
Plakk! Plakk!
Tamparan bertubi-tubi, baru saja di layangkan Biao, di wajah para pengawal yang ada di hadapannya. Dengan wajah memerah karena marah, Biao menggepal kuat kedua tangannya.
Kabar hilangnya Serena, yang baru saja ia terima beberapa detik yang lalu. Memancing api amarahnya untuk kembali membara.
“Bodoh!” teriak Biao kesal.
Daniel dan Tama hanya bisa diam, tanpa ingin membela. Keduanya kini, juga dipenuhi rasa khawatir terhadap keadaan Serena.
Tidak tahu harus mencari kemana. Handphone yang menjadi alat untuk melacak posisi Serena, kini tergeletak di atas meja kerja Daniel. Berdampingan dengan tas favorit yang selalu di pakai oleh Serena.
Daniel mengepal kuat kedua tangannya yang terletak di atas meja.
Daniel kembali mengingat beberapa musuh yang di miliki Serena. Beberapa musuh yang hingga detik ini, belum di ketahui di mana keberadaannya.
“Suruh mereka pergi dari hadapanku, Biao!” teriak Daniel dengan tatapan dingin, “Atau aku akan membunuh mereka, satu persatu!”
Biao memberi kode kepada semua pengawalnya untuk pergi. Tama dan Biao hanya bisa saling menatap, kali ini Serena menghilang tanpa jejak sedikitpun.
“Dimana Diva? Apa dia baik-baik saja?” tanya Daniel pelan.
“Diva dan Angel sudah aman, tuan. Diva sudah kembali ke rumahnya. Diva juga tidak mengenali, orang yang menyerangnya tadi. Diva bilang, mereka semua memiliki senjata api,” ucap Tama menjelaskan.
Daniel berdiri dari duduknya. Mendaratkan kasar kedua tangannya dan menggebrak meja itu dengan kuat.
“Dimana pengawal bodoh itu, waktu Serena di serang!”
Tama dan Biao kembali menunduk takut. Emosi Daniel saat ini, benar-benar di level tinggi.
“Aku tidak mau tahu. Apapun caranya. Temukan Serena, secepatnya!” perintah Daniel dengan raut wajah emosi.
“Baik tuan.” Tama dan Biao meninggalkan Daniel sendirian di sana. Keduanya mulai berpikir keras, untuk menemukan keberadaan Serena saat ini.
Daniel kembali duduk di kursinya. Hatinya benar-benar khawatir dengan keadaan Serena saat ini.
“Dimana kau berada saat ini, Serena. Apa kau baik-baik saja, sayang.”
***
Malam hari kembali hilang. Matahari kembali muncul. Pagi itu, Zeroun masuk ke kamar Serena. Pria itu masuk dengan tatapan mata dingin. Serena yang sudah bangun sejak tadi, duduk di atas tempat tidur dengan rasa takut.
Serena mengenakan kemeja berwarna putih, yang ia temukan di dalam lemari. Serena menatap wajah Zeroun dengan penuh rasa takut.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Zeroun membuka kemejanya, dan melemparkannya ke lantai. Satu tato berukuran besar, terlihat jelas di sana. Zeroun melangkah maju mendekati Serena. Serena melangkah mundur, dan bersikap waspada.
“Apa yang akan kau lakukan, Zeroun!” Serena setengah teriak, wajahnya benar-benar terlihat panik.
Dengan kasar, Zeroun menarik tangan Serena. Melemparkan tubuh Serena ke atas tempat tidur. Zeroun men****h tubuh serena. Zeroun lagi-lagi mencium Serena dengan paksa. Hatinya tercampur antara rasa kerinduan dan kemarahan.
Jantung Serena berdebar kencang, meskipun tubuhnya menolak sentuhan Zeroun tetapi hatinya sangat merindukannya. Zeroun terus membuka paksa kemeja putih yang di kenakan Serena. Dengan sigap, Serena memegang kemeja itu dan menghalangi Zeroun untuk membukanya.
Zeroun sudah gelap mata. Tidak ada lagi belas kasih dalam hatinya. Saat ini, yang mengisi pikirannya hanya memiliki Serena. Zeroun terus mencium bibir Serena. Serena tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan Zeroun. Air mata kembali menetes deras, membasahi pipi Serena saat ini.
Serena sudah sangat ketakutan. Tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan Zeroun lagi. Serena kembali memikirkan nama Daniel, dan berharap agar suaminya bisa segera datang dan menolongnya saat ini.
“Daniel ….” Satu kata yang terucap dari bibir Serena, berhasil menghentikan Zeroun.
Zeroun beranjak dari tubuh Serena dan berdiri tegab di sana. Membelakangi tubuh Serena dan mengepal kuat tangannya.
Serena duduk dengan penuh air mata. Serena kembali memasang kancing baju yang hampir terbuka itu. Rasa takut membuat jari-jari Serena gemetar. Air matanya menetes deras. Serena terus berusaha mengancingkan kemeja itu, namun tidak juga berhasil.
“Biarkan aku yang melakukannya.” Zeroun menyingkirkan kedua tangan Serena, namun Serena kembali menolak.
“Jangan sentuh aku!” Teriak Serena dengan suara serak.
Namun, Serena tidak kunjung bisa memasang kancing baju itu. Tatapan mata Zeroun, semangkin mempersulit jari-jarinya.
Lagi-lagi Zeroun mengambil tangan Serena, dan memasang kancing kemeja itu satu persatu. Hingga kemeja itu kembali menutupi tubuh Serena.
“Maafkan aku sayang, tidak seharusnya aku memaksamu dalam keadaan seperti ini. Aku akan menunggu, sampai kau kembali mengingat semuanya.”
Zeroun menatap wajah Serena dengan hati yang perih.
“Mandilah, dan pergi sarapan. Aku tidak ingin kau sakit.” Zeroun melangkah pergi meninggalkan Serena sendiri di kamar.
Serena kembali duduk di atas tempat tidur. Mengusap sisa air mata di pipinya. Sifat lembut Zeroun, membuat satu irisan perih di hatinya.
Siapa dia? Dia bukan pria asing.
Serena kembali menatap ke arah pintu.
Siang yang terik sudah mulai terlihat redup. Matahari sudah kembali tenggelam. Suasana malam, menyelimuti rumah itu dengan udara yang dingin.
Ketukan pintu yang berulang-ulang, membuat Serena terperanjat kaget.
Serena kembali memegang kedua kakinya, takut jika Zeroun berbuat kasar lagi pada dirinya. Satu pelayan wanita masuk dengan membawa sebuah paper bag.
Menunduk hormat, sebelum meletakkan paper bag itu di atas tempat tidur Serena.
“Selamat malam nona. Sebaiknya anda mandi dan kenakan baju ini.” Pelayan itu kembali menunduk, dan melangkah pergi meninggalkan Serena.
Serena meraih paper bag itu dengan penuh hati-hati. Membukanya, dan mengelurkan isinya secara perlahan.
“Gaun. Untuk apa dia memberiku gaun ini.”
Serena memperhatikan tubuhnya yang terlihat berantakan. Serena beranjak dari tempat tidur dan berjalan pelan. Serena terus menggenggam baju itu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Serena sudah selesai mandi. Serena keluar dengan mengenakan dres berwarna putih. Serena memandang tubuhnya yang kini berdiri di depan cermin.
“Daniel, kenapa kau tidak datang untuk menjemputku.” Buliran air mata kembali menetes di pipinya.
Satu ketukan pintu, membuat Serena kembali terperanjat kaget. Serena memperhatikan pintu yang terbuka secara perlahan. Serena melangkah mundur untuk menjauhi pintu itu.
Lukas memasuki kamar, dan setengah membungkukkan tubuhnya dengan formal kepada Serena.
“Anda harus turun nona. Tuan Zeroun, ingin menemui anda untuk makan malam di bawah.” Serena melemparkan tatapan gusar kepada lelaki itu.
Jadi karena itu, pelayan tadi membawakanku gaun putih ini.
Serena melamun sesaat, ia terpaksa memakainya, karena tidak ada gaun lain yang disediakan untuknya di kamar itu.
“Aku tidak mau turun!” ucap Serena keras kepala, tidak mau begitu saja menemui pria yang tidak ia kenali.
Lukas menatap Serena penuh dengan kesabaran. Mengenal Serena sejak dulu, membuat Lukas mengerti sifat keras kepala yang di miliki Serena. Satu ide muncul, untuk membuat Serena menuruti permintaan tuannya malam ini.
“Anda benar-benar tidak ingin keluar? Mungkin ini satu-satunya kesempatan untuk keluar dari kamar ini, apakah anda tidak merasa bosan? Saya juga cemas, kalau anda menolak ajakan makan malam tuan Zeroun. Beliau akan memutuskan untuk mengurung anda terus-terusan, di kamar ini. Anda tidak punya kesempatan untuk keluar lagi.”
Serena tercengang kaget. Satu ancaman Lukas, berhasil mempengaruhi keras kepala Serena saat ini.
Like dan Komen dulu, baru lanjut 🤗🤗