Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 39



Cafe Flower.


Sharin mengukir senyuman manis sambil menatap wajah tampan Biao. Tidak ada satu kalimatpun yang terucap dari bibir Sharin untuk didengarkan oleh Biao. Isi kepalanya terlalu sibuk menikmati wajah tampan yang tersaji di depan matanya. Sesekali Sharin memejamkan mata dengan wajah merona malu.


Biao mengeryitkan dahi saat melihat tingkah laku wanita yang kini ada di hadapannya. Tingkah Sharin malam itu benar-benar berbeda. Sharin seperti tidak lagi ingat dengan masalah yang telah terjadi di S.G. Group tadi pagi. Wajah polos yang menyedihkan tadi pagi sudah terganti dengan tatapan centil yang menggemaskan.


“Sharin,” ucap Biao dengan nada yang cukup tinggi. Ia berharap agar Sharin segera mendengar perkataannya dan menyimaknya baik-baik. Biao tidak mau mengulang kalimat yang sama dengan Sharin malam ini.


“Ada apa, Paman Tampan,” ledek Sharin masih dengan senyuman yang cukup indah.


“Sharin. Saya mau meluruskan kejadian yang tadi pagi. Kau memintaku untuk bertanggung jawab dengan satu ikatan pernikahan. Sharin, hal yang terjadi di antara kita bukan satu hal yang harus di pertanggung jawabkan hingga menikah.” Biao memasang wajah cukup serius. Bahkan saat pelayan yang bekerja di cafe itu menghidangkan makanan dan minuman, tetap tidak bisa mengalihkan tatapan Biao saat itu.


Sharin mengangguk pelan, “Ya, Paman tampan. Aku mengerti,” jawab Sharin dengan senyuman indahnya.


“Kau sudah mengerti? Lalu untuk apa mengatakan tentang pernikahan tadi pagi?” tanya Biao dengan dahi mengeryit. Pria itu benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran Sharin saat ini.


“Aku baru memikirkannya detik ini. Aku pikir pernikahan itu sesuatu yang tidak bisa diputuskan secara mendadak. Begini saja, bagaimana kalau di ganti dengan yang lainnya.” Sharin terlihat mengukir senyuman licik.


“Di ganti? Apa yang sekarang kau inginkan?” tanya Biao penuh tatapan menyelidik.


“Paman harus mengantarku berkeliling kota Sapporo kapanpun aku ingin. Hal itu berlangsung selama aku berada di kota ini. Bagaimana?” Wajah Sharin terlihat berseri. Tidak ada hal lain yang lebih menyenangkan selain jalan-jalan bersama dengan pria tampan seperti Biao.


“Hanya itu?” tanya Biao sekali lagi untuk kembali memastikan.


Sharin mengangguk setuju tanpa mau menjawab.


“Itu hal yang cukup mudah. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi pagi?” ucap Biao dengan santai, “Ada lagi?” Wajah Biao terlihat menantang malam itu.


“Tidak ada, itu sudah cukup membuatku bahagia.” Sharin lagi-lagi menatap wajah Biao tanpa berkedip. Tatapan matanya yang indah cukup membuat Biao salah tingkah malam itu.


“Ayo kita makan,” ucap Biao untuk menghilangkan rasa gugupnya malam itu. Setidaknya ia terbebas dari kata pernikahan yang sempat di minta oleh Sharin.


Gadis ini. Kenapa aku merasa ada yang beda dari wanita yang lain ya. Padahal jelas-jelas ia sudah mengerjaiku tadi pagi. Tapi, kenapa aku tidak bisa memarahinya atau menyalahkannya saat ini. Dengan sadar, aku menyetujui permintaan anehnya itu.


Biao mengunyah makanannya sambil menatap wajah Sharin lagi.


Paman tampan, aku sangat bahagia karena akhirnya kau bisa menemaniku jalan-jalan. Teman-temanku pasti akan sangat iri jika melihat hal ini.


Satu hal yang memenuhi pikiran Sharin hanya kata pamer. Ia tidak pernah terpikirkan dengan kaca cinta atau pernikahan seperti karakter yang terlihat. Sharin masih ingin menikmati usianya yang masih muda. Ia tidak ingin menjalani ikatan apapun saat ini. Baginya, jalan-jalan dengan pria setampan Biao sudah cukup membuatnya bahagia. Tidak perlu ada kata pacaran atau apapun itu.


***


Tama berbaring di atas tempat tidur dengan sejuta khayalan indah tentang masa depan dirinya dan Anna. Sejak kecil, Tama dan Anna pernah mengukir janji kalau ketika mereka dewasa nanti, mereka akan menikah dan membentuk keluarga kecil yang sangat bahagia. Tidak di sangka, setelah Tama beranjak dewasa. Ia tidak lagi ingat dengan janji itu.


Namun, beberapa hari ini. Saat Tama tahu kalau Anna adalah wanita yang sama dengan Nana. Entah kenapa hatinya kembali dipenuhi harapan. Kalau semua impian yang terjadi waktu mereka masih kecil, segera menjadi nyata. Tama memang sudah merasakan sesuatu yang aneh saat pertama kali bertemu dengan Anna.


Namun, tujuan utamanya saat itu adalah untuk menjodohkan sahabatnya dengan Anna. Tama tidak ingin merebut wanita yang jelas-jelas telah ia jodohkan dengan Biao. Tidak di sangka, kalau ternyata Biao tidak menyukai Anna. Tapi, sorot mata Anna. Wanita itu terlihat sudah jatuh cinta dengan Biao.


Tama mengeryitkan dahi sambil membayangkan kembali wajah Anna yang terlihat sedih saat Biao memergokinya di cafe.


“Bagaimana kalau Anna sudah melupakanku? Bagaimana kalau dia masih berharap besar dengan cinta Biao?” ucap Tama sambil menatap langit-langit kamar.


“Tidak bisa. Biao jelas-jelas tidak suka sama Anna. Kalau seperti ini keadaannya. Aku harus bisa membuat Anna jatuh cinta padaku. Anna harus melupakan nama Biao. Wanita itu hanya boleh mengingat namaku di dalam hidupnya,” ucap Tama dengan senyum mengembang.


Ponsel Tama berdering. Lelaki itu terlihat bingung dengan nomor yang kini menghubunginya. Dengan wajah penuh tanya, Tama melekatkan ponselnya di telinga kanan.


“Tama, ini aku Anna.” Kalimat singkat yang terucap dari bibir wanita disebrang telepon membuat Tama mematung beberapa detik. Pria itu beranjak dari tidurnya. Ia duduk sambil mengukir senyuman tidak percaya.


“Anna, ini benar kau?” tanya Tama kembali memastikan.


“Ya, ini aku. Anna, lebih tepatnya Nana.”


“Nana, kau masih mengingatku?” tanya Tama penuh ragu-ragu.


“Biao sudah menceritakan semuanya. Aku sudah tahu, kalau kau pria yang selama ini aku cari, Tama,” ucap Anna dengan suara terputus-putus.


“Anna, maafkan aku. Aku tidak pernah mencarimu selama ini. Apa kau marah padaku?” Wajah Tama berubah serius.


“Aku tidak tahu harus berbuat apa, Tama. Aku sangat kecewa padamu. Aku menunggumu mengatakan namamu di temapt yang telah kita sepakati. Tapi, kau tidak kunjung datang ke tempat itu,” ucap Anna dengan nada yang dipenuhi kekecewaan. Antara benci dan cinta. Itulah yang di rasakan Anna saat ini. Ia cukup kecewa dengan sikap Tama yang tidak pernah berjuang untuk mencarinya. Bahkan tidak meninggalkan petunjuk sedikitpun untuk menemuinya.


“Anna, aku bisa menjelaskannya. Aku pikir waktu itu kau tidak akan peduli dengan namaku lagi. Kau tiba-tiba pindah rumah dan aku pikir kau tidak akan kembai. Aku hanya seorang pria jelek dengan tubuh besar. Wanita secantik dirimu tidak akan mungkin mau berteman denganku.” Tama berusah memperjelas keadaan yang saat itu ia alami. Pria itu memiliki harapan besar, kalau Anna akan percaya pada dirinya.


“Kau selalu seperti itu hingga sekarang. Tama, aku tidak ingin kau mengangguku lagi. Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi. Atau aku akan semakin membencimu.” Panggilan terputus secara sepihak.


Tama mematung mendengar vonis yang baru saja di katakan oleh Anna. Bahkan ia tidak diberi kesempatan sekali saja untuk memperbaiki kesalahannya. Dengan wajah kecewa, Tama meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Pria itu menjatuhkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur dengan wajah penuh kesedihan. Tama tidak tahu, siapa yang benar siapa yag salah saat dulu.


“Sepertinya kami berdua sama-sama salah paham selama ini. Maafkan Aku, Anna. Tapi aku akan tetap memperjuangkan hatimu hingga kau bisa menjadi milikku.”


Tama memejamkan mata untuk melupakan kesedihannya. Walau hatinya terasa sangat sakit, tapi ada sedikit rasa bahagia karena Anna telah tahu siapa dirinya.