
Hari sudah berubah gelap, malam kembali muncul mengikuti rotasi waktu. Serena dan Daniel sudah bersiap untuk keluar kamar. Melakukan ritual makan malam yang wajib diikuti saat tuan Edritz dan Ny. Edritz ada di rumah utama. Mengenakan dres berwarna maron dan rambut yang tergerai bebas, Serena terlihat anggun malam hari ini.
Daniel hanya mengenakan kaos santai dan celana panjang. Namun, tetap menonjolkan sisi maskulin yang selalu melekat pada dirinya. Daniel dan Serena melangkah pelan, menuju ke arah meja makan. Dari lantai atas, terlihat Biao dan Tama yang baru saja tiba. Keduanya kembali tersenyum bahagia, saat melihat keharmonisan Daniel dan Serena. Satu pemandangan langkah, yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
“Tuan dan nona muda memang pasangan yang serasi bukan?” bisik Tama pelan.
“Kali ini aku setuju dengan pendapatmu,” ucap Biao.
“Apa yang akan terjadi, kalau nona Serena kembali mengingat semuanya?” tanya Tama sedih.
“Semua akan tetap seperti ini, tidak akan pernah ada yang berubah,” jawab Biao penuh dengan keyakinan.
“Sepertinya kita harus punya strategi baru, Biao,” sambung Tama lagi.
“Strategi?” Biao bingung.
“Selama ini kita selalu mengalahkan pengusaha. Mulai besok kita akan mengalahkan mafia bukan?”
“Kau benar, kita harus punya strategi baru untuk mengalahkan komplotan mafia. Terutama musuh nona Serena, yang saat ini masih berkeliaran.” Memandang ke arah Serena dan Daniel yang semangkin mendekat.
Biao dan Tama menundukkan kepalanya, untuk memberi hormat kepada Daniel dan Serena.
“Selamat malam tuan, nona,” ucap Biao dan Tama bersamaan.
Serena hanya tersenyum membalas sapaan Tama dan Biao. Matanya memberi kode kepada Tama, atas telepon terputus tadi siang.
“Apa semua berjalan lancar?” tanya Daniel yang kini sudah berdiri tegab di hadapan keduanya.
“Semua baik-baik saja tuan,” jawab Biao cepat.
“Baiklah, kalian bisa istirahat sekarang.”
“Permisi tuan,” jawab Biao dan Tama bersamaan, dan melangkah pergi menuju kamar.
Serena masih terus memperhatikan punggung Biao dan Tama yang sudah menjauh. Serena kembali memikirkan cara, untuk menemui Tama dan membicarakan masalah Sonia. Daniel mengerutkan keningnya, saat tatapan Serena beralih dari dirinya.
“Serena,” bisiknya lembut di telinga Serena, “Apa kau lebih tertarik dengan mereka? Dari pada aku, yang kini ada di sampingmu?” sambung Daniel dengan nada yang semangkin pelan.
Mata Serena sempat terpejam, saat menerima hembusan hangat dari bisikan Daniel. Serena membalikkan tubuhnya, hingga menghadap ke arah Daniel. Serena mulai berani untuk mengalungkan tangannya di leher jenjang milik Daniel. Senyumnya kembali ia ukir sebelum mengeluarkan satu jawaban.
“Apa kau tidak menyukainya?” tanya Serena menggoda.
Daniel melingkarkan kedua tangannya, di pinggang ramping milik Serena. Matanya menatap intens ke arah wajah Serena. Tidak lagi memperdulikan kondisi saat ini. Beberapa pengawal yang berdiri tegab, hanya bisa tertunduk malu.
Daniel kembali mencium bibir Serena. Ciuman yang penuh dengan kerinduan. Hatinya benar-benar sudah terbakar api asmara. Terhadap wanita hebat yang kini ada di hadapannya. Wanita pertama yang menjadi kekasih sekaligus istrinya.
Daniel menghentikan ciumannya, untuk memberi waktu bagi Serena bernafas. Tatapan matanya masih ia fokuskan pada wajah Serena, yang terlihat memerah.
“Aku akan menghukummu, jika kau melakukan hal itu lagi,” jawab Daniel yang mulai melekatkan hidunganya di hidung Serena yang mancung, “Itu peraturan baru yang ku buat.”
Serena tertawa bahagia. Kali ini ancaman Daniel bukan lagi hal yang menakutkan bagi dirinya.
“Aku sangat takut, tuan Daniel,” ledek Serena sambil menahan tawa.
Daniel hanya tersenyum bahagia melihat keceriaan Serena saat ini. Satu kebahagiaan yang tidak pernah bisa ia rasakan. Menikmati satu pernikahan yang pernah ia tolak mentah-mentah.
“Tuan dan Nyonya sudah menunggu di meja makan, tuan.” Pak Han setengah membungkukan tubuhnya dengan formal kepada Daniel.
“Saya akan segera ke sana,” jawab Daniel cepat.
“Permisi tuan.” Menunduk hormat dan berlalu pergi.
“Ayo kita makan,” rengek Serena sambil memegang perutnya.
“Kau memang tidak bisa menahan lapar.” Menggandeng pinggang Serena dan membawanya berjalan, “Kau harus menghabiskan semua makanan yang tersedia.”
“Apa boleh?” tanya Serena bahagia.
“Tentu saja. Jika tidak habis, aku akan menghukummu,” bisik Daniel.
Serena kembali tertawa lepas, melanjutkan langkahnya ke meja makan. Tangan Daniel, kembali merangkul pinggang Serena. Keduanya berjalan dengan penuh suka cita dan tawa bahagia.
Meja makan dengan ukuran besar, dan terdiri dari 12 kursi yang kokoh. Tuan dan Ny. Edritz sudah duduk di kursi masing-masing. Tuan Edrizt duduk di kursi utama sebagai kepala rumah tangga. Ny. Edritz duduk di kursi yang terletak di sebelah kanan tuan Edritz. Beberapa pelayan berbaju putih biru, sudah sibuk menata aneka makanan yang di masak pak Sam.
Ayam bakar, ikan hingga aneka sayuran juga tersaji di meja itu. Satu piring besar berisi buah-buahan juga tersedia di sana. Satu pelayan wanita, menyajikan satu sup special kesukaan Ny. Edritz. Sup udang yang sangat menggugah selera. Pelayan itu mengisi mangkuk-mangkuk kecil yang kosong, dengan satu sendokan sup.
Dari kejauhan, terdengar tawa Daniel dan Serena. Tawa keduanya megalihkan pandangan semua orang yang kini berada di meja makan. Pak Han dan Pak Sam yang berdiri di sana, juga terlihat bahagia menyaksikan pemandangan indah itu. Sudah lama, isi rumah utama tidak mendengar tawa bahagia Daniel.
“Pak Han, panggilkan Tama dan Biao. Saya mengundang mereka makan malam bersama di sini,” perintah tuan Edritz.
“Baik tuan,” jawab pak Han dan berlalu pergi menuju kamar Tama dan Biao.
Ny. Edritz tersenyum bahagia menyambut kedatangan Daniel dan Serena. Tubuhnya yang tadi sakit, kini sudah kembali sehat. Bersatunya Daniel dan Serena, merupakan satu obat yang paling ampuh untuk sakit Ny. Edritz.
Dua orang pelayan menarik kursi untuk mempersilahkan Daniel dan Serena duduk. Daniel melepaskan rangkulannya di pinggang Serena. Beralih dengan menggenggam kuat tangan Serena.
“Malam ma, pa,” ucap Daniel dengan senyum.
“Badan mama sudah enakan?” sambung Serena.
“Mama sudah jauh lebih baik. Mama bahagia melihat kalian seperti ini.” Memandang ke arah pak Sam, “Pak Sam juga duduk,” perintah Ny. Edritz.
“Tapi nyonya,” ucapan pak Sam terhenti.
“Malam ini saya ingin merayakan hari bahagia.” Memandang ke arah Daniel dan Serena, yang sedang di mabuk asmara.
“Baik nyonya.” Melangkah mendekat ke arah kursi yang terletak bersebrangan dari Daniel.
Biao dan Tama juga tiba di ruang makan itu. Keduanya terlihat segar, karena baru selesai mandi. Senyum Tama menyambut semua orang yang ada di dalam ruang makan.
“Selamat malam tuan.”
“Tama, Biao. Duduklah, kita akan segera memulai makan malam istimewa ini. Pak Han, duduklah di samping pak Sam,” ujar tuan Edritz.
Kini semuanya sudah berada di kursi masing-masing. Tuan Edritz memimpin doa, sebelum makan malam di mulai. Suasana kembali hening, sampai tuan Edritz menyelesaikan doanya.
Like, Komen Sebelum Lanjut.🤗