Mafia's In Love

Mafia's In Love
Khawatir Serena



Matahari kembali muncul. Pagi ini tidak seperti pagi sebelumnya. Daniel dan Serena lebih banyak diam.


Tidak terlalu banyak canda tawa. Daniel terus saja memikirkan strategi selanjutnya. Untuk melindungi orang-orang tercinta, dari bahaya.


Serena juga banyak diam. Ia sangat mengerti, apa yang dipikirkan Daniel saat ini. Semua masalah ini, telah menjadi beban dalam hidup Daniel.


“Sayang, aku berangkat dulu.” Daniel baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Memberi Serena morning kiss, sebelum berangkat ke kantor, “Tetap di sini, habiskan sarapannya.” Melihat nasi goreng Serena yang belum habis. Daniel melarang Serena, untuk mengantarnya ke depan.


“Hati-hati Sayang.” Serena mengecup pipi Daniel. Daniel hanya tersenyum bahagia, mendapat perhatian hangat Serena.


Daniel terus berjalan ke pintu utama. Diikuti Biao dan Tama dari belakang. Serena hanya memandang kepergian Daniel. Hingga Daniel masuk ke dalam mobil.


Serena kembali duduk di meja makan. Menatap sedih ke arah sekeliling. Terlihat sunyi dari biasanya. Sudah tidak ada pengawal berjaga yang berlalu lalang. Biao belum menemukan pengganti pengawal yang tewas semalam.


Serena menyadari ketidakhadiran Diva beberapa hari ini. Saat melihat wajah Pak Han, ia segera memanggilnya.


“Selamat pagi nona, apa ada yang bisa saya bantu?” Pak Han membungkuk hormat di hadapan Serena.


“Dimana Diva? Apa Angel masih sakit. Aku sudah lama tidak melihatnya.”


“Diva ijin beberapa hari ini nona. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan.”


“Begitu ya. Pak Han, bisa antar saya bertemu dengan Diva?” Serena sangat ingin mengunjungi Diva dan Angel saat ini.


“Maaf nona. Tapi saya tidak bisa membawa anda pergi. Jika tidak mendapat ijin, dari tuan Daniel.” Pak Han menolak permintaan Serena, dengan penuh kelembutan. Meskipun sebenarnya, ia tidak ingin mengecewakan sang majikan.


Serena tertunduk kecewa. Ia tidak ingin, menambah beban dalam hidup Daniel.


“Baiklah Pak Han, nanti malam saya akan meminta ijin pada Daniel.” Serena tersenyum manis, sebelum pergi meninggalkan Pak Han di sana.


Pak Han menatap punggung Serena, sambil menggelengkan kepala.


“Anda selalu memikirkan orang lain nona. Padahal anda sendiri dalam bahaya.”


Pak Han kembali melanjutkan, pekerjaannya yang tertunda.


Di dalam mobil, Daniel terus memperhatikan layar laptop dengan serius. Meskipun hanya 1 hari ia tidak masuk, tapi pekerjaan sudah banyak yang tertunda.


Tama dan Biao yang ada di depan, sesekali melirik Daniel dari spion. Biao menggeleng pelan, saat mengingat masalah yang kini di hadapi Daniel.


"Tuan, nanti sore pengawal baru akan tiba. Mereka merupakan orang-orang terpilih." Biao memecah keheningan di mobil, pagi itu.


"Ya, aku ingin segera jaga rumah utama." Masih tetap memandang layar laptop.


Tama menambah kecepatan mobilnya. Hatinya sedikit lega, saat pengawal-pengawal baru akan segera berjaga di rumah utama.


Beberapa saat kemudian, Daniel sudah tiba di S.G.Group. Daniel turun dari mobil dengan cepat. Melangkah masuk ke dalam, diikuti Tama dan Biao di belakang.


Setibanya di dalam ruangan, Daniel kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kursi hitam miliknya. Daniel belum mau membuka laptop. Ia menatap serius ke arah Biao dan tama, yang kini berdiri di hadapannya.


"Mana info yang ku minta." Daniel menatap dingin keduanya.


Biao mengeluarkan beberapa berkas dan meletakkannya di atas meja kerja Daniel.


"Ini beberapa data yang kami dapat tuan."


Daniel mengambil berkas-berkas itu, dan membukanya perlahan. Mengambil beberapa lembar kertas dan foto. Memperhatikannya dengan seksama.


"Wubin. Dia pria yang misterius bukan. Pembunuh bayaran berdarah dingin. Tidak terlacak, sangat sulit di temukan." Daniel meletakkan berkas-berkas itu kembali, "Apa kalian sudah mengirim orang untuk memantau pergerakannya?"


"Sudah tuan beberapa pengawal selalu memantau perkembangan Wubin. Sejak tiba di kota ini, Wubin belum pernah keluar dari rumah itu. Hanya beberapa pengawalnya yang terlihat keluar masuk." Biao terus menjelaskan info yang ia peroleh.


"Aku yakin, dia merencanakan sesuatu. Bagaimana dengan Sonia. Apa ada hal yang mencurigakan?" Daniel menatap ke arah Tama.


"Sejauh ini, tidak ada gerak-gerik mencurigakan dari Sonia tuan. Dia mengatur perjalanan ke luar kota, untuk urusan bisnis." Sambung Tama.


"Kami permisi tuan." Biao dan Tama membungkuk hormat, sebelum pergi meninggalkan ruangan Daniel. Detak jantung keduanya masih belum terasa tenang. Sampai masalah ini selesai.


***


Di dalam kamar, Serena duduk sambil melamun. Sudah lama ia tidak bercerita dengan Diva. Hanya Diva sahabat yang ia miliki saat ini.


Serena memandang layar handphone, saat mendengar getarannya di atas meja.


“Diva. Dia sangat tahu, kalau aku sedang memikirkan dirinya.”


Serena melekatkan handphone itu di telinganya. Ia tertegun kaget, saat suara yang ia dengar bukan suara Diva. Serena terus mendengar kata-kata yang keluar.


Hingga handphone itu terlepas dari genggamannya. Serena bernapas dengan terengah-engah.


“Angel, Diva. Apa yang terjadi dengan kalian.”


Serena memasukkan handphone itu ke dalam tas, dan melangkah cepat keluar kamar. Serena mengambil kunci mobil yang tersedia di atas lemari.


Beberapa pengawal menunduk hormat saat melihat Serena tiba di pintu utama.


“Selamat pagi nona, anda mau kemana. Biar supir yang mengantar, jika anda ingin pergi.”


Serena kembali memandang kunci mobil itu. Ia tidak pernah mengemudikan mobil. Ia tidak tahu, kenapa ia mengambil kunci mobil itu dan ingin mengemudikannya.


“Supir?” Serena memberikan kunci mobil itu pada pengawal, “Antar saya ke rumah Diva.” Serena memerintah pengawal itu dengan nada tinggi.


“Baik nona. Beberapa pengawal akan mendampingi anda.”


Serena hanya mengangguk pelan, dan masuk ke dalam mobil. Beberapa pengawal juga masuk ke dalam mobil, dan mengiringi mobil Serena. Serena benar-benar panik memikirkan Diva.


“Semoga kau baik-baik saja, Diva."


Beberapa pengawal tetap fokus mengiringi mobil Serena. Keselamatan Serena adalah pekerjaan utama mereka saat ini.


Beberapa saat kemudian, Serena tiba di rumah Diva. Rumah sederhana yang tertata rapi. Bunga-bunga tersusun berjajar di depan teras. Pepohonan yang rindang melindungi pekarangan rumah Diva.


Serena turun dari mobil dengan segera, berlari dan mengetuk pintu itu dengan durasi cepat.


Berkali-kali ia mengetuk pintu itu. Namun tidak ada jawaban sedikitpun. Suasana rumah itu terasa sangat sepi dan tidak berpenghuni.


Serena memgambil handphone yang tersimpan di dalam tasnya. Menghubungi kembali nomor Diva, namun tidak ada jawaban.


Beberapa pengawal sudah berdiri waspada untuk menjaga Serena. Raut wajah Serena sudah benar-benar khawatir.


Hingga satu klakson mobil mengalihkan pandangan Serena. Ia tertegun kaget saat melihat sosok yang keluar dari mobil.


Serena memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas. Kakinya semangkin tidak bertenaga. Saat sosok itu semangkin mendekati tubuhnya.


.


.


Ok Readers... apa yang ada di pikiran kalian?🤣


Satu lagi readers, saya nulis bukan di gaji. Saya nulis hanya untuk kesenangan saya, bisa menyampaikan apa yang saya pikirkan. Dan membuat orang lain merasakan apa yang saya khayalkan. Jadi, selalu hargai karya orang lain ya. Buat Readers saya yang setia, saya ucapkan terima kasih...😘😘😘


Like, komen dan Vote.


Author sayang kalian..


😘😘😘