun.


“Aku sudah pernah bilang. Luka tusukan belati itu sangat dalam dan lebar, jangan banyak bergerak. Kau mala pergi berperang.” Dokter itu memasukkan beberapa alat medisnya yang sudah siap digunakan.


“Zeroun, jika kau benar-benar ingin sembuh. Sebaiknya turuti perkataanku saat ini. Jangan bertarung dulu. Aku juga ingin hidup tenang di Hongkong tanpa mendengar kabar buruk tentangmu.” Dokter itu duduk di kursi kecil yang ada di samping tempat tidur Zeroun.


“Bertarung memang sudah menjadi bagian dari hidupku, Dok. Bagaimana mungkin Aku tidak melakukannya saat pertarungan itu ada di depan mataku.” Zeroun beranjak dari tidurnya, bersandar menatap Dokter itu.


“Aku sudah terlalu tua untuk merawatmu, sebaiknya kau mencari Dokter pribadi baru untuk merawatmu saat kau terluka.” Dokter berusia 55 tahun itu menaikkan kaca matanya.


“Apa baru sekarang kau ingin tahu tentang kedua orang tuamu? sudah hampir 25 tahun aku menjadi Dokter pribadi kalian Zeroun.” Dokter itu tersenyum saat membayangkan wajah Zeroun masih kecil.


“Sejak dulu, kedua orang tuamu juga petarung seperti dirimu. Mereka menembak dan memukul siapa saja yang mereka anggap musuh. Mungkin bakat mereka mengalir pada dirimu dan Zetta.”


“Kedua orang tuaku pasti memiliki banyak musuh,” jawab Zeroun dengan pelan.


“Mereka bertarung hanya untuk melindungi keluarga kecil yang mereka miliki.


Melindungimu dan Zetta. Ibumu wanita yang sangat cantik dan tangguh. Bahkan ia jauh lebih hebat dari Ayahmu,” sambung Dokter itu lagi.


Zeroun terdiam untuk beberapa detik. Cerita Dokter itu mengingatkannya kepada hubungan Daniel dan Serena. Zeroun tertawa kecil sebelum mengeluarkan kata, “Aku bisa melihatnya saat ini, bagaimana rumah tangga kedua orang tuaku dulu.”


Dokter itu tertawa juga saat mendengar perkataan Zeroun, “Kau sudah bertemu dengan Zetta saat ini. Jaga dia dengan baik. Aku yakin, kedua orang tuamu juga bisa tenang di sana.”


Dokter itu berdiri menepuk pundak Zeroun, “Aku akan tinggal di kota ini untuk beberapa hari sampai lukamu itu benar-benar sembuh.”


“Terima kasih, Dok.” Lukas menunduk hormat, memberi jalan kepada Dokter itu.


Dokter itu menatap wajah Lukas dengan senyuman manis, “Kau selalu ada di sampingnya sejak dulu, jaga dia dengan baik.”


“Saya akan selalu menjaga Bos Zeroun, Dokter.”


“Jangan biarkan dia bertarung sampai lukanya benar-benar sembuh,” Dokter itu berjalan menuju ke arah pintu. Lukas mengikutinya dari belakang untuk mengantar hingga ke depan pintu kamar.


“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih Dok.” Lukas membungkuk lagi di hadapan Dokter itu.


Dokter itu menahan langkah kakinya sebelum pergi, “Lukas, dimana wanita itu? bukankah dia sudah kembali?”


“Nona Erena yang anda maksud, Dok?” Hanya Erena wanita yang pernah berjumpa langsung dengan Dokter itu.


“Iya, Erena … wanita itu. Dimana dia?”


“Nona Erena sekarang ada di rumah sakit, kondisinya juga masih lemah, Dok.”


Dokter itu tertawa saat mendengar ucapan Lukas, “Aku tahu sekarang, kenapa Zeroun tidak menghiraukan perkataanku. Dia pasti bertarung demi wanita itu bukan?”


Dokter itu tidak menunggu jawaban dari Lukas lagi, ia berjalan santai menuju ke arah tangga. Meninggalkan Lukas yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar Zeroun.


“Ya, Kau benar Pak Tua. Bos Zeroun selalu mengabaikan kesehatannya jika itu menyangkut Nona Erena. Aku harap ini semua telah berakhir, pria bernama Daniel itu bisa menjaga istrinya dengan baik.” Lukas membuka pintu kamar untuk masuk melihat keadaan Zeroun.


Zeroun masih melamun memandang ke arah jendela, lamunannya pecah saat mendengar langkah Lukas masuk ke kamar.


“Apa Dokter itu sudah pergi?” Zeroun menatap wajah Lukas dengan tatapan serius.


“Sudah, Bos.” Lukas berdiri tegab di samping tempat tidur Zeroun.


“Apa kau sudah berhasil menemukan orang itu?” Zeroun kembali ingat dengan musuh yang ingin menenggelamkannya ke laut.


“Sudah, Bos. Apa anda ingin kita menyerangnya sekarang?”


“Pertahanan Kenzo sudah kembali kuat di kota ini, pria itu tidak akan berani menyerang kita di kota ini. Biarkan saja ia menghirup udara bebas beberapa bulan ini.” Zeroun tersenyum licik saat membayangkan rencana pembalasan dendam untuk musuh yang berhasil membuat kekacauan dalam hidupnya.


“Baik, Bos. Saya permisi dulu, sebaiknya anda kembali istirahat dan jangan terlalu banyak bergerak.” Lukas menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Zeroun di kamar.


Zeroun menatap punggung Lukas yang pergi menghilang dari kamarnya. Pria itu mengatur posisi tidurnya untuk beristirahat. Menatap langit-langit kamar dengan satu senyuman lega.


“Zetta … akhirnya Aku berhasil menemukanmu.” Zeroun memejamkan matanya dengan senyuman manis.