Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 54



Beberapa menit kemudian.


Biao dan Tama menggabungkan beberapa info yang baru saja mereka dapatkan. Daniel dan yang lainnya, kembali fokus pada laptop yang kini ada di hadapan Tama.


“Tuan. Beberapa pria membawa Nona Serena pergi meninggalkan kota dengan pesawat pribadi.” Tama masih membuka beberapa file yang masih loading.


“Mereka berangkat dari bandara Osaka menuju ke Thailand,” sambung Tama lagi.


“Thailand?” ucap semua orang bersamaan.


Shabira menarik napas panjang sebelum bersandar di sofa. Ia tahu, siapa yang saat ini membawa Serena.


“Sayang, kau mengetahui sesuatu?” Kenzo dan yang lainnya menatap wajah Shabira dengan penuh pertanyaan.


“Ini semua tidak ada hubungannya dengan White Tiger. Kita sudah membunuh lawan yang salah.” Shabira menatap ke arah laptop.


“Sayang, ceritakan. Apa yang kau ketahui?” Kenzo menggengam erat tangan Shabira.


“Aku yakin, ini ada hubungannya dengan perbuatan kami di masa lalu. Itu pasti adiknya James. Pria yang sudah berhasil kami bunuh waktu di kasino.”


“Kasino yang ada di Rusia?” Kenzo tahu tempat itu, karena di Kasino itu ia pertama kali bertemu dengan Shabira.


“Ya, kami melakukan penyelidikan hingga markas yang ia miliki di Thailand. Hanya dia yang memiliki hubungan yang kuat dengan kasus ini. Selain itu, James juga sangat cerdik dalam merakit bom.”


“Bukannya, Serena dan Zeroun sudah berhasil membunuh James?” Kenzo kembali mengingat kejadian waktu itu.


“Ya, tapi dia masih mempunyai adik. Adiknya bernama Laura, tidak ada seorangpun yang pernah melihat wajahnya. Wanita itu sama seperti Kak Erena. Aku tidak tahu, apa yang saat ini terjadi dengan Kak Erena.”


Hati Shabira sudah di selimuti ketakutan. Ia tahu, lawannya saat ini bukan orang biasa.


“Laura?” Kenzo menarik napas dalam. Ia juga tidak tahu, harus mulai dari mana menyusun rencana penyelamatan Serena saat ini.


“Dia mafia Rusia, Kenzo. Kita tidak akan menang melawannya dengan sisa pasukan kita yang hanya tinggal sedikit. Di tambah lagi, Thailand adalah wilayahnya. Kita akan sangat sulit masuk dan keluar dengan selamat dari kota itu,” ucap Shabira frustasi.


“Sayang, Aku akan memikirkan cara untuk menyelamatkan Serena. Tenanglah ….” Kenzo menggenggam tangan Shabira.


Kenzo memandang wajah Daniel.


“Apa kau siap dengan pertarungan selanjutnya, Daniel?”


“Aku tidak lagi memikirkan nyawaku saat ini. Aku akan berangkat ke Thailand dan mencari keberadaannya di sana, apapun resikonya.” Daniel memasang wajah serius.


“Kita masih punya satu harapan.” Shabira memandang wajah Daniel dengan raut wajah takut.


“Zeroun Zein harus menghidupkan Gold Dragon lagi. Kita bisa masuk ke kota itu dengan bantuan Gold Dragon. Pasukan Gold Dragon, berasal dari Thailand. Meskipun sudah lama di buang, aku yakin mereka masih memiliki rasa hormat terhadap Zeroun Zein.” Shabira mengungkapkan isi hatinya.


“Daniel, Kami tidak akan menemui Zeroun Zein jika kau tidak menyetujui semua ini. Serena adalah istrimu. Kami tahu, bagaimana hubungan kalian bertiga. Semua keputusan ada di tanganmu saat ini,” ucap Kenzo dengan jelas. Ia juga tidak memiliki keberanian, untuk mengambil keputusan saat ini.


“Lakukan rencana apapun, yang menurut kalian bisa menyelamatkan nyawa Serena. Aku tidak akan melarang kalian saat ini.”


Daniel pasrah. Saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah nyawa Serena. Ia tidak ingin mengungkit masa lalu Serena dan Zeroun Zein lagi.


Sayang, Aku tahu. Hanya pria itu yang selalu menyelamatkan dirimu. Maafkan aku karena menjadi suami yang tidak pernah bisa untuk melindungimu. Aku tidak cukup tangguh dan kuat untuk menjahuimu dari para musuh yang ingin mencelakai hidupmu.


“Tapi Aku yakin, Laura hanya menyamar sebagai Diva. Dia tidak akan mungkin turun dengan wajah aslinya.” Sambung Shabira lagi.


“Maksudmu topeng?” Kenzo mengerutkan dahinya.


“Ya, Aku dan Kak Erena juga sering menggunakannya waktu dulu,” jawab Shabira santai.


“Berarti Diva yang asli adalah wanita yang baik. Aku tidak tahu, bagaimana nasibnya saat ini.” Adit angkat bicara, sejak awal ia sudah menyimpan ketertarikan kepada Diva.


“Aku akan pergi menemui Zeroun. Aku yakin, dia mau meminjamkan pasukan yang ia miliki untuk membantu kita.” Kenzo beranjak dari duduknya.


“Tentu sayang.” Kenzo mengecup pucuk kepala Shabira, sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


“Tama, selama masalah ini belum selesai. Pastikan S.G. Group dalam keadaan aman.” Daniel memandang wajah Tama dengan serius.


“Baik, Tuan. Saya akan mengurus semua masalah yang ada.” Tama menutup layar laptop.


Biao hanya bisa diam, tanpa mengeluarkan kata lagi. Saat ini, lawan yang ia hadapi bukan sembarang orang yang hanya menggunakan senjata api.


“Shabira, apa yang kalian lakukan di masa lalu adalah satu kesalahan. Meskipun saat ini kalian sudah berubah dan tidak ada di jalan itu lagi, tapi beberapa dendam yang belum terselesaikan akan terus mengincar hidup kalian. Jangan bersedih, kami akan selalu melindungi kalian. Meskipun Aku dan Kenzo harus mengorbankan satu-satunya nyawa yang kami miliki.”


Daniel memandang wajah Shabira yang sejak tadi berubah sedih.


“Terima kasih, Tuan. Anda pria yang baik, Kak Erena tidak salah memilih Anda sebagai teman hidupnya.” Shabira membalas senyuman Daniel.


“Apa kau dan Serena saling kenal?” tanya Adit pada Shabira.


“Ya, kami sudah seperti sepasang Kakak Adik yang saling melengkapi.”


Mata Shabira berkaca-kaca saat mengingat kebersamaannya dengan Serena dulu.


“Ya, kalian memiliki banyak kemiripan. Aku harus kembali ke ruang kerjaku. Kau sudah bisa pulang hari ini, Shabira.”


Adit beranjak dari duduknya, memandang wajah Daniel yang masih terlihat murung.


“Daniel, Aku selalu berdoa. Agar semua masalah ini cepat terselesaikan. Kau harus kuat, dan tetap jaga kesehatanmu.” Adit berjalan ke arah pintu.


Daniel hanya diam menatap kepergian Adit. Isi kepalanya masih di penuhi rasa khawatir terhadap keadaan Serena saat ini.


“Tuan, saya harus kembali ke S.G.Group.” Tama beranjak dari duduknya.


“Ya. Hati-hati.” Daniel memandang wajah Tama.


“Tuan, anda harus menjaga kesehatan anda. Saya akan menyuruh Pak Sam mengirim makanan ke sini.” Tama berusaha untuk membujuk Daniel agar mau makan.


“Aku tidak tahu, apakah di sana Serena makan atau tidak. Aku akan makan setelah bertemu dengan Serena.” Daniel masih teguh pada pendiriannya.


“Baiklah,Tuan. Saya permisi dulu.” Tama tidak berhasil membujuk Daniel, ia pergi meninggalkan ruangan itu.


Shabira dan Biao saling menatap satu sama lain. Sebelum mengalihkan pandangannya, menatap wajah Daniel yang terlihat pucat.


“Maafkan saya terlalu ikut campur, Tuan. Tapi apa yang baru saja dikatakan Tama adalah benar. Anda harus menjaga kesehatan Anda. Kak Erena juga akan sedih, kalau anda sakit. Untuk melawan mereka, kita butuh banyak tenaga.”


Shabira juga berusaha merayu Daniel agar mau makan. Ia tidak tega, saat melihat wajah Daniel yang lesu dan pucat.


“Biao, Ayo kita keluar untuk mencari makan.” Daniel beranjak dari duduknya.


Biao juga beranjak dari duduknya, “Baik, Tuan.” Biao menatap wajah Shabira.


Hari ini wanita ini sedikit berguna. Dia juga tidak menyebalkan seperti waktu itu.


Biao mengikuti langkah Daniel dari belakang, meninggalkan Shabira sendirian di dalam ruang rawat itu.


.


.


.


Terima kasih buat Readers yg selalu setia.😊