
Zeroun menutup kembali telepon itu. Ia menatap tajam wajah Sonia. Dia sedikit tertarik, saat mendengar nama S.G.Group di sebutkan oleh Sonia.
“S.G. Group? milik Daniel Edritz Chen? Dia mantan Bos anda, Nona. Kenapa anda ingin menghancurkannya?” Zeroun tersenyum tipis.
“Saya harus membuat Daniel menderita. Ini semua kesalahan dia. Andai saja sejak awal, dia tidak menikah dengan wanita jal***g itu! Aku tidak akan mengalami penderitaan seperti ini.”
Zeroun mengepal kuat tangannya, saat wanita yang paling ia cintai di sebut sebagai wanita Ja***g oleh Sonia. Tatapan matanya berubah dingin, ia beranjak dari duduknya. Berjalan cepat ke arah Sonia. Mencekik leher Sonia dengan tatapan menyeramkan.
“Beraninya kau menyebut kata-kata itu pada wanitaku!”
Sonia memegang tangan Zeroun, “Tu … tuan. Apa yang anda lakukan,” ucap Sonia terbata-bata.
Zeroun kembali menyadari perbuatannya, ia melepas tangannya dari leher Sonia. Memutar tubuhnya membelakangi wajah Sonia. Mengatur emosi yang kini menguasai pikirannya.
“Pergi dari sini! Aku akan membunuhmu, jika kau tidak pergi dari sini secepatnya,” ancam Zeroun.
Sonia melangkah mundur, ia berlari kencang meninggalkan ruangan itu. Hatinya di penuhi rasa takut, saat mendapat perlakuan buruk dari Zeroun.
Di depan ruangan, Sonia bernapas terengah-engah. Jantungnya berdebar dengan cepat. Sonia berusaha untuk menarik napas dan menghilangkan rasa takutnya saat ini.
“Apa maksudnya. Kenapa ia marah sampai seperti itu. Wanitaku? apa hubungan Zeroun Zein dengan Serena? aku harus menyelidikinya.” Sonia memegang lehernya yang masih terasa sakit. Ia pergi cepat meninggalkan Z.E. Group.
Di dalam ruangan, Zeroun melangkah ke jendela. Ia menatap tajam ke arah gedung-gedung tinggi yang ada di hadapannya.
“Wanita itu tidak mengetahui hubunganku dengan Erena. Ia pasti akan mencari tahu semuanya.”
Zeroun berjalan ke arah meja kerja. Mengambil handphone yang terletak di atasnya. Memilih satu nama dan melekatkan handphone itu di telinga.
“Aku mau semua informasi tentang Sonia Ananta!” Zeroun memutuskan panggilan teleponnya.
Ia meletakkan handphone itu kembali ke atas meja. Zeroun tidak ingin Serena dalam bahaya. Ia akan melindungi Serena, selama ia masih hidup di dunia ini.
***
Hari sudah berganti gelap.
Daniel dan Serena baru saja menyelesaikan makan malamnya. Serena memperhatikan keadaan sekitar. Ia tidak menemukan Tama dan Biao serta Pak Han. Wajahnya sedikit kecewa ketika tidak berhasil mendapatkan ijin untuk Diva.
“Apa yang terjadi?” Daniel sangat tahu, perubahan wajah Serena malam itu.
Serena menggeleng pelan, “Aku sangat lelah ….”Serena memegang pundaknya dan memijatnya pelan.
“Istirahatlah sayang, aku harus menemui Tama dan Biao di ruang kerja. Ada beberapa hal penting, yang harus kami bahas malam ini.” Daniel mengusap lembut tangan Serena.
“Apa Tama dan Biao sudah pulang?” tanya Serena penuh semangat.
“Ya, kau mencari mereka berdua?” tanya Daniel dengan tatapan curiga.
Serena menyadari wajah curiga Daniel, ia tersenyum manis untuk menghilangkan rasa curiga itu, “Sayang … aku hanya bertanya. Bukan perhatian pada mereka.”
Daniel berdiri dari duduknya, “Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar.” Daniel mengulurkan tangannya, mengajak Serena kembali ke kamar.
Serena menyambut tangan Daniel, ia berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Daniel. Keduanya berjalan ke arah kamar. Daniel menghentikan langkahnya di depan pintu, menghadap ke arah Serena.
“Sayang, masuklah. Aku akan segera kembali.” Daniel menyelipkan rambut Serena ke belakang telinga.
Serena tidak menjawab perkataan Daniel. Ia masuk ke dalam kamar, saat Daniel sudah membukakan pintu kamar. Daniel menutup pintu dan beranjak pergi dari sana. Serena memutar tubuhnya, memandang ke arah pintu yang sudah tertutup.
“Aku harus bisa membujuk Biao. Tapi bagaimana caranya.”
Serena berjalan ke arah sofa. Mengambil remot TV dan mencari-cari siaran TV favorit miliknya. Serena duduk dengan santai. Ia menikmati acara TV malam ini. Sesekali Serena tertawa dan sesekali ia ikut menangis.
Serena kembali mengingat mobil kesayangan miliknya. Mobil yang hilang karena masuk ke dalam jurang. Serena menyandarkan kepalanya di sofa, menatap ke langit-langit kamar.
“Apa Daniel akan mengijinkanku menyetir lagi. Aku sangat ingin membawa mobil lagi.” Serena kembali memikirkan masa-masa bahagianya saat menyetir dan melajukan mobil dengan cepat.
“Aku yakin, Daniel mau membelikanku mobil seperti itu lagi.” Serena beranjak dari duduknya, melangkah keluar kamar. Ia ingin menemui Daniel, untuk minta dibelikan mobil baru.
***
Di Ruang Kerja.
Daniel duduk berhadapan dengan Tama dan Biao. Beberapa berkas sudah selesai ia tanda tangani. Masalah yang diceritakan oleh Tama juga sudah mendapatkan solusinya malam ini. Daniel melipat kedua tangannya di atas meja. Memandang tajam wajah Biao.
“Kenapa aku harus membohonginya?” tanya Daniel pada Biao.
Biao tertunduk sesaat, sebelum memberanikan diri untuk memandang wajah Daniel, “Maafkan saya, Tuan.”
“Apa yang sudah kau minta pada Tuan Daniel, Biao?” Tama menatap wajah Biao dengan penuh curiga.
“Biao mengirim pesan kepadaku, untuk memberi tahu pada Serena. Kalau kalian berdua tidak akan menikah sampai kami memiliki keturunan,” jawab Daniel santai.
“Kau.” Tama memukul pundak Biao.
“Maafkan aku Tama ….” ucap Biao pelan.
“Kau boleh saja berbohong, tapi jangan pernah membawa diriku. Aku pasti akan menikah,” protes Tama dengan wajah tidak suka.
Daniel hanya memperhatikan kedua bawahannya. Ia menarik napas dalam dan menyandarkan dirinya di kursi.
“Tama, tapi bukannya kau pernah bilang, kalau kau tidak akan menikah sebelum aku menikah.” Biao menatap wajah Tama, ia membela diri.
“Iya, kau benar. Tapi kenapa harus tunggu Nona Serena melahirkan seorang anak, baru boleh menikah, apa tidak ada kebohongan lainnya?”
“Aku tidak pernah memikirkan pernikahan. Selain Nona Serena, aku tidak pernah percaya dengan wanita manapun.” Wajah Biao berubah dingin. Ia memiliki trauma yang besar dengan sosok wanita. Hingga ia bersumpah, untuk tidak pernah mengenal sosok wanita.
Tama menarik napas dalam, “Apa yang dipikirkan oleh Nona Serena. Ia pasti menyalahkan Tuan Daniel.”
Tama dan Biao kembali menunduk. Mereka sudah menyadari kesalahan yang mereka perbuat.
“Maafkan kami, Tuan,” ucap Biao dan Tama bersamaan.
Tok … Tok …
Suara ketukan pintu mengalihkan ketiganya. Serena masuk ke dalam ruang kerja milik Daniel. Ketiganya kembali bersikap seperti biasanya. Mereka tidak ingin Serena menaruh curiga saat ini.
“Apa aku mengganggu?” Serena menatap wajah Daniel dari balik pintu.
“Tidak sayang, kemarilah.” Daniel melambaikan tangan, menyuruh Serena masuk.
Tama dan Biao kembali membuka berkas-berkas kerja yang tadi sempat terhenti.
Serena berjalan cepat ke arah Daniel. Ia memperhatikan beberapa berkas yang berserak di atas meja, “Apa masih sibuk?”
“Sedikit lagi, ada apa? Aku menyuruhmu untuk tidur lebih dulu.” Daniel memegang tangan Serena.
“Sayang …. boleh aku meminta sesuatu?”
“Apa ini tentang Diva?” tanya Daniel penasaran.
Serena melirik ke arah Tama dan Biao, sebelum menyampaikan isi hatinya, “Ya, tentang Diva juga. Tapi aku ingin meminta yang lainnya ….”
“Katakan.” Daniel tersenyum memandang wajah Serena.
“Boleh aku menyetir mobil? aku sangat ingin menyetir sendiri seperti dulu lagi.”
“Boleh, kau boleh memilih salah satu mobil yang ada di garasi. Kau boleh membawa mobil itu sendirian.”
“Aku tida ingin salah satu dari mobil itu. Mobil yang ada di garasi sangat lambat. Bahkan melomba tukang mie ayam juga tidak akan menang.” Serena memasang wajah memelas.
Tama dan Biao menatap wajah Serena, keduanya kembali tertunduk, saat Daniel menatap tajam keduanya, “Mobil seperti apa yang kau inginkan? mobil itu termasuk keluaran terbaru yang aku beli. Apa tidak ada yang menyentuh hatimu?” Daniel menarik tangan Serena, hingga dia duduk di atas pangkuan Daniel. Daniel memutar kursinya, hingga membelakangi Tama dan Biao.
“Aku ingin mobil yang cepat seperti dulu.” Serena memasang wajah memohon, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan malam ini.
“Kau ingin menjadi pembalap, sayang ….” Daniel mempererat pelukannya.
“Tidak … itu juga berguna, ketika aku menghindar dari musuh.”
Daniel menarik napas dalam, ia tahu kalau Serena akan terus memaksa dirinya untuk mendapatkan yang ia inginkan, “Baiklah, besok Tama akan mengantarkanmu, untuk membeli mobil.”
“Apa kau tidak bercanda?” Serena menatap wajah Daniel.
“Tentu saja tidak, panggil aku sayang ….” Daniel berbisik di telinga Serena.
“Terima kasih sayang ….”
“Cinta,” pinta Daniel lagi.
“Terima kasih Cinta ….”
“Darling ….”
“Sayang, jangan terlalu serakah.” Serena memasang wajah cemberut.
Daniel tersenyum manis, dan mencium Serena dari belakang. Tama dan Biao hanya bisa diam, melupakan apa yang saat ini mereka dengar.
Pak Han mengetuk pintu dengan durasi lambat, ia masuk ke dalam ruang kerja milik Daniel. Pak Han membawa tiga gelas teh untuk Daniel, Tama dan Biao. Serena beranjak dari duduknya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Serena tertarik pada jam pasir yang ada di meja kerja milik Daniel. Ia mengambil jam itu dan memperhatikan buliran pasir yang berjatuhan.
“Selamat malam, Tuan. Ini tehnya.” Pak Han melirik ke arah Serena.
“Maaf Nona, apa anda ingin saya buatkan minum juga?”
Serena tersenyum dan menggeleng pelan, “Tidak Pak Han, saya juga mau kembali ke kamar.”
“Apa kau menyukai jam pasir itu, sayang?” Daniel melihat jam pasir yang ada di tangan Serena.
“Apa ini boleh menjadi milikku sekarang?” tanya Serena sambil tersenyum.
“Boleh, ambilah. Dan kembalilah ke kamar untuk istirahat.”
“Terima kasih sayang ….” Serena memutar tubuhnya, ia melangkah ke arah pintu.
Pak Han membungkuk hormat, saat Serena berpapasan dengan dirinya. Pak Han memandang ke arah Daniel, “Tuan … Tuan muda Kenzo akan datang besok pagi ke rumah ini.”
Prakk…
Jam pasir itu terjatuh di lantai. Buliran pasir yang halus berserak di atas lantai. Serena berdiri dengan posisi mematung. Ia menatap pecahan kaca dari jam pasir yang ia genggam tadi.
Semua yang ada diruangan, mengalihkan pandangan pada Serena. Daniel beranjak dari duduknya, dan berlari cepat mendekati Serena.
“Sayang … apa yang terjadi? apa kau baik-baik saja?” Daniel memegang kedua tangan Serena yang terasa dingin.
“Aku baik-baik saja.” Ekspresi wajah Serena sudah berubah. Ia terlihat sangat ketakutan. Jantungnya berdebar cepat. Serena tidak lagi bisa mengatur napasnya yang kini terasa sesak.
Daniel memutar tubuhnya ke arah Tama dan Biao, “Selesaikan semuanya, besok pagi akan kuperiksa lagi. Malam ini sampai di sini.”
“Baik, Tuan,” ucap Tama dan Biao bersamaan.
Daniel merangkul pinggang Serena dan membawanya pergi meninggalkan ruangan kerja itu.
Like, Komen, dan Vote. Sebagai dukungan untuk Author.